Of Caffeine and Unanswered Question
.
.
Author:
@cloudisah_ (on twitter)
.
Cast:
One
Direction’s Niall Horan
Zayn
Malik
.
Genre:
Slice of Life // Length: Ficlet
.
12 Juli 2015
Hey,
apa kabar?
Oh
tidak. Aku salah. Apa biasanya buku diary
itu diawali dengan pertanyaan apa kabar? Sepertinya tidak. Ah, entahlah.
Ini
pertama kalinya aku menulis diary omong-omong.
Taraaa! Surprise!
Aku
ingin menulis curahan hatiku boleh tidak T_T Aku galaaau.
Jangan
katakan ini terlalu feminim. Aku pria tulen. Aku pria macho, kok. Serius. Aku tidak tahu, tapi mungkin ini efek kecanduan
espresso dan aku hanyut dalam suasana
melankolis. Mengerikan. Ah, aku malu. Kuharap Edwin tidak melihat catatan
rahasia ini, sehingga ia tidak akan memperolokku di depan anak-anak futsal.
Sekali lagi, aku hanya terbawa suasana melankolis saja. Kkkk…
Dari
tadi aku menulis hal yang tidak penting u_u
Oke
baiklah, aku hanya ingin memberitahu bahwa hari ini aku-jatuh-cinta!
AKU
JATUH CINTA. Hahaha.
Ah,
menyebalkan. Ibu memanggilku untuk mengantar beliau ke pasar. Aku akan
menceritakan semuanya jika aku ada waktu menulis lagi. Dan… tolong sekali lagi
jangan sampai Zayn mengetahui hal ini!
.
31 Juli 2015
Aku
kembali!
Ternyata
jauh sekali rentan waktu aku menulis diary
ini, sekitar sembilan belas hari. Sulit sekali untuk bisa menulis, karena
aku harus diam-diam agar tak diketahui sahabat menyebalkanku yang seenak
dengkulnya masuk dan mengobrak-abrik kamarku, Zayn Malik -___-
Aku
punya cerita. Hahaha. Tentang wanita berambut Dora yang belakangan sering
mampir ke rumah Kakek Simon, tetanggaku. Kukatakan rambut Dora karena rambutnya
sebahu, dan itu benar-benar mengingatkanku pada kartun kesukaan adik sepupuku, Dora The Explorer XD Jika kulihat
sepertinya kami seumuran, mungkin sih.
Dia
sangat cantik. Aku tidak bohong. Pertama kali melihatnya saat aku tengah
menyesap espresso sembari duduk di
tepi jendela, menikmati gerimis sore, ketika ia sedang bercengkrama dengan
Kakek Simon, dan… yeah, bukankah
suasananya jadi melankolis? Itu sebabnya aku mulai menulis saat itu. Dan saat
itu juga aku langsung jatuh cinta padanya.
Ini
kali pertama seorang Niall jatuh cinta, hahaha. Aku jatuh cinta? Oh, apa tidak
terlalu dini mengatakan kalau aku jatuh cinta? Tapi tak buruk juga kurasa
karena—
.
1 Oktober 2015
Tulisanku
terakhir menggantung karena Zayn-si-sahabat-menyebalkan tiba-tiba datang -_-
Ternyata benar-benar sulit bisa menulis. Selain harus diam-diam, aku juga tak
memiliki cukup waktu untuk menulis di buku diary
ini. Aku heran, bagaimana para wanita memiliki waktu luang untuk menulis di
buku harian mereka hampir tiap hari. Aku sudah mencoba, tapi sangat sulit.
Hey,
aku masih ingin menceritakan mengenai wanita berambut Dora itu (Rambutnya sudah
agak panjang, tapi aku senang menyebutnya wanita berambut Dora—aku masih tak
tahu namanya). Ia seperti kafein. Aku kecanduan. Aku selalu ingin melihatnya
lagi, lagi, dan lagi. Apa jangan-jangan tubuhnya mengandung kafein? Haha, dasar
aneh. Eh, maksudku, aku yang aneh.
Aku
penasaran, apa wanita berambut Dora itu adalah cucu Kakek Simon? Tapi aku sudah
dua puluh satu tahun menjadi tetangganya, dan belum pernah mendengar jika Kakek
Simon memiliki cucu perempuan.
Tadi
sore saat aku kembali menikmati espresso
di tepi jendela, ia kembali muncul. Dan satu hal gila terjadi! Ia menatapku. IA
MENATAPKU! Dan aku yang salah tingkah lantas turun dari tepi jendela dan
menutup jendela kamarku rapat-rapat dan menahan dentaman jantungku, dan
adrenalinku berpacu dan, dan dan…
Ah,
aku tak tahu harus mengatakan apa lagi.
.
31 Desember 2015
Akhir
tahun XD
Buku
diary ini cukup tebal, loh. Tapi aku baru menulis tiga kali,
dan ini yang ke-empat. Mungkin aku akan bercerita cukup panjang kali ini.
Apa
kau tahu, para pecinta espresso itu menyukai
pengalaman yang penuh tantangan. Dan bagiku jatuh cinta benar-benar pengalaman yang sangat menantang. Bagaimana
tidak, sampai detik aku menulis ini di malam tahun baru, aku masih tidak tahu
siapa nama wanita berambut Dora itu L Yah, sekalipun
rambutnya sekarang semakin panjang.
Aku
ingin berkenalan, tapi aku tak berani. Jadi, aku masih hanya menatapnya dari
tepi jendela dengan bertemankan espresso
kesayanganku. Bagiku espresso adalah
teman setia di saat aku sedang sendirian. Mengetahui namanya benar-benar suatu
tantangan. Oh iya, omong-omong Ibu bilang wanita itu adalah cucu angkat Kakek Simon.
Tapi Ibu tidak memberitahu detailnya, dan aku terlalu malu untuk bertanya.
Nanti ibu mencurigaiku, kkk…
Sejujurnya,
aku masih ingin menulis hingga berlembar-lembar panjangnya. Tapi seorang Niall
yang tampan ini banyak sekali dapat sms dari teman-teman futsal untuk berkumpul
merayakan pergantian tahun, jadi sebagai pria macho aku harus segera mengakhiri tulisan ini dan pergi menemui
mereka.
Selamat
tahun baru untukmu, wanita berambut Dora…
.
11 januari 2016
Wanita
berambut Dora datang ke rumahku! Seharusnya aku senang, tapi… ah, kenapa saat
ia datang membawa semangkuk sup labu dan dengan senyum manisnya berdiri di
depan pintu, aku malah hanya melongo. Memalukan!
Bukan
hanya itu. Saat ia datang tadi aku sama sekali tidak terlihat tampan.
AKU
BELUM MANDI SAAT IA DATANG T_T
(p.s:
Tadi Ibu memarahiku, dan melarangku meminum espresso
lagi. Bagaimana ini? Aku tak bisa hidup tanpa espresso L )
.
2 Februari 2016
Wanita
berambut Dora, yang akan selalu menjadi canduku. Seperti aku yang kecanduan kafein
espresso. Apa aku masih bisa
melihatmu dari tepi jendela? Dan… Apa aku masih memiliki waktu untuk sekedar
mengetahui namamu?
.
.
.
OoooO
Tulisan
terakhir diary bersampul hitam itu
ditutup kasar oleh Zayn. Menyentuh figura Niall bersama dirinya saat memegang
tropi juara dua pertandingan futsal antar kampus dua tahun lalu, setetes cairan
bening mengalir dari sudut matanya saat netranya menatap senyum lebar Niall
dalam figura itu.
“Bodoh.
Seharusnya kau bilang kalau dirimu sakit jantung,” pria itu lantas menghapus
kasar air matanya. “Kenapa kau masih minum espresso
di saat jantungmu sudah semakin lemah?”
Zayn
mendongak. Tak membiarkan lagi setetes cairan bening kembali menerobos keluar.
“Dan kau memang bodoh, Niall. Wanita berambut Dora itu namanya Sarah. Apa
susahnya sih sekedar menyapanya? Dasar penakut. Kau benar-benar tidak macho, tahu? Dan, sekarang apa yang
harus aku lakukan disaat kau pergi seperti ini?”
Zayn
lantas meletakkan kembali diary Niall
di atas meja belajar sahabatnya itu. Buku diary
yang baru ia temukan setelah setahun Niall dimakamkan.
“Tidurlah
dengan damai, Niall.”
END
This
is just a fanfiction guys!
I
made it last year but I just posted this ff ><
Hope
u like it anyway :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar