Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Selasa, 21 Juni 2016

(Fanfiction) VAL


Val
.
.

Author:
Aisyah (@cloudisah)
.
.

Cast:
BAP’s Zelo As Val
BAP’s Daehyun As Vio
OC’s Fey
OC’s Ran

.

Genre:
Fantasy, Friendship
.
.

OoooO

“Kurasa mengambilnya sekarang bukanlah ide yang bagus.”

“Apa kau lupa perkataan Fia tadi siang? Di lorong lantai dua belas itu ada makhluk yang bersembunyi dan akan menampakkan diri jika matahari sudah terbenam!”

Fey menelan saliva-nya dengan susah payah. Ucapan Vio dan Ran saat di asrama tadi terus berputar dalam memorinya. Membuat kedua tungkainya yang bergerak perlahan merajut langkah menuju lantai dua belas gedung sekolahnya gemetaran.

Menurut rumor yang beredar di sekolah, makhluk yang bersembunyi di lorong lantai dua belas adalah arwah manusia yang sudah meninggal. Oleh Manusia Permukaan disebut hantu. Sedangkan Vio—Manusia Underground—menyebut makhluk itu dengan mutan. Banyak simpang siur nama untuk makhluk itu, bahkan Ran—ia Manusia Langit—menyebutnya jelmaan Hades. Tapi Fey sendiri yang merupakan Manusia Lembah tak memiliki julukan apa-apa untuk makhluk tersebut.

Ia sadar betul keputusannya untuk mengambil serum Penyembuh Luka Dalam percobaannya yang tertinggal di Laboraturium Ilmu Bumi jam delapan malam sekarang adalah salah. Tapi mau bagaimana lagi. Jika tidak diambil sekarang dan menyelesaikan laporan mengenai serum itu, esok sudah pasti ia akan mendapat nilai F dari Profesor Girk.

Fey perlahan menapaki satu persatu anak tangga yang menghubungkan lantai sebelas dan lantai dua belas. Lorong sekolah tidaklah segelap yang ia bayangkan sebelumnya, karena seluruh lorong dari lantai pertama diterangi oleh lampu surya, lampu yang berasal dari energi panas matahari.

Tungkai Fey terhenti di depan pintu Laboraturium Ilmu Bumi. Ia kembali menelan saliva­-nya susah payah seraya kedua netranya yang terus menatap awas pada sekelilingnya. Usai memastikan keadaan aman dan tak ada yang mencurigakan, Fey dengan cepat mengambil serumnya lantas setelahnya gadis bersurai sebahu itu berlari secepat yang ia bisa agar segera mencapai lantai dasar.

Nafasnya tak beraturan ketika menuruni anak tangga. Entah kenapa saat ia hendak menuruni tangga meuju lantai sebelas, suara rintihan memenuhi indra pendengarannya dan hal itu sukses membuatnya semakin cepat berlari. Fey tidak ingin mati konyol karena makhluk-yang-tak-diketahui itu.

“Aaaargggghhhh!”

Kedua netra Fey membelalak saat langkahnya mencapai lantai dasar gedung sekolah. Suara jeritan seorang gadis dari lantai atas—Fey tak tahu dari lantai berapa—memecah keheningan yang sejak tadi melingkupi Fey. Jantung Fey rasanya ingin mencelos dari tempatnya. Dan dengan sisa tenaga yang ia miliki, Fey kembali berlari untuk meninggalkan gedung sekolah.

OoooO

“Jadi bukan makhluk itu yang membunuhnya?”

Pertanyaan dari Ran barusan mendapat anggukan mantap dari Vio. Mereka bertiga; Ran, Vio, dan Fey, sedang duduk di bawah pohon maple di belakang sekolah. Dan konversasi antara ketiganya sudah berlangsung sejak dua puluh menit yang lalu.

Ran menyandarkan punggungnya pada batang pohon maple di belakangnya. “Ah, tidak keren. Seandainya makhluk itu yang membunuhnya, sudah pasti sekolah akan diliburkan untuk memburu makhluk misterius itu.”

Fey melirik gedung sekolah di belakangnya. Saat ini Sekolah Tinggi Tereba digemparkan dengan penemuan mayat siswi tingkat sebelas bernama Gea di lantai sepuluh. Gea sendiri adalah siswi yang berasal dari klan Manusia Permukaan.

“Katanya ia mengidap Anxiety Disorder, dan tadi malam ia sudah tak bisa lagi menahan keinginannya untuk menyakiti dirinya sendiri,” terang Vio. “Oh iya, apa kau tidak mendengar apa-apa tadi malam saat kau mengambil serum di Lab Ilmu Bumi?” Vio mengalihkan fokusnya pada Fey yang sejak tadi tak mengeluarkan sepatah katapun.

Fey melirik kedua sahabatnya ragu. “Aku mendengar teriakannya saat sudah kembali ke lantai dasar. Tapi—”

“Tapi?” Vio menatap Fey dengan kuriositas yang tercetak di wajah tampannya.

“Tapi,” Fey tak tahu apakah ia harus memberitahukan Vio dan Ran mengenai suara rintihan yang ia dengar saat di lantai dua belas. Ia ragu jika itu hanya halusinasinya.

Ran berdecak tak sabar. Gadis dari klan Manusia Langit itu bersidekap menunggu Fey melanjutkan kalimatnya. “Tapi apa Fey?”

“Tak ada. Aku lupa akan mengatakan apa tadi. Hehe,” Fey menunjukkan cengiran khasnya pada kedua sahabatnya itu.

Tsssk, menyebalkan. Ya sudah, kita harus kembali ke kelas. Setelah ini pelajaran Profesor Gum kan? Ah, aku benci sekali harus hitung menghitung,” Vio mengacak rambutnya frustasi. Sementara Fey dan Ran hanya terkekeh melihat kelakuan sahabat laki-laki mereka itu.

OoooO

Sekolah Tinggi Tereba berada di dasar Lembah Tereba. Awalnya sekolah itu hanya untuk siswa yang berasal dari klan Manusia Lembah. Tapi seiring berjalannya waktu, Sekolah Tinggi Tereba dibuka untuk seluruh klan manusia; Manusia Lembah, Manusia Underground, Manusia Permukaan, dan Manusia Langit. Tujuannya adalah untuk menjalin kerjasama dan menjaga perdamaian antar klan manusia.

Malam itu, Fey merutuki dirinya yang tanpa pikir panjang membuat keputusan untuk kembali ke lorong lantai dua belas sekolah demi membuktikan suara yang ia dengar kemarin malam. Fey sadar betul ia akan terlihat bodoh sekarang jika Vio dan Ran melihatnya, dan mereka akan menertawakannya habis-habisan.

Fey sendiri tak tahu kenapa rasa penasarannya begitu memuncak. Fey dengan jelas mendengar suara rintihan itu semalam. Tapi benarkah tak ada hubunganya makhluk-yang-tak-diketahui itu dengan kematian Gea? Jika memang benar, kemungkinan rumor yang selama ini beredar mengenai makhluk itu hanyalah bohong belaka.

Sampai di anak tangga terakhir menuju lantai dua belas, Fey tak mendengar apa-apa ataupun merasakan adanya sesuatu yang janggal. Kembali dibawa tubuhnya menyusuri lorong lantai dua belas seorang diri dan—

“Aaaakkkh…”

—Fey bersumpah ini adalah hal paling menakutkan seumur hidupnya. Sepasang mata cokelat hazel kini tepat berada di depan wajahnya. Kedua mata itu menatapnya sayu dengan lingkar mata merah yang membuat kedua mata itu tampak menyeramkan.

“To, tol… Tolong,” suara Fey tertahan. Ia ingin berteriak namun makhluk bermata cokelat hazel itu segera menggenggam kedua tangan Fey dengan tangannya yang terasa dingin. Tangan makhluk itu bahkan lebih dingin ketimbang bongkahan es batu yang pernah dibawa Ran dari langit.

Fey ingin menangis rasanya. Ia tidak ingin mati sekarang. Setidaknya tidak dengan cara seperti ini. “Lep, lepas. Lepaskan aku,” Fey sekuat tenaga melepaskan tangan itu.

Makhluk itu menggeleng lemah. “Val tidak menyakiti manusia.”

Fey tertegun. Ia sama sekali tidak menyadari jika pemilik sepasang mata cokelat hazel di depannya ini adalah seorang pria muda, berkulit putih pucat, dan tinggi badannya seukuran pria normal dengan setelan serba hitam. Fey menelan ludah gugup. Pria ini terlihat sedikit tampan, sih.

“Ka, kau, kau ini… apa?” Fey menggigit bibir bawahnya. Ia merutuki dirinya dalam hati karena salah memilih kata tanya. Seharusnya Fey mengatakan ‘siapa’, bukan ‘apa’.

Pria pucat di hadapan Fey itu melepaskan genggaman tangannya. Alih-alih menjawab pertanyaan Fey barusan, pria itu kini berjalan menyusuri lorong dan Fey malah dengan bodohnya mengikuti pria itu ketimbang berlari meninggalkannya ke lantai dasar. Sampai di depan Laboraturium Ilmu Bumi, langkah pria itu terhenti. Fey masih mengekor.

“Val diciptakan oleh Profesor Birg dari air mata seluruh klan manusia.” Pria itu berdiri tepat di depan pintu Lab Ilmu Bumi. “Tapi, Val ditinggalkan begitu saja di sini. Katanya Profesor meninggal dan mereka bilang Val yang membunuhnya. Val—”

“Tunggu dulu. Jadi, namamu… Val?” Fey memotong ucapan Val sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.

Pria itu—Val—membalik tubuhnya dan menatap Fey yang bertubuh lebih rendah darinya. Tatapan pria itu masih sayu, bahkan terkesan tak ada ekspresi apapun di wajah putih pucatnya. “Iya, Val—”

“Kau yakin makhluk misterius itu tidak akan membunuh kita?”

“Aku juga tak yakin. Tapi kita harus bisa menangkapnya agar para murid tidak ketakutan lagi di sekolah.”

Fey dan Val saling bersitatap ketika mendengar suara dari ujung lorong. Dengan cepat Val menarik tangan Fey dan bersembunyi di dalam Lab Ilmu Bumi. Keduanya menahan nafas sampai dua pria itu berlalu.

Fey menatap Val yang kini tengah menatapnya, hingga pandangan keduanya saling bersirobok. Fey merasa tak ada yang berbahaya dari pria di sampingnya ini. Bahkan sebaliknya, pria pucat bernama Val ini malah terlihat seperti seorang Guardian Angel.

“Jadi, selama ini kau tinggal di lorong ini?” Fey membuka suara setelah beberapa menit hening melingkupi mereka.

“Tepatnya tiga puluh delapan tahun. Val tidak punya tempat lain karena Val diciptakan di dalam laboraturium ini.”

“Tapi, kenapa kau bersembunyi saat siang hari? Dan lagi, aku mendengar rintihanmu semalam. Kupikir kau makhluk menyeramkan sejenis hantu atau monster.”

“Manusia takut pada Val. Val menangis karena Val tak memiliki teman.”

Fey mengangguk pelan. “Lalu, benar bukan kau yang membunuh Gea? Juga, benarkah menurut rumor kaulah makhluk yang membunuh Profesor Birg?” tanya Fey ragu.


Val menghembuskan nafasnya. Tapi meskipun begitu masih tak ada ekspresi apapun di wajahnya. “Val tidak menyakiti manusia,” jawabnya lemah.

Fey kembali menggigit bibirnya. “Kau pasti kesepian.”

Val mengangguk pelan. “Boleh Val ikut bersamamu?”

Kedua netra Fey melebar. “Ap, apa? Kau ingin ikut denganku? Ta, tapi—”

“Sudahlah. Val tahu, manusia takut pada Val. Jadi kau bisa pulang sekarang.”

Fey memelintir ujung piyamanya. Gadis itu menghela nafas dalam lantas berdehem. “Baiklah. Kau boleh ikut denganku,” ucapnya mantap.

Dan Val hanya bisa menatap Fey tanpa kedip ketika tangan pria itu ditarik Fey menuju lantai dasar sekolah dan membawa pria itu ke asrama sekolah.

OoooO

“Jadi, dia bukan manusia, bukan hantu, bukan jelmaan Hades, bukan mutan, juga bukan monster?” Vio melipat kedua tangannya di depan dada ketika ia bersama kedua sahabatnya menginterogerasi Val layaknya seorang tahanan.

“Lalu kenapa ia menampakkan dirinya padamu Fey?” Pertanyaan Ran barusan membuat Vio dan Fey menatapnya. “Bukankah itu aneh?”

Val yang dikelilingi tiga manusia itu memeluk kedua lututnya. Sepertinya ia tidak terbiasa dengan kehadiran banyak manusia di sekelilingnya. Bahkan beberapa kali ia menundukkan kepalanya.

“Itu… Karena Fey keturunan asli Manusia Lembah,” terang Val pelan. “Manusia Lembah tidak akan menyakiti Val,” lanjutnya lagi.

Kening Vio berkerut. “Jadi maksudmu, Manusia Underground sepertiku ataupun Manusia Langit seperti Ran ini akan menyakitimu begitu? Termasuk Manusia Permukaan?”

Val semakin memeluk lututnya ketakutan. Pria itu sesekali melirik tiga manusia di depannya dan setelahnya kembali menunduk.

Tssk, kenapa diam saja? Jawab aku,” nada suara Vio meninggi.

“Hey Vio, kau membuatnya takut,” Fey mengenggol lengan Vio. “Tapi, bisa kau katakan kenapa tiga puluh delapan tahun yang lalu Profesor Birg menciptakanmu? Bahkan dari air mata manusia?” Fey menatap lembut iris cokelat hazel milik Val membuat pria pucat itu tak dapat mengalihkan perhatiannya dari iris karamel Fey.

Vio dan Ran bungkam. Mereka menunggu Val memberikan penjelasannya.

Val menatap satu persatu tiga manusia yang duduk di depannya. “Air mata manusia mengandung leusin-enkephalin, adeokortikotropik, dan prolaktin yang—”

“Bisa kau skip saja bagian itu dan langsung intinya? Aku tidak suka Biologi oke,” Vio mengibaskan tangannya di depan wajah.

Ran berdecak sebal. “Jangan memotong ucapannya, bodoh.”

“Bisa Val lanjutkan?”

Ketiga manusia itu mengangguk serempak.

“Kalau begitu, intinya saja. Professor Birg ingin mengobati kesedihan manusia dengan mengumpulkan air mata mereka. Maka diciptakanlah tubuh Val ini sebagai wujud dari air mata ke-empat klan manusia. Mungkin ini terdengar tidak elit juga tampak bodoh bagi kalian. Tapi kalian bisa melihat wajah Val ini kan? Inilah gambaran wajah manusia yang sedang sedih. Tak ada ekspresi, pucat, dan lingkar mata berwarna merah. Profesor ingin manusia melihat wajah Val ini, sehingga mereka akan berpikir dua kali untuk sedih karena mereka akan nampak jelek jika larut dalam kesedihan.”

Hening. Bahkan pergerakan detik jarum jam terdengar jelas di kamar Fey sekarang.

“Pfffttt…”

“Hahahaaa…”

“Awh, perutku…”

Val memandangi ketiga manusia yang begitu menikmati tawa mereka lantas mengerucutkan bibirnya.

“Hanya itu?” Fey berusaha menghentikan tawanya.
Val menggeleng membuat ketiga manusia itu sontak menghentikan tawa mereka. “Hanya itu yang dikatakan Profesor sebelum ia meninggal. Tapi masih ada lagi hal lain alasan Profesor menciptakan Val, dan Val tidak tahu apa itu.”

Fey, Vio, dan Ran saling bertukar pandang.

“Apa hal lain yang kau maksud Val?” Pertanyaan dari Vio mendapat anggukan dari dua temannya.

“Val tidak tahu. Yang pasti alasannya tersimpan dalam Buku Rahasia Bumi milik Profesor Birg yang ada di dalam Lab Ilmu Bumi. Itulah sebabnya Val selalu berada di sana demi mencari tahu tujuannya Val diciptakan.”

“Jadi karena itulah kau dikenal dengan makhluk lorong? Ah, kalau saja aku tahu kau itu adalah seorang pria, sudah pasti aku akan menemuimu setiap malam,” kekeh Ran. Fey menoyor kepala sahabatnya itu.

“Teman-teman, kurasa aku punya ide brilian,” Vio menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya. “Bagaimana jika kita membantu Val mencari tahu tujuan ia diciptakan? Jika kita bisa menemukannya, kita akan terkenal seantaro bumi. Seluruh klan manusia akan memuja kehebatan kita,” terang Vio dengan rasa bangga.

Ckk, berhentilah berkhayal Vio. Sudahlah, cepat kau bawa Val pergi dari sini sebelum orang lain melihatnya. Kita harus menyembunyikan Val sampai kita menemukan tempat yang aman untuknya,” Fey bangkit dan berdiri di ambang pintu. Sebagai tanda agar Vio segera pergi dari kamarnya dan Ran.

“Ap, apa? Kenapa aku? Hey, ayolah bukankah makhluk bertubuh dingin ini mengikutimu? Kenapa tidak kau sembunyikan saja ia di kamar kalian huh?”

Ran berkacak pinggang, “Dasar bodoh. Kau pikir Val ini berjenis kelamin apa? Dia kan laki-laki. Jadi kau mau dua teman wanitamu ini tidur dengan seorang—”

“Oke cukup. Hentikan. Baiklah aku akan membawanya, tapi hanya untuk malam ini. Besok kalian harus segera menemukan tempat untuk Val, mengerti?” Vio menarik Val agar mengikutinya.

Alis Vio bertaut. Sementara Fey dan Ran menganga menyaksikan pemandangan di dalam kamar mereka.

“Apa yang kau lakukan di atas tempat tidurku??!” Fey panik ketika Val berbaring dengan nyaman di atas ranjangnya.

“Val ingin bersama Fey. Val tidak mau bersama Manusia Underground itu,” ucap Val yang membuat rahang ketiga manusia itu terjatuh.

“Hahaha. Anak pintar. Kalau begitu…” Vio melirik kedua sahabatnya. “Sampai bertemu besok pagi!” Dan Vio segera berlari dengan kecepatan cahaya meninggalkan kamar Fey dan Ran.

“Hey Vio jangan pergi!!!” Ran berteriak di ambang pintu.

Dan Fey hanya bisa menatap tajam Val yang sudah terlelap di atas tempat tidurnya. “HEY VAL CEPAT BANGUN DARI TEMPAT TIDURKU SEKARANG!!!”

.
END

Makasih buat yang sudah baca FF absurd ini..
Mhueheheheheehhh…




Tidak ada komentar:

Posting Komentar