Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Sabtu, 28 Januari 2017

(Fanfiction) Of Caffeine and Unanswered Question


Of Caffeine and Unanswered Question
.
.
Author:
@cloudisah_ (on twitter)
.
Cast:
One Direction’s Niall Horan
Zayn Malik
.
Genre: Slice of Life // Length: Ficlet
.

12 Juli 2015

Hey, apa kabar?

Oh tidak. Aku salah. Apa biasanya buku diary itu diawali dengan pertanyaan apa kabar? Sepertinya tidak. Ah, entahlah.

Ini pertama kalinya aku menulis diary omong-omong. Taraaa! Surprise!

Aku ingin menulis curahan hatiku boleh tidak T_T Aku galaaau.


Jangan katakan ini terlalu feminim. Aku pria tulen. Aku pria macho, kok. Serius. Aku tidak tahu, tapi mungkin ini efek kecanduan espresso dan aku hanyut dalam suasana melankolis. Mengerikan. Ah, aku malu. Kuharap Edwin tidak melihat catatan rahasia ini, sehingga ia tidak akan memperolokku di depan anak-anak futsal. Sekali lagi, aku hanya terbawa suasana melankolis saja. Kkkk

Dari tadi aku menulis hal yang tidak penting u_u

Oke baiklah, aku hanya ingin memberitahu bahwa hari ini aku-jatuh-cinta!

AKU JATUH CINTA. Hahaha.

Ah, menyebalkan. Ibu memanggilku untuk mengantar beliau ke pasar. Aku akan menceritakan semuanya jika aku ada waktu menulis lagi. Dan… tolong sekali lagi jangan sampai Zayn mengetahui hal ini!

.

31 Juli 2015

Aku kembali!

Ternyata jauh sekali rentan waktu aku menulis diary ini, sekitar sembilan belas hari. Sulit sekali untuk bisa menulis, karena aku harus diam-diam agar tak diketahui sahabat menyebalkanku yang seenak dengkulnya masuk dan mengobrak-abrik kamarku, Zayn Malik -___-

Aku punya cerita. Hahaha. Tentang wanita berambut Dora yang belakangan sering mampir ke rumah Kakek Simon, tetanggaku. Kukatakan rambut Dora karena rambutnya sebahu, dan itu benar-benar mengingatkanku pada kartun kesukaan adik sepupuku, Dora The Explorer XD Jika kulihat sepertinya kami seumuran, mungkin sih.

Dia sangat cantik. Aku tidak bohong. Pertama kali melihatnya saat aku tengah menyesap espresso sembari duduk di tepi jendela, menikmati gerimis sore, ketika ia sedang bercengkrama dengan Kakek Simon, dan… yeah, bukankah suasananya jadi melankolis? Itu sebabnya aku mulai menulis saat itu. Dan saat itu juga aku langsung jatuh cinta padanya.

Ini kali pertama seorang Niall jatuh cinta, hahaha. Aku jatuh cinta? Oh, apa tidak terlalu dini mengatakan kalau aku jatuh cinta? Tapi tak buruk juga kurasa karena—

.

1 Oktober 2015

Tulisanku terakhir menggantung karena Zayn-si-sahabat-menyebalkan tiba-tiba datang -_- Ternyata benar-benar sulit bisa menulis. Selain harus diam-diam, aku juga tak memiliki cukup waktu untuk menulis di buku diary ini. Aku heran, bagaimana para wanita memiliki waktu luang untuk menulis di buku harian mereka hampir tiap hari. Aku sudah mencoba, tapi sangat sulit.

Hey, aku masih ingin menceritakan mengenai wanita berambut Dora itu (Rambutnya sudah agak panjang, tapi aku senang menyebutnya wanita berambut Dora—aku masih tak tahu namanya). Ia seperti kafein. Aku kecanduan. Aku selalu ingin melihatnya lagi, lagi, dan lagi. Apa jangan-jangan tubuhnya mengandung kafein? Haha, dasar aneh. Eh, maksudku, aku yang aneh.

Aku penasaran, apa wanita berambut Dora itu adalah cucu Kakek Simon? Tapi aku sudah dua puluh satu tahun menjadi tetangganya, dan belum pernah mendengar jika Kakek Simon memiliki cucu perempuan.

Tadi sore saat aku kembali menikmati espresso di tepi jendela, ia kembali muncul. Dan satu hal gila terjadi! Ia menatapku. IA MENATAPKU! Dan aku yang salah tingkah lantas turun dari tepi jendela dan menutup jendela kamarku rapat-rapat dan menahan dentaman jantungku, dan adrenalinku berpacu dan, dan dan…

Ah, aku tak tahu harus mengatakan apa lagi.

.

31 Desember 2015

Akhir tahun XD

Buku diary ini cukup tebal, loh. Tapi aku baru menulis tiga kali, dan ini yang ke-empat. Mungkin aku akan bercerita cukup panjang kali ini.

Apa kau tahu, para pecinta espresso itu menyukai pengalaman yang penuh tantangan. Dan bagiku jatuh cinta benar-benar  pengalaman yang sangat menantang. Bagaimana tidak, sampai detik aku menulis ini di malam tahun baru, aku masih tidak tahu siapa nama wanita berambut Dora itu L Yah, sekalipun rambutnya sekarang semakin panjang.

Aku ingin berkenalan, tapi aku tak berani. Jadi, aku masih hanya menatapnya dari tepi jendela dengan bertemankan espresso kesayanganku. Bagiku espresso adalah teman setia di saat aku sedang sendirian. Mengetahui namanya benar-benar suatu tantangan. Oh iya, omong-omong Ibu bilang wanita itu adalah cucu angkat Kakek Simon. Tapi Ibu tidak memberitahu detailnya, dan aku terlalu malu untuk bertanya. Nanti ibu mencurigaiku, kkk

Sejujurnya, aku masih ingin menulis hingga berlembar-lembar panjangnya. Tapi seorang Niall yang tampan ini banyak sekali dapat sms dari teman-teman futsal untuk berkumpul merayakan pergantian tahun, jadi sebagai pria macho aku harus segera mengakhiri tulisan ini dan pergi menemui mereka.

Selamat tahun baru untukmu, wanita berambut Dora…

.

11 januari 2016

Wanita berambut Dora datang ke rumahku! Seharusnya aku senang, tapi… ah, kenapa saat ia datang membawa semangkuk sup labu dan dengan senyum manisnya berdiri di depan pintu, aku malah hanya melongo. Memalukan!

Bukan hanya itu. Saat ia datang tadi aku sama sekali tidak terlihat tampan.

AKU BELUM MANDI SAAT IA DATANG T_T

(p.s: Tadi Ibu memarahiku, dan melarangku meminum espresso lagi. Bagaimana ini? Aku tak bisa hidup tanpa espresso L )

.                

2 Februari 2016

Wanita berambut Dora, yang akan selalu menjadi canduku. Seperti aku yang kecanduan kafein espresso. Apa aku masih bisa melihatmu dari tepi jendela? Dan… Apa aku masih memiliki waktu untuk sekedar mengetahui namamu?

.

.

.

OoooO

Tulisan terakhir diary bersampul hitam itu ditutup kasar oleh Zayn. Menyentuh figura Niall bersama dirinya saat memegang tropi juara dua pertandingan futsal antar kampus dua tahun lalu, setetes cairan bening mengalir dari sudut matanya saat netranya menatap senyum lebar Niall dalam figura itu.

“Bodoh. Seharusnya kau bilang kalau dirimu sakit jantung,” pria itu lantas menghapus kasar air matanya. “Kenapa kau masih minum espresso di saat jantungmu sudah semakin lemah?”

Zayn mendongak. Tak membiarkan lagi setetes cairan bening kembali menerobos keluar. “Dan kau memang bodoh, Niall. Wanita berambut Dora itu namanya Sarah. Apa susahnya sih sekedar menyapanya? Dasar penakut. Kau benar-benar tidak macho, tahu? Dan, sekarang apa yang harus aku lakukan disaat kau pergi seperti ini?”

Zayn lantas meletakkan kembali diary Niall di atas meja belajar sahabatnya itu. Buku diary yang baru ia temukan setelah setahun Niall dimakamkan.

“Tidurlah dengan damai, Niall.”

END

This is just a fanfiction guys!
I made it last year but I just posted this ff ><
Hope u like it anyway :D





Tidak ada komentar:

Posting Komentar