Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Rabu, 21 Desember 2016

Mamaku Super


Mamaku Super


Aku mau berbagi mengenai betapa “super”-nya seorang wanita yang telah melahirkanku.

Buatku, Mama adalah sosok pahlawan yang lebih super dibandingkan Superman. Mama lebih wonder ketimbang Wonder Woman. Mama lebih kuat dari Batman. Mama-pun lebih tangguh daripada Captain America.

Ketika masih kanak-kanak yang terbersit dalam pikiranku tiap kali ditanya, “Seperti apa sosok seorang ibu?” Dan satu kata yang teramat cepat dan lantang kukeluarkan dari kedua belah bibir ini adalah CEREWET.

Mama itu cerewetnya warbiazah.

Mama paling tidak bisa melihat lemari pakaian putrinya yang mirip Selena Gomez ini berantakan meskipun hanya dua lembar pakaian yang tidak terlipat dengan rapi. Jika sudah demikian, maka kuping ini harus bersiap menerima sengatan kecerewetan Mama yang berakibat dapat menimbulkan dengungan di dalam gendang telinga selama beberapa jam.

Pernah suatu hari kabel kipas angin terbakar hingga mengakibatkan korsleting listrik di rumah. Mama jadi super panik dan super heboh. Setelah kabelnya diperbaiki dan listrik di rumah kembali menyala,  jangan harap kondisi rumah jadi damai. Yang ada malah Mama akan memberikan kultum (kuliah-tujuh-belas-menit) pada semua penghuni rumah. Mungkin cicak beserta semut juga ikut-ikutan mendengarkan kultum dari Mama. Mama akan menyampaikan fatwa bahwa siapapun harus berhati-hati saat menggulung kabel kipas angin supaya bla, bla, bla…

Tuh, Mamaku memang super kan? Super cerewet.

Tapi itu dulu. Sekarang aku sudah mengerti kenapa Mama bersikap sebegitu cerewetnya terutama kepada anak-anaknya.

Dan julukan ‘Super Cerewet’ itu kini kuganti dengan ‘Super Hero’.

Mama memang tidak punya kekuatan mengeluarkan benang dari jemarinya seperti Spiderman. Tapi Mama adalah wanita yang sangat pandai dalam menjahit. Semua seragam sekolahku sejak TK hingga SMA adalah seragam buatan Mama. Bukan dari tukang jahit seperti yang kebanyakan anak-anak lain pakai. Mama sewaktu lulus SMP memang pernah ikut kursus menjahit. Dan kepiawaian Mama dalam menjahit tidak perlu diragukan lagi.

Kami sekeluarga tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk ke tukang jahit ketika mau mengecilkan pakaian ataupun untuk menjahit pakaian yang robek. Semua itu bisa dengan mudah ditangani oleh Mama. Sayangnya bakat menjahit Mama tidak menurun pada anak-anaknya.

Bagiku Mama lebih keren ketimbang Spiderman.

Mama juga lebih kuat daripada Superman.

Dulu ketika SD, aku belum mengerti caranya mencuci pakaian. Jadi Mama yang mencuci pakaianku dan pakaian adik laki-lakiku yang saat itu masih TK. Aku pikir hanya dengan merendam pakaian lalu noda-noda di seragam sekolah dan baju harian yang biasa kupakai untuk bermain bersama teman-teman akan dengan mudahnya hilang. Bukankah seperti itu yang dikatakan oleh iklan-iklan detergen di tv? Lalu kenapa Mama sering mengomel jika sudah melihat seragamku kotor?

Bukankah setelah direndam lalu akan langsung bersih?

Saat itu aku masih tidak mengerti betapa lelahnya pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Setelah mencuci, Mama masih harus memasak. Mama harus membersihkan rumah, melayani Ayah, menjaga adikku, juga pekerjaannya sebagai penjahit yang sering menyita waktu hingga malam.

Aku baru mengerti seperti apa rasanya mencuci pakaian yang kotor. Ketika masih sekolah, kami belum punya mesin cuci. Jadi mencuci baju masih dengan cara manual. Pertama kali mencuci pakaian saat kelas satu SMP. Di situ aku tahu susahnya memberishkan noda di seragam, terutama bagian kerah, lengan, dan saku baju. Padahal ketika itu aku hanya mencuci seragamku sendiri. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana Mama mencuci pakaian kami sekeluarga, lalu setelahnya mengerjakan semua pekerjaan rumah.

Aku yakin, Superman tanpa kekuatan supernya tidak akan sanggup melakukan pekerjaan seperti Mama dengan kekuatan yang dimiliki seorang manusia biasa.

Selain itu, Mama juga seorang dokter yang handal. Meskipun hanya tamatan SMP, Mama sangat mengerti cara menangani anak-anaknya yang sakit. Mama mengerti obat apa yang harus diminum ketika anak-anaknya batuk-pilek. Mama tahu apa yang harus dilakukan ketika anak-anaknya sakit panas. Mama merawat dan menunggu anaknya yang sakit hingga larut malam, menemani anaknya, menjaga anaknya dan mengompres kening anak-anaknya. Meskipun omelannya tak pernah tertinggal, tapi omelan Mama selalu benar. Toh memang benar adanya jika Mama mengomel itu karena rasa khawatirnya yang berlebihan pada anak-anaknya.

Seorang pahlawan super dengan kekuatan supernya tentu tidak akan bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Mama. Aku yakin, semua ibu di dunia pasti melakukan hal yang sama. Kita semua tentu setuju jika ibu adalah sosok pahlawan yang tidak ada dua-nya di dunia ini.

Aku semakin mengerti betap super-nya sosok Mama ketika Mama mengalami stroke saat aku di tingkat dua belas SMA.

Dulu aku berharap Mama berhenti mengomel agar suasana rumah tenang. Tapi nyatanya justru omelannya itu menjadi sesuatu yang sangat kami rindukan. Disaat masa stroke Mama, semua pekerjaan rumah secara tidak langsung aku yang mengerjakan. Aku yang saat itu harus belajar untuk menghadapi UN, juga harus membagi waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Benar-benar masa yang sulit. Dan aku semakin mengerti seperti apa beratnya pekerjaan Mama selama ini.

Tidaklah pantas jika aku menggerutu tiap kali Mama menyuruhku. Tidaklah pantas aku membangkang dari Mama.

Seseorang harus keluar dulu dari zona nyamannya agar bisa berubah. Dan aku sudah merasakan seperti apa perubahan yang terjadi dalam hidupku ketika Mama menderita stroke.

Aku yang dulu pemalas terutama jika itu menyangkut pekerjaan rumah—itu sudah termasuk membereskan lemari pakaian omong-omong—kini sudah mulai dengan kesadaran sendiri untuk menjaga kebersihan rumah. Mencuci pakaian, memasak, menemani adikku belajar, juga menjahit pakaian. Dan dengan kesadaran sendiri, aku memutuskan untuk tidak kuliah ke luar kota. Memilih untuk kuliah di dalam kota meskipun tidak ada universitas di kotaku, tapi aku tetap bisa melanjutakn strata satu di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di dalam kota. Hal itu hanya demi bisa menjaga Mama dan tentunya menjaga rumah.

Alhamdulillah Mama sekarang sudah bisa berjalan dan mengerjakan pekerjaan rumah meskipun hanya sedikit. Meskipun dengan kondisi Mama yang masih kurang sehat, Mama tetap menjaga kami. Ketika aku sakit beberapa hari yang lalu dan tidak bisa turun kuliah, Mama tetap bisa menjagaku dan mengobatiku.

Aku teringat Firman Allah SWT dalam surah Luqman ayat 14, yang artinya: “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Subhanallah, bagaimana derita Mama ketika dulu melahirkanku. Bertarung dengan nyawanya, lalu menyusuiku dan merawatku hingga sekarang. Mama dan seluruh ibu dunia adalah makhluk terhebat di penjuru dunia.

Berkat Mama yang dulu selalu cerewet dan mengomel jika anak-anaknya belum sholat, Mama yang selalu mengomel jika putrinya ke luar rumah tanpa kerudung. Hal itu berdampak pada kehidupanku saat remaja dimana mengenakan kerudung dan sholat tidaklah lagi karena paksaan namun dengan kesadaran sendiri.

Do’aku untuk Mama, semoga Mama cepat sembuh. Semoga ampunan Allah senantiasa mengalir untukmu, Ma. Di hari ibu ini, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Mama, juga seluruh ibu di dunia ini yang telah melahirkan dan merawat anak-anaknya. Terima kasih, berkat kalian para generasi penerus bangsa terus lahir dan semoga akan menjadi tonggak kemajuan peradaban bangsa.

Selamat hari ibu untuk seluruh ibu di dunia. Cinta kami sebagai anak kalian tidak akan pernah terputus walau maut memisahkan kita.

Untuk Mama, terima kasih yang sedalam-dalamnya dari anakmu ini. Dan maafkan anakmu ini yang belum bisa menjadi kebanggaanmu. Aku tahu Ma, seberapa keras-pun aku berusaha itu semua tidak akan pernah bisa membalas jasamu.

Untuk Mama, I love you.

Salam literasi ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar