Bleedy Night
.
.
Author:
Aisyah
a.k.a Cloudisah
.
Cast:
B.A.P’s
Yongguk
B.A.P’s
Youngjae
.
.
Ficlet, Brothership, Little Bit Thriller, Typo...
.
###
“Hyung, kau sudah
di rumah?” Youngjae mengambil sekaleng soda di dalam kulkas tak jauh dari
Yongguk yang sibuk menghias kue tart.
“Hmm”
“Tumben sekali kau pulang lebih awal Hyung, biasanya kau pulang sekitar pukul sembilan malam. Tapi..”
Youngjae menahan kalimatnya dan melirik jarum jam dinding yang masih menunjuk
angka delapan. “Ini masih jam delapan Hyung.
Kau sedang tak ada latihan malam ini?”
“Hmmm”
“Kau membuat kue itu untuk siapa Hyung?” kini Youngjae berdiri tak jauh dari Yongguk yang sepertinya
begitu fokus dengan kuenya.
“Jirin,” jawaban singkat lagi-lagi keluar dari mulut Yongguk.
“Jirin? Jirin junior kita itu?”
“Hmm.”
“Ckk,, kau terlalu fokus dengan kue-mu Hyung sampai-sampai kau menjawab pertanyaanku begitu singkat. Ohya,
ada apa memangnya dengan gadis itu? Kenapa kau membuat kue untuknya? Kau
biasanya hanya akan membuat kue untuk ulang tahun ibumu kan?”
Setelah melontarkan kalimatnya, Youngjae menenggak habis isi
soda tersebut lantas setelahnya ia berjalan ke samping Yongguk untuk membuang
kaleng kosong itu di dalam tempat sampah di samping Yongguk berdiri. Youngjae
sama sekali tak menyadari jika sejak tadi Yongguk menatap tajam padanya bahkan
sampai ia kembali pada posisinya semula –berdiri tak jauh dari Yongguk- ia
tetap tak menyadari tatapan yang Yongguk layangkan padanya.
“Apa gadis itu ulang tahun Hyung?” Youngjae mencoba mendekati Yongguk berniat membantu pria
yang lebih tua empat tahun darinya itu. Yongguk adalah kakak angkat Youngjae.
Mereka sudah tinggal bersama lebih dari lima tahun saat Youngjae pertama kali
datang ke Seoul untuk sekolah di salah satu SMA di Seoul.
“Begitulah.”
“Whoaa, Hyung kau
romantis sekali,” seru Youngjae heboh dan pria itu kini mencoba mencicipi
sedikit krim kue yang masih ditata Yongguk.
Yongguk kembali mendelik tajam. Kali ini ia tak
tanggung-tanggung membiarkan Youngjae menyadari tatapannya membuat kedua alis
Youngjae berkerut.
“Kenapa Hyung?”
Yongguk tak langsung menjawab. Salah satu sudut bibirnya
tertarik membuat sebuah seringaian di wajah tampannya dan kini Yongguk
mengambil sebuah pisau kecil tak jauh dari mangkuk chocochip di atas meja. “Kau tahu kan kalau aku sudah menyukai
Jirin sejak aku masih SMP?”
Youngjae mengangguk polos. Ia masih tak menyadari arti
tatapan Yongguk. “Aku tahu Hyung.
Lalu kenapa?”
Youngjae membulatkan kedua matanya. Seharusnya ia berteriak
saat ini tapi tenggorokannya tercekat seperti ada yang menghalangi suaranya
untuk keluar. Yongguk dengan sengaja menggoreskan pisau kecil di tangannya ke leher Youngjae
membuat darah segar mengucur deras dari lehernya yang tergores pisau. Youngjae
menahan nafasnya ketika rasa perih luar biasa tiba-tiba menjalar ke seluruh
tubuhnya. “H hyung.. Hyung...”
Yongguk mengganti seringaiannya dengan senyum manis seraya
mengambil sebuah mangkuk kecil untuk menampung darah yang terus-terusan
mengalir dari leher Youngjae. Yongjae bergeming ketika Yongguk mencondongkan
kepalanya dan berbisik tepat di telinganya.
“Aku kehabisan pewarna merah untuk krim di kue-ku. Jadi aku
meminta sedikit darahmu Jae,” suara Yongguk terdengar seperti sebuah ancaman
untuk Youngjae.
Kedua iris Youngjae bisa dengan jelas melihat Yongguk yang
mulai mencampurkan darahnya dengan krim kue membuat krim itu berwarna merah
menjijikan. Youngjae masih belum bisa menggerakkan sedikitpun tubuhnya meskipun
ia benar-benar merasakan kesakitan luar biasa di lehernya yang membuat seluruh
tubuhnya bergetar hebat.
“Ah, rasanya warna merahnya masih kurang.” Yongguk kembali
menatap Youngjae yang masih bergeming di tempatnya. Yongguk lantas perlahan
kembali mendekati Youngjae membuat Youngjae sontak mundur beberapa langkah
karena Yongguk yang kembali mengacungkan pisau ke hadapannya.
“Hyung.. Hyung, ap pa, apa.. apa yang kau lakukan
Hyung?”
Yongguk tersenyum manis. Setelahnya ia lantas menurunkan
pisau di tangannya dan beralih mengusap wajah Youngjae yang mulai basah karena
peluh yang mengalir deras dari pelipisnya. Namun beberapa sekon berikutnya
Yongguk kembali mengacungkan pisaunya dan menggoreskan pisau itu dari kening
Youngjae dan menggoreskannya sampai ke dagu Youngjae melalui pipi kanannya. Bau
anyir darah dengan serta merta menyapa penciuman Youngjae. Ingin rasanya ia
berteriak namun suaranya benar-benar tercekat saat menatap Yongguk yang juga
menatapnya dan menyiratkan kebencian dari matanya.
“Aku tahu kau tidak bodoh Jae. Kurasa selama ini kau hanya
berpura-pura tak mengerti keadaannya. Benar begitukan dongseng kesayanganku?”
suara rendah Yongguk membuat bulu roma Youngjae berdiri. Kali ini Youngjae tak
tahan untuk tak mengeluarkan isakannya karena wajah dan lehernya benar-benar
terasa perih dan sakit luar biasa.
“Hyu, Hyung..”
“Hmm? Kenapa Jae? Kenapa kau menangis? Apa sakit?” Yongguk
memasang ekspresi kasihan dibuat-dibuat. Lantas Yongguk mengusap darah yang
mengalir di pipi Youngjae dan ia tertawa begitu nyaring seolah yang baru saja
ia lakukan hanyalah sebuah lelucon biasa.
“Hyung...” Youngjae
berucap lirih. Ia tak pernah tahu jika Yongguk selama ini membencinya –mungkin.
Youngjae bukannya berpura-pura tak mengerti. Ia hanya menjaga perasaan Yongguk
yang memang sudah menyukai Jirin sejak masih SMP. Youngjae juga tak menyangka
jika Jirin-gadis yang lebih muda setahun darinya- ternyata malah menyukai
Youngjae dan itu ia ketahui saat ulang tahunnya bulan lalu dimana Jirin
memberinya sebuah kado ulang tahun beserta sebuah surat yang merupakan
pernyataan dari perasaan Jirin terhadapnya selama ini. Dan yang membuat
Youngjae semakin tak percaya adalah Yongguk yang berani melukainya hanya karena
seorang wanita.
“Aku sudah mengetahuinya lebih dari setahun belakangan ini.
Tapi aku mencoba diam dan membiarkan semuanya, namun nyatanya aku tak bisa.
Sekarang aku tak tahan lagi Jae,” Yongguk kembali menggoreskan pisaunya pada
pipi kiri Youngjae.
“Hyung, ma maaf..
Maafkan aku Hyung. Sungguh aku tak
menyukai Jirin sedikitpun, Hyung.
Percayalah,” Youngjae mati-matian menahan isakannya sekaligus rasa perih tak
tertahankan akibat goresan pisau yang Yongguk lakukan di wajahnya. “Hyung...”
Yongguk memasang ekspresi sedih sembari meletakkan pisau
kecil itu kembali ke atas meja. Setelahnya Yongguk memandang nanar pada
Youngjae dan kue tart di atas meja bergantian. “Aku bingung harus memilih yang
mana. Kue tart-ku kehabisan pewarna merah untuk krimnya, tapi aku tak tahan
melihat ekspresi kesakitan dari adikku. Oh... bagaimana ini?” Yongguk kembali
menghampiri Youngjae dan kembali mengusap wajah adiknya itu yang benar-benar
terlihat kesakitan ditambah warna merah darah yang hampir menutupi seluruh
wajah Yongjae.
“Hyuung..”
“Kau tahu Jae, kau hanya akan menjadi penghalang bagiku untuk
mendekati Jirin. Selama kau masih ada, Jirin tetap akan hanya melihat dirimu.
Ia tak akan melihat laki-laki lain.”
“Tapi Hyung-“
“Aku menyayangimu Jae,” bisik Yongguk seduktif tepat di
telinga kiri Youngjae, dan bersamaan dengan itu cairan hangat terasa keluar
dari dada kiri Youngjae membuat Yongjae melebarkan kedua matanya dan menatap
Yongguk tak percaya.
“Hy, Hyung.. Hyuuuung.”
Tubuh Youngjae merosot ke atas lantai. Sementara Yongguk
tersenyum puas sambil menatap pada pisau kecil yang entah sejak kapan kembali
ia pegang. Pisau itu berlumuran darah segar dari jantung Youngjae ia baru saja
ia tusuk.
“Aaaakkhhhhh...” Yongjae berteriak kesakitan seraya memegangi
dada kirinya yang terus-terusan mengeluarkan darah. “Hyung to toloong.. tolong Hyuuuung...”
“Maaf Jae. Kurasa ini lebih baik untukmu...” setelah mengucapkan
kalimatnya, Yongguk membawa tungkainya perlahan meninggalkan dapur dan
meninggalkan Youngjae sendirian di atas lantai yang berlumuran darah.
Tubuh Youngjae terbujur kaku di atas genangan darah yang
terus menerus mengalir dari dada kirinya. Yongguk masih sempat melihatnya di
ambang pintu dapur dan seringaiannya kembali muncul menyaksikan bagaimana nyawa
Youngjae ia habisi dengan tangannya sendiri. “Aku tak akan membiarkan
seorangpun menghalangiku untuk mendapatkan Jirin, termasuk kau.. Youngjae.”
.
.
FIN
Baiklah... setelah lama
nggak nulis ternyata cukup berat untuk mengembalikan mood dan juga inspirasi buat nulis. Jangan timpukin aku ya Bang
Yongguuuuuk yang guanteng tak tertahankan, hahaa... dan juga maafkan aku
Yongjae yang unyu-unyu nasibnya harus berakhir tragis, xixixi...
Lagi mencoba untuk bikin thriller tapi tak bisa. Tapi kayaknya
cerita satu ini emang bener-bener hancur deh... Eum, makasih yang sudah
berkenan membaca ficlet ini ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar