Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Sabtu, 08 Agustus 2026

(Coretan Isah) UTUH

Coretan Isah #10

(Ditulis di hari Jum'at, 7 Agustus 2026)

Utuh

***

Ada banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan di dunia ini. Bagaimana pikiran orang-orang terhadap kita, bagaimana detak jantung kita bekerja, bagaimana kebijakan pemerintah bisa memengaruhi inflasi, bahkan perasaan kita sendiri tidak bisa dikendalikan. Maksudku, kita tidak pernah bisa memutuskan kepada siapa kita melabuhkan hati. Tidak dengan secara sengaja memilih satu orang lalu memutuskan bahwa dia yang akan kita sukai. 

Aku bukan wanita yang mudah jatuh hati, dan aku bangga sekali dengan hal ini. Jadi aku tidak mudah terjatuh pada godaan laki-laki yang aku tahu terkadang dia tidak hanya mencari perhatian pada kita seorang, tapi pada beberapa wanita sekaligus.

Tapi... Sekali lagi, perasaan bukanlah hal yang bisa dikendalikan dan ternyata aku juga tidak bisa mengendalikannya. Tidak mudah jatuh hati dengan tidak bisa mengendalikan perasaan itu dua hal yang berbeda. Memang tidak semudah itu menyerahkan hatiku pada sembarang laki-laki, tapi saat ada laki-laki yang dirasa tepat mengisi bagian yang tidak lengkap dari hati, aku tidak ada bedanya dengan teman-teman wanita di kampusku yang saat itu memang sedang dalam usia sudah-matang-untuk-jatuh-cinta. Yah, aku menyebutnya seperti itu.

Aku tidak mau mengakuinya. Bukan gengsi, tapi aku tidak mau terlalu terburu-buru untuk memutuskan dialah satu-satunya orang yang tepat. Aku butuh waktu. Meskipun aku tahu, perasaanku saat itu sudah memilih dia, dan berdebar seperti sedang bermain wahana ekstrim roller coaster saat eksistensinya berada di dekatku.

Kami menjadi teman dekat setelah beberapa kali terlibat dalam proyek mata kuliah Pancasila dan Dasar-dasar Akuntansi di semester satu, sebab nomor absensi kami berdekatan. Awalnya terbiasa dengan kehadirannya, namun lambat laun menjadi ketergantungan dan tidak terbiasa saat satu hari tidak melihat keberadaannya terutama di jadwal mata kuliah yang sama. 

Dia pria yang baik. Selera humornya sangat cocok denganku. Apapun yang membuatnya tertawa, aku ikut tertawa. Pembahasan apapun yang aku sampaikan selalu dia respon tanpa terlihat tidak berminat, bahkan hal yang kurang dia sukai seperti masalah idol K-Pop. 

Kami melewati empat semester dengan bahagia. Maksudku, aku. Aku melewati semester pertama hingga keempat dengan benar-benar bahagia. Bagiku, kehidupan kampus sungguh menyenangkan selain memiliki teman kuliah yang baik, IPK yang selalu memuaskan, dan lebih spesial saat ada dia yang sering bersamaku sebagai teman dekat. Kami bukan sepasang kekasih. Dan dia sudah pernah mengatakan padaku untuk tidak jatuh cinta padanya. 

Nah, itulah masalahnya. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku kepadanya. Sekalipun aku dilamar oleh seorang pria mapan saat masih semester empat, aku benar-benar tidak tergoda bahkan sekalipun dia datang berkali-kali untuk meminang ku. Aku sudah memiliki si "dia" yang bagiku tidak akan terganti dengan laki-laki manapun. 

Sampai di semester lima, aku menerima kabar dari yang bersangkutan langsung kalau dia sedang menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi di luar kota, di salah satu kampus terkenal. Mendengar hal itu dari dia, aku hanya tertawa dan mengucapkan selamat. Seharian itu berjalan seperti biasa di kampus. Namun yang menyedihkan, dia menjauhiku saat pertengahan semester lima.

Kupikir aku akan baik-baik saja. Tapi ternyata hatiku hancur. Seumur hidup tidak pernah merasakan perasaan kacau seperti saat itu. Kuliah jadi tidak keruan padahal dia masih berteman denganku seperti biasa. Teman-teman ku juga masih sering mengajak hang out saat akhir pekan, tapi semua yang aku lalui terasa hambar. Hari-hari ku terasa seperti monokrom. Bahkan perjalanan ke kampus yang biasanya terasa menyenangkan, aku ingat sekali terasa berat dan kosong.

IPK ku anjlok. Selama empat semester selalu dia atas 3,80. Kali itu terjun bebas ke angka 3,05. Aku tidak menyangka ternyata mood kuliahku malah bergantung pada satu orang yang kehadirannya dalam hidupku bukanlah keinginanku. Tapi kemudian aku terbiasa dengannya, terbiasa ada dia dalam jarak pandang ku. Sehingga aku menjadi ketergantungan padanya.

Libur semester lima aku habiskan dengan menggalau. Membaca fanfiction K-Pop saat itu adalah salah satu cara untuk menghibur hati. Sudah ada puluhan fanfiction bahkan yang satu judul memiliki belasan chapter aku habiskan semua. Sampai pada satu momen, aku mencoba membuat sendiri fanfiction yang aku unggah pada akun Facebook yang ku buat khusus untuk kegiatan Fangirling. Sebagai pemula, aku tidak menyangka dapat respon yang baik dari teman-teman se-fandom. 

Saat penghujung libur semester, ada sebuah akun Facebook yang mengumumkan adanya perlombaan fanfiction dengan genre bebas tapi masih dalam tema yang ditentukan. Maka dengan senang hati aku mengikuti perlombaan itu. Tidak ada ekspektasi apa-apa selain ingin menunjukkan hasil tulisanku kepada pihak yang lebih mumpuni dalam dunia literasi. 

Di luar dugaan, fanfiction yang aku buat berhasil menjadi best fanfiction. Perasaan galau yang berbulan-bulan menggerogoti ku langsung sirna. Aku menemukan kebahagiaan lain, yang aku sendiri tidak menyangka yaitu dengan menulis. Usai memenangkan perlombaan fanfiction pertama itu, aku mulai mencari informasi mengenai info lomba menulis yang ternyata ada banyak sekali saat itu. Maka aku mencoba mengikuti beberapa. Aku bersyukur sekali naskah-naskah yang aku kirim selalu terpilih sebagai juara ataupun sebagai penulis terpilih yang karyanya diterbitkan dalam buku antologi cerpen.

Long story short, perkuliahan semester enam dimulai. Tidak ada lagi galau. Tidak ada lagi rasa ketergantungan pada satu orang. Yang ada hanya perasaan menggebu-gebu untuk terus mengikuti lomba menulis dan menambah teman yang juga sama-sama pegiat dalam dunia literasi di media sosial. Semester enam dimulai dengan rasa bahagia yang seolah lupa betapa galau dan sedihnya aku saat semester lima lalu.

Saat semester enam aku benar-benar hanya fokus kuliah dan sibuk dengan jadwal deadline lomba menulis. Tapi... Dia datang lagi. Dengan wajah yang belum pernah aku lihat dulu. Entah karena aku mulai melupakan perasaanku padanya atau memang dia terlihat berbeda karena memang di semester lima kami tidak akrab lagi dan aku jarang melihatnya. Dia tersenyum tipis duduk di dekatku dengan kalimat yang masih aku ingat sampai sekarang. "Aku gak nemuin cewek lain yang kayak kamu. Mulai sekarang, cewek manapun yang dekat sama aku standarnya harus kayak kamu."

Kalimat itu terdengar biasa saja. Meskipun begitu, anehnya aku masih ingat kalimat pertama yang ia katakan padaku setelah lama tidak bertemu. Aku tidak menanggapinya dengan serius saat itu. Kupikir kalau dia kembali ingin berteman, yah silakan. Tapi saat itu aku punya batasan sehingga apapun yang dia lakukan atau dimana dan bagaimana keadaannya tidak lagi menjadi fokus ku.

Kami berteman sampai lulus kuliah. Aku lebih dulu skripsi di semester tujuh, jadi saat semester delapan dia sering mampir ke rumahku untuk menyelesaikan skripsinya karena aku tidak lagi masuk ke kampus. Hubungan pertemanan yang sudah ku putuskan untuk tidak melampaui batas, ternyata tidak bisa aku kendalikan. Kami malah semakin akrab ketimbang sebelum semester lima lalu. Setelah wisuda kami masih sering bertukar kabar bahkan tidak jarang saat weekend dia mengajakku makan di luar. 

Pernah ada dua laki-laki yang datang melamarku. Pertama saat penghujung semester tujuh. Aku sempat menjauh dari dia karena kupikir akhirnya aku menemukan belahan hatiku. Namun pertunangan itu tidak berjalan mulus dan berakhir kandas karena kami sama-sama sholat istikharah dan bukan dia yang jadi jawaban Allah. Begitupun dengannya. Pada suatu hari, dia buru-buru menemui ku di parkiran kampus. Dia menatapku sengit sembari berkata, "kenapa kamu jauhin aku hanya karena dilamar sama mantan kakak kelasmu dulu? Lalu kamu pikir selama ini kita apa? Just friend? No more?"

Aku gelagapan dan tidak tahu berkata apa. Seandainya dia dulu mengatakan itu sebelum semester lima, aku pasti tidak akan menggalau dengan begitu parah. Untuk kali pertama dadaku kembali dibuat berdesir setelah aku memutuskan untuk tidak berlebihan lagi menghadapi perasaanku padanya. 

Laki-laki kedua melamarku setelah dua tahun kami lulus kuliah. Aku dan dia jarang bertemu karena sibuk dengan pekerjaan. Namun masih intens berkomunikasi lewat messenger dan WhatsApp. Setelah mengetahui aku dilamar oleh laki-laki yang notabenenya dulu adalah teman seangkatan kami saat kuliah, dia meminta untuk bertemu. Tidak ada basa-basi selain memintaku untuk menunggunya. Dia bilang dia butuh waktu untuk mengumpulkan uang agar kami bisa menikah. 

Menikah? MENIKAH? Menikah katanya??!

Kami bahkan tidak menjalin hubungan asmara, yah aku rasa begitu karena dia tidak pernah mengutarakan perasaannya padaku. Maksudku dia tidak pernah nembak aku dan memintaku jadi pacarnya atau kekasihnya yah apapun intinya sebagaimana orang lain menjalani hubungan romansa nya. Tapi kami hanya terus menjalani hari bersama meskipun aku sendiri tahu bagaimana perasaan kami berdua saling tumbuh karena kebiasaan bersama.

Aku sebelumnya menjalani hari-hari dengan perasaan menggantung. Terkadang aku berharap dia segera mengatakan perasaannya padaku. Di lain waktu aku tidak terlalu berharap karena aku sudah pernah sakit hati karenanya. Jadi saat dia memintaku untuk menunggunya, maka perasaan menggantung itu hilang dan aku tahu bahwa selama ini barangkali kami memang ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih tanpa kata-kata bualan dan ucapan manis agar salah satunya tidak pergi ke lain hati.

Dan bertahun berlalu, hingga sekarang ada seorang gadis kecil yang kini tidur di tengah kami. Aku melihat dia berbaring di samping putri kecil kami, sambil sesekali mencium puncak kepalanya. Dia adalah laki-laki yang dulu sudah menyakiti hatiku saat semester lima. Tapi dia juga yang kemudian menemaniku menjalani hari-hari sampai lulus kuliah. Dia juga yang masih bersama denganku melewati masa Covid-19. Dan dia juga orang yang sama, yang menjabat tangan ayahku dengan ikrar suci pernikahan. 

Dia kepingan hatiku yang sudah kutemukan sejak semester pertama kuliah. Tapi butuh waktu yang cukup lama dan panjang sampai akhirnya kepingan hati itu mengisi tempatnya sampai hatiku menjadi utuh. 

Dia adalah suamiku. Sang kepala keluarga. Sang cintaku. Sang penentu surga dan neraka ku. Sang ayah dari putriku. Dan sang pahlawan bagi keluarga kecil kami. 

Sehat-sehat selalu pelengkap kepingan hatiku 💛

Salam literasi ^^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar