Aku mau berbagi mengenai betapa “super”-nya seorang
wanita yang telah melahirkanku.
Buatku, Mama adalah sosok pahlawan yang lebih super
dibandingkan Superman. Mama lebih wonder ketimbang Wonder Woman. Mama lebih kuat dari Batman. Mama-pun lebih tangguh daripada Captain America.
Ketika masih kanak-kanak yang terbersit dalam
pikiranku tiap kali ditanya, “Seperti apa sosok seorang ibu?” Dan satu kata
yang teramat cepat dan lantang kukeluarkan dari kedua belah bibir ini adalah
CEREWET.
Mama itu cerewetnya warbiazah.
Mama paling tidak bisa melihat lemari pakaian
putrinya yang mirip Selena Gomez ini berantakan meskipun hanya dua lembar
pakaian yang tidak terlipat dengan rapi. Jika sudah demikian, maka kuping ini
harus bersiap menerima sengatan kecerewetan Mama yang berakibat dapat
menimbulkan dengungan di dalam gendang telinga selama beberapa jam.
Pernah suatu hari kabel kipas angin terbakar hingga
mengakibatkan korsleting listrik di rumah. Mama jadi super panik dan super
heboh. Setelah kabelnya diperbaiki dan listrik di rumah kembali menyala, jangan harap kondisi rumah jadi damai. Yang
ada malah Mama akan memberikan kultum (kuliah-tujuh-belas-menit) pada semua
penghuni rumah. Mungkin cicak beserta semut juga ikut-ikutan mendengarkan kultum
dari Mama. Mama akan menyampaikan fatwa bahwa siapapun harus berhati-hati saat
menggulung kabel kipas angin supaya bla, bla, bla…
Tuh, Mamaku memang super kan? Super cerewet.
Tapi itu dulu. Sekarang aku sudah mengerti kenapa
Mama bersikap sebegitu cerewetnya terutama kepada anak-anaknya.
Dan julukan ‘Super Cerewet’ itu kini kuganti dengan
‘Super Hero’.
Mama memang tidak punya kekuatan mengeluarkan benang
dari jemarinya seperti Spiderman.
Tapi Mama adalah wanita yang sangat pandai dalam menjahit. Semua seragam
sekolahku sejak TK hingga SMA adalah seragam buatan Mama. Bukan dari tukang
jahit seperti yang kebanyakan anak-anak lain pakai. Mama sewaktu lulus SMP
memang pernah ikut kursus menjahit. Dan kepiawaian Mama dalam menjahit tidak
perlu diragukan lagi.
Kami sekeluarga tidak perlu mengeluarkan anggaran
untuk ke tukang jahit ketika mau mengecilkan pakaian ataupun untuk menjahit
pakaian yang robek. Semua itu bisa dengan mudah ditangani oleh Mama. Sayangnya
bakat menjahit Mama tidak menurun pada anak-anaknya.
Bagiku Mama lebih keren ketimbang Spiderman.
Mama juga lebih kuat daripada Superman.
Dulu ketika SD, aku belum mengerti caranya mencuci
pakaian. Jadi Mama yang mencuci pakaianku dan pakaian adik laki-lakiku yang
saat itu masih TK. Aku pikir hanya dengan merendam pakaian lalu noda-noda di
seragam sekolah dan baju harian yang biasa kupakai untuk bermain bersama
teman-teman akan dengan mudahnya hilang. Bukankah seperti itu yang dikatakan
oleh iklan-iklan detergen di tv? Lalu
kenapa Mama sering mengomel jika sudah melihat seragamku kotor?
Bukankah setelah direndam lalu akan langsung bersih?
Saat itu aku masih tidak mengerti betapa lelahnya
pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Setelah mencuci, Mama masih harus memasak.
Mama harus membersihkan rumah, melayani Ayah, menjaga adikku, juga pekerjaannya
sebagai penjahit yang sering menyita waktu hingga malam.
Aku baru mengerti seperti apa rasanya mencuci
pakaian yang kotor. Ketika masih sekolah, kami belum punya mesin cuci. Jadi
mencuci baju masih dengan cara manual. Pertama kali mencuci pakaian saat kelas
satu SMP. Di situ aku tahu susahnya memberishkan noda di seragam, terutama
bagian kerah, lengan, dan saku baju. Padahal ketika itu aku hanya mencuci
seragamku sendiri. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana Mama mencuci pakaian
kami sekeluarga, lalu setelahnya mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Aku yakin, Superman
tanpa kekuatan supernya tidak akan sanggup melakukan pekerjaan seperti Mama
dengan kekuatan yang dimiliki seorang manusia biasa.
Selain itu, Mama juga seorang dokter yang handal.
Meskipun hanya tamatan SMP, Mama sangat mengerti cara menangani anak-anaknya
yang sakit. Mama mengerti obat apa yang harus diminum ketika anak-anaknya
batuk-pilek. Mama tahu apa yang harus dilakukan ketika anak-anaknya sakit panas.
Mama merawat dan menunggu anaknya yang sakit hingga larut malam, menemani
anaknya, menjaga anaknya dan mengompres kening anak-anaknya. Meskipun omelannya
tak pernah tertinggal, tapi omelan Mama selalu benar. Toh memang benar adanya
jika Mama mengomel itu karena rasa khawatirnya yang berlebihan pada
anak-anaknya.
Seorang pahlawan super dengan kekuatan supernya
tentu tidak akan bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Mama. Aku yakin, semua
ibu di dunia pasti melakukan hal yang sama. Kita semua tentu setuju jika ibu
adalah sosok pahlawan yang tidak ada dua-nya di dunia ini.
Aku semakin mengerti betap super-nya sosok Mama
ketika Mama mengalami stroke saat aku
di tingkat dua belas SMA.
Dulu aku berharap Mama berhenti mengomel agar
suasana rumah tenang. Tapi nyatanya justru omelannya itu menjadi sesuatu yang
sangat kami rindukan. Disaat masa stroke Mama,
semua pekerjaan rumah secara tidak langsung aku yang mengerjakan. Aku yang saat
itu harus belajar untuk menghadapi UN, juga harus membagi waktu untuk
mengerjakan pekerjaan rumah. Benar-benar masa yang sulit. Dan aku semakin
mengerti seperti apa beratnya pekerjaan Mama selama ini.
Tidaklah pantas jika aku menggerutu tiap kali Mama
menyuruhku. Tidaklah pantas aku membangkang dari Mama.
Seseorang harus keluar dulu dari zona nyamannya agar
bisa berubah. Dan aku sudah merasakan seperti apa perubahan yang terjadi dalam
hidupku ketika Mama menderita stroke.
Aku yang dulu pemalas terutama jika itu menyangkut
pekerjaan rumah—itu sudah termasuk membereskan lemari pakaian omong-omong—kini
sudah mulai dengan kesadaran sendiri untuk menjaga kebersihan rumah. Mencuci
pakaian, memasak, menemani adikku belajar, juga menjahit pakaian. Dan dengan
kesadaran sendiri, aku memutuskan untuk tidak kuliah ke luar kota. Memilih
untuk kuliah di dalam kota meskipun tidak ada universitas di kotaku, tapi aku
tetap bisa melanjutakn strata satu di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di dalam
kota. Hal itu hanya demi bisa menjaga Mama dan tentunya menjaga rumah.
Alhamdulillah Mama sekarang sudah bisa berjalan dan
mengerjakan pekerjaan rumah meskipun hanya sedikit. Meskipun dengan kondisi
Mama yang masih kurang sehat, Mama tetap menjaga kami. Ketika aku sakit
beberapa hari yang lalu dan tidak bisa turun kuliah, Mama tetap bisa menjagaku
dan mengobatiku.
Aku teringat Firman Allah SWT dalam surah Luqman
ayat 14, yang artinya: “Dan kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.”
Subhanallah, bagaimana derita Mama ketika dulu melahirkanku.
Bertarung dengan nyawanya, lalu menyusuiku dan merawatku hingga sekarang. Mama
dan seluruh ibu dunia adalah makhluk terhebat di penjuru dunia.
Berkat Mama yang dulu selalu cerewet dan mengomel
jika anak-anaknya belum sholat, Mama yang selalu mengomel jika putrinya ke luar
rumah tanpa kerudung. Hal itu berdampak pada kehidupanku saat remaja dimana
mengenakan kerudung dan sholat tidaklah lagi karena paksaan namun dengan
kesadaran sendiri.
Do’aku untuk Mama, semoga Mama cepat sembuh. Semoga
ampunan Allah senantiasa mengalir untukmu, Ma. Di hari ibu ini, aku ingin
mengucapkan terima kasih kepada Mama, juga seluruh ibu di dunia ini yang telah
melahirkan dan merawat anak-anaknya. Terima kasih, berkat kalian para generasi
penerus bangsa terus lahir dan semoga akan menjadi tonggak kemajuan peradaban
bangsa.
Selamat hari ibu untuk seluruh ibu di dunia. Cinta
kami sebagai anak kalian tidak akan pernah terputus walau maut memisahkan kita.
Untuk Mama, terima kasih yang sedalam-dalamnya dari
anakmu ini. Dan maafkan anakmu ini yang belum bisa menjadi kebanggaanmu. Aku
tahu Ma, seberapa keras-pun aku berusaha itu semua tidak akan pernah bisa
membalas jasamu.
Untuk Mama, I
love you.
Salam literasi ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar