Himawari No Yakusoku
.
.
Author:
Aisyah
(@cloudisah)
.
.
Cast:
Super
Junior’s Yesung
OC’s Jirin
.
Lenght:
Drabble
.
Inspired by:
Motohiro
Hata- Himawari No Yakusoku (Doraemon, Stand By Me’s Ost)
.
<3<3<3
Aku adalah salah satu dari
sejumlah pria di dunia ini yang menyukai bunga matahari. Memang kelihatannya
terlalu feminim, sih. Jangan tanyakan
mengapa aku begitu menyukai tanaman dengan bunga berwarna kuning yang memiliki
banyak biji—kau pasti tahu biji itu kesukaan kebanyakan hamster—dan selalu
mengikuti di mana posisi matahari berada.
Sederhana. Karena gadisku
begitu menyukainya.
Yah, hanya seperti itu. Dan
aku langsung mendeklarasikan diriku sebagai seorang penyuka bunga matahari.
Awalnya aku sama sekali tak
tertarik dengan bunga bermahkota kuning yang kadang kala membuat mataku sakit
ketika matahari menyirami cahaya pada mahkotanya itu. Terus terang saja, itu
cukup silau bagiku. Aku lebih suka bunga aprikot. Bunga yang mengawali mekar
kuncupnya pada awal musim semi.
Tapi itu dulu sekali.
Sebelum gadisku masuk dalam kehidupanku. Terlampau dalam malah. Karena
sekarang, bunga matahari dan gadisku adalah satu kesatuan yang tak bisa
dipisahkan dalam hidupku.
Aku masih duduk di atas
rerumputan di tengah taman bunga matahari menunggu gadisku datang. Hari ini
adalah hari spesial. Yah tentu saja, aku sangat bersemangat karena aku selalu
menunggu datangnya hari ini. Setiap tahun gadisku selalu datang membawa sebuket
bunga matahari tepat pada tanggal ini.
Kuhirup nafas dalam. Entah
kenapa rasanya biar sebanyak apapun aku berusaha meraup oksigen, rasanya tak
pernah cukup untuk memenuhi paru-paruku. Oksigen yang kuhirup serasa hampa.
Seperti jiwaku saat ini. Kosong.
Dengan gaun peach selututnya, gadisku—namanya Jirin—berjalan
perlahan menghampiriku tempat dimana aku duduk sejak tadi. Surai hitam
sebahunya tertiup semilir angin, membuatku tak tahan ingin merapikan surainya
ke balik daun telinganya lantas memeluknya erat. Namun aku tak bisa berbuat
apa-apa selain menunggunya hingga tiba di sini, persis di sampingku.
Dengan sebuket bunga
matahari yang masih segar di tangan kanannya, serta sebuah keranjang rotan di
tangan kirinya, Jirin duduk perlahan di sampingku. Oh, kenapa wajahnya muram?
Berbanding terbalik dengan senyum lebar yang sejak tadi tak henti-hentinya
menghiasi wajah tampanku.
Perlahan Jirin meletakkan
bunga matahari dan keranjang yang ia bawa, lantas menatap hamparan birunya
langit di atas sana dimana tak ada sedikitpun awan yang menutupi. Ia bahkan tak
menatapku sama sekali.
“Oppa,” gumamnya pelan.
Aku menatap wajahnya yang
masih menatap langit biru di atas sana. Tanpa ingin menginterupsi, aku memilih
diam membiarkan ia melanjutkan kalimat yang ingin dikatakannya.
“Sudah tiga tahun,” ia
kemudian diam dan menghirup nafas dalam. Lantas setelahnya kedua kelopaknya
terpejam, membiarkan angin sore menerpa kulit wajahnya. Aku hanya bisa
tersenyum melihat gadisku ini. Entah dalam keadaan apapun bagiku ia selalu
terlihat manis. Apa pun yang ia lakukan.
“Oppa... Aku merindukanmu.”
Senyum yang sejak tadi
senantiasa bertengger di wajahku seketika menghilang seiring dengan air mata
yang mengalir dari sudut mata Jirin. Tanganku terulur hendak menghapus air
matanya, namun akhirnya hanya bisa tertahan di udara. Karena aku tahu, aku tak
mungkin bisa melakukannya.
“Jirin-ah, jangan menangis. Oppa
di sini, di sampingmu,” ucapku berharap ia bisa mendengarnya. Tapi percuma,
suaraku ikut terbang bersama hembusan angin hingga tak merambat ke indra
pendengaran Jirin.
Puluhan sekon berikutnya
Jirin membuka kelopak matanya lantas menghapus kasar air mata yang membasahi
wajahnya. Setelahnya, ia menatap benda putih yang melingkar di jari manisnya.
Cincin pertunangan kami. Kuperhatikan Jirin tersenyum kecut memandang cincin
itu. Cincin yang kuberikan padanya tiga tahun yang lalu.
Aku kembali hanya diam.
Memilih untuk menatap wajah yang begitu kurindukan itu yang sekarang tengah
menaburkan bunga yang ia bawa dari dalam keranjang rotannya di atas gundukan
tanah serta meletakkan buket bunga matahari yang dibawanya tepat di samping batu
nisan. Nisan yang bertuliskan nama Kim Yesung.
Hangat tangannya tak lama
terasa di seluruh tubuhku ketika kedua lengan rampingnya memeluk erat nisan
itu. Membuatku akhirnya harus mati-matian menahan sesak di dalam dada.
“Oppa, kau jahat. Hiks... Oppa,
apa kau pikir dengan kau pergi seperti ini aku akan bahagia? Tidak Oppa, aku sakit. Hiks, aku merindukanmu Oppa, sangat sangat merindukanmu.
Hiks... Oppa, hiks, apah, apah yang
haruss hiks aku lakukan sekarang tanpamu Oppa?”
Aku memukul dadaku, berharap
mengurangi rasa sakit yang tiba-tiba menjalar ke seluruh rongga dadaku. “Jirin,
maafkan aku...” dan suaraku kembali terbang bersama hembusan angin sore.
“Mana janjimu Oppa? Janjimu yang akan membuat taman
bunga matahari bersamaku di belakang rumah kita nanti. Kenapa kau pergi sebelum
kau menepati janjimu? Hiks, Oppa...
Kau bilang kau selalu merasa hangat ketika melihat bunga matahari itu kan?
Lantas, hiks, apa di sana kau melihat lebih banyak bunga matahari ketimbang di
dunia ini? Hiks...”
Penglihatanku memburam
seiring dengan Jirin yang semakin erat memeluk batu nisan itu. “Melihat wajahmu
jauh lebih hangat Rin-ah. Wajahmu
yang sehangat cahaya mentari pagi. Maaf, aku tak bisa menepati janjiku,” gumamku
meskipun aku tahu ia tak mungkin bisa mendengar suaraku.
“Hari ini tepat tiga tahun
kau pergi, Oppa. Setelah ini, apa...
Apa aku, apa aku masih sanggup hidup? Oppa,
nan neol saranghae... Noumu saranghae... hiks...”
Burung gereja bersahutan,
seiring dengan jingga yang mulai tampak di ufuk barat. Jirin masih di posisi
yang sama, memeluk nisan di atas makamku. Makam pria yang tak bisa memenuhi
janjinya. Dan tak akan pernah lagi bisa memenuhi janjinya. Janji bunga
matahari.
“Jirin-ah, neo hanaman saranghannika...”
.
.
FIN
Aku keinspirasi bikin fict ini tetiba gegara nonton KRY nyanyi lagu
Motohiro Hata itu waktu mereka lagi di Jepang. Keren, aku sukak :D Apalagi yang
pas part Yesung, jantungku langsung
bertalu nggak karuan sumvah :v
Udah lama nggak bikin fanfiction dengan cast Yesung Oppa. Semoga ini
layak baca yah...
Makasih buat yang sudah berkenenan membaca fict tidak berkelas ini ^-^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar