DANDELION
.
.
Author:
@cloudisah_ (on twitter)
.
Cast:
B.A.P’s
Daehyun
OC’s
Jirin
B.A.P’s
Himchan
.
Genre:
Life // Rating: General // Length: Ficlet
.
.
OoooO
Aku
melihat gadis itu lagi. Menyapu halaman rumah sederhananya dari daun maple kering, dengan lidi yang sama
sejak empat bulan lalu ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Dan anehnya aku
selalu teringat akan dandelion tiap
kali melihatnya.
“Selamat
sore, Daehyun Oppa!” ia melambai
riang dari pekarangan rumahnya.
Kubalas
lambaian tangannya sembari melempar senyum. “Selamat sore juga, Jirin. Oppa pulang dulu!” seruku seraya kedua
tungkaiku merajut langkah perlahan melewati rumahnya.
Seruanku
menarik atensi dari beberapa pejalan kaki yang beriringan denganku. Tanpa
memperdulikan pandangan aneh juga tak menyenangkan mereka—masa bodoh apa yang
orang pikirkan—kedua netraku memilih
menatapnya yang masih memegang sapu lidi.
“Hati-hati,
Oppa!” ia kembali melambai.
Aku
mengangguk ringan, masih tanpa memperdulikan bagaimana orang lain memandangku.
Memangnya tahu apa mereka? Orang-orang yang hanya tahu mengisi perut tanpa
khawatir apakah besok masih bisa makan atau tidak. Tssk.
Aku
tak dapat menahan kedua sudut bibirku untuk tetap bertahan pada posisinya yang berjungkat
naik, hingga tubuhku sudah menjauh beberapa meter dari rumahnya.
Riang.
Satu kata yang menggambarkan sifatnya.
Hanya
saja, akan lebih baik jika aku tak perlu mengenalnya lebih dalam. Mengenalnya
demi mengetahui suatu kenyataan yang memukulku telak, hingga aku sempat lupa
bagaimana caranya bernafas.
OoooO
Hari
ini masih sama seperti sebelumnya. Berkutat pada tumpukan berkas data
pendapatan perusahaan. Pekerjaan yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabku
sebagai mahasiswa yang sedang magang di perusahaan elektronik, tapi seolah jika
tak kuselesaikan maka aku tak akan dapat gaji-ku bulan ini. Menyebalkan.
Tapi
beginilah kenyataannya. Mahaiswa magang justru jauh lebih sibuk ketimbang karyawan sungguhan. Lihatlah sekarang, aku harus memfotokopi data penurunan
penjualan bulan lalu, sementara satu lagi tugas mengetik Laporan Keuangan bulan
ini belum sempat kuselesaikan. Belum lagi tugas mengarsipkan berkas data penjualan
tahun lalu. Itu pun tidak akan selesai hanya dalam waktu satu hari
mengarsipkannya.
“Rajin
sekali. Kau tidak akan dapat gaji meski sekeras apapun bekerja,” Himchan Hyung—ia
karyawan di sini, sudah sekitar tiga tahun bekerja—menepuk pundakku usai
memfotokopi berkas yang aku tak tahu berkas apa itu sebab kami berbeda ruangan.
Ia bagian Kepegawaian omong-omong.
“Beginilah
nasib mahasiswa magang di bagian Keuangan. Kalau tidak rajin, aku tidak akan
dapat nilai bagus dari Manajer Keuangan, sudah begitu aku tidak akan bakal keciprat uang saku walaupun sekedar lima
puluh ribu won,” kekehku.
Himchan
Hyung ikut terkekeh setelahnya. “Aku
duluan kalau begitu. Semangat magang, Dude,”
ia melangkah pergi masih dengan mempertahankan kekehannya.
Aku
hanya bisa mendelik dan menatap punggungnya yang melangkah meninggalkan ruangan
fotokopi hingga menghilang di balik pintu. Aku jadi iri dengan mahasiswa magang
di perusahaan lain. Pekerjaan mereka mungkin tidak sebanyak pekerjaanku. Bahkan baru magang empat bulan dari
total enam bulan lamanya waktu magang kami, sudah terasa seperti setahun aku berada
di sini. Dan kurasa aku sudah menyesal memilih magang di perusahaan ini. Ugh.
OoooO
Aku
tak melihatnya hari ini. Pun demikian dengan kemarin, dan kemarinnya lagi.
Biasanya
tak sulit untuk sekedar menemuinya, sebab ia selalu berada di tempat yang sama
tiap kali aku pulang dari tempat magang. Tapi pengecualian untuk beberapa hari
ini.
Menatap
pekarangan rumahnya yang kosong, dengan daun maple kering menumpuk memenuhi hampir seluruh bagian pekarangan.
Lantas setelah puluhan sekon hanya bergeming, kuberanikan melangkah menginjak
tanah pekarangan yang dulu pernah kusinggahi, terakhir kali sekitar satu bul—
“Jirin sudah terbiasa dibenci.”
—kepalaku
berdenyut hebat secara tiba-tiba.
“Setidaknya, Daehyun Oppa lebih beruntung dari Jirin.”
Suara
itu…
“Jadi, apa menurut Daehyun Oppa, bunga dandelion itu tetap tidak cantik?”
Tubuhku
lemas. Kotak Pandora yang sekuat
tenaga kututup, kini terbuka tanpa bisa kucegah. Sekelebat memori itu terus
berputar memenuhi otakku. Membuat dadaku sesak.
Bersandar
pada pohon maple, kuatur deru nafas
yang mulai tersengal. Jantungku mulai berdetak tak karuan. Dan rasa bersalah
itu, kembali muncul menghantam seluruh tubuhku.
OoooO
“Kenapa kau duduk di pinggir
jalan?”
Gadis yang belakangan kuketahui
bernama Jirin—rumahnya bersebelahan dengan perusahaan elektronik tempat aku
magang dan aku sempat bertemu dan berkenalan dengannya saat ia mengambil air
dari kran di halaman samping perusahaan—masih dengan mengenakan seragam SMP-nya,
menekuk kedua lututnya. Memegang bunga kuning yang kalau aku tidak salah itu
bunga rumput, alias dandelion.
“Jirin ingin jadi seperti benih dandelion
ini,” ia menggumam sembari menunjukkan bunga di tangannya alih-alih menjawab
pertanyaanku.
Memilih mendengarkannya, kini aku
duduk bersisian dengan Jirin, tak memperdulikan bagaimana orang-orang melihat
kami. “Memangnya, apa bagusnya dandelion itu? Kan tidak cantik seperti mawar.”
Kedua sudut bibirnya tertarik.
Memberikan bunga ditangannya padaku, lantas memeluk lututnya. “Oppa pernah lihat dandelion yang berwarna putih? Bentuknya seperti bola
kapas. Itu adalah bibit bunga dandelion.”
“Oh, yang bisa ditiup itu kan? Lalu
kenapa?”
“Meskipun bibit dandelion itu
sangat kecil juga rapuh, tapi mampu terbang tinggi. Dan saat bibit itu berada
di tempat baru, bibit itu akan tumbuh jadi bunga baru,” Jirin menghela nafas
sejenak. “Indri juga mau terbang tinggi, dan memiliki kehidupan baru.”
Alisku mengernyit, tak begitu
memahami maksud perkataannya. “Jirin tidak mau masuk ke rumah? Dilihat banyak
orang nih,” kualihkan pembicaraannya dari membicarkaan bibit bunga dandelion yang sama sekali tak menarik itu.
“Tidak apa-apa. Jirin masih mau di
sini. Siapa tahu nanti Ayah pulang.”
“Tapi banyak orang yang lih—”
“Jirin sudah terbiasa dibenci,”
gadis itu masih mempertahankan lengkungan bibirnya.
Tak tahu harus berkata apa, aku memilih
bangkit berdiri. “Ya sudah kalau begitu, Oppa pulang dulu. Sampai jumpa,” kuusap pelan
puncak kepalanya sebelum benar-benar menjauh dari Jirin yang masih betah duduk
di pinggir jalan di depan halaman rumahnya.
.
.
“Hai, Oppa. Kenapa wajah Oppa kusut begitu?”
Aku bertemu lagi dengannya. Entah
kenapa setiap pulang magang, aku senang sekali mengunjunginya yang kali ini
tengah menyapu pekarangan rumahnya dari daun maple kering. Dan selama tiga bulan ini kami
sudah menjadi sangat akrab.
“Oppa lelah sekali. Padahal Oppa hanya mahasiswa magang tapi pekerjaan Oppa sudah seperti karyawan sungguhan saja, tch…
Menyebalkan.”
“Setidaknya, Oppa lebih beruntung dari Jirin.”
Aku duduk di kursi kayu panjang di
teras rumahnya, memperhatikannya yang masih menyapu. “Kenapa kau bilang
begitu?”
“Oppa sudah kuliah, sementara Jirin belum tentu
bisa melanjutkan sekolah. Bahkan besokpun Jirin tidak tahu apa masih bisa makan
atau tidak,” kalimat yang ia ucapkan dengan nada santai itu terdengar pilu di
pendengaranku.
“Orangtua Jirin di mana?” tanyaku
hati-hati.
Gerakan Jirin terhenti, dan
menatapku dengan senyum miris. “Ibu sudah meninggal. Dan Ayah… Jirin tidak tahu
karena sudah hampir setahun tidak pulang.”
Dan pembicaraan kami terhenti
sampai disitu ketika Ibu menelponku untuk segera pulang. Karena aku harus
menjemput Kakek di terminal.
.
.
Aku tak menyangka jika itu adalah
pembicaraan terakhirku dengannya. Sepucuk surat yang kuterima dari seorang
Cleaning Service di kantor membuat kedua tungkaiku tak sanggup menopang berat tubuhku.
Untuk
Daehyun Oppa
Hai,
Oppa. Maaf kalau Jirin harus pergi seperti ini.
Terima kasih sudah mau menemani Jirin, disaat tidak ada orang yang mau berteman
dengan Jirin.
Jirin
hanya ingin memberi tahu tentang benih dandelion yang belum sempat Oppa dengar waktu itu. Oppa harus seperti benih dandelion yang sanggup
terbang tinggi, berusaha mencapai cita-cita Oppa meskipun jalan di hadapan Oppa
berbatu. Benih dandelion itu kecil tapi mampu membawa kehidupan baru, jadi Oppa jangan berkecil hati dan Oppa harus berani menghadapi rintangan. Tidak apa-apa
kalau Oppa lelah karena pekerjaan
sebagai mahasiswa magang, ingat Oppa
masih banyak orang yang kurang beruntung ketimbang Oppa.
Jadi,
apa menurut Daehyun Oppa, bunga dandelion itu tetap tidak cantik? ^^
Jirin
OoooO
Seikat
dandelion di atas makam yang berusia
satu bulan ini kuletakkan sebagai hadiah untuk Jirin. Gadis kecil yang rapuh, yang harus menerjang
derasnya badai kehidupan. Aku tak tahu kenapa akhirnya ia lebih memilih
mengakhiri hidupnya.
Gadis
dandelion. Yang kini tengah tertidur
di bawah gundukan tanah, memberiku kekuatan untuk mengarungi kehidupan yang
terkadang tak adil ini. Mungkin aku tak bisa seperti benih dandelion yang mampu terbang tinggi dan membawa kehidupan baru,
tapi satu yang pasti aku akan berusaha mencapai cita-citaku, sesakit apapun
jalannya.
Meskipun
Jirin sudah tiada, entah kenapa aku masih selalu melihatnya di pekarangan
rumahnya. Menyapu daun ketapang kering, dan tersenyum riang padaku. Tapi itu
tak masalah, sebab aku justru bahagia dengan hal itu. Yah, meskipun tak
kutemukan lagi eksistensinya belakangan ini.
“Tidurlah
dengan damai, Jirin.”
End
Maapkeun
aku dengan cerita kehidupan yang absurd
ini ><
Kkk…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar