Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Sabtu, 28 Januari 2017

(Fanfiction) Dandelion


DANDELION
.
.
Author:
@cloudisah_ (on twitter)
.
Cast:
B.A.P’s Daehyun
OC’s Jirin
B.A.P’s Himchan
.
Genre: Life // Rating: General // Length: Ficlet
.
.

OoooO

Aku melihat gadis itu lagi. Menyapu halaman rumah sederhananya dari daun maple kering, dengan lidi yang sama sejak empat bulan lalu ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Dan anehnya aku selalu teringat akan dandelion tiap kali melihatnya.

“Selamat sore, Daehyun Oppa!” ia melambai riang dari pekarangan rumahnya.

Kubalas lambaian tangannya sembari melempar senyum. “Selamat sore juga, Jirin. Oppa pulang dulu!” seruku seraya kedua tungkaiku merajut langkah perlahan melewati rumahnya.

Seruanku menarik atensi dari beberapa pejalan kaki yang beriringan denganku. Tanpa memperdulikan pandangan aneh juga tak menyenangkan mereka—masa bodoh apa yang orang pikirkan—kedua netraku memilih  menatapnya yang masih memegang sapu lidi.


“Hati-hati, Oppa!” ia kembali melambai.

Aku mengangguk ringan, masih tanpa memperdulikan bagaimana orang lain memandangku. Memangnya tahu apa mereka? Orang-orang yang hanya tahu mengisi perut tanpa khawatir apakah besok masih bisa makan atau tidak. Tssk.

Aku tak dapat menahan kedua sudut bibirku untuk tetap bertahan pada posisinya yang berjungkat naik, hingga tubuhku sudah menjauh beberapa meter dari rumahnya.

Riang. Satu kata yang menggambarkan sifatnya.

Hanya saja, akan lebih baik jika aku tak perlu mengenalnya lebih dalam. Mengenalnya demi mengetahui suatu kenyataan yang memukulku telak, hingga aku sempat lupa bagaimana caranya bernafas.

OoooO

Hari ini masih sama seperti sebelumnya. Berkutat pada tumpukan berkas data pendapatan perusahaan. Pekerjaan yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabku sebagai mahasiswa yang sedang magang di perusahaan elektronik, tapi seolah jika tak kuselesaikan maka aku tak akan dapat gaji-ku bulan ini. Menyebalkan.

Tapi beginilah kenyataannya. Mahaiswa magang justru jauh lebih sibuk ketimbang karyawan sungguhan. Lihatlah sekarang, aku harus memfotokopi data penurunan penjualan bulan lalu, sementara satu lagi tugas mengetik Laporan Keuangan bulan ini belum sempat kuselesaikan. Belum lagi tugas mengarsipkan berkas data penjualan tahun lalu. Itu pun tidak akan selesai hanya dalam waktu satu hari mengarsipkannya.

“Rajin sekali. Kau tidak akan dapat gaji meski sekeras apapun bekerja,”  Himchan Hyung—ia karyawan di sini, sudah sekitar tiga tahun bekerja—menepuk pundakku usai memfotokopi berkas yang aku tak tahu berkas apa itu sebab kami berbeda ruangan. Ia bagian Kepegawaian omong-omong.

“Beginilah nasib mahasiswa magang di bagian Keuangan. Kalau tidak rajin, aku tidak akan dapat nilai bagus dari Manajer Keuangan, sudah begitu aku tidak akan bakal keciprat uang saku walaupun sekedar lima puluh ribu won,” kekehku.

Himchan Hyung ikut terkekeh setelahnya. “Aku duluan kalau begitu. Semangat magang, Dude,” ia melangkah pergi masih dengan mempertahankan kekehannya.

Aku hanya bisa mendelik dan menatap punggungnya yang melangkah meninggalkan ruangan fotokopi hingga menghilang di balik pintu. Aku jadi iri dengan mahasiswa magang di perusahaan lain. Pekerjaan mereka mungkin tidak sebanyak pekerjaanku. Bahkan baru magang empat bulan dari total enam bulan lamanya waktu magang kami, sudah terasa seperti setahun aku berada di sini. Dan kurasa aku sudah menyesal memilih magang di perusahaan ini.  Ugh.

OoooO

Aku tak melihatnya hari ini. Pun demikian dengan kemarin, dan kemarinnya lagi.

Biasanya tak sulit untuk sekedar menemuinya, sebab ia selalu berada di tempat yang sama tiap kali aku pulang dari tempat magang. Tapi pengecualian untuk beberapa hari ini.

Menatap pekarangan rumahnya yang kosong, dengan daun maple kering menumpuk memenuhi hampir seluruh bagian pekarangan. Lantas setelah puluhan sekon hanya bergeming, kuberanikan melangkah menginjak tanah pekarangan yang dulu pernah kusinggahi, terakhir kali sekitar satu bul—

“Jirin sudah terbiasa dibenci.”

—kepalaku berdenyut hebat secara tiba-tiba.

“Setidaknya, Daehyun Oppa lebih beruntung dari Jirin.”

Suara itu…

“Jadi, apa menurut Daehyun Oppa, bunga dandelion itu tetap tidak cantik?”

Tubuhku lemas. Kotak Pandora yang sekuat tenaga kututup, kini terbuka tanpa bisa kucegah. Sekelebat memori itu terus berputar memenuhi otakku. Membuat dadaku sesak.

Bersandar pada pohon maple, kuatur deru nafas yang mulai tersengal. Jantungku mulai berdetak tak karuan. Dan rasa bersalah itu, kembali muncul menghantam seluruh tubuhku.

OoooO

“Kenapa kau duduk di pinggir jalan?”

Gadis yang belakangan kuketahui bernama Jirin—rumahnya bersebelahan dengan perusahaan elektronik tempat aku magang dan aku sempat bertemu dan berkenalan dengannya saat ia mengambil air dari kran di halaman samping perusahaan—masih dengan mengenakan seragam SMP-nya, menekuk kedua lututnya. Memegang bunga kuning yang kalau aku tidak salah itu bunga rumput, alias dandelion.

“Jirin ingin jadi seperti benih dandelion ini,” ia menggumam sembari menunjukkan bunga di tangannya alih-alih menjawab pertanyaanku.

Memilih mendengarkannya, kini aku duduk bersisian dengan Jirin, tak memperdulikan bagaimana orang-orang melihat kami. “Memangnya, apa bagusnya dandelion itu? Kan tidak cantik seperti mawar.”

Kedua sudut bibirnya tertarik. Memberikan bunga ditangannya padaku, lantas memeluk lututnya. “Oppa pernah lihat dandelion yang berwarna putih? Bentuknya seperti bola kapas. Itu adalah bibit bunga dandelion.”

“Oh, yang bisa ditiup itu kan? Lalu kenapa?”

“Meskipun bibit dandelion itu sangat kecil juga rapuh, tapi mampu terbang tinggi. Dan saat bibit itu berada di tempat baru, bibit itu akan tumbuh jadi bunga baru,” Jirin menghela nafas sejenak. “Indri juga mau terbang tinggi, dan memiliki kehidupan baru.”

Alisku mengernyit, tak begitu memahami maksud perkataannya. “Jirin tidak mau masuk ke rumah? Dilihat banyak orang nih,” kualihkan pembicaraannya dari membicarkaan bibit bunga dandelion yang sama sekali tak menarik itu.

“Tidak apa-apa. Jirin masih mau di sini. Siapa tahu nanti Ayah pulang.”

“Tapi banyak orang yang lih—”

“Jirin sudah terbiasa dibenci,” gadis itu masih mempertahankan lengkungan bibirnya.

 Tak tahu harus berkata apa, aku memilih bangkit berdiri. “Ya sudah kalau begitu, Oppa pulang dulu. Sampai jumpa,” kuusap pelan puncak kepalanya sebelum benar-benar menjauh dari Jirin yang masih betah duduk di pinggir jalan di depan halaman rumahnya.

.
.

“Hai, Oppa. Kenapa wajah Oppa kusut begitu?”

Aku bertemu lagi dengannya. Entah kenapa setiap pulang magang, aku senang sekali mengunjunginya yang kali ini tengah menyapu pekarangan rumahnya dari daun maple kering. Dan selama tiga bulan ini kami sudah menjadi sangat akrab.

Oppa lelah sekali. Padahal Oppa hanya mahasiswa magang tapi pekerjaan Oppa sudah seperti karyawan sungguhan saja, tch… Menyebalkan.”

“Setidaknya, Oppa lebih beruntung dari Jirin.”

Aku duduk di kursi kayu panjang di teras rumahnya, memperhatikannya yang masih menyapu. “Kenapa kau bilang begitu?”

Oppa sudah kuliah, sementara Jirin belum tentu bisa melanjutkan sekolah. Bahkan besokpun Jirin tidak tahu apa masih bisa makan atau tidak,” kalimat yang ia ucapkan dengan nada santai itu terdengar pilu di pendengaranku.

“Orangtua Jirin di mana?” tanyaku hati-hati.

Gerakan Jirin terhenti, dan menatapku dengan senyum miris. “Ibu sudah meninggal. Dan Ayah… Jirin tidak tahu karena sudah hampir setahun tidak pulang.”

Dan pembicaraan kami terhenti sampai disitu ketika Ibu menelponku untuk segera pulang. Karena aku harus menjemput Kakek di terminal.

.
.

Aku tak menyangka jika itu adalah pembicaraan terakhirku dengannya. Sepucuk surat yang kuterima dari seorang Cleaning Service di kantor membuat kedua tungkaiku tak sanggup menopang berat tubuhku.

Untuk Daehyun Oppa

Hai, Oppa. Maaf kalau Jirin harus pergi seperti ini. Terima kasih sudah mau menemani Jirin, disaat tidak ada orang yang mau berteman dengan Jirin.

Jirin hanya ingin memberi tahu tentang benih dandelion yang belum sempat Oppa dengar waktu itu. Oppa harus seperti benih dandelion yang sanggup terbang tinggi, berusaha mencapai cita-cita Oppa meskipun jalan di hadapan Oppa berbatu. Benih dandelion itu kecil tapi mampu membawa kehidupan baru, jadi Oppa jangan berkecil hati dan Oppa harus berani menghadapi rintangan. Tidak apa-apa kalau Oppa lelah karena pekerjaan sebagai mahasiswa magang, ingat Oppa masih banyak orang yang kurang beruntung ketimbang Oppa.

Jadi, apa menurut Daehyun Oppa, bunga dandelion itu tetap tidak cantik? ^^

Jirin
OoooO

Seikat dandelion di atas makam yang berusia satu bulan ini kuletakkan sebagai hadiah untuk Jirin.  Gadis kecil yang rapuh, yang harus menerjang derasnya badai kehidupan. Aku tak tahu kenapa akhirnya ia lebih memilih mengakhiri hidupnya.

Gadis dandelion. Yang kini tengah tertidur di bawah gundukan tanah, memberiku kekuatan untuk mengarungi kehidupan yang terkadang tak adil ini. Mungkin aku tak bisa seperti benih dandelion yang mampu terbang tinggi dan membawa kehidupan baru, tapi satu yang pasti aku akan berusaha mencapai cita-citaku, sesakit apapun jalannya.

Meskipun Jirin sudah tiada, entah kenapa aku masih selalu melihatnya di pekarangan rumahnya. Menyapu daun ketapang kering, dan tersenyum riang padaku. Tapi itu tak masalah, sebab aku justru bahagia dengan hal itu. Yah, meskipun tak kutemukan lagi eksistensinya belakangan ini.

“Tidurlah dengan damai, Jirin.”

End

Maapkeun aku dengan cerita kehidupan yang absurd ini ><
Kkk…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar