Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Minggu, 08 Februari 2015

(Fanfiction) Bleedy Night



Bleedy Night
.
.

Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah

.

Cast:
B.A.P’s Yongguk
B.A.P’s Youngjae
.
.

Ficlet, Brothership, Little Bit Thriller, Typo...

.

###

Hyung, kau sudah di rumah?” Youngjae mengambil sekaleng soda di dalam kulkas tak jauh dari Yongguk yang sibuk menghias kue tart.

“Hmm”

“Tumben sekali kau pulang lebih awal Hyung, biasanya kau pulang sekitar pukul sembilan malam. Tapi..” Youngjae menahan kalimatnya dan melirik jarum jam dinding yang masih menunjuk angka delapan. “Ini masih jam delapan Hyung. Kau sedang tak ada latihan malam ini?”

“Hmmm”

“Kau membuat kue itu untuk siapa Hyung?” kini Youngjae berdiri tak jauh dari Yongguk yang sepertinya begitu fokus dengan kuenya.

“Jirin,” jawaban singkat lagi-lagi keluar dari mulut Yongguk.

“Jirin? Jirin junior kita itu?”

“Hmm.”

“Ckk,, kau terlalu fokus dengan kue-mu Hyung sampai-sampai kau menjawab pertanyaanku begitu singkat. Ohya, ada apa memangnya dengan gadis itu? Kenapa kau membuat kue untuknya? Kau biasanya hanya akan membuat kue untuk ulang tahun ibumu kan?”

Setelah melontarkan kalimatnya, Youngjae menenggak habis isi soda tersebut lantas setelahnya ia berjalan ke samping Yongguk untuk membuang kaleng kosong itu di dalam tempat sampah di samping Yongguk berdiri. Youngjae sama sekali tak menyadari jika sejak tadi Yongguk menatap tajam padanya bahkan sampai ia kembali pada posisinya semula –berdiri tak jauh dari Yongguk- ia tetap tak menyadari tatapan yang Yongguk layangkan padanya.

“Apa gadis itu ulang tahun Hyung?” Youngjae mencoba mendekati Yongguk berniat membantu pria yang lebih tua empat tahun darinya itu. Yongguk adalah kakak angkat Youngjae. Mereka sudah tinggal bersama lebih dari lima tahun saat Youngjae pertama kali datang ke Seoul untuk sekolah di salah satu SMA di Seoul.

“Begitulah.”

“Whoaa, Hyung kau romantis sekali,” seru Youngjae heboh dan pria itu kini mencoba mencicipi sedikit krim kue yang masih ditata Yongguk.

Yongguk kembali mendelik tajam. Kali ini ia tak tanggung-tanggung membiarkan Youngjae menyadari tatapannya membuat kedua alis Youngjae berkerut.

“Kenapa Hyung?”

Yongguk tak langsung menjawab. Salah satu sudut bibirnya tertarik membuat sebuah seringaian di wajah tampannya dan kini Yongguk mengambil sebuah pisau kecil tak jauh dari mangkuk chocochip di atas meja. “Kau tahu kan kalau aku sudah menyukai Jirin sejak aku masih SMP?”

Youngjae mengangguk polos. Ia masih tak menyadari arti tatapan Yongguk. “Aku tahu Hyung. Lalu kenapa?”

Youngjae membulatkan kedua matanya. Seharusnya ia berteriak saat ini tapi tenggorokannya tercekat seperti ada yang menghalangi suaranya untuk keluar. Yongguk dengan sengaja menggoreskan  pisau kecil di tangannya ke leher Youngjae membuat darah segar mengucur deras dari lehernya yang tergores pisau. Youngjae menahan nafasnya ketika rasa perih luar biasa tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya. “H hyung.. Hyung...”

Yongguk mengganti seringaiannya dengan senyum manis seraya mengambil sebuah mangkuk kecil untuk menampung darah yang terus-terusan mengalir dari leher Youngjae. Yongjae bergeming ketika Yongguk mencondongkan kepalanya dan berbisik tepat di telinganya.

“Aku kehabisan pewarna merah untuk krim di kue-ku. Jadi aku meminta sedikit darahmu Jae,” suara Yongguk terdengar seperti sebuah ancaman untuk Youngjae.

Kedua iris Youngjae bisa dengan jelas melihat Yongguk yang mulai mencampurkan darahnya dengan krim kue membuat krim itu berwarna merah menjijikan. Youngjae masih belum bisa menggerakkan sedikitpun tubuhnya meskipun ia benar-benar merasakan kesakitan luar biasa di lehernya yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.

“Ah, rasanya warna merahnya masih kurang.” Yongguk kembali menatap Youngjae yang masih bergeming di tempatnya. Yongguk lantas perlahan kembali mendekati Youngjae membuat Youngjae sontak mundur beberapa langkah karena Yongguk yang kembali mengacungkan pisau ke hadapannya.

Hyung.. Hyung, ap pa, apa.. apa yang kau lakukan Hyung?”

Yongguk tersenyum manis. Setelahnya ia lantas menurunkan pisau di tangannya dan beralih mengusap wajah Youngjae yang mulai basah karena peluh yang mengalir deras dari pelipisnya. Namun beberapa sekon berikutnya Yongguk kembali mengacungkan pisaunya dan menggoreskan pisau itu dari kening Youngjae dan menggoreskannya sampai ke dagu Youngjae melalui pipi kanannya. Bau anyir darah dengan serta merta menyapa penciuman Youngjae. Ingin rasanya ia berteriak namun suaranya benar-benar tercekat saat menatap Yongguk yang juga menatapnya dan menyiratkan kebencian dari matanya.

“Aku tahu kau tidak bodoh Jae. Kurasa selama ini kau hanya berpura-pura tak mengerti keadaannya. Benar begitukan dongseng kesayanganku?” suara rendah Yongguk membuat bulu roma Youngjae berdiri. Kali ini Youngjae tak tahan untuk tak mengeluarkan isakannya karena wajah dan lehernya benar-benar terasa perih dan sakit luar biasa.

Hyu, Hyung..”

“Hmm? Kenapa Jae? Kenapa kau menangis? Apa sakit?” Yongguk memasang ekspresi kasihan dibuat-dibuat. Lantas Yongguk mengusap darah yang mengalir di pipi Youngjae dan ia tertawa begitu nyaring seolah yang baru saja ia lakukan hanyalah sebuah lelucon biasa.

Hyung...” Youngjae berucap lirih. Ia tak pernah tahu jika Yongguk selama ini membencinya –mungkin. Youngjae bukannya berpura-pura tak mengerti. Ia hanya menjaga perasaan Yongguk yang memang sudah menyukai Jirin sejak masih SMP. Youngjae juga tak menyangka jika Jirin-gadis yang lebih muda setahun darinya- ternyata malah menyukai Youngjae dan itu ia ketahui saat ulang tahunnya bulan lalu dimana Jirin memberinya sebuah kado ulang tahun beserta sebuah surat yang merupakan pernyataan dari perasaan Jirin terhadapnya selama ini. Dan yang membuat Youngjae semakin tak percaya adalah Yongguk yang berani melukainya hanya karena seorang wanita.

“Aku sudah mengetahuinya lebih dari setahun belakangan ini. Tapi aku mencoba diam dan membiarkan semuanya, namun nyatanya aku tak bisa. Sekarang aku tak tahan lagi Jae,” Yongguk kembali menggoreskan pisaunya pada pipi kiri Youngjae.

Hyung, ma maaf.. Maafkan aku Hyung. Sungguh aku tak menyukai Jirin sedikitpun, Hyung. Percayalah,” Youngjae mati-matian menahan isakannya sekaligus rasa perih tak tertahankan akibat goresan pisau yang Yongguk lakukan di wajahnya. “Hyung...”

Yongguk memasang ekspresi sedih sembari meletakkan pisau kecil itu kembali ke atas meja. Setelahnya Yongguk memandang nanar pada Youngjae dan kue tart di atas meja bergantian. “Aku bingung harus memilih yang mana. Kue tart-ku kehabisan pewarna merah untuk krimnya, tapi aku tak tahan melihat ekspresi kesakitan dari adikku. Oh... bagaimana ini?” Yongguk kembali menghampiri Youngjae dan kembali mengusap wajah adiknya itu yang benar-benar terlihat kesakitan ditambah warna merah darah yang hampir menutupi seluruh wajah Yongjae.

Hyuung..”

“Kau tahu Jae, kau hanya akan menjadi penghalang bagiku untuk mendekati Jirin. Selama kau masih ada, Jirin tetap akan hanya melihat dirimu. Ia tak akan melihat laki-laki lain.”

“Tapi Hyung-“

“Aku menyayangimu Jae,” bisik Yongguk seduktif tepat di telinga kiri Youngjae, dan bersamaan dengan itu cairan hangat terasa keluar dari dada kiri Youngjae membuat Yongjae melebarkan kedua matanya dan menatap Yongguk tak percaya.

Hy, Hyung.. Hyuuuung.”

Tubuh Youngjae merosot ke atas lantai. Sementara Yongguk tersenyum puas sambil menatap pada pisau kecil yang entah sejak kapan kembali ia pegang. Pisau itu berlumuran darah segar dari jantung Youngjae ia baru saja ia tusuk.

“Aaaakkhhhhh...” Yongjae berteriak kesakitan seraya memegangi dada kirinya yang terus-terusan mengeluarkan darah. “Hyung to toloong.. tolong Hyuuuung...”

“Maaf Jae. Kurasa ini lebih baik untukmu...” setelah mengucapkan kalimatnya, Yongguk membawa tungkainya perlahan meninggalkan dapur dan meninggalkan Youngjae sendirian di atas lantai yang berlumuran darah.

Tubuh Youngjae terbujur kaku di atas genangan darah yang terus menerus mengalir dari dada kirinya. Yongguk masih sempat melihatnya di ambang pintu dapur dan seringaiannya kembali muncul menyaksikan bagaimana nyawa Youngjae ia habisi dengan tangannya sendiri. “Aku tak akan membiarkan seorangpun menghalangiku untuk mendapatkan Jirin, termasuk kau.. Youngjae.”

.
.
FIN

Baiklah... setelah lama nggak nulis ternyata cukup berat untuk mengembalikan mood dan juga inspirasi buat nulis. Jangan timpukin aku ya Bang Yongguuuuuk yang guanteng tak tertahankan, hahaa... dan juga maafkan aku Yongjae yang unyu-unyu nasibnya harus berakhir tragis, xixixi...
Lagi mencoba untuk bikin thriller tapi tak bisa. Tapi kayaknya cerita satu ini emang bener-bener hancur deh... Eum, makasih yang sudah berkenan membaca ficlet ini ^^

(Fanfiction) Kiss You



Kiss You
.
.
.

(Ini fanfiction aku bikin waktu baru lulus SMK, sekitar tahun 2012, makanya ceritanya ancur dan aku masih belum memperhatikan yang namanya EYD... Baru aku posting sekarang dari pada mubazir numpuk dalam folder draft :D)

Inspired By:
One Direction’s MV – Kiss You

Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah

Main Cast:
Harry Styles One Direction As Heri
Niall Horan One Direction As Naila
Liam Payne One Direction As Lia
Zayn Malik One Direction As Zainal
Louis Thomlison One Direction As Harry’s Mom
(Ps: maap ya, member OD ada yang aku bikin jadi cewe, heee, si Abang Niall dan Bang Liam tersayang, terus Bang Louis juga ^^)

Minor Cast:
Yesung Super Junior
Member Shinee dan member Suju
Aisyah a.k.a Author ikutan mampang

Rating: General  Genre: Family, School Life, Comedy ancur

Lenght:
Vignette

Disclaimer:
This story is belong to me, don’t claim it as yours, and don’t bash me!!

Warning:
Alur ngebut sengebut kereta api ekspress, bahasa tidak sesuai EYD, typo bertebaran

Summary:
Zainal si sohibnya Heri nantangin Heri sang play boy sekolah buat nyium Naila, si cewe populer di kelas bahkan satu sekolahan tapi sikapnya sok Naudzubillah... berhasilkah Heri???

-----OD-----

Di suatu pagi yang cerah di sudut alias pinggiran kota antah barantah ...

“Emaaa... anakmu yang kece badai ini berangkat sekolah dulu yaaa!”, Heri pamit ke ema’nya.

Sunyi.

Gada jawaban dari dalam rumah.

“Emaaaa...!”, teriak Heri lagi. Masih gada jawaban.

Heri yang bingung akhirnya kembali masuk ke dalam rumah nyariin ema’nya. “Kyaaa, ma’ paen chi di sinih”, kebiasaan Heri kalo kaget ngeluarin bahasa “4l@y”-nya. Terlihat Louis, eh salah maksutnya ema’nya Heri lagi jongkok di bawah meja deket kompor gas di dapur dengan ornamen unik yang ngga akan di temuin di luar negri  (maksutnya dapur yang item gegara gosong soalnya sebelum pake kompor gas mereka pake kayu bakar.. Hahaa #plakk /itukan dapurnya Isah/ *apadeh) dengan menekuk wajahnya.

Heri mengguncangkan tubuh ema’nya, “Eomma, waeyo? Gwaenchanayo?” *mendadak Korea*

Ema’nya mengangkat wajah dan... terlihatlah wajah ema’nya yang lagi pake masker lumpur khas kampung Heri yang di ambil dari samping rumah mereka deket kandang itik bapa’nya Heri.
“Ema’, nape kucel gitu?”, Heri mendekati ema’nya.

Louis: Hwaaa, guah protes! Guah ga terima jadi ema-ema. Masa dari kami berlima harus aku yang dapet peran ema’-ema’. Saah, tatap wajahku, apakah aku setua itu? *puppy eyes*

Isah: jiaaah, maap. Habisnya dari kalian berlima kan abang yang paling tua, jadi cuman abang yang cocok dapet tuh peran. Peran ini spesial loh bang. Sudahlah terima aja, tapi kalo abang ga mau bisa aku ganti kok ama yang lain. Ntar aku ajak om Adam Maroon Five jadi Bang Louis ga usah main lagi di ceritaku, gimana?

Louis: *mikir berat* ah jangaan.. iya-iya biar aku aja yang jadi ema’nya gapapa aku terima kok asal masih ajak aku yaaa, heee *nyengir kuda*

Isah: iyah oke kalo gitu kita lanjut ke cerita

#Harry cuman bengong ngedengerin percakapan Isah dan Louis

Reader: woooy! Napa lu ikut-ikutan?

Isah: hee, maap-maap. Okeh kita lanjutin ceritanya...

Yesung: action!

Isah: loh kok Oppa ada di sini?

Yesung: bosen lagi gada kerjaan

Reader: lama woooy!!! /mo pergi/

Isah: eits, jangan pergi... ini ceritanya baru mau di lanjutin okeee

Setelah bernegosiasi dengan pengarang, akhirnya Louis menyetujui perannya... *ga penting*

~ Back to story...

“Emaa... Anakmu yang keceh badai ini berangkat dulu yaa”, tereak Heri depan rumah.

“Hati-hati di jalan ya sayang, kalo ada tikungan jangan lupa belok”, jawab ema’nya Heri dari dalem rumah sambil bersihin pantat panci yang dari tadi ga bersih-bersih, padahal dia uda pake Sunlight dengan kekuatan 100 jeruk nipis *iklan lewat*

Louis: Uda gitu doank peran gueh?

Isah: *angguk-angguk*

Louis: tepar deket panci

Di sekolahan...

Heri bergegas lari menuju kelasnya. Maklum, dia mo nyontek pe_er ama solmetnya yang katanya jago matematika seantaro sekola’an, si Zainal.

“Man, nyontek!”, Heri langsung ngambil buku matematika dari dalem tas solmetnya. Zainal mah cuman manggut-manggut sambil nyomot cimol yang dia beli deket SD tempat ade’nya sekolah, maklumlah mereka uda SMA jadi gada palek-palek jualan cimol.

Lagi sibuk kedua insan itu dengan kegiatannya, masuklah dua siswi populer di sekolah sambil tepe-tepe ke seluruh kelas.

“Man, si Naila hari ini lebih cantik deh dari pada Lia, noh buruan liat”, Zainal nyenggol-nyenggol Heri yang lagi konsentrasi(?) nyontek pe_ernya.

“Ih, bentaran dulu, tinggal satu nomer nih”.

Bebapa puluh detik berikutnya selesailah Heri nyontek pe_er yang sebenernya cuman satu nomer itu. Naila lewat di samping Heri sambil kipas-kipas ala cewe-cewe abege di sinetron favoritnya, menimbulkan aroma yang bikin isi perut Heri tekocok-kocok (karna kebanyakan make parfum maksutnya, hahaa)

“Eh, elu kan playboy sekolah tuh, tapi kenapa lu ga pernah ngedeketin si Naila?”, ujar Zainal yang uda selese makan cimol.

“Hyeee, cewe galak gitu mah mana ada yang mau”.

“Kalo Lia gimana?”.

“Dia kan solmetnya Naila, bisa berabe gue ampe berani ngedeketin solmetnya”, jawab Heri sambil tebar senyum kecenya ke seluruh cewe-cewe di kelas.

“Ah, kalo gitu gue mau ngajakin elu taruhan”.

“Apaan?”, Heri ngelus-ngelus pipinya yang sakit gegara kebanyakan senyum.

“Kalo elu berani nyium Naila, gue bakal ngikutin semua permintaan lo selama seminggu, plus jatah uang jajan gue seminggu deh.. gimana?”.

“Eh? Taruhan macam apa itu? Terus kalo gue ga berhasil gimana??”

“Ya kebalikannya, elo harus nurutin permintaan gue dan kasih jatah uang jajan lo selama seminggu ke gue, deal?”, jawab Zainal anteng.

Heri tampak berfikir dengan tampangnya yang dibikin sok serius...

Yesung: kaaaatt!!!

Isah: Eh, napa main kat-kat aja? Ngerusak suasana aja, ceritanya juga beloman kelar

Yesung: itu si Harry ekspressinya mana??  Ekspressinya kurang! Ulang lagi, eksyen...

Isah: kan nih cerita gue yang bikin napa Yesung yang ngatur TT__TT

Reader: ceritanya ngebosenin!!

Isah: eh jangan gitu baca dulu ampe selesai pliiis *pasang puppy eyes*

~Back to the story again...

Heri masih tampak berfikir dengan wajah seriusnya.

“Ah lama, jadi gimana??”, kata Zainal mulai bosen.

“Umm, okey gue terima tantangan lo”, jawab Heri dengan antusias. Dia pengen banget dapetin jatah jajannya Zainal seminggu, pan lumayan tuh duit buat ngisi pulsanya yang uda seminggu ngga diisi, jadi seminggu ini hapenya cuman buat maen game ama miskol doank.

-----OD-----

Pulang sekolah wajahnya Heri kucel kayak cucian ema’nya yang belom disetrika, dia bingung gimana biar bisa nyium Naila. Boro-boro mau nyium Naila, ngebayangin dia ada di deket Naila aja uda bikin merinding. Di tengah-tengah kekusutan wajahnya, tiba-tiba ada bohlam yang nyala di kepalanya, senyumnya mengembang memunculkan lesung pipinya yang bikin yeoja sedunia klepek-klepek (eaaaa)

Siwon: lesung pipi gue juga bikin yeoja sedunia klepek-klepek..

Harry: sirik aja lu *tendang Siwon kembali ke Korea*

Yesung: eh temen gue tuh maen tendang-tendang aja

Isah: jiaah berantem jangan di sini *tendang Harry and Yesung ke............... ke hatiku, gkgkgk

Hari ini Heri bawa kentang rebus, makanan kesukaan Naila. Dia habis nyogok Lia buat ngasih tau caranya bikin hati Naila luluh dengan jatah uang jajannya Zainal yang dibagi 50:50 kalo dia berhasil nyium Naila.

Liam: eh gue kan beloman ekting?

Isah: uda, anggep aja ceritanya begitu..

Liam: -___-


Pas uda nyampe di kelas, Heri dengan takut-takut ngedeketin Naila yang lagi serius tingkat kelurahan baca komik Saun The Sheep (emang komiknya ada?)

“Naila...”, baru Heri ngomong dikit Naila uda noleh dengan ekspressinya yang lebih menyeramkan dari si dia-yang-tidak-boleh-disebut. Eh tapi karna ini bukan pelem Heri Poter jadi gapapa deh kita sebut, si Lord Voldemort.

Tubuh Heri merinding disko, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya (Isah lebbeee), “A, aku, ak.. aku b bba bbbawa aku bawa kentang rebuss, ke kesuka kesukaanmu Nai la”, dengan susah payah Heri ngeluarin suaranya.

Wajah Naila langsung sumringah denger kata ‘kentang rebus’. “Mana, mana?? Cepetan bawa sini”, mata Naila berbinar-binar, persis kayak anak ilang yang uda dua hari ga makan.

“Ini”, Heri nyodorin kotak bekal yang dia peke dulu pas SD.

“Waaahh... makasih ya Heri yang keceh badai”, ucap Naila kembali dengan matanya yang berbinar-binar. Heri cuman mesem-mesem gegara Naila cuman ngatain dia keceh badai tanpa cetar membahana badai halilintar topan petir guntur ulalaaa.

-----OD-----

Sejak kejadian Heri bawa kentang rebus itu, hubungan mereka makin deket. Heri pikir pedekatenya uda cukup, tinggal melancarkan aksinya.

“Ntar sore sibuk ga? Kalo sibuk usahain ga sibuk ya, penting banget soalnya. Ntar aku jemput di rumahmu, eh aku jemputin depan gang rumahmu aja lah, eh mending kamu jalan sendiri dah. Pokoknya ntar sore aku tunggu di deket pohon sukun deket rumahnya Haji Sulam, awas ya kalo ampe ga dateng. Oh ya, jangan lupa dandan yang cantik, tapi jangan ampe menor kayak mo ke kondangan”, tukas Heri panjang kali lebar.

Naila cuman melongo mencerna tiap kata-katanya Heri barusan. Lia yang ada di sebelahnya Naila curi-curi denger, terus senyum-senyum gaje.

...

Sesuai permintaan Heri tadi pagi di sekolah, Naila jalan sendirian ke tempat yang dibilangin Heri tadi. Tapi pas Naila uda nyampe, ternyata Herinya belom dateng. Nailapun nunggu Heri di bangku yang ada di bawah pohon sukun layaknya adegan di drama romantis.

Louis: nih cerita uda kelar belom?

Isah: belomlah bang, emang napa?

Louis: abis ini aku dapet peran lagi ga?

Isah: emmmh, keknya gada lagi deh

Louis: ah, nyebelin. Mereka banyak *nunjuk Naila a.k.a Niall* *Niall balas lambai-lambai balik*. Aku ikut Yesung aja lah *datengin Yesung yang lagi ngerujak depan rumah Haji Sulam*

Isah: hey hey, ngerujak kok ga ngajak-ngajak, ikutaan!

Niall: eh nih cerita gimana kalo elu ikutan ngerujak?

Isah: uda, ikutan aja naskah yang ada di skenario *ngejar Louis*

Tak berapa lama kemudian Heri datang seperti biasa dengan gaya Cassanova mode: on.

“Uda lama nunggu? Maap ya tadi di jalan macet. Nunggu itiknya Haji Romlah nyebrang jalan lama banget, barisannya puanjaaaang bangeeet”

“Ehh ga kok ga lama, baru aja”.

Heri duduk di samping Naila, suasana jadi canggung. Tanpa mereka sadari dua pasang mata sedang mengintai mereka, si Zainal dan si Lia yang pengen tau Heri berhasil ato engga.

“La..”, Heri berusaha memecahkan keheningan yang sedari tadi melingkupi mereka berdua.

“Hmmm??”

“Aku pengen kamu pejamin matamu bentar aja”

Naila bingung. Dia mulai mikir yang engga-engga dan yang iya-iya. Tapi Naila nurutin aja apa kata Heri. Heri tersenyum evil, otak mesumnya mulai bekerja. Tapi buat Heri otaknya ga semesum Eunhyuk Super Junior atopun Jonghyun Shinee. Baru aja Heri mau ngedeketin mukanya ke muka Naila, tiba-tiba ada suara cempreng tereak-terak yang sukses ngebikin Heri ama Naila latah ayam-ayam.

“Hey, siapa tadi yang nyebut-nyebut namaku mesum huh?”, ternyata suara Jonghyun, di belakangnya ada anak-anak Shinee lainnya pada bawa suriken ninja.

“Eh, anak-anak Shinee ngapain ke sini? Kalian mo nyari ribut haah?”, tantang Zayn yang uda keluar dari persembunyiannya bareng Liam.

“Si ikal tuh nyari ribut ngatain Jonghyun Hyung mesum, tapi emang iya sih..hehehh”, kata Taemin yang malah dopelototin Jonghyun.

#pletaak “Aww, aish.. yak appo Hyung”

“Salah sendiri ngatain Ijongie begitu, kita dateng ke sini kan buat ngebela Ijongie”, omel si Onew sang leader setelah mukul palanya Taemin pake ayam goreng yang dari tadi ga lepas dari tangannya.

Si Minho ama Key cuman anteng aja, Minho nunggu kapan mereka pulang ke Korea soalnya dia mo ngelanjutin tidur, kalo si Key mo nyuci piring. Abisnya tadi sebelum mereka pergi, dorm gada yang bersihin.

“Eh suka-suka gue donk, kalian mau ribut sini maju”, Harry uda berdiri, Niall juga ikutan.

Semua member One Direction kecuali Louis yang lagi ngerujak uda siap dengan pedang Kamen Rider-nya. Anak-anak Shinee akhirnya timpuk-timpukan ma anak-anak One Direction, Louis ama Yesung cuman nontonin dari depan rumah Haji Sulam.

Plak plakk bugh gdebug duaarr...

Isah: Heyy, napa malah pada keroyokan?? Ceritanya beloman kelar woooy...

Anak-anak One Direction malah makin semangat timpuk-timpukan ma anak-anak Shinee. Omelannya Isah sang author ga di dengerin (Author yang malang)

Ga lama kemudian anak-anak Suju dateng dipimpin Eunhyuk yang bawa pedangnya Bidam (Bidam: itu aku sewain loh, dua ratus ribu won sejam). Anak-anak Suju, Shinee, dan One Direction malah pada timpuk-timpukan, ga jelas siapa yang nimpuk siapa. Tampak Louis dan Yesung yang uda kelar ngerujak ikutan gabung ngebela tim masing-masing.

Isah: *terak frustasi* kyaaa.. kalian semua stoppp!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! (banyak amat tanda serunya) Napa jadi gini ceritanya TT__TT *makin frustasi*
Akhir cerita jadilah para member boyband dari tempat yang berbeda (Inggris dan Korea maksudnya) pada timpuk-timpukan, cerita Heri dan Nailanya pun gagal ;;__;;

.
.
End
.
.

Author sarap, author stress... bhuahaahaaahahahahahaaahhh *ketawa evil bareng Kyuhyun*
Ini cerita nista yang aku bikin, maapin author abal-abal ini yang ngebikin para member boyband yang cakep-cakep dan unyu-unyu jadi ngerusuh gini.. tenaang mereka semua cinta damai kok (don’t trai dis et hom!!)
Ini cerita weird abis deh*kaboooor*
Eits,,, (Balik lagi)
*ikut timpuk-timpukan dulu bareng Shinee, One Direction and suju*
Plaakk dugh buggh bugg duaaarrr duaarrr...