Val
.
.
Author:
Aisyah (@cloudisah)
.
.
Cast:
BAP’s Zelo As Val
BAP’s Daehyun As Vio
OC’s Fey
OC’s Ran
.
Genre:
Fantasy,
Friendship
.
.
OoooO
“Kurasa
mengambilnya sekarang bukanlah ide yang bagus.”
“Apa kau
lupa perkataan Fia tadi siang? Di lorong lantai dua belas itu ada makhluk yang
bersembunyi dan akan menampakkan diri jika matahari sudah terbenam!”
Fey menelan saliva-nya dengan susah payah. Ucapan Vio dan Ran saat di asrama tadi
terus berputar dalam memorinya. Membuat kedua tungkainya yang bergerak perlahan
merajut langkah menuju lantai dua belas gedung sekolahnya gemetaran.
Menurut rumor yang beredar di sekolah, makhluk
yang bersembunyi di lorong lantai dua belas adalah arwah manusia yang sudah
meninggal. Oleh Manusia Permukaan disebut hantu. Sedangkan Vio—Manusia Underground—menyebut makhluk itu dengan
mutan. Banyak simpang siur nama untuk makhluk
itu, bahkan Ran—ia Manusia Langit—menyebutnya jelmaan Hades. Tapi Fey
sendiri yang merupakan Manusia Lembah tak memiliki julukan apa-apa untuk makhluk tersebut.
Ia sadar betul keputusannya untuk mengambil
serum Penyembuh Luka Dalam percobaannya yang tertinggal di Laboraturium Ilmu Bumi
jam delapan malam sekarang adalah salah. Tapi mau bagaimana lagi. Jika tidak diambil
sekarang dan menyelesaikan laporan mengenai serum itu, esok sudah pasti ia akan
mendapat nilai F dari Profesor Girk.
Fey perlahan menapaki satu persatu anak tangga
yang menghubungkan lantai sebelas dan lantai dua belas. Lorong sekolah tidaklah
segelap yang ia bayangkan sebelumnya, karena seluruh lorong dari lantai pertama
diterangi oleh lampu surya, lampu yang berasal dari energi panas matahari.
Tungkai Fey terhenti di depan pintu
Laboraturium Ilmu Bumi. Ia kembali menelan saliva-nya
susah payah seraya kedua netranya yang terus menatap awas pada sekelilingnya.
Usai memastikan keadaan aman dan tak ada yang mencurigakan, Fey dengan cepat
mengambil serumnya lantas setelahnya gadis bersurai sebahu itu berlari secepat
yang ia bisa agar segera mencapai lantai dasar.
Nafasnya tak beraturan ketika menuruni anak
tangga. Entah kenapa saat ia hendak menuruni tangga meuju lantai sebelas, suara
rintihan memenuhi indra pendengarannya dan hal itu sukses membuatnya semakin
cepat berlari. Fey tidak ingin mati konyol karena makhluk-yang-tak-diketahui
itu.
“Aaaargggghhhh!”
Kedua netra Fey membelalak saat langkahnya
mencapai lantai dasar gedung sekolah. Suara jeritan seorang gadis dari lantai
atas—Fey tak tahu dari lantai berapa—memecah keheningan yang sejak tadi
melingkupi Fey. Jantung Fey rasanya ingin mencelos dari tempatnya. Dan dengan
sisa tenaga yang ia miliki, Fey kembali berlari untuk meninggalkan gedung
sekolah.
OoooO
“Jadi bukan makhluk itu yang membunuhnya?”
Pertanyaan dari Ran barusan mendapat anggukan
mantap dari Vio. Mereka bertiga; Ran, Vio, dan Fey, sedang duduk di bawah pohon
maple di belakang sekolah. Dan
konversasi antara ketiganya sudah berlangsung sejak dua puluh menit yang lalu.
Ran menyandarkan punggungnya pada batang pohon
maple di belakangnya. “Ah, tidak
keren. Seandainya makhluk itu yang
membunuhnya, sudah pasti sekolah akan diliburkan untuk memburu makhluk misterius itu.”
Fey melirik gedung sekolah di belakangnya.
Saat ini Sekolah Tinggi Tereba digemparkan dengan penemuan mayat siswi tingkat
sebelas bernama Gea di lantai sepuluh. Gea sendiri adalah siswi yang berasal
dari klan Manusia Permukaan.
“Katanya ia mengidap Anxiety Disorder, dan tadi malam ia sudah tak bisa lagi menahan
keinginannya untuk menyakiti dirinya sendiri,” terang Vio. “Oh iya, apa kau
tidak mendengar apa-apa tadi malam saat kau mengambil serum di Lab Ilmu Bumi?”
Vio mengalihkan fokusnya pada Fey yang sejak tadi tak mengeluarkan sepatah
katapun.
Fey melirik kedua sahabatnya ragu. “Aku
mendengar teriakannya saat sudah kembali ke lantai dasar. Tapi—”
“Tapi?” Vio menatap Fey dengan kuriositas yang
tercetak di wajah tampannya.
“Tapi,” Fey tak tahu apakah ia harus
memberitahukan Vio dan Ran mengenai suara rintihan yang ia dengar saat di
lantai dua belas. Ia ragu jika itu hanya halusinasinya.
Ran berdecak tak sabar. Gadis dari klan
Manusia Langit itu bersidekap menunggu Fey melanjutkan kalimatnya. “Tapi apa
Fey?”
“Tak ada. Aku lupa akan mengatakan apa tadi.
Hehe,” Fey menunjukkan cengiran khasnya pada kedua sahabatnya itu.
“Tsssk,
menyebalkan. Ya sudah, kita harus kembali ke kelas. Setelah ini pelajaran
Profesor Gum kan? Ah, aku benci sekali harus hitung menghitung,” Vio mengacak
rambutnya frustasi. Sementara Fey dan Ran hanya terkekeh melihat kelakuan
sahabat laki-laki mereka itu.
OoooO
Sekolah Tinggi Tereba berada di dasar Lembah
Tereba. Awalnya sekolah itu hanya untuk siswa yang berasal dari klan Manusia
Lembah. Tapi seiring berjalannya waktu, Sekolah Tinggi Tereba dibuka untuk
seluruh klan manusia; Manusia Lembah, Manusia Underground, Manusia Permukaan, dan Manusia Langit. Tujuannya
adalah untuk menjalin kerjasama dan menjaga perdamaian antar klan manusia.
Malam itu, Fey merutuki dirinya yang tanpa
pikir panjang membuat keputusan untuk kembali ke lorong lantai dua belas
sekolah demi membuktikan suara yang ia dengar kemarin malam. Fey sadar betul ia
akan terlihat bodoh sekarang jika Vio dan Ran melihatnya, dan mereka akan
menertawakannya habis-habisan.
Fey sendiri tak tahu kenapa rasa penasarannya
begitu memuncak. Fey dengan jelas mendengar suara rintihan itu semalam. Tapi
benarkah tak ada hubunganya makhluk-yang-tak-diketahui itu dengan kematian Gea?
Jika memang benar, kemungkinan rumor yang selama ini beredar mengenai makhluk itu hanyalah bohong belaka.
Sampai di anak tangga terakhir menuju lantai
dua belas, Fey tak mendengar apa-apa ataupun merasakan adanya sesuatu yang
janggal. Kembali dibawa tubuhnya menyusuri lorong lantai dua belas seorang diri
dan—
“Aaaakkkh…”
—Fey bersumpah ini adalah hal paling
menakutkan seumur hidupnya. Sepasang mata cokelat hazel kini tepat berada di depan wajahnya. Kedua mata itu
menatapnya sayu dengan lingkar mata merah yang membuat kedua mata itu tampak
menyeramkan.
“To, tol… Tolong,” suara Fey tertahan. Ia
ingin berteriak namun makhluk bermata
cokelat hazel itu segera menggenggam
kedua tangan Fey dengan tangannya yang terasa dingin. Tangan makhluk itu bahkan lebih dingin
ketimbang bongkahan es batu yang pernah dibawa Ran dari langit.
Fey ingin menangis rasanya. Ia tidak ingin
mati sekarang. Setidaknya tidak dengan cara seperti ini. “Lep, lepas. Lepaskan
aku,” Fey sekuat tenaga melepaskan tangan itu.
Makhluk itu menggeleng lemah. “Val tidak menyakiti manusia.”
Fey tertegun. Ia sama sekali tidak menyadari
jika pemilik sepasang mata cokelat hazel
di depannya ini adalah seorang pria muda, berkulit putih pucat, dan tinggi
badannya seukuran pria normal dengan setelan serba hitam. Fey menelan ludah
gugup. Pria ini terlihat sedikit tampan, sih.
“Ka, kau, kau ini… apa?” Fey menggigit bibir
bawahnya. Ia merutuki dirinya dalam hati karena salah memilih kata tanya.
Seharusnya Fey mengatakan ‘siapa’, bukan ‘apa’.
Pria pucat di hadapan Fey itu melepaskan
genggaman tangannya. Alih-alih menjawab pertanyaan Fey barusan, pria itu kini
berjalan menyusuri lorong dan Fey malah dengan bodohnya mengikuti pria itu
ketimbang berlari meninggalkannya ke lantai dasar. Sampai di depan Laboraturium
Ilmu Bumi, langkah pria itu terhenti. Fey masih mengekor.
“Val diciptakan oleh Profesor Birg dari air
mata seluruh klan manusia.” Pria itu berdiri tepat di depan pintu Lab Ilmu
Bumi. “Tapi, Val ditinggalkan begitu saja di sini. Katanya Profesor meninggal
dan mereka bilang Val yang membunuhnya. Val—”
“Tunggu dulu. Jadi, namamu… Val?” Fey memotong
ucapan Val sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.
Pria itu—Val—membalik tubuhnya dan menatap Fey
yang bertubuh lebih rendah darinya. Tatapan pria itu masih sayu, bahkan
terkesan tak ada ekspresi apapun di wajah putih pucatnya. “Iya, Val—”
“Kau yakin makhluk misterius itu tidak akan
membunuh kita?”
“Aku juga tak yakin. Tapi kita harus bisa
menangkapnya agar para murid tidak ketakutan lagi di sekolah.”
Fey dan Val saling bersitatap ketika mendengar
suara dari ujung lorong. Dengan cepat Val menarik tangan Fey dan bersembunyi di
dalam Lab Ilmu Bumi. Keduanya menahan nafas sampai dua pria itu berlalu.
Fey menatap Val yang kini tengah menatapnya,
hingga pandangan keduanya saling bersirobok. Fey merasa tak ada yang berbahaya
dari pria di sampingnya ini. Bahkan sebaliknya, pria pucat bernama Val ini
malah terlihat seperti seorang Guardian
Angel.
“Jadi, selama ini kau tinggal di lorong ini?”
Fey membuka suara setelah beberapa menit hening melingkupi mereka.
“Tepatnya tiga puluh delapan tahun. Val tidak
punya tempat lain karena Val diciptakan di dalam laboraturium ini.”
“Tapi, kenapa kau bersembunyi saat siang hari?
Dan lagi, aku mendengar rintihanmu semalam. Kupikir kau makhluk menyeramkan
sejenis hantu atau monster.”
“Manusia takut pada Val. Val menangis karena
Val tak memiliki teman.”
Fey mengangguk pelan. “Lalu, benar bukan kau
yang membunuh Gea? Juga, benarkah menurut rumor kaulah makhluk yang membunuh
Profesor Birg?” tanya Fey ragu.
Val menghembuskan nafasnya. Tapi meskipun
begitu masih tak ada ekspresi apapun di wajahnya. “Val tidak menyakiti
manusia,” jawabnya lemah.
Fey kembali menggigit bibirnya. “Kau pasti
kesepian.”
Val mengangguk pelan. “Boleh Val ikut
bersamamu?”
Kedua netra Fey melebar. “Ap, apa? Kau ingin
ikut denganku? Ta, tapi—”
“Sudahlah. Val tahu, manusia takut pada Val.
Jadi kau bisa pulang sekarang.”
Fey memelintir ujung piyamanya. Gadis itu
menghela nafas dalam lantas berdehem. “Baiklah. Kau boleh ikut denganku,”
ucapnya mantap.
Dan Val hanya bisa menatap Fey tanpa kedip
ketika tangan pria itu ditarik Fey menuju lantai dasar sekolah dan membawa pria
itu ke asrama sekolah.
OoooO
“Jadi, dia bukan manusia, bukan hantu, bukan
jelmaan Hades, bukan mutan, juga bukan monster?” Vio melipat kedua tangannya di
depan dada ketika ia bersama kedua sahabatnya menginterogerasi Val layaknya
seorang tahanan.
“Lalu kenapa ia menampakkan dirinya padamu
Fey?” Pertanyaan Ran barusan membuat Vio dan Fey menatapnya. “Bukankah itu
aneh?”
Val yang dikelilingi tiga manusia itu memeluk
kedua lututnya. Sepertinya ia tidak terbiasa dengan kehadiran banyak manusia di
sekelilingnya. Bahkan beberapa kali ia menundukkan kepalanya.
“Itu… Karena Fey keturunan asli Manusia
Lembah,” terang Val pelan. “Manusia Lembah tidak akan menyakiti Val,” lanjutnya
lagi.
Kening Vio berkerut. “Jadi maksudmu, Manusia Underground sepertiku ataupun Manusia
Langit seperti Ran ini akan menyakitimu begitu? Termasuk Manusia Permukaan?”
Val semakin memeluk lututnya ketakutan. Pria
itu sesekali melirik tiga manusia di depannya dan setelahnya kembali menunduk.
“Tssk,
kenapa diam saja? Jawab aku,” nada suara Vio meninggi.
“Hey Vio, kau membuatnya takut,” Fey
mengenggol lengan Vio. “Tapi, bisa kau katakan kenapa tiga puluh delapan tahun
yang lalu Profesor Birg menciptakanmu? Bahkan dari air mata manusia?” Fey
menatap lembut iris cokelat hazel
milik Val membuat pria pucat itu tak dapat mengalihkan perhatiannya dari iris
karamel Fey.
Vio dan Ran bungkam. Mereka menunggu Val
memberikan penjelasannya.
Val menatap satu persatu tiga manusia yang
duduk di depannya. “Air mata manusia mengandung leusin-enkephalin, adeokortikotropik, dan prolaktin yang—”
“Bisa kau skip
saja bagian itu dan langsung intinya? Aku tidak suka Biologi oke,” Vio
mengibaskan tangannya di depan wajah.
Ran berdecak sebal. “Jangan memotong
ucapannya, bodoh.”
“Bisa Val lanjutkan?”
Ketiga manusia itu mengangguk serempak.
“Kalau begitu, intinya saja. Professor Birg
ingin mengobati kesedihan manusia dengan mengumpulkan air mata mereka. Maka diciptakanlah
tubuh Val ini sebagai wujud dari air mata ke-empat klan manusia. Mungkin ini
terdengar tidak elit juga tampak bodoh bagi kalian. Tapi kalian bisa melihat
wajah Val ini kan? Inilah gambaran wajah manusia yang sedang sedih. Tak ada
ekspresi, pucat, dan lingkar mata berwarna merah. Profesor ingin manusia
melihat wajah Val ini, sehingga mereka akan berpikir dua kali untuk sedih
karena mereka akan nampak jelek jika larut dalam kesedihan.”
Hening. Bahkan pergerakan detik jarum jam
terdengar jelas di kamar Fey sekarang.
“Pfffttt…”
“Hahahaaa…”
“Awh, perutku…”
Val memandangi ketiga manusia yang begitu
menikmati tawa mereka lantas mengerucutkan bibirnya.
“Hanya itu?” Fey berusaha menghentikan
tawanya.
Val menggeleng membuat ketiga manusia itu
sontak menghentikan tawa mereka. “Hanya itu yang dikatakan Profesor sebelum ia
meninggal. Tapi masih ada lagi hal lain alasan Profesor menciptakan Val, dan
Val tidak tahu apa itu.”
Fey, Vio, dan Ran saling bertukar pandang.
“Apa hal lain yang kau maksud Val?” Pertanyaan
dari Vio mendapat anggukan dari dua temannya.
“Val tidak tahu. Yang pasti alasannya
tersimpan dalam Buku Rahasia Bumi milik Profesor Birg yang ada di dalam Lab
Ilmu Bumi. Itulah sebabnya Val selalu berada di sana demi mencari tahu
tujuannya Val diciptakan.”
“Jadi karena itulah kau dikenal dengan makhluk
lorong? Ah, kalau saja aku tahu kau itu adalah seorang pria, sudah pasti aku
akan menemuimu setiap malam,” kekeh Ran. Fey menoyor kepala sahabatnya itu.
“Teman-teman, kurasa aku punya ide brilian,” Vio
menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya. “Bagaimana jika kita membantu Val
mencari tahu tujuan ia diciptakan? Jika kita bisa menemukannya, kita akan
terkenal seantaro bumi. Seluruh klan manusia akan memuja kehebatan kita,”
terang Vio dengan rasa bangga.
“Ckk,
berhentilah berkhayal Vio. Sudahlah, cepat kau bawa Val pergi dari sini sebelum
orang lain melihatnya. Kita harus menyembunyikan Val sampai kita menemukan
tempat yang aman untuknya,” Fey bangkit dan berdiri di ambang pintu. Sebagai
tanda agar Vio segera pergi dari kamarnya dan Ran.
“Ap, apa? Kenapa aku? Hey, ayolah bukankah makhluk bertubuh dingin ini mengikutimu?
Kenapa tidak kau sembunyikan saja ia di kamar kalian huh?”
Ran berkacak pinggang, “Dasar bodoh. Kau pikir Val ini berjenis
kelamin apa? Dia kan laki-laki. Jadi kau mau dua teman wanitamu ini tidur
dengan seorang—”
“Oke cukup. Hentikan. Baiklah aku akan
membawanya, tapi hanya untuk malam ini. Besok kalian harus segera menemukan
tempat untuk Val, mengerti?” Vio menarik Val agar mengikutinya.
Alis Vio bertaut. Sementara Fey dan Ran
menganga menyaksikan pemandangan di dalam kamar mereka.
“Apa yang kau lakukan di atas tempat
tidurku??!” Fey panik ketika Val berbaring dengan nyaman di atas ranjangnya.
“Val ingin bersama Fey. Val tidak mau bersama
Manusia Underground itu,” ucap Val
yang membuat rahang ketiga manusia itu terjatuh.
“Hahaha. Anak pintar. Kalau begitu…” Vio
melirik kedua sahabatnya. “Sampai bertemu besok pagi!” Dan Vio segera berlari
dengan kecepatan cahaya meninggalkan kamar Fey dan Ran.
“Hey Vio jangan pergi!!!” Ran berteriak di
ambang pintu.
Dan Fey hanya bisa menatap tajam Val yang
sudah terlelap di atas tempat tidurnya. “HEY VAL CEPAT BANGUN DARI TEMPAT
TIDURKU SEKARANG!!!”
.
END
Makasih
buat yang sudah baca FF absurd ini..
Mhueheheheheehhh…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar