Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Minggu, 01 Februari 2015

(Fanfiction) Losing



LOSING
.
.

Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah
.
.

Cast:
OC’s Jirin
B.A.P’s Daehyun

.

Vignette, Sad, Teen

Warning: Typo....!

.
***

“Nyatanya kau mulai merubah, dan itu membuatku semakin kehilanganmu...”
.
.

Gadis itu masih saja membiarkan geming melingkupinya selama lima belas menit. Perkuliahan di kampusnya sudah selesai bahkan lebih dari dua puluh menit yang lalu saat ia mulai mendudukkan dirinya di salah satu bangku taman kampus-yang biasanya menjadi tempat favoritnya bersama Daehyun-lima belas menit yang lalu. Atensinya kini tak lain hanyalah kosong meskipun netranya dengan jelas menatap rumput hijau yang dipijaknya tanpa kedip.

Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Gadis itu-Jirin namanya-meraup oksigen sebanyak yang ia bisa saat kedipan pertama dari kelopaknya setelah geming selama lima belas menit. Merasakan getar pada ponsel ungu kesayangannya, dengan cepat ia membuka sebuah pesan masuk yang tertera pada layar ponsel.

From: Dahyunnie
Chagi, kau sudah pulang dengan selamat kan? Sampai bertemu lagi besok di kampus ya ^^

Jirin menghempaskan ponselnya di samping tubuhnya setelah membaca pesan dari Daehyun. Bibirnya bergetar dan tanpa diinginkannya setitik cairan bening melesat turun dari sudut matanya.

Lantas kembali geming menguasainya. Bahkan untuk menegakkan tungkainya ia masih enggan. Ia sudah menunggu lebih dari lima belas menit di tempat ini namun Daehyun nyatanya sama sekali melupakan eksistensinya. Gadis itu menggigit kuat bibirnya. Membiarkan rasa sakit di bibirnya demi mengurangi sesak yang secara tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.

Daehyun-nya berubah.

Daehyun-nya tak lagi menepati kata-katanya.

Tak ada lagi Jirin dan Daehyun yang pulang kuliah bersama.

Dan itu cukup membuat cairan bening samakin deras mengalir di atas kedua pipinya. Hingga Jirin memilih menguatkan hatinya dan membawa tubuh mungilnya meninggalkan taman kampus untuk segera berlari sekuat dan semampu yang ia bisa untuk segera pulang ke rumahnya.

***

Malam di musim dingin pukul 21.30 dan seharusnya Daehyun sudah mengiriminya pesan singkat untuk ucapan selamat tidur. Namun Jirin masih membiarkan tungkainya mondar-mandir di depan jendela kamar sembari jemari tangan kanannya memegang ponselnya.

Namun ini sudah pukul 22.00 dan tak ada satupun pesan dari Daehyun yang selalu mengantarkan Jirin ke alam mimpinya. Gadis itu mengehela nafas dalam lantas dengan cepat mengetikkan sesuatu pada layar ponsel.

To: Daehyunnie
Selamat malam... Semoga mimpimu indah, jaljja ^-^

Jirin menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Merilekskan tubuhnya seraya mencoba memejamkan kelopaknya dan mencoba melupakan yang telah terjadi hari ini. Pada akhirnya ia masih juga terjaga meskipun kelopaknya sudah tertutup rapat. Karena gadis itu masih memfokuskan indra pendengarannya berharap sebuah balasan pesan singkat yang tadi ia kirim.

Mungkin sudah belasan menit ia kembali menunggu dan mungkin ia akan menjadi gadis kurang waras karena membiarkan netranya melawan kantuk saat kelopaknya terbuka dan menatap jarum jam di dinding kamarnya demi menunggu sebuah balasan sms.

Dan setidaknya ia masih memiliki sedikit peruntungan saat nada dering pesan masuk hingga jemarinya dengan cepat membuka layar ponselnya dengan sedikit bergetar.

From: Daehyunnie
Jaljja

Jirin memejamkan kelopaknya seraya mengatur deru nafasnya dan kembali sesak mengisi seluruh rongga dadanya. Ia memilih memukul-mukul dadanya sekuat tenaga dengan tangan kanannya berharap tak lagi merasakan sesak karena seorang Daehyun.

Hanya itu balasan pesan dari Daehyun?

Tak ada lagi Daehyun yang selalu mengucapkan selamat tidur yang romantis seperti biasanya. Tak ada lagi Daehyun yang menelponnya selama berjam-jam hingga mereka terlelap tidur. Tak ada lagi Daehyun yang mengiriminya pesan singkat yang membuatnya bisa tersenyum dan sedikit melupakan tekanan dari ayah Jirin.

Yah, Daehyun berubah. Dan itu membuat Jirin sakit. Di hatinya.

***

Mereka bukanlah sepasang kekasih. Mereka hanya sepasang sahabat yang sering menghabiskan waktu berdua. Mereka hanya sahabat yang saling menyayangi. Tapi itu dulu. Atau itu hanya perasaan Jirin yang salah selama ini.

“Bagaimana tugasmu? Kau sudah menyelesaikannya?” Daehyun menselonjorkan kedua kakinya di atas padang dandelion usai pulang kuliah.

“Hmm, kau sendiri?” jawab Jirin sekenanya setelah menenggak habis segelas coklat panas yang tadi ia dan Daehyun beli di pinggir jalan sebelum menuju padang dandelion di dekat rumah Jirin.

“Belum. Aku tak mengerti.. Eum, aku lihat punyamu ya,” Daehyun menunjukkan senyum terbaiknya yang selama ini Jirin lihat. Yah, senyum sahabatnya yang setidaknya bisa sedikit melupakan rasa kesalnya karena sikap Daehyun yang mulai berubah-ubah lebih dari satu bulan terakhir ini.

Jirin hanya mengangguk pelan lantas turut menselonjorkan kakinya mengikuti Daehyun. Hingga hening mengambil alih. Baik Jirin maupun Daehyun sama-sama tak mengucapkan sepatah katapun sampai nada dering ponsel Daehun berbunyi dan dengan cepat Daehyun menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.

Yeoboseo Minri-ah... Oh ya, benarkah? Baiklah nanti malam aku akan menelponmu, bye

Daehyun memutuskan sambungan telponnya dan kini kedua sudut bibirnya tertarik saat netranya menilik layar ponselnya tanpa menyadari perubahan pada air muka Jirin di sampingnya.

“Siapa?” tanya Jirin ragu.

“Oh yang menelponku tadi? Namanya Minri. Mantan kekasihku yang pernah aku ceritakan padamu.” Daehyun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya masih tanpa menurunkan kedua sudut bibirnya yang tertarik.

“Bukankah kau bilang ia sudah memiliki kekasih?”

“Heumm, tapi mereka sudah putus. Katanya kekasihnya itu selalu menyakitinya more and more. Jadi ia kembali padaku dan sadar akan kesalahannya yang dulu karena terlalu cemburu padaku,” Daehyun menatap Jirin dengan ekspresi bahagia yang sudah satu bulan terkahir tak lagi Jirin lihat. Daehyun pernah menatapnya seperti itu. Dulu. Sebelum Daehyun berubah.

“Jadi...” Jirin menggantungkan kalimatnya dan membuang tatapannya pada jalanan kecil di samping padang dandelion. “Apa kalian memutuskan untuk kembali menjalin hubungan?”

“Untuk saat ini kami memutuskan menjadi teman baik. Aku senang ia kembali padaku dan kembali mempercayaiku sebagai tempat curahan hatinya. Yah, aku harap aku dan Minri bisa terus berteman baik sama seperti kau dan aku,” terang Daehyun sembari netranya menerawang langit yang dipenuhi benda putih sore ini.

Jirin menggigit kuat bibirnya. Lantas ia memilih memejamkan matanya menahan agar cairan bening sialan itu tak menerobos keluar dari sudut matanya. Baiklah ini semua salah Jirin. Seharusnya ia tak menaruh ekspektasi berlebih terhadap perasaan Daehyun padanya. Bukankah harusnya ia bersyukur menjadi teman baik Daehyun selama satu setengah tahun ini?

“Jirin-ah.. Ada yang ingin kuceritakan padamu,” ucap Daehyun pelan.

Jirin bisa dengan jelas mendengar ucapan Daehyun. Entah pria itu kini menyadari perubahan suasana hati Jirin atau tidak. “Ceritakanlah.”

“Dua minggu yang lalu aku berkenalan dengan seorang gadis dari klub atletik. Ia seorang gadis cantik dan juga friendly. Akhir-akhir ini kami sering bertukar cerita lewat pesan singkat, bahkan tadi malam kami saling berbagi cerita sampai pukul satu pagi. Luar biasa kan? Waahh... Daebak. Aku tak menyangka ia sanggup tidur di atas pukul dua belas malam. Oh ya Jirin-ah kau tahu tid-“

“Aku ingin pulang. Kau masih mau di sini? Kalau begitu aku pulang duluan. Anyeong...” Jirin segera menyampirkan tasnya di bahu dan segera bangkit dari duduknya.

Gadis itu membawa tungkainya mengikis jarak menuju rumahnya, tak ingin mendengar seluruh kisah yang Daehyun ceritakan. Sudah cukup beberapa hal itu membuatnya mengerti akan sikap Daehyun padanya. Dan ia tak ingin lagi menyesakkan pendengarannya dengan gadis-gadis yang diceritakan Daehyun.

***

Jirin menatap refleksi dirinya pada cermin besar di dinding kamarnya. Wajah yang ia lihat di cermin itu begitu kacau dan terlihat jelas bagian matanya bengkak. Ia habis menangis semalam. Tidak, lebih tepatnya semalaman. Jirin baru bisa bertidur satu jam setelah fajar mulai menyingsing di ufuk timur.

Bodohnya ia tadi malam masih menunggu barang satu pesan dari Daehyun. Nyatanya rasa kehilangannya semakin besar. Jirin benar-benar merindukan Daehyun-nya yang selama satu setengah tahun terakhir ini menemaninya setiap malam. Jirin merindukan eksistensi Daehyun yang selalu bersedia bahunya Jirin pinjam jika Jirin lelah dan ingin menangis karena sikap ayahnya.

Jirin kehilangan Daehyun-nya.

Mungkin Daehyun sudah bosan dengannya. Mungkin Jirin terlalu membosankan bagi Daehyun. Mungkin Jirin tak sekuat gadis dari klub atletik itu yang sanggup tidur di atas jam dua belas malam. Mungkin Daehyun malu berteman dengan gadis menyedihkan sepertinya yang selalu ditindas ayahnya. Mungkin, mungkin, mungkin...

Jirin memberanikan diri menekan panggilan keluar untuk Daehyun. Setelah terdengar beberapa kali nada sambung, akhirnya suara pria di seberang sana memenuhi pendengaran Jirin.

Yeoboseo, Daehnyunnie”

Ne, yeoboseo Jirin-ah. Wae? Ada apa kau menelponku sepagi ini?” suara di seberang sana berdengar parau. Mungkin Daehyun juga baru bangun tidur.

Ada apa? Daehyun tak pernah menanyakan ada apa jika Jirin menelponnya pagi hari. Seharusnya Daehyun akan mengatakan ‘Selamat pagi’, ‘Wah, aku senang hari ini kau yang lebih dulu menelponku’, atau ‘Bagaimana tidurmu tadi malam?’. Jirin benar-benar sudah kehilangan seorang Daehyun. Sahabatnya.

Jirin menghirup nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Daehyun. “Kau,, kau bisa menjemputku hari ini ke kampus?” tanya Jirin pelan. Ia ragu jika Daehyun akan menjemputnya karena sudah satu bulan terakhir Daehyun tak lagi menjemputnya ataupun mengantarnya pulang kuliah.

“Tentu saja aku bisa,” jawab suara pria di seberang sana dengan santai.

Kedua sudut bibir Jirin hampir tertarik sebelum Daehyun dengan cepat meralat ucapannya.

“Eh? Hari ini? Maaf... Aku sudah ada janji dengan temanku akan ke toko buku dulu sebelum ke kampus. Bagaimana kalau aku jemput besok saja, hmm?”

Air mata yang Jirin rasa sudah kering, nyatanya masih bisa membasahi wajahnya lagi pagi ini. Inilah akhirnya. Ia tak bisa lagi menahan lebih jauh hubungannya dengan Daehyun.

“Aku kehilanganmu Hyun,” lirih Jirin menahan isakannya.

“Mwo? Apa maksudmu? Hey, Jirin aku ada di sini...”

“Tapi aku merasa sudah kehilangan sahabatku.”

“Jirin-ah aku-”

“Nyatanya kau mulai merubah, dan itu membuatku semakin kehilanganmu...”

“Chagi, aku tak berubah. Maksudmu apa?”

Jirin tak lagi ingin menjawab ucapan Daehyun. Gadis itu membungkam mulutnya yang sudah tak kuat untuk menahan isakan dengan tangan kirinya yang tak menggenggam ponsel. Air mata yang mati-matian ia tahan kembali tumpah seiring dengan pandangannya yang mulai memburam karena air mata yang semakin membanjiri wajahnya.

“Halo Jirin.. Yeoboseo.. Kau masih di situ?”

Jirin mengabaikan panggilan Daehyun lantas mematikan sambungan telponnya. Gadis itu terduduk di atas dinginnya lantai dengan memeluk kedua lututnya. Ia sudah kehilangan Daehyun. Karena sahabatnya itu tak pernah cukup dengan kehadiran seorang wanita di sisinya. Daehyun tak pernah cukup memiliki Jirin yang selalu ada untuknya.

Karena mungkin Daehyun sudah bosan dengannya.

.
.
FIN

Daehyun oppa saranghamnida ^^
Kapan ini nunggu B.A.P comeback udah nggak sabar yeayyy... Oiya makasih yang sudah mau baca fanfiction aku yang nggak bermutu ini yah... Dan sejujurnya fict ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisah itu bener-bener ada, bukan cuman hayalan semata, hohoo...
Sekali lagi makasih yang sudah baca readersdeul J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar