LOSING
.
.
Author:
Aisyah
a.k.a Cloudisah
.
.
Cast:
OC’s Jirin
B.A.P’s
Daehyun
.
Vignette, Sad, Teen
Warning: Typo....!
.
***
“Nyatanya kau mulai merubah, dan itu membuatku semakin kehilanganmu...”
.
.
Gadis itu masih saja membiarkan geming melingkupinya selama
lima belas menit. Perkuliahan di kampusnya sudah selesai bahkan lebih dari dua
puluh menit yang lalu saat ia mulai mendudukkan dirinya di salah satu bangku
taman kampus-yang biasanya menjadi tempat favoritnya bersama Daehyun-lima belas
menit yang lalu. Atensinya kini tak lain hanyalah kosong meskipun netranya
dengan jelas menatap rumput hijau yang dipijaknya tanpa kedip.
Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Gadis itu-Jirin namanya-meraup
oksigen sebanyak yang ia bisa saat kedipan pertama dari kelopaknya setelah
geming selama lima belas menit. Merasakan getar pada ponsel ungu kesayangannya,
dengan cepat ia membuka sebuah pesan masuk yang tertera pada layar ponsel.
From: Dahyunnie
Chagi, kau
sudah pulang dengan selamat kan? Sampai bertemu lagi besok di kampus ya ^^
Jirin menghempaskan ponselnya di samping tubuhnya setelah
membaca pesan dari Daehyun. Bibirnya bergetar dan tanpa diinginkannya setitik
cairan bening melesat turun dari sudut matanya.
Lantas kembali geming menguasainya. Bahkan untuk menegakkan
tungkainya ia masih enggan. Ia sudah menunggu lebih dari lima belas menit di
tempat ini namun Daehyun nyatanya sama sekali melupakan eksistensinya. Gadis
itu menggigit kuat bibirnya. Membiarkan rasa sakit di bibirnya demi mengurangi
sesak yang secara tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.
Daehyun-nya berubah.
Daehyun-nya tak lagi menepati kata-katanya.
Tak ada lagi Jirin dan Daehyun yang pulang kuliah bersama.
Dan itu cukup membuat cairan bening samakin deras mengalir di
atas kedua pipinya. Hingga Jirin memilih menguatkan hatinya dan membawa tubuh
mungilnya meninggalkan taman kampus untuk segera berlari sekuat dan semampu
yang ia bisa untuk segera pulang ke rumahnya.
***
Malam di musim dingin pukul 21.30 dan seharusnya Daehyun
sudah mengiriminya pesan singkat untuk ucapan selamat tidur. Namun Jirin masih
membiarkan tungkainya mondar-mandir di depan jendela kamar sembari jemari
tangan kanannya memegang ponselnya.
Namun ini sudah pukul 22.00 dan tak ada satupun pesan dari
Daehyun yang selalu mengantarkan Jirin ke alam mimpinya. Gadis itu mengehela
nafas dalam lantas dengan cepat mengetikkan sesuatu pada layar ponsel.
To: Daehyunnie
Selamat
malam... Semoga mimpimu indah, jaljja ^-^
Jirin menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Merilekskan
tubuhnya seraya mencoba memejamkan kelopaknya dan mencoba melupakan yang telah
terjadi hari ini. Pada akhirnya ia masih juga terjaga meskipun kelopaknya sudah
tertutup rapat. Karena gadis itu masih memfokuskan indra pendengarannya
berharap sebuah balasan pesan singkat yang tadi ia kirim.
Mungkin sudah belasan menit ia kembali menunggu dan mungkin
ia akan menjadi gadis kurang waras karena membiarkan netranya melawan kantuk
saat kelopaknya terbuka dan menatap jarum jam di dinding kamarnya demi menunggu
sebuah balasan sms.
Dan setidaknya ia masih memiliki sedikit peruntungan saat
nada dering pesan masuk hingga jemarinya dengan cepat membuka layar ponselnya
dengan sedikit bergetar.
From: Daehyunnie
Jaljja
Jirin memejamkan kelopaknya seraya mengatur deru nafasnya dan
kembali sesak mengisi seluruh rongga dadanya. Ia memilih memukul-mukul dadanya
sekuat tenaga dengan tangan kanannya berharap tak lagi merasakan sesak karena
seorang Daehyun.
Hanya itu balasan pesan dari Daehyun?
Tak ada lagi Daehyun yang selalu mengucapkan selamat tidur
yang romantis seperti biasanya. Tak ada lagi Daehyun yang menelponnya selama
berjam-jam hingga mereka terlelap tidur. Tak ada lagi Daehyun yang mengiriminya
pesan singkat yang membuatnya bisa tersenyum dan sedikit melupakan tekanan dari
ayah Jirin.
Yah, Daehyun berubah. Dan itu membuat Jirin sakit. Di
hatinya.
***
Mereka bukanlah sepasang kekasih. Mereka hanya sepasang
sahabat yang sering menghabiskan waktu berdua. Mereka hanya sahabat yang saling
menyayangi. Tapi itu dulu. Atau itu hanya perasaan Jirin yang salah selama ini.
“Bagaimana tugasmu? Kau sudah menyelesaikannya?” Daehyun
menselonjorkan kedua kakinya di atas padang dandelion
usai pulang kuliah.
“Hmm, kau sendiri?” jawab Jirin sekenanya setelah menenggak
habis segelas coklat panas yang tadi ia dan Daehyun beli di pinggir jalan
sebelum menuju padang dandelion di
dekat rumah Jirin.
“Belum. Aku tak mengerti.. Eum, aku lihat punyamu ya,”
Daehyun menunjukkan senyum terbaiknya yang selama ini Jirin lihat. Yah, senyum
sahabatnya yang setidaknya bisa sedikit melupakan rasa kesalnya karena sikap
Daehyun yang mulai berubah-ubah lebih dari satu bulan terakhir ini.
Jirin hanya mengangguk pelan lantas turut menselonjorkan kakinya
mengikuti Daehyun. Hingga hening mengambil alih. Baik Jirin maupun Daehyun
sama-sama tak mengucapkan sepatah katapun sampai nada dering ponsel Daehun
berbunyi dan dengan cepat Daehyun menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
“Yeoboseo Minri-ah... Oh ya, benarkah? Baiklah nanti
malam aku akan menelponmu, bye”
Daehyun memutuskan sambungan telponnya dan kini kedua sudut
bibirnya tertarik saat netranya menilik layar ponselnya tanpa menyadari
perubahan pada air muka Jirin di sampingnya.
“Siapa?” tanya Jirin ragu.
“Oh yang menelponku tadi? Namanya Minri. Mantan kekasihku
yang pernah aku ceritakan padamu.” Daehyun memasukkan ponselnya ke dalam saku
celananya masih tanpa menurunkan kedua sudut bibirnya yang tertarik.
“Bukankah kau bilang ia sudah memiliki kekasih?”
“Heumm, tapi mereka sudah putus. Katanya kekasihnya itu
selalu menyakitinya more and more. Jadi
ia kembali padaku dan sadar akan kesalahannya yang dulu karena terlalu cemburu
padaku,” Daehyun menatap Jirin dengan ekspresi bahagia yang sudah satu bulan
terkahir tak lagi Jirin lihat. Daehyun pernah menatapnya seperti itu. Dulu.
Sebelum Daehyun berubah.
“Jadi...” Jirin menggantungkan kalimatnya dan membuang
tatapannya pada jalanan kecil di samping padang dandelion. “Apa kalian memutuskan untuk kembali menjalin hubungan?”
“Untuk saat ini kami memutuskan menjadi teman baik. Aku
senang ia kembali padaku dan kembali mempercayaiku sebagai tempat curahan
hatinya. Yah, aku harap aku dan Minri bisa terus berteman baik sama seperti kau
dan aku,” terang Daehyun sembari netranya menerawang langit yang dipenuhi benda
putih sore ini.
Jirin menggigit kuat bibirnya. Lantas ia memilih memejamkan
matanya menahan agar cairan bening sialan itu tak menerobos keluar dari sudut
matanya. Baiklah ini semua salah Jirin. Seharusnya ia tak menaruh ekspektasi
berlebih terhadap perasaan Daehyun padanya. Bukankah harusnya ia bersyukur
menjadi teman baik Daehyun selama satu setengah tahun ini?
“Jirin-ah.. Ada
yang ingin kuceritakan padamu,” ucap Daehyun pelan.
Jirin bisa dengan jelas mendengar ucapan Daehyun. Entah pria
itu kini menyadari perubahan suasana hati Jirin atau tidak. “Ceritakanlah.”
“Dua minggu yang lalu aku berkenalan dengan seorang gadis
dari klub atletik. Ia seorang gadis cantik dan juga friendly. Akhir-akhir ini kami sering bertukar cerita lewat pesan
singkat, bahkan tadi malam kami saling berbagi cerita sampai pukul satu pagi.
Luar biasa kan? Waahh... Daebak. Aku
tak menyangka ia sanggup tidur di atas pukul dua belas malam. Oh ya Jirin-ah kau tahu tid-“
“Aku ingin pulang. Kau masih mau di sini? Kalau begitu aku
pulang duluan. Anyeong...” Jirin
segera menyampirkan tasnya di bahu dan segera bangkit dari duduknya.
Gadis itu membawa tungkainya mengikis jarak menuju rumahnya,
tak ingin mendengar seluruh kisah yang Daehyun ceritakan. Sudah cukup beberapa
hal itu membuatnya mengerti akan sikap Daehyun padanya. Dan ia tak ingin lagi
menyesakkan pendengarannya dengan gadis-gadis yang diceritakan Daehyun.
***
Jirin menatap refleksi dirinya pada cermin besar di dinding
kamarnya. Wajah yang ia lihat di cermin itu begitu kacau dan terlihat jelas
bagian matanya bengkak. Ia habis menangis semalam. Tidak, lebih tepatnya
semalaman. Jirin baru bisa bertidur satu jam setelah fajar mulai menyingsing di
ufuk timur.
Bodohnya ia tadi malam masih menunggu barang satu pesan dari
Daehyun. Nyatanya rasa kehilangannya semakin besar. Jirin benar-benar
merindukan Daehyun-nya yang selama satu setengah tahun terakhir ini menemaninya
setiap malam. Jirin merindukan eksistensi Daehyun yang selalu bersedia bahunya
Jirin pinjam jika Jirin lelah dan ingin menangis karena sikap ayahnya.
Jirin kehilangan Daehyun-nya.
Mungkin Daehyun sudah bosan dengannya. Mungkin Jirin terlalu
membosankan bagi Daehyun. Mungkin Jirin tak sekuat gadis dari klub atletik itu
yang sanggup tidur di atas jam dua belas malam. Mungkin Daehyun malu berteman
dengan gadis menyedihkan sepertinya yang selalu ditindas ayahnya. Mungkin,
mungkin, mungkin...
Jirin memberanikan diri menekan panggilan keluar untuk
Daehyun. Setelah terdengar beberapa kali nada sambung, akhirnya suara pria di
seberang sana memenuhi pendengaran Jirin.
“Yeoboseo, Daehnyunnie”
“Ne, yeoboseo Jirin-ah.
Wae? Ada apa kau menelponku sepagi ini?” suara di seberang sana berdengar
parau. Mungkin Daehyun juga baru bangun tidur.
Ada apa? Daehyun tak pernah menanyakan ada apa jika Jirin
menelponnya pagi hari. Seharusnya Daehyun akan mengatakan ‘Selamat pagi’, ‘Wah,
aku senang hari ini kau yang lebih dulu menelponku’, atau ‘Bagaimana tidurmu
tadi malam?’. Jirin benar-benar sudah kehilangan seorang Daehyun. Sahabatnya.
Jirin menghirup nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan
Daehyun. “Kau,, kau bisa menjemputku hari ini ke kampus?” tanya Jirin pelan. Ia
ragu jika Daehyun akan menjemputnya karena sudah satu bulan terakhir Daehyun
tak lagi menjemputnya ataupun mengantarnya pulang kuliah.
“Tentu saja
aku bisa,” jawab suara pria di seberang sana dengan santai.
Kedua sudut bibir Jirin hampir tertarik sebelum Daehyun
dengan cepat meralat ucapannya.
“Eh? Hari
ini? Maaf... Aku sudah ada janji dengan temanku akan ke toko buku dulu sebelum
ke kampus. Bagaimana kalau aku jemput besok saja, hmm?”
Air mata yang Jirin rasa sudah kering, nyatanya masih bisa
membasahi wajahnya lagi pagi ini. Inilah akhirnya. Ia tak bisa lagi menahan
lebih jauh hubungannya dengan Daehyun.
“Aku kehilanganmu Hyun,” lirih Jirin menahan isakannya.
“Mwo? Apa
maksudmu? Hey, Jirin aku ada di sini...”
“Tapi aku merasa sudah kehilangan sahabatku.”
“Jirin-ah
aku-”
“Nyatanya kau mulai merubah, dan itu membuatku semakin
kehilanganmu...”
“Chagi, aku
tak berubah. Maksudmu apa?”
Jirin tak lagi ingin menjawab ucapan Daehyun. Gadis itu
membungkam mulutnya yang sudah tak kuat untuk menahan isakan dengan tangan
kirinya yang tak menggenggam ponsel. Air mata yang mati-matian ia tahan kembali
tumpah seiring dengan pandangannya yang mulai memburam karena air mata yang
semakin membanjiri wajahnya.
“Halo
Jirin.. Yeoboseo.. Kau masih di situ?”
Jirin mengabaikan panggilan Daehyun lantas mematikan
sambungan telponnya. Gadis itu terduduk di atas dinginnya lantai dengan memeluk
kedua lututnya. Ia sudah kehilangan Daehyun. Karena sahabatnya itu tak pernah
cukup dengan kehadiran seorang wanita di sisinya. Daehyun tak pernah cukup
memiliki Jirin yang selalu ada untuknya.
Karena mungkin Daehyun sudah bosan dengannya.
.
.
FIN
Daehyun oppa saranghamnida ^^
Kapan ini nunggu B.A.P comeback udah nggak sabar yeayyy... Oiya
makasih yang sudah mau baca fanfiction
aku yang nggak bermutu ini yah... Dan sejujurnya fict ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisah itu bener-bener ada,
bukan cuman hayalan semata, hohoo...
Sekali lagi makasih yang
sudah baca readersdeul J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar