Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Kamis, 21 Agustus 2014

(Fanfiction) Louis, I'm Sorry...



Louis, I’m Sorry...

.
.
.

Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah

Main Cast:
One Direction’s Harry Styles
One Direction’s Louis Thomlison

Genre:
Friendship, and little bit romance

Rating:
Teen

Lenght:
Oneshot

Summary:
Salah paham itu bisa diselesaikan dengan kata-kata...

-----OD-----

Ting tong...

Bunyi bell di rumah bercat hijau-cream itu terdengar berkali-kali. Namun tak juga sang empunya rumah membuka pintu yang berpelitur mengkilap itu, menimbulkan decakan berkali-kali dari orang yang menekan bell tersebut.

Ting tong.. ting tong..

Kali ini bunyi bell itu lebih cepat, hingga tidak mungkin tidak terdengar oleh rumah di sekitarnya.

“Tssk, kemana kau. Awas saja jika sampai nanti aku bertemu denganmu, akan kubuat perhitungan karna sudah membuatku menunggu di luar sini bahkan hampir membeku”, gerutu seseorang yang sedari dari terus menerus menekan bell di rumah itu.

Karena lelah bercampur kesal, ditambah udara yang semakin dingin -karena memang musim dingin- seseorang itu beranjak pergi dari rumah yang pintunya tak kunjung dibuka meskipun ia telah ratusan kali menekan-nekan bell di rumah itu.

Satu hal yang dilupakan orang itu, ponsel. Oh ayolah, ini sudah abad dua puluh satu, dan ponsel bukan barang langka bin ajaib lagi kan? Setidaknya akan lebih baik jika ia ingat untuk menelpon seseorang yang akan ia temui di rumah itu.

Harry. Namanya Harry Styles. Bukan siapa-siapa, bukan pria terkenal, bukan peraih medali emas olimpiade Sains, bukan Siswa Pecinta Alam, bahkan bukan seorang siswa teladan di sekolahnya. Setidaknya itu yang pria itu ketahui. Tapi pria itu cukup populer di kalangan..... errrr, gadis-gadis.

Well, siapa gadis yang tidak tahan untuk tidak mengeluarkan beberapa oktaf suaranya hanya karna kerlingan nakal dari pria itu. Siapa pula gadis yang tidak mampu untuk bahkan sekedar memejamkan mata di malam hari hanya karna mendapat sebuah senyuman dari pria berlesung pipit itu. Bahkan wajahnya begitu sepadan dengan rambut ikalnya yang berwarna coklat. Kulitnya putih bersih, umm... ditambah abs-nya yang membuatnya terlihat semakin sexy. Dan tinggi badannya cukuplah untuk standar seorang pria berkebangsaan Inggris.

Oke, anggaplah beberapa pernyataan tersebut sedikit berlebihan. Tapi ada satu yang terlewatkan, suara serak-serak basah yang dimiliki pria itu semakin “menyempurnakan” penampilannya, paling tidak bagi gadis-gadis yang baru pertama kali bertemu dengannya.

Sempurna?

Demi Merkurius tidak ada yang sempurna di dunia ini bukan? Bahkan murid Sekolah Dasar tingkat pertama pun tahu akan hal ini. Asal kau tahu, pria ini memang tidak sempurna. Kau tahu apa? Play boy, pria ini play boy. Bahkan di usianya yang masih tujuh belas tahun ini ia sudah menyandang gelar play boy kelas kakap, bahkan kelas hiu mungkin. Tapi Harry begitu membenci gelar yang disandangkan untuknya, ia lebih senang menyebut dirinya dengan “Pecinta Wanita”.

Baik, kita anggap saja dua kalimat terebut berbeda namun memiliki makna yang sama. Ckk, bukankah itu berarti sama saja?

Well well... baiklah, abaikan mengenai pria ini yang play boy atau pecinta wanita atau Cassanova ataupun apalah namanya yang sejenis dengan itu. Lupakan juga tentang kepopulerannya di kalangan para gadis, karna yang terpenting saat ini ialah ia sedang mencari temannya, Louis.

Entahlah, teledor, lupa, pikun, tidak ingat, atau kata-kata yang sebangsa dengan itu yang dialami Harry saat ini. Dia bahkan tidak memberi pesan terlebih dahulu kepada Louis bahwa dia akan datang ke rumah temannya itu. Yah, setidaknya begitu agar dia berhenti menggerutu di sepanjang jalan pulang, sebelum akhirnya ia berhenti di depan salah satu etalase toko pakaian yang menarik perhatiannya.

“Best Friend Forever”, Harry mengeja tulisan yang terpampang dibagian depan baju couple berwarna hijau tosca yang digantung di etalase toko itu. “Hahaa, kekanak-kanakan sekali. Terlalu klise”.

Harry kembali melanjutkan langkahnya melewati toko itu menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa blok dari rumah Louis. Tanpa ia sadari, atau memang sebenarnya ia sadar, beberapa gadis di sekitar toko itu berusaha menarik perhatiannya. Tapi Harry tidak peduli. Karna ia sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Mungkin bisa dikatakan sedikit bosan. Oh yeah, bosan.

Dan mungkin Harry juga tidak menyadari kalimat yang ia ucapkan saat di depan etalase toko tadi itu menunjuk ke dirinya sendiri. Kekanakan, terlalu klise. Apa ia tidak sadar dengan kalimat apa yang terpampang di baju kaosnya? “I Love My Friend”. Hey, bukankah itu juga kekanakan?

-----OD-----

~plukk...

Ini sudah batu kerikil kedelapan puluh tiga yang Louis lempar ke danau demi sekedar mengusir rasa bosannya. Yah, pria itu sekarang sedang duduk termenung di pinggir sebuah danau yang cukup sepi, memang tidak banyak orang yang datang kesini karena danau tersebut terletak cukup jauh dari pusat desa.

~plukk...

kerikil ke- delapan puluh empat.

Well, katakanlan pria ini kurang kerjaan. Sedari tadi ia hanya melempar kerikil dengan ekspresi datar, tanpa semangat, seolah menunggu detik-detik kedatangan malaikat maut. Dan mungkin memang benar pria ini sedang menunggu, tapi hey sungguh ia bukan menunggu malaikat maut. Benar-benar kurang kerjaan jika memang ia hanya duduk di tepi danau untuk sekedar menunggu datangnya malaikat yang konon katanya berjubah hitam dan berwajah mengerikan, setidaknya itu yang dulu ia dengar dari sahabatnya, Harry.

Sudah hampir enam jam Louis duduk di pinggir danau itu. Enam jam? Yup, benar sekali. Enam jam. Bayangkan saja, ia sudah duduk manis di pinggir danau dengan segala macam peralatan pancing di sampingnya sejak pukul sepuluh pagi tadi, dan sekarang sudah hampir pukul empat sore. Selama hampir enam jam duduk di sana tanpa berniat untuk sekedar beranjak dari tempat itu, atau mungkin untuk makan siang? Baiklah, Louis sudah melewatkan waktu makan siangnya.

Berkali-kali pula pria itu mengecek ponselnya untuk sekedar memastikan sebuah panggilan masuk ataupun sebuah pesan, mungkin dari orang yang ditunggunya sejak tadi. Tapi nihil. Berkali-kali pula Louis menekan panggilan keluar pada nomer yang ditujunya itu, serta pesan singkat yang sudah tak terhitung berapa banyaknya. Dan hasilnya masih tetap sama, nihil. Tak ada jawaban dari nomor yang ditujunya, dan tak ada satupun balasan pesan dari nomor yang sedari tadi ia tunggu-tunggu.

Decakan pun tak henti-hentinya keluar dari mulut pria berwajah manis itu. Sebenarnya ia bisa saja beranjak dari pinggir danau itu dari tadi, namun ia takut. Mungkin saja orang yang ia tunggu-tunggu akan datang sebentar lagi.

Mungkin sebentar lagi, sebentar lagi, dan sebentar lagi.

Dan sekarang sudah pukul lima sore. Yah, sepertinya yang ditunggunya benar-benar tidak datang. Kembali decakan frustasi keluar dari mulutnya sembari ia membereskan peralatan memancingnya dengan wajahnya sudah benar-benar ditekuk berkali lipat.

“Tsssk... Kalau memang tidak bisa datang, minimal hubungi aku. Kau benar-benar sudang menguji kesabaranku. Baiklah, kita lihat saja nanti. Akan kubuat perhitungan denganmu... Aaargggh”, Louis bermonolog sambil mengacak-acak rambutnya yang memang sudah tidak beraturan dari tadi.

Siapapun mungkin akan merasakan hal yang sama dengan Louis jika mengalami hal serupa. Menunggu tanpa hasil. Well, setidaknya Louis tidak berpikir untuk menceburkan dirinya ke danau ditengah musim dingin seperti ini karena rasa dongkolnya. Terlalu berlebihan memang jika ia benar-benar melakukannya. Terlalu konyol.

Louis berjalan gontai kembali ke rumah neneknya di tengah desa sambil bersungut-sungut. Sesekali menendang bebatuan kecil atau ranting pohon atau apapun yang lewati di tengah perjalanan pulang. Baiklah, mungkin ketika sampai nanti ia akan meminum tiga gelas besar coklat panas serta roti dengan selai kacang kesukaannya di depan perapian dengan selimut tebal. Setidaknya dengan membayangkan coklat panas tersebut berada ditangannya membuat suasana hatinya sedikit membaik. Dipercepat langkahnya agar segera sampai, bukan hanya ingin menikmati coklat panas, namun dinginnya cuaca yang semakin menusuk sampai ketulang membuat sekujur tubuhnya sudah menggigil. Ditambah seharian ini ia belum makan sepotong rotipun.

-----OD-----

Malam di musim dingin.

Pria berambut ikal dengan lesung pipi yang menghiasi wajahnya, sebut saja Harry, -karena memang itu namanya- berdiri di depan jendela kamarnya sembari menerawang temaramnya langit. Terlihat begitu sepi di langit karena memang tak banyak bintang malam ini. Sama seperti dirinya yang kesepian saat ini.

Bukan karena ia sendirian. Ada banyak orang di rumahnya sekarang, termasuk kakek dan neneknya yang datang berkunjung ke rumahnya malam ini. Tapi sungguh, seharian ini tanpa Louis membuatnya merasa sangat kesepian. Tak ada kabar dari Louis. Bahkan pukul enam sore tadi ia kembali ke rumah Louis tetap tak ada siapapun di rumah itu.

“Ada apa denganmu Harry? Kau terlihat tidak bersemangat. Hey, ini Harry cucu kesayangan kakek bukan?”, suara seseorang menyadarkan Harry dari kegiatannya menerawang langit. Pria lanjut usia itu duduk di pinggir tempat tidur Harry, memberi isyarat agar sang cucu duduk di sampingnya. Yang disuruh langsung mendudukkan diri di samping kakek kesayangannya, pria yang sudah memasuki usia kepala tujuh namun tetap memiliki aura kebijaksanaan dan masih terlihat kuat. Orang-orang memanggil kakeknya dengan sebutan Tuan Fred.

“Sekarang ceritakan pada kakek, apa yang terjadi pada cucu kakek yang tampan ini...”

Harry tersenyum memandang kakeknya. Saat-saat seperti inilah yang membuatnya teringat akan masa kecilnya dulu. Ketika ia masih tinggal di desa bersama orang tuanya di rumah kakek-neneknya. Dulu ketika ia masih Sekolah Dasar, ia akan menceritakan kejadian apapun pada kakeknya, termasuk saat ia menyukai teman wanita sekelasnya. Memang itu sudah sangat lama, dan Harry sudah Sekolah Menengah Atas sekarang, ditambah lagi ia sudah tidak tinggal di desa bersama kakek dan neneknya, sehingga ia tidak lagi memiliki waktu untuk berbagi cerita dengan kakek yang menjadi idolanya itu.

“Eumm, aku tak apa-apa kek”, suara Harry terdengar cukup sumbang.

Sang kakek mendelik mendengar jawaban seadanya dari Harry. “Benarkah? Kau pikir kakek tak tahu jika kau sedang memikirkan sesuatu. Ayolah, ceritakan pada kakek. Kakek sudah lama tidak mendengar ocehan dari mulutmu itu”, terang sang kakek dengan nada sedikit bercanda di akhir kalimatnya.

Harry tampak berfikir, kemudian sedikit berdehem sebelum mengucapkan sesuatu “Ehm, kakek...”

Sang kakek menaikkan kedua alisnya menunggu kalimat yang akan dilontarkan dari cucunya.

“Dulu, apa kakek pernah punya seorang teman?”

“Teman? Tentu saja kakek punya. Siapapun di dunia ini pasti punya teman bukan?”

“Maksudku bukan teman yang seperti itu, teman yang eumm... Seperti teman dekat begitu kek”

“Teman dekat? Sahabat maksudmu?”, sang kakek mulai tertarik dengan arah pembicaraan Harry.

“Yaahh, bisa dikatakan seperti itu. Jadi, apa kakek punya sahabat?”.

“Iya, kakek punya. Tapi itu dulu”, Harry menatap lekat kakeknya dengan pandangan yang mengisyaratkan ‘maksud-kakek?’

“Hey, kau tidak berfikir kakek dan sahabat kakek sekarang sudah tidak berteman lagi kan?”, Tuan Fred mencondongkan wajahnya ke arah wajah Harry, yang membuat Harry sontak menjauhkan sedikit wajahnya. Tuan Fred kembali memposisikan wajahnya seperti semula. “Kami masih berteman, bahkan sampai kapanpun akan tetap berteman. Namanya Simon. Tapi... dia sudah lebih dulu dipanggil Tuhan”.

Harry hanya mengangguk mendengarnya. Ah tentu saja sahabat kakeknya sudah meninggal, bukankah usia kakeknya saja sudah kepala tujuh? Harry tertawa dalam hatinya. “Hey, kau melamun? Apa yang kau pikirkan?,” interupsi sang kakek membuat Harry mengerjapkan matanya.

Harry menggaruk pelan pelipisnya sambil berfikir, “Eumm, kakek. Apa dulu kakek dan sahabat kakek itu sering bertengkar?”

“Haha, tentu saja kami sering bertengkar. Bahkan rasanya aneh kalau kami jarang bertengkar. Dan kau tahu tidak, kami lebih sering bertengkar gara-gara kesalahpahaman,” Tuan Fred memandang langit-langit kamar Harry, menerawang masa lalunya yang indah bersama Simon.

“Lalu, bagaimana caranya kalian berbaikan? Maksudku, bukankah sulit untuk meminta maaf setelah bertengkar itu kek?”

Tuan Fred berdiri menatap langit malam di depan jendela kamar Harry, “Yah, cukup mudah. Salah paham itu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jadi dulu kami sering bertengkar, lalu tak lama kami kembali berbaikan setelah masing-masing diantara kami menjelaskan yang terjadi sebenarnya. Namun tak lama kami kembali bertengkar dan setelahnya kami berbaikan. Begitu seterusnya, rasanya lucu sekali mengingat masa-masa itu.”

“Salah paham bisa dijelaskan dengan kata-kata?,” Harry mengulang kalimat kakeknya.

Tuan Fred tersenyum dan mengangguk, lantas kembali duduk di tepi ranjang di samping cucunya. Tak lama setelah itu, ia merangkul pundak Harry dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya menggenggap tangan kanan cucunya itu, “Kau tahu Harry, hal yang paling indah di dunia ini adalah persahabatan. Tidak peduli bagaimanapun salah paham yang terjadi, asal kau bisa menjelaskan baik-baik, maka semuanya akan baik-baik saja”.

Harry tersenyum tulus mendengar nasihat kakeknya. “Iya kek, aku akan mengingat nasehat kakek”

“Jadi, apa ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Louis?”

“Tidak kek, aku hanya bertanya jika seandainya suatu saat nanti terjadi salah paham antara aku dan Louis”

“Yah, ingat kata-kata kakek. Salah paham itu bisa diselesaikan dengan kata-kata. Baiklah, sekarang sudah pukul sepuluh malam. Kau tidurlah, jangan lupa tutup jendelanya karena malam ini diprediksi lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Kakek keluar dulu, selamat malam jagoan kakek”, Tuan Fred mengelus pelan puncak kepala Harry sebelum ia benar-benar pergi dari kamar cucunya dan menghilang di balik pintu kamar.

Beberapa menit saat Harry hendak memejamkan matanya dan bersiap menuju alam mimpi, pria itu teringat akan sesuatu, “Ya Tuhan. Ponselku tertinggal di rumah Emily”.

Oh My, ayolah Harry. Seharusnya kau mengingatnya dari tadi. Apakah play boy itu sering melupakan hal yang penting?

-----OD-----

“Selamat pagi nek, apa tidur nenek nyenyak tadi malam?”, Louis memeluk pinggang wanita paruh baya yang ia panggil nenek -yang sedang sibuk memotong irisan daun bawang itu dari belakang. Baiklah, Louis memang sudah tujuh belas tahun, namun ia masih manja jika sedang bersama neneknya.

“Hey, lepaskan nenek. Kau ingin membuat nenek kehabisan nafas heumm?”. Louis lantas melepaskan pelukannya dan detik berikutnya ia beringsut ke samping neneknya dan malah memeluk neneknya dari samping. Well, well, Louis sangat senang mengganggu neneknya, mengingatkannya ketika ia masih Taman Kanak-kanak dulu. “Waaah, pria tampan ini masih manja rupanya”.

Louis mempoutkan bibirnya, “Louis senang liburan kali ini ke rumah nenek, dan Louis sangaaatt sangaaaaat merindukan nenek. Jadi tak apa kan jika cucuk nenek yang tampan ini bermanja-manja dengan neneknya yang cantik?”

Neneknya lantas menyikut perut Louis pelan dengan lengannya, menyebabkan pria itu meringis –pura-pura-kesakitan-. “Kau sebaiknya segera mencari pacar, jadi kau tak perlu menggoda nenekmu yang sudah tua ini”

“Waah waah... Siapa yang nenek bilang tua? Bagi Louis, nenek adalah wanita tercantik nomor dua di dunia ini”

“Nomor dua? Memangnya siapa yang pertama?”

Louis semakin mempererat pelukannya, “Yah, tentu saja ibu. Ibu mewarisi kecantikannya nenek”, Louis lantas mengedipkan sebelah matanya bermaksud kembali menggoda sang nenek.

“Tsskk.. sudahlah, kau bersihkan dirimu sana. Nenek harus cepat menyelesaikan sarapan ini. Oh iya, ayah dan ibumu sudah berangkat pagi-pagi tadi. Jadi kau tak apa kan hari ini sendirian? Karena nenek juga sebentar lagi harus ke rumah Bibi Swift”

“Baiklah-baiklah nenekku sayang. Tolong buatkan sarapan yang lezat untuk pria tampan yang kesepian ini”, Louis lantas mengecup pipi kanan sang nenek dan terkekeh pelan sebelum berlari kecil menuju kamar mandi.

“Hey, apakah Harry tidak jadi datang kesini?”, teriak sang nenek saat Louis sudah menutup pintu kamar mandi.

“Aku tak tahu nek, aku tak peduli dengannya”, samar-samar suara Louis terdengar, sepertinya pria itu sedang mengggosok gigi.

“Ckk, ada apa dengan anak itu”.

-----OD-----

“Ugh, kenapa musim dingin ini sangat dingin?”, begitulah pertanyaan retoris Harry pada dirinya sendiri di sepanjang perjalanan menuju rumah kekasihnya, Emily. Hey, bahkan anak TK pun tahu kalau musim dingin itu dingin, untuk apa ia mempermasalahkan hal itu.

“Oh, Harry?”, suara lembut seorang gadis membuat langkahnya terhenti untuk mengamati pemilik suara tersebut.

“Hey, Miranda. Kau mau kemana?”, tanyanya dan menghampiri gadis yang bernama Miranda itu yang sedang duduk di sebuah halte. Lantas ia pun ikut mendudukkan dirinya di samping gadis berambut hitam itu. Dan jangan katakan kalau ia melupakan niatnya untuk ke rumah kekasihnya.

“Aku mau ke rumah Lucy. Kau sendiri mau ke mana?”

“Aku? Oh, aku hanya sedang berjalan-jalan. Hey, lihat rambutmu. Kau baru memotongnya?”. Kalau Emily tahu akan hal ini, ia pasti akan mencabik-cabik Harry seperti seonggok daging yang diperebutkan anjing jalanan di tempat sampah.

Miranda mengangguk cepat. “Apa terlihat aneh?”

“Tidak, kau malah semakin cantik dengan rambut pendek itu. Kau terlihat lebih fresh”

“Gombal”, Miranda mencubit pelan lengan Harry. “Hey, akan kuberitahu Emily nanti”.

Mata Harry sontak membuka lebar, “Astaga, aku harus ke rumah Emily. Miranda, kau tak apakan jika aku tinggal sendirian? Sangat bahaya jika gadis cantik sepertimu sendirian di halte ini”

“Dasar play boy, tadi kau bilang hanya berjalan-jalan. Awas kau, akan kuberitahu Emily nanti. Dan lagi, aku tak sendirian. Kau tidak lihat orang-orang itu?”, Miranda menunjuk beberapa orang yang juga duduk di halte itu.

“Haha, baiklah cantik aku duluan kalau begitu. Eits, jangan beritahu Emily hal ini okey”, dan Harry pun berdiri dengan mengedipkan sebelah matanya lebih dulu pada Miranda sebelum berjalan melangkah menuju rumah Emily. Sedangkan Miranda hanya menggeleng melihat kelakuan teman sekelasnya itu.

-----OD-----

Berkali-kali bunyi lemparan kerikil terdengar di jendela kamar seorang gadis yang sedang berkutat dengan komik kesukannya, serta sebuah kacamata yang menghiasi wajahnya. Yah, itu adalah kelakuan seorang pria berambut ikal dan berlesung pipit di luar jendela kamarnya.

Tentu saja karena merasa terganggu, gadis itu lantas berdiri dan berjalan ke arah jendela. Matanya seketika membulat sempurnya, dan jika ini adalah kartun, maka bola matanya hampir terjatuh ke luar. “Hey apa yang kau lakukan dengan jendela kamarku??!!”, teriaknya sedikit histeris melihat pria yang tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya sendiri, Harry.

Ayolah, gadis mana yang tidak histeris melihat kekasihnya mengendap-ngendap seperti seorang maling. Dan yang lebih parah adalah kekasihmu melempari kaca jendelamu dengan kerikil.

“Hehe, halo sayang... pssst”, Harry meletakkan telunjuknya di bibirnya dan melongokkan kepalanya ke dalam kamar Emily dari jendela. “Jangan berteriak seperti itu”.

“Ya!! Bagaimana aku tidak berteriak? Kau hendak mengahancurkan jendelaku dengan kerikil itu hah?? Lagi pula, kenapa kau tidak menemuiku di luar saja? Kenapa harus mengendap-ngendap seperti ini??! Kau seperti maling... Tsskk, Harry lihatlah kelakuanmu itu. Jika ada orang yang melihat bagaimana? Mereka akan berpikiran yang bukan-bukan. Dan lagi-“

“Okey stop sayang. Iya aku salah, jadi tolong maafkan kekasihmu ini yaa”, Harry memasang puppy eyes terbaiknya.

Dan yah, seperti biasa. Emily akan selalu luluh dengan tatapan itu. “Baiklah-baiklah. Jadi ada apa?”, Emily membuka jendelanya lebih lebar membiarkan kekasihnya itu bisa melihat isi kamarnya dengan lebih leluasa.

Harry tersenyum smirk, “Aku merindukanmu sayang”.

Jika ada batu besar di dalam kamar Emily sekarang, ia benar-benar akan melemparkan batu itu tepat ke kepala Harry, “Tidak usah konyol begitu. Jika kau merindukanku, kau kan bisa menelponku”, Emily memutar matanya bosan. Sebenarnya ia sangat bangga memiliki kekasih seperti Harry yang dipuja banyak wanita, tapi jika begini caranya ia akan melepaskan Harry dengan sukarela.

“Naaah, justru itu aku ke sini sayang. Ponselku... sebenarnya ponselku tertinggal di rumahmu saat kemarin aku ke sini. Yaah, kau tahulah aku jadinya tidak bisa menghubungimu. Padahal tadi malam aku benar-benaaaaaar merindukanmu, dan ingin menelponmu untuk mengucapkan selamat malam”

“Benarkah? Tertinggal di mana? Kurasa tak ada di kamarku”, Emily mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya.

“Sepertinya tertinggal di dekat TV saat kita menonton film kemarin”

“Mmm, baiklah kalau begitu. Aku carikan dulu, kau tunggu di sini sebentar yaa”

“Heumm”, Harry menganggguk dan tersenyum menunjukkan lesung pipinya. “Tapi jangan lama-lama yaa.. aku kedinginan”

“Baiklaaah”, teriak Emily dan menghilang di balik pintu kamarnya.

Harry menunggu Emily sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar kekasihnya itu. Kedua sudut bibirnya melengkung kala ia melihat sebuah foto berbingkai merah muda di atas meja belajar Emily. Fotonya berdua dengan Emily sewaktu mereka berada di festival musim dingin satu bulan yang lalu. Pria ikal itu membayangkan bagaimana bahagianya ia dan Emily karena saat itu juga hari perayaan satu tahun hubungan mereka. Itu artinya sekarang mereka sudah menjalin hubungan selama satu tahun lebih satu bulan.

Harry masih saja memandangi foto itu hingga ia tak sadar Emily sudah berada di dalam kamarnya dan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Harry.

“H huh? Sejak kau ada di sini sayang?”, Harry sedikit terlonjak karena melihat kekasihnya yang tiba-tiba ada di depan wajahnya.

Emily memutar bola matanya, “Sejak kau memandangi lamat-lamat foto kita itu”, Emily lalu menunjuk foto yang menjadi pusat perhatian Harry tadi. “Kenapa? Kau terpesona dengan fotoku di sana? Kau baru sadar kalau kekasihmu ini cantik huh?”

Harry mengangguk sambil menunjukan ekspresi yang terlalu mendramatisir. “Kau benar sayang. Kau cantik sekali. Tapiii, kau semakin cantik kalau...”, ia sengaja menggantungkan kalimatnya lantas menunjuk bibirnya dengan ibu jari kanannya dan mengerling pada emily yang sudah bersiap memasang deat glare-nya.

Seolah ada aura hitam yang melingkupi di sekitar tubuh kekasihnya itu, Harry menelan salivanya dengan susah payah. Pria itu paling takut jika Emily sudah mengeluarkan death-glare-nya karena menurutnya kekasihnya bisa tampak lebih mengerikan dari pada Lord Voldemort. Harry mengggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menunjukkan cengiran di tambah puppy eyes-nya yang ia tunjukkan sebaik mungkin berharap Emily akan luluh dengan tatapannya itu.

Emily kembali memutar bola matanya bosan. Oh ayolah ia ingin sekali melempar batu besar di kepala kekasihnya sekarang juga. “Sayang, jangan marah ya...”, Harry mencoba memelas pada Emily. Harry semakin takut kala Emily hanya menatap datar padanya dan berdiri angkuh di depan jendela sambil mengacak pinggangnya.

Harry masih memasang puppy eyes-nya dan dengan kedua telapak tangannya yang ia tangkupkan memohon pada Emily berharap agar gadis itu tidak memutuskan hubungan mereka saat ini juga. Terlalu berlebihan memang jika kekasihnya memutuskan hubungan mereka hanya karena ia bercanda -namun-ia-sangat-berharap ingin mendapatkan ‘ciuman manis’ di tengah cuaca dingin seperti ini.

“Pfft..”, Emily berusaha menahan tawanya, bahkan wajahnya sudah mulai memerah sekarang.

Harry mengernyit bingung, “Sayang... Apa yang lucu?”, tanyanya polos.

“Kau ini lucu sekali. Aku benar-benar suka melihat kau memelas seperti itu, aku suka melihat wajahmu seperti orang menderita.. hahaa”

Wajah Harry seperti orang bodoh sekarang melihat kekasihnya tertawa melihat bagaimana ia ketakutan setengah mati tadi. “Tsk.. kau mentertawakanku huh? Baiklah tunggu pembalasanku”

Emily tampak kesusahan menahan tawanya. “Oh iya, coba kau periksa ponselmu. Banyak sekali pesan dan panggilan tidak terjawab dari Louis”, ucapnya susah payah setelah berhasil menghentikan tawanya.

Harry dengan cepat merebut ponselnya dari tangan Emily lantas bola matanya hampir mencelos keluar ketika membaca deretan pesan yang Louis kirimkan padanya. “Sayang, bagaimana ini?????”

“Bagaimana apanya?,” Emily sama sekali tidak mengerti maksud kekasihnya itu.

“Aku... Aku lupa kalau kemarin ada janji dengan Louis untuk berlibur ke kampung halamannya. Sayang, aku takut Louis marah padaku. Bagaimana ini?,” Harry gelagapan dengan masih terus membaca semua isi pesan Louis yang semua isinya kurang lebih sama.

“Ckk, bagaimana mungkin kekasihku ini pelupa seperti ini? Kau ini benar-benar sahabat yang buruk. Aku yakin Louis di sana pasti mengamuk, atau lebih parahnya ia bersiap mencincangmu saat ia pulang. Atau lebih parahnya kau akan-“

“Hey, stop sayang. Kau menakutiku huh? Bukannya memberikanku solusi”, Harry memukul pelan kepalanya pada jendela kamar Emily. “Louis pasti membenciku”

Emily melipat kedua tangannya di depan dada. “Dengar Harry sayang... kau hubungi saja dia. Aku yakin Louis pasti akan mengerti jika kau jelaskan baik-baik padanya, dan yang pasti kau harus menemuinya untuk meminta maaf,” terang Emily melihat kekasihnya itu yang tiba-tiba kehilangan tenaganya.

“Tapi bagaimana jika Louis tidak mau memaafkanku? Aku takut sayang”, wajah Harry terlihat kusut, berbanding terbalik dengan saat tadi ia datang menemui Emily.

“Dengar. Kau mengenal Louis sudah sejak kalian Sekolah Dasar kan? Nah, kau pasti tahu bagaimana sifat Louis. Tapi menurutku ia pasti akan memaafkanmu, aku yakin. Aku juga cukup kenal bagaimana kepribadian Louis. Jadi, tunggu apa lagi cepat hubungi dia”

Harry mengangguk lemah. Lantas menatap kekasihnya yang terlihat lucu dengan kaca mata besarnya. “Terima kasih ya sayang atas saranmu. Maaf sepertinya hari ini aku akan sibuk dengan Louis jadi tidak bisa menemanimu”

“Hmm.. tak masalah. Lebih baik kau cepat minta maaf padanya oke”

“Pasti,” Harry kemudian menarik lengan Emily membuat gadis itu melebarkan kedua matanya seketika karena Harry tiba-tiba saja mengecup sekilas bibir merah mudanya.

“Heyy! Kau selalu mencari kesempatan, ckkk,” Emily memukul pelan bahu kanan Harry.

Harry terkekeh lalu berniat beranjak meninggalkan rumah kekasihnya itu. “Aku pulang dulu sayang... Dadah,” Harry melambaikan tangannya sambil melangkah menjauh dengan menunjukkan senyum tampannya yang menawan. Emily hanya membalas lambaian tangan Harry kemudian langsung menutup jendela kamarnya setelah Harry sudah jauh.

Di perjalanan pulang, Harry terus menerus mendesah mengingat keteledorannya yang sudah melupakan janjinya pada Louis. “Aaarggh,” erangnya frsutasi hingga sebuah ide muncul dalam otaknya yang ‘cukup’ cerdas.

-----OD-----

Louis bisa saja pulang hari ini juga mengingat tak ada yang ia lakukan di rumah neneknya. Oh sungguh ia benar-benar bosan sekarang. Sejak tadi ia hanya mengganti channel tv tanpa menonton tayangannya.

“Aku bosaaaaaan,” Louis melempar sembarang remote tv di atas sofa di samping ia duduk. Pria itu lantas bangkit berdiri menuju kamarnya, mungkin ia lebih memilih tidur siang sampai nanti pukul enam sore. Lagi pula tak ada siapa-siapa di rumah neneknya, hanya ia sendirian dan kucing peliharaan neneknya yang sedang berkencan dengan kucing tetangga di teras rumah.

Louis memandang hamparan rumput yang berwarna kuning dari luar jendelanya. Harusnya jika sesuai rencana yang sudah ditetapkan, setelah kemarin mereka memancing, hari ini mereka akan menghabiskan hari dengan berkemah di padang rumput itu yang tak jauh dari rumah nenek Louis, dan malam ini mereka habiskan dengan memandangi gugusan bintang yang muncul di musim dingin.

Tapi...

Ya sudahlah. Itu hanya rencana yang sudah tak ada artinya lagi. Karena sahabatnya itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya, bahkan membalas pesannya pun tidak sama sekali.

Ponsel Louis bergetar di dalam saku celananya, dengan buru-buru ia merogoh benda berbentuk kotak berwarna putih itu. Alisnya bertaut ketika membaca nama orang yang menghubunginya yang terpampang pada layar ponselnya. Oke seandainya saja Louis tidak sayang dengan ponselnya, ia pasti sudah langsung melemparkan ponsel itu ke luar jendela.

Orang yang baru saja ia pikirkan menghubunginya. Panjang umur sekali orang itu.

Sepertinya Louis tak bisa mengabaikan hatinya yang seperti malaikat, semarah apapun ia pada orang itu akhirnya Louis menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari pria yang bernama Harry.

“Hallo Louis”

“Hmmm,” gumam Louis. Dan tanpa dijelaskan pun pasti sudah terlihat kalau Louis sedang kesal.

“Louis kau dimana? Oke, aku tau aku salah dan aku minta maaf. Aku, aku... eumm, sungguh aku tak berniat melupakan janji kita untuk-”

“Oh jadi kau lupa?,” potong Louis cepat.

“Hey, buk bukan.. bukan seperti itu. Maksudku.. sebenarnya...”

“Aku tau kau memang tak berniat berlibur bersamaku kan? Kau lebih memilih menghabiskan waktumu dengan kekasihmu yang tercinta itu”

“Louis dengarkan aku. Oke sekali lagi aku minta maaf. Dan aku juga minta maaf soal panggilanmu yang tidak kujawab, bukannya aku mengabaikan telpon darimu tapi ponselku tertinggal di rumah Emily jadi-”

“Kau memang lebih memilih kekasihmu kan”

“Tidak Louis. Aku sungguh lupa... Kemarin aku ke rumahmu, aku merasa ada sesuatu jadi aku datang ke rumahmu. Aku menekan bell di rumahmu ratusan kali namun tak ada siapapun, awalnya aku kesal padamu. Tapi, yah aku tahu aku mudah sekali lupa akhir-akhir ini. Louis... aku minta maaf, ya. Maafkan aku”

“Apa kau pikir dengan kau meminta maaf semuanya akan berubah? Kau tahu Harry, sikap pelupamu itu membuatku muak. Aku lelah karena kau yang sering melupakan janji kita... sudahlah kalau kau hanya mengatakan hal itu lebih baik kau matikan telponnya-“

“Eitss.. tunggu, tunggu dulu jangan kau matikan ponselnya oke. Iya aku tahu, kau pasti sulit sekali memaafkanku. Tapi,, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku janji Lou, aku akan berusaha untuk tidak jadi pelupa lagi. Louis... aku merindukanmu”

Louis menyunggingkan sebelah bibirnya, Harry merindukannya katanya? Yang benar saja? “Sudahlah, aku tutup telpon-“

“Louis kumohon. Baiklah, kalau kau tidak mau aku menelponmu setidaknya kau bukakan pintu agar aku bisa bertemu dan berbicara langsung denganmu”

Louis terperangah, yang benar saja Harry ada di depan rumah neneknya. “Jangan bercanda”

“Aku tidak bercanda Lou, aku serius. Jadi, bisakah kau bukakan pintunya sekarang juga?”

Louis masih ragu. Namun sekali lagi, ia memang terlahir dengan hati bagaikan malaikat. Akhirnya Louis memilih melangkah dengan pelan keluar kamar dan melihat apakah Harry benar-benar datang saat ini juga.

Pintu terbuka, menampilkan wajah Harry dengan senyum lebarnya yang menampakkan lesung pipitnya yang terlihat manis ditambah ransel besar dan peralatan memancing di tangan kanannya, sedangkan tangan kiri pria itu masih menggenggam ponselnya yang ia tempelkan pada telingnya.

Louis menganga tak percaya. Ini benar-benar seperti dalam sebuah drama. Baiklah, Louis akui rasa kesalnya sudah berkurang. Namun kali ini ia tak mau memaafkan Harry dengan begitu mudahnya.

“Hai Lou,” sapa Harry dengan wajah cerianya.

Louis menatap Harry dengan ekspresi datar lalu kembali masuk ke dalam rumah membiarkan pintu tetap terbuka, isyarat agar Harry juga masuk.

“Louis, maafkan aku. Yayaya...”, Harry membuntuti Louis yang kini duduk di depan tv sambil mengganti-ganti channel tv, mengabaikan Harry yang terus merengek padanya. “Louis... aku salah. Aku benar-benar minta maaf, Lou..” Harry menyenggol-nyenggol lengan Louis karena pria itu mengacuhkannya. “Lou.. Eumm, baiklah. Bagaimana kalau kita memancing sekarang? Kurasa cuacanya cukup bagus... Lalu, ikan hasil tangkapan kita nanti kita bakar untuk berkemah malam ini. Bagaimana?”

“Aku tak berniat kemana-mana. Kalau kau mau memancing, pergilah sendiri,” jawab Louis dingin.

Harry menghela nafas, ia tahu Louis benar-benar kesal padanya. Ia sendiri mungkin juga akan seperti itu jika ia yang berada di posisi Louis sekarang. “Louis... kumohon jangan seperti itu, aku sungguh tak berniat melupakannya. Aku ingin sekali memancing denganmu... dan lagi, libur musim dingin kita juga akan segera berakhir. Kapan lagi kita berdua melakukan kegiatan seperti itu?”

Louis menatap sekilas pada Harry yang menatapnya dengan pandangan memohon, lalu tatapannya kembali beralih pada layar tv. “Terserah”

Jika saja saat ini ada pemukul baseball di dekat Louis, ia akan langsung memukul kepala Harry dengan benda itu karena tiba-tiba saja Harry memeluknya dari samping dengan sangat erat. “Hey, lepaskan aku. Apa yang kau lakukan?,” Louis memberontak agar Harry melepaskan pelukannya.

“Tidak mau. Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau memaafkanku”

“Ckk.. kau berlebihan sekali. Sudahlah jangan kekanak-kanakan seperti itu. Cepat lepaskan aku”

“Tidak mau”, Harry semakin mengancangkan pelukannya. Tak peduli jika Louis terus menerus bergerak memberontak dan ia tidak peduli jika setelah ini Louis akan memukul kepalanya dengan spatula milik nenek Louis.

“Lepaskan aku atau..”

“Atau apa?”

“Atau... kau tidak akan kumaafkan”

Dengan sigap Harry melepaskan tangannya dari tubuh Louis. Harry kembali tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang putih, menatap sahabatnya yang juga menatapnya dengan ekspresi errr entahlah Harry tak tahu ekspresi macam apa itu.

“Kapan kau datang?”

“Huh?,” Harry menatap bingung Louis. “Maksudmu datang ke sini? Baru saja. Tadi pagi sekitar pukul delapan aku mengambil ponselku di rumah Emily lalu setelahnya aku langsung membeli tiket bus ke sini. Ternyata lelah sekali lima jam perjalanan ke desa nenekmu ini, kau tahu tadi di bus aku duduk di samping seorang paman yang-“

“Stop. Berhenti sampai di situ. Aku tak tertarik mendengar ceritamu”

“Oups, hehe.. Jadi, apa aku sudah resmi kau maafkan?”

“Belum. Aku akan memaafkanmu kalau kau mau memasakkanku makan siang. Tak ada yang bisa kumakan selain bahan mentah di dalam kulkas. Jadi kalau kau memasakkanku sesuatu yang bisa dimakan, maka kau akan kumaafkan”

Harry mengulum senyumnya. Jadi ekspresi yang Louis tunjukkan itu ekspresi lapar? Hahaa.. Yang benar saja. Jadi sahabatnya ini ditinggal sendirian di rumah ini tanpa ada makanan yang bisa ia makan?

“Hey, kenapa kau tersenyum begitu?”

“Tidak ada. Baiklah, kau janji ya memaafkanku setelah aku memasakanmu makan siang. Dan satu lagi”

“Apa?,” Louis menatap Harry yang sedang meletakkan ransel besarnya beserta peralatan pancingnya tak jauh dari sofa.

“Setelah makan siang, kita memancing lalu malam ini kita berkemah, oke.” Tanpa persetujuan Louis, Harry langsung menghilang menuju dapur.

Louis menghela nafasnya. Louis tahu, ia tak bisa membenci sahabatnya itu. Lupakan mengenai hatinya yang sudah diciptakan seperti malaikat, ia memang membutuhkan Harry dalam hidupnya. Harry, sahabatnya. Harry yang playboy, Harry yang pelupa, Harry yang sering membuatnya kesal, dan Harry yang juga membuatnya bahagia di saat yang bersamaan. Sahabat itu kata yang begitu agung baginya.

Dan Harry, pria yang mulai memotong sosis beserta tomat di dapur itu tak bisa meneyembunyikan senyumannya. Kakeknya benar, asalkan salah paham itu bisa dijelaskan dengan baik-baik, maka semuanya akan baik-baik saja. Harry merasa beruntung memiliki Louis yang berhati malaikat, Louis yang selalu memaafkannya meskipun ia seringkali membuat sahabatnya itu kesal. Louis, sahabatnya. Louis yang selalu memarahinya jika ia mulai menggoda gadis-gadis di sekolah, Louis yang selalu memintanya memasak karena Louis tak suka memasak, dan.. Louis yang cintanya baru saja ditolak oleh adik kelas mereka, hahaha. Karena sahabat itu segalanya.

Sekali lagi, salah paham itu bisa diselesaikan dengan kata-kata.

.
.
FIN

-----OD-----

Huuuuufft..
Hasilnya nggak sesuai sama ekspektasiku. Ini aku pertama kali bikin awal tahun 2014, dan baru aja bisa selesai di bulan Agustus, ngeri banget deh... awalnya tuh nggak gini imajinasi awalnya, nggak tau kenapa aku susah banget nyelesaikan ini FF. Dan bahasanya juga bisa dilihat beda banget di bagian awal sama di bagian terakhir.
Aku kehilangan feel FF ini gara-gara di awal-awal tahun 2014 jiwa fangirl K-Pop-ku mulai menggila, jadi aku nggak ada feel bikin FF One Direction. Jadi ada feel lagi nulis setelah nonton MV You and I One Direction yang ke-tiga belas kalinya setelah download tuh MV bulan kemaren.
Ini kok malah jadinya curhat gini sih.. Oke seperti biasa makasih pake banget yang sudah meluangkan waktu buat baca nih FF Gagje. Semoga terhibur dan dapat pelajaran kalau sahabat itu tuh berarti banget J
Pai-pai...
*Nyanyi Best Song Ever bareng Louis, Zayn, Liam, Niall and Harry*

HBD Yepa...



Yesung Oppa, Saranghae!
.
.
Written By:
Aisyah a.k.a Cloudisah
<3<3<3
Ps: ini tuh special buat ultah Yesung Oppa tanggal 24, tapi aku posting duluan, hehehehehh...
.
.
Dulu tuh awalnya aku ngebenci banget ama yang namanya fangirl. Lebay banget tau gag sih... tereak-terak gag jelas kalo ngeliyat idola a.k.a biasnya, mau liyat di TV ato liyat di majalah apalagi kalo di internet.... uuuugh, nyebelin banget pokoknya.
Waktu itu tahun 2010 lagi mulai tuh virus-virus K-Pop di Indonesia apalagi di Grogot, gegara Boyband Sorry-sorry , apalagi kalo bukan Super Junior. Aduh, ngeliyatnya aja tuh udah bikin pusing. Banyak banget membernya, tiga belas coy! Bayangin, gimana mo ngehapal member sebanyak itu.. mana muka mereka mirip semua lagi.
Nah waktu itu tuh aku lagi demen-demennya ama yang namanya drama Korea, yah masih ampe sekarang sih. Waktu itu ada drama judulnya “Cinderella Step Sister”. Aku suka banget ama pemerannya, Eunjoo yang diperanin ama aktris cantik Korea yang namanya Moon Geum Yong. Ah, demi apa dia itu tuh cantik natural, mukanya tuh baby face. Tapi bukan karena Moon aku jadi suka tuh drama. Jalan ceritanya menarik banget, bagus banget sih kalo aku bilang. Tentang keluarga, dibumbui sedikit romance antara EunJoo dan aduh siapa yah nama pemeran cowonya itu, haha aku lupa. Yah, pokoknya dari drama itu banyak banget pelajaran hidup yang bisa diambil.
Daaan yang bikin drama itu makin greget adalah soundtracknya itu tuh. Lagunya nyeeeeeessshhh banget deh. Apalagi yang nyanyiin lagu itu full penghayatan. “Naega animyon andwe...”. Ah pokoknya lagu itu tuh cetar badai lahh, cuman karena di masa itu belum ada kata-kata cetar jadi yah waktu itu aku cuman bilang soundtracknya daebak euy!
Aku tuh tiap ngedengerin lagunya pasti berasa mau meleleh gitu, aduh jadi lebay-lebay nggak jelas gimanaaa gitu. Aku cari tau deh tentang itu soundtrack di tempat Mbah Google. Usut punya usut, kata Mbah Google penyanyinya itu namanya Yesung. Haaah? Yesung? Namanya kok aneh banget yak. Yesung? Apa nggak ada nama yang lebih keren gitu ya dari Yesung... Dan yang muncul pertama dikepalaku tuh orangnya pasti, errrr...
Ah, tau aja kan biasanya penyanyi tuh kalo suaranya udah cetar kayak gitu pasti mukanya nggak begitu keceh, eheheheee... dan bener-bener awalnya ngga pengen tau orang yang namanya Yesung itu kayak gimana. Cukup tau suaranya dan lagunya yang nyessssh sampai kelubuk hati yang paling dalem. Nah, setelah tau penyanyi soundtrack drama Cinderella Step Sister itu bernama Yesung, aku cari tau lagi deh tuh apa penyanyi Korea bernama Yesung itu punya lagu lain. Daaaaaann.. ternyata ada lagi satu lagunya judulnya Love Really Hurts. Aduh demi apa itu lagu lebih dalem dia nyanyiin dibandingin ama It Has To Be You, dan setelah usut punya usut tuh lagu lebih dulu keluarnya dibandingkan dengan It Has To Be You dan juga sama-sama OST, tapi lupa itu tuh ost apaan yak, ahahahaahh, kalo nggak salah sih “Taza” taon 2008.
Setelah cukup di tahun 2010 mengagumi pria bernama Yesung, yah meskipun cuman suaranya, di tahun 2011 boyband Sorry-sorry a.k.a Super Junior come back dengan lagu mereka Mr. Simple. Tuh lagu luar biasa banget deh pokoknya, sampe anak kecilpun tau ama liriknya yang “Bwara Mr. Simple simple simple...”, bahkan adekku yang waktu itu masih SD udah bisa niruin gerakannya. Pas itu tuh aku ngeliyat ada cowok cakep pake banget, yang kalo menurutku dia paling “Laki” dibandingkan yang lainnya, yah meskipun waktu itu Siwon emang paling macho, cuman inih cowok berhasil ngebikin mata susah buat kedip. Eh demi apa ya, rambutnya yang item, matanya sipit yang dikasih eye liner itu makin ngasih kesan “kelaki-lakiannya” (maksut loh??).
Dan setelah ngeliyat tuh MV Mr. Simple berkali-kali, kok tuh cowo rambut item yang mata sipit itu mirip banget ama aktor Korea, Lee Jun Ki yak?? Whoaa, apa jangan-jangan Lee Jun Ki itu tuh boyband juga selain aktor? Ah, keren juga tuh aktor aku pikir, udah aktingnya bagus, bisa nyanyi pula, terus nyanyiin part bagian nada tinggi. (Waktu itu aku cuman tau drama Lee jun Ki yang Il Ji Mae ama Time Between Dog and Wolf). Setelah melihat sosok pria tampan yang aku duga Lee Jun Ki itu di MV Mr. Simple, maka dengan semangat 45 aku pergi ketempat Mbah Google buat nyariin nama-nama member Super Junior. Tapiiiiii... nggak ada satupun yang namanya Lee junki, eh naaah loh???
Naaah, tapi tapi tapi yang bikin aku makin tertarik sama Super Junior tuh ada member yang namanya Yesung. Waduuh, ini Yesung yang nyanyi It Has To be You atau cuman namanya yang sama yak? Kan orang Korea tuh namanya banyak yang sama kan, kayak Kim Sohyun, ada yang aktor ada juga yang aktris. Jadi karena rasa penasaran yang sudah tak terbendung lagi, dilakukanlah penelusuran tentang member Suju bernama Yesung itu.
Setelah melakukan penelusuran yang cukup panjang, ternyata eh ternyataaaahhhh.. jeng jeng jeng jengggg...... Yesung Super Junior yang bernama asli Kim Jongwoon lahir pada 24 Agustus 1984 ini (beda 10 taon coy ama gue!), dan nama Yesung itu merupakan akronim dari Yehnool Sungdae yang artinya Art of Voice adalah pria yang aku kagumin suaranya. DIA YANG NYANYI LAGU IT HAS TO BE YOU ITU MAMEN!!! Aaagh.. udah gag tau mau bilang apa, udah speechless.... gile ini orang udah suaranya kayak malaikat, (sebenernya nggak pernah denger suara malaikat sih) mukanya cakeeeep kebangetan pulaa. Dan sejak saat itu aku menyatakan diri sebagai fansnya Yesung yang setelah dicari tahu nama fansnya itu tuh Clouds. Ya udah deh dengan hati yang bangga aku menyatakan diriku sebagai CLOUDS.
Aku sebenernya cuman suka ama Yesung Oppa, makanya aku cuman menyatakan diriku sebagai Clouds, bukan ELF. Yah, meskipun pada akhirnya sampai sekarang aku hampir tau (cuman hampir) semua tentang Suju, nama-nama membernya, seluk beluk cerita mereka sejak nama mereka Super Junior 05, tentang member mereka yang keluar, album-album mereka, kesukaan mereka, cerita-cerita member Suju, kejadian-kejadian unik yang dialamin member Suju dan bahkan album terbaru mereka sekarang. Dan itu semua hanya karena aku mau tau banyak hal tentang Yesung, baik kejadian pribadinya sendiri ataupun saat Yesung Oppa bareng Super Junior....
Sejak aku kenal Yesung dan menyatakan diriku sebagai Clouds, aku tarik lagi deh ucapan awalku yang bilang kalo fangirl itu tuh lebay. Aku bener-bener ngerasain gimana yang namanya tereak histeris ngeliyat bias, di TV atopun di internet, gimana rasanya tiap hari update-in beritanya bias, apalagi di twitter... beuuhh, gimana rasanya kalo ngumpul temen itu tuh kebanyakan dibahas tentang bias. Ah pokoknya seluk beluk seorang fangirl dulunya yang aku benci banget, eh bahkan terjadi pada diriku sendiri (hukum karma kali yak). Cuman satu nih sebagai seorang fangirl yang belum (mungkin nggak akan pernah) terjadi, yaitu nonton konsernya biasku tersayang itu. Yah, meskipun Yesung ke Indonesia karena konser Suju, dan itupun konsernya di Jakarta. Gila coy, konsernya J-Rock yang cuman dalam kota aja kagak dapat ijin buat nonton >_<. Tapi Yesungdahlah, cukup mengagumi bias lewat layar kaca. Dan sampai detik ini, aku belum berubah, masih suka update berita-berita Yesung, di fanpage atopun twitter,, yang meskipun tuh namja lagi wajib militer.
Ehhmm.. oke sebenernya ada hal-hal lain selain suaranya Yesung Oppa yang bikin aku bangga banget jadi Clouds (kata temenku aku ini terlalu fanatik ke Yesung, ah masa iya sih?). salah satu diantaranya adalah Yesung Oppa tuh sayang banget sama keluarganya, terutama Eommanya. Yesung Oppa itu tuh penurut, dia juga sayang banget sama adeknya, si Jong Jin Oppa. Yesung Oppa itu tuh juga menghargai banget yang namanya perempuan. Ah, seriusan deh aku aja sampai sekarang belajar banyak dari kepribadiannya Yesung Oppa.
Kenapa?? Karena Yesung Oppa itu pada awalnya cuman rakyat Korea biasa dengan keluarga tingkatan ekonomi kelas bawah. Yesung Oppa dari Cheonan, aduh sebenernya sedih banget mau nyeritain ini. Kejadian pahit sebelum Yesung Oppa seterkenal dan banyak banget fansnya kayak sekarang (Yesung Oppa member Suju dengan fans terbanyak coy!! Apalagi di Jepang), kejadian pahit itu bener-bener kadang bikin aku yang sering down, ikutan semangat lagi. Kejadian-kejadian pahit Yesung Oppa sebelum debut sampai udah debut yang kadang aku tuh pengen nangis ampe sesenggukan. Emang sih lebay banget, dan itukan dulu, kita mah cukup ngeliyat ke masa depan, nggak usah lagi ke masa lalu, yang sudah-sudah biarkan aja berlalu. Tapiii... justru di masa lalu itu banyak banget hikmah yang bisa diambil, yah kayak cerita Yesung Oppa ini nih.
Tapi berhubung lagi males menceritakan hal-hal sedih tentang Yesung, jadi kurasa sampai di sini aja pernyataan cintaku untuk Yesung. Caelaaah, pernyataan cinta? Maksud looo??? Dan pokoknya aku tuh cuman mau bilang kalo ternyata jadi fangirl itu gag buruk kok, asal jangan kelewatan aja. Tereak-tereak itu tuh udah jadi hal yang lumrah sekarang, mungkin itu tuh sejenis naluri seorang fans kali yak... ah pokoknya Yesung Oppa sarangae dah, naega noumu noumu noumuuuu joaaah dah pokoknya.
Daaan... aku tuh sekarang juga ngerasain gimana rasanya kayak fans-fans yang lain ngeliyat biasnya menjalin hubungan asmara dengan kekasihnya T_T yaaah meskipun waktu itu tuh cuman hoax ama si member girlband “ehmm”, tapi tetep aja kan cemburu menguras bak mandi (eh?). Kadang nih ya ama ‘mantannya’ (mantannya ini aku tau disalah satu artikel di blognya seorang Cloud juga) yang dulu-dulu aja bisa bikin envy sendiri, haaa.. bukan kenapa-kenapa sih, cuman ngerasa kalah cantik aja gitu.. huhuuu. Udahlah kalo urusan asmara mah itukan urusan pribadinya dia, toh aku cukup menikmati suaranya aja (meskipun kadang gag rela ;;__;;)
Saking cintanya nih aku ama Yesung ampe setiap detik aku ngeliyat tuh mukanya namja. Guess what?
Mulai dari wallpaper ponselku gambar Yesung, Screen saver notebook pake foto-fotonya Yesung, dekstop background mukanya Yesung, nada dering ponselku lagunya Yesung, foto profiil fb-ku gambar Yesung, avatar tweeter-ku mukanya Yesung, aaaargh dan tiap hari dengerin lagunya Yesung (Es seriusan deh aku gag bosan sama sekali), update-in beritanya dia, aduh pokoknya segala hal tentang Yesung deh. Yesung Yesung Yesung...!!!!
Mungkin yang belum pernah ngerasain gimana rasanya jadi fangirl bakal ngatain aku lebai banget. Iya aku akuin kok emang lebay banget, asli deh. Tapi eumm, gimana yah... susah buat ngelepasin diri dari pesonanya Yesung.
Uda ah makin ngaco, pokoknya YESUNG OPPA SARANGHAE!!!!
Tambahan,,,
Ini nih lists lagu-lagunya Yesung yang setiap ngedengernya bikin meleleh kayak es lilin kena panas:
1.      It Has to be You
2.      Love Really Hurts
3.      Waiting for You
4.      She Overs Flower
5.      And I Love You (Feat Luna f(x))
6.      I’m Behind You (Feat Jang Hye Jin)
7.      Your Eyes (Feat Kyuhyun)
8.      Now We Got to Meet (Feat Sungmin)
9.      For One Day
10.  Grey Paper
11.  I was Greedy (Blind)
12.  The More I Love (The Immortal Song 2)
13.  One Man (The Immortal Song 2)
And last... Happy Birthday, Saenghil Chukkae, Selamat ulang tahun uri Oppa... nggak nyangka Oppa makin tuir aja, tapi makin unyu plus awet mudaaa ditambah rambut mangkoknya sekarang, wkwkwkwkk
Oppa selesai wamil buruan deh cari istri, member Suju kan udah pada tua tuh. Nah kalo Oppa udah nikah kan aku nggak lagi tergila-gila sama Oppa, jadi aku juga mulai nyari cinta sejatiku (ini apaan sih)
Wokeeh, Oppa Oppa jjang!
Saranghae <3 noumu noumu saranghamnida JJ

Minggu, 17 Agustus 2014

My 'Gaje' Love Story



Warning: Potingan gagje, yang nggak mau baca jangan dibaca isinya, hahahahaa..

Dulu, aku sering berkhayal kalau sudah dewasa aku bakal hidup sama seseorang yang aku sayangin dan aku cintai bahkan. Dan mungkin itu nggak cuman khayalanku doank, kebanyakan gadis lain juga bakal mikirin hal yang sama dengan aku.

Seiring dengan bertambahnya umur, aku semakin menyadari khayalanku itu cuman ada di drama-drama Korea yang sering aku tonton aja. Masalah percintaan itu bener-bener rumit. Kalau sudah yang berkaitan dengan perasaan itu sulit banget dicari jalan keluarnya. Eumm, mungkin sih ini cuman anggapanku aja karena toh banyak aja orang lain yang kisah percintaannya mulus kayak jalan tol. Aku sih emang nggak pernah ngerasain gimana itu si ‘jalan tol’ karena aku tinggal di kota kecil yang bahkan hotel bintang lima aja nggak ada sama sekali di sini. Jangankan untuk hotel bintang lima, cuman ‘supermarket’ doank mah juga nggak ada. Jadi kebayang kan daerah Tana Paser itu masih kota kecil dengan tatanan kota yang masih ala kadarnya.

Oke, aku nggak mempermasalahkan tatanan kota Tana Paser yang tercinta ini, karena kota ini tempat aku tumbuh, bermain bareng temen-temen semasa SD, menjadi remaja labil di SMP, dan menjadi remaja seutuhnya waktu SMA, dan sekarang lagi masa pembentukan kedewasaan-ku waktu kuliah sekarang ini.  Dan yang pasti ini kota bener-bener penuh kenangan dan kalau ditelusuri jejak-jejak sejak aku SD saat pertama kali datang ke kota ini pasti nggak terhitung lagi.

Tapi aku kok malah ngebahas tentang kota Tana Paser?

Sebenernya aku juga nggak ngerti kenapa tiba-tiba pengn nulis beginian, hahaha. Faktor denger lagu galau pagi-pagi jadi yah kayak gini deh jadinya, hohoo... Ini tentang kisah perasaan seorang gadis yang masih belum menemukan cinta sejatinya, mhuehehehheeh.

Kembali lagi tentang masalah perasaan. Dulu aku nggak pernah tau gimana itu rasanya jatuh cinta, kalau cuman sekedar suka sama lawan jenis aja mah emang sering. Tapi cuman sekedar suka,,, yah bisa dibilang semacam nge-fans gitu aja sih. Pertama kali aku ngerasain itu suka sama cowok pas TK. Hahaa, gila nggak sih itu tuh aku masih kecil banget tapi udah main suka-sukaan aja sama cowok. Aku lupa tuh masuk TK tahun berapa, mungkin sekitar tahun 98 soalnya aku lulus TK tahun 2000 karena kebetulan aku di TK dua tahun, TK kecil dan TK besar di Raudatul Athfal Kyai Gede Pangkalan Bun, Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah.

Eh bahkan yah bukan cuman sekedar suka-sukaan, aku inget banget aku bahkan punya pacar waktu TK, tapi mirisnya bukan sama cowok yang aku suka itu T_T kasiaaan, wkwkwk. Jadi dia kayak semacam pelarian gitu dulu. Ya ampun masih TK aja aku udah tau apaan itu pelarian, hahaa parah abeees.

Inisialnya “B”. Itu nama pacar aku waktu TK. Kita jadiannya waktu TK besar kalau nggak salah. Lucu banget kalau ngingat moment itu dulu. Tapi namanya pacaran anak TK mah yah sekedar status doank, kalo maen yah pasti masih bareng temen-temen. Tapi lucunya si inisial “B” ini dia kayak cowok-cowok di senetron yang aku tonton. Dia selalu berbagi sama aku dengan bekal yang dia bawa, jadi aku juga harus berbagi bekal yang aku bawa. Udah gitu tuh, kan waktu TK pasti sering donk main ayunan, nah jadi si B ini selalu rebutan sama temen-temen cowok laen buat dapatin ayunan (waktu itu ayunan di TK-ku cuman ada dua, terus main seluncuran juga dua buah). Habis dia dapatin tuh ayunan dia langsung ngajakin aku duduk bareng sama dia di ayunan itu sambil teriak, “Sah, sini ayo naik ayunan sama aku!”. Yah jadinya aku pasti ngikutin dia donk dan duduk di sebelahnya baru kita berbagi bekal yang kami bawa. Co cweeeet :p

Oh God, itu tuh waktu TK. Masih TK cuy! Tau kan anak TK umur 4-5 tahun... dan aku sudah ngalamin yang namanya pacar-pacaran gitu, gila sadis bener masa kecilku, hahahaa. Tapi yaah aku masihlah sebagai anak-anak cewek kebanyakan yang bermain bareng temen-temen cewek, main boneka, masak-masak, petak umpet, jalan-jalan, naik sepeda, masa kecilku bahagia kok, serius. Yah cuman pernah pacaran aja judulnya, hehehe.

Eumm, setelah kami lulus TK, aku kan masih tinggal di KalTeng tuh, sampai kelas 1 SD. Kami belum putus, bahkan sampai aku pindah ke Amuntai kelas 1 caturwulan tiga. Dulu kan sistem pembelajaran bukan semester, tapi masih caturwulan, cawu 1, cawu 2, dan cawu 3. Sampai aku pindah tuh belum ada kata putus diantara kami. Yaiyalah kami mana ngerti apaan tuh putus-putusan, bahkan kalau itu misalnya pacaran beneran sampai detik ini si B masih berstatus sebagai pacarku. Tapi yah, itu kan cuman kisah masa anak-anakku. Sejak aku pindah ke Amuntai nggak tau lagi gimana kabarnya dia, mukanya dia aja aku bahkan nggak ingat samasekali. Yang jelas dulu tuh pacaran sama si B adalah kebahagiaan tersendiri buat aku soalnya si B ini emang banyak cewek-cewek di TK yang suka sama dia. Hebat yah dia bisa nembak aku dulu, wkwkwkk.

Lanjut masa SD di Amuntai, KalSel.

Aku emang aslinya suku Banjar dan lahirnya di Amuntai, tapi cuman lahir doank karena setelah lahir orangtuaku pindah ke KalTeng dimana lebih dominan penggunaan Bahasa Indonesia. Jadi tuh waktu aku pindah ke Amuntai sulit banget yang namanya beradaptasi sama teman-teman baru yang notabene-nya pakai bahasa Banjar semua. Emang sih orangtuaku ngomong pake bahasa Banjar di rumah, tapi aku jawabnya pakai Bahasa Indonesia. Tapi kalau di sekolah, aku ngomong pakai Bahasa Indonesia malah dianggap aneh. Jadi seriusan deh dulu itu aku sudah banget mau ngomong sama temen pakai bahasa Banjar.

Nah, jadi tuh pertama kali masuk aku langsung joma-joma ama cowok manis gitu. Yah, semacam love at the first sigh gitu deh. Inisialnya “Y”. Tuh aku ini emang orangnya nggak bisa liyat cowok manis dikit, emang mungkin seleraku itu dulu cowok-cowok manis ya, heheeh. Di masa itu lagi ngetrend Telenovela yang berjudul ‘Amigos’. Pada tau telenovela itu kan yah? Ada Ana, Pedro, Santiago, Rafael, aduh lupa deh siapa aja tuh tokoh-tokohnya.

Dan yang kebetulan aku suka banget sama pemeran utama cowok di Amigos itu yang namanya Pedro. Ganteng bingit, hohoo. Dulu kan emang jaman-jamannya telenovela yah, kalau kami anak-anak sukanya Amigos, kalau mamaku sama acil-acilku tuh tontonannya ya Rosalinda. Si Y ini tuh miriiiiiip sama Pedro. Oalaaah, gimana aku nggak joma-joma coba sama tuh cowok. Yang paling aku inget banget tuh dulu si Y ini selalu pakai jam tangan hitam, dan bikin dia makin mirip Pedro soalnya Pedro juga make jam tangan hitam di Amigos.

Dan rasa sukaku itu juga nggak jadi kenyataan yang indah. Dia cuman impianku aja, soalnya aku sama dia cuman sering main bareng. Nggak sering-sering amat sih soalnya dia lebih suka main bareng ama temen-temen cowoknya dari pada main gabung bareng cewek (maksudnya mainan bareng cowok dan cewek). Jadilah aku cuman bisa mandangin dia dari jauh, miris banget yak padahal masih bocah ingusan tuh. Tapi sekali lagi, masa kecilku bahagia kok soalnya aku nggak pernah yang namanya nggak punya teman main. Yang namanya main bareng temen tuh udah pasti jadi makanan sehari-hari dulu, main apa aja sampai main pasir dulu di pinggir sungai.

Karena si Y inilah aku jadi semakin berusaha buat belajar Bahasa Banjar. Akhirnya alhamdulillah ya aku bisa :D

Tapiiii.... Aku dapat panah asmara nih pas aku sekolah di Amuntai itu, yang pastinya bukan dari si Y, tap inisialnya H. Aku tolak mentah-mentah. Ya iyalah, aku rasanya gregetan banget soalnya si Y ini malah ngebantuin si H itu nembak itu. Aku kan pengennya si Y itu T_T tidak bisakah dia melihat bagaimana perasaanku terhadapnya? #lebay

Cinta monyet waktu SD di Amuntai pun gagal. Lalu kelas 3 SD aku dan keluargaku datang ke Tana Paser yang tercinta ini. Emang hidup kami ini berpindah-pindah, ketahuan banget orang susah, wkwkwkk #plakkkk

Nggak ada yang menarik waktu SD tentang kisah cintaku soalnya nggak ada yang manis cowok-cowok di kelas. Kalau ganteng sih ada, cuman aku emang nggak suka cowok ganteng soalnya ngebosenin, hohoo. Tapi, ada nih anak MIN B sama-sama ekskul Setia Hati dulu (aku dulu sekolah MIN A, ada beberapa ekskul yang anak MIN B gabung bareng sekolahku yah semacam SH alias Setia Hati itu) inisialnya “S”. Ya ampuun maniiish bangeth, tiap dia ngeluarin jurus kuda-kuda aja rasanya waah kayak ngelihat Angling Dharma gitu.

Dan itu berlangsung selama dua tahun karena aku pertama kali gabung ekskul SH itu kelas 5 SD sampai kelas 6. Jadi setelah lulus SD aku nggak ada lagi ketemu sama dia. Cuman yah itu cuman sekedar suka-suka gitu aja soalnya dia manis, tapi nggak bikin joma-joma alias gugup alias sport jantung tiap liyat dia. Nggak kayak waktu dulu si Y di Amuntai.

Nah mirisnya hidup ini, kenapa aku nggak pernah dapat panah asmara dari cowok yang aku suka. Jadi tuh waktu aku SD alias MIN di Grogot alias Tana Paser sekarang, di kelasku ada cowok yang suka sama aku. Tuh kenapa sih si Cupid yang katanya imut itu nggak pernah meloloskan cintaku pada pria yang kusuka, *eaaa. Yah aku mana maulah sama cowok yang bukan pujaan aku banget gitu istilahnya, hahhaaa. Jadi kembali lagi, kisah cintaku di SD selesai dan tak ada satupun yang terwujud.

Lalu memasuki masa SMP, aku lanjut ke MTs N Tanah Grogot yag letak sekolahnya itu di sebelah MIN Tanah Grogot. Sama nih kayak waktu SD, nggak ada yang aku suka di kelas. Jadi aku pikir selama SMP hambar deh hhohoo. Tapi di saat MTs itu aku menemukan jati diriku. Pertama kali kalau aku tau aku suka sama dunia sastra itu yah waktu MTs, apalagi pas aku ikut ekskul teater sampai kelas tiga. Aku makin cinta sama dunia sastra, drama, teater, puisi, cerpen, yah segala yang berhubungan dengan sastra Indonesia aku suka banget.

Dan di MTs pula aku menemukan yang namanya sahabat itu. Bahkan sampai kami kuliah sekarang masih akrab dan masih sering ngumpul bareng kalau lagi musim liburan tiba. Jadi masa SMP-ku nggak hambar samasekali, tapi yang ada manis banget karena adanya sahabat-sahabatku yang disebut dengan D’Pofs (De Power of Friendship). Jadi pas MTs tuh nggak ada aku suka-sukaan sama cowok, malah aku nggak tau cowok-cowok satu sekolah kayak gimana soalnya aku sama sahabat-sahabatku  lebih sering menghabiskan waktu di dalam kelas buat ‘bergosip ria’ ataupun nongkrong di samping perpus. Jadi kami semacam mengasingkan diri dari pergaulan bebas, hahahaa.

Dan masa MTs berakhir tanpa ada suka-sukaan sama cowok dan nggak ada cowok yang nembak aku, mhuahahhahaah. Ada yang suka sama aku tapi dia nggak mau nyatain perasaannya ke aku. Tapi rapopo, kan aku juga nggak suka sama dia.. hahaaha.

Lanjut ke masa SMA. Aku lanjut ke SMK N 1 Tanah Grogot yang letaknya juga nggak jauh dari MTs N Tanah Grogot, aku ambil jurusan Akuntansi. Kebetulan NIM aku tinggi jadi sayang nggak masuk Akuntansi, padahal hatiku pengen banget masuk jurusan Pemasaran waktu itu.

Gilaaaa... di kelas Akuntansi 1 cowok-cowoknya ganteng-ganteng dan pinter-pinter cuy! Cumaaan... nggak ada yang bikin aku joma-joma, hohoho. Biar itu kakak kelas yang OSIS juga nggak ada yang bikin aku joma-joma. Nah, aku tuh dulu deket sama cowok di kelas dengan inisial “P”. Tapi cuman sekedar temen deket di kelas karena di SMK aku juga menemukan sahabat yang bahkan lebih akrab dari pada sahabat-sahabat D’Pofs, kebetulan dulu kami selalu berlima jadi temen-temen di kelas manggil kami tuh D’Pancas. Jadilah tuh nama sampe sekarang tetep istiqomah kami pake buat menyebut kami berlima.

Di SMK aku makin menutup diri, nggak kayak waktu TK ataupun SD yang eksis banget, karena sejak masuk MTs dan belajar ilmu agama aku mencoba jadi Muslimah yang baik meskipun masih belom bisa sampe sekarang, heheee. Nah di SMK aku jarang banget ke kantin kalo istirahat, paling aku sama temanku itu duduk-duduk di kelas ataupun ke perpus doank sekedar baca buku ataupun dengerin musik. Ke kantinpun biasanya aku cuman kalau habis jam pelajaran olahraga, soalnya aku mulai nggak selera makan banget pas SMK. Jadi dulu tuh badanku kurus banget, berbanding terbalik sama pas kuliah sekarang yang subur banget, hahaha.

Loh loh kok aku malah keluar dari tema ini yang aku ceritakan.

Oke. Jadi balik lagi ke kisah cintaku. Emang sih aku nggak menemukan cowok manis di kelas, tapiiiiii... pas aku lagi pulkam ke Amuntai, aku ketemu sama cowok yang bikin aku meleleh seketika kayak es lilin yang didekatin ke setrikaan (perumpamaaan yang aneh). Inisialnya “F”. Kita ketemu pas acara nikahannya kakak sepupuku. Jadi kita ngobrol bareng, yah pokoknya asik deh tuh cowok. Sekaliiiiiiii aja aku berharap aku bisa dapatin cowok yang aku suka. Guess what? Pas aku balik ke Grogot DIA NEMBAK aku cuy!!! Gila nih kan yah... aku galau banget waktu itu nerima dia apa kagak. Ah, setelah aku pikir-pikir kan lumayan tuh ya si cowok jadi aku terima dia, kkkk. Pacar kedua aku, hehehehehh...

Akhirnya aku dapatin cowok yang aku suka juga. Cuman, nggak berlangsung lama kami cuman enam bulan aja karena aku maksa dia buat putusan soalnya aku pengen konsentrasi lagi belajar di sekolah. Kebetulan aku pacaran itu pas lagi magang, kelas dua SMK semester satu, pas setelah selesai magang 6 bulan kami putus :D lebih tepatnya aku yang minta putus :p karena ternyata dia sering bikin aku boring, yah gitu sih ya nasib LDR-an soalnya dia tinggal di Banjarmasin. Kami cuman smsan dan telpon-telponan.

Ada yang unik nih waktu aku pacaran sama si F. Pas kami baru tiga bulan, teman aku waktu MTs yang dulu kami akrab banget sejak kelas tiga MTs buat belajar bareng, dia nembak aku! Yah pasti aku tolak lah kan aku punya pacar. Sayang sih sebenernya, coba dia duluan nembak aku pasti aku terima soaknya dia baik orangnya. Aku aja sempet suka ‘dikit’ dulu sama dia, hehehhee. Inisialnya “K”. Jadi kami memutuskan untuk berteman aja. Dia juga sekolah SMK tapi SMK lain bukan SMK N 1.

Tapi cuy setelah aku putus sama si F, si K ini nembak aku lagi. Ya ampun, aku kan emang nggak mau pacaran lagi setelah denger ceramah yang menggetarkan hati, jiwa, batin, dan pikiranku. Jadi aku nolak dia lagi. Aku lupa persisnya kelas berapa, kayaknya pas kelas tiga aku sempet nerima dia. Tau nggak berapa lami kami jadiannya?

5 menit!

Ini bener-bener gila kan yah.. mhuahahahahahahahahah /evil laugh/ eh seriusan kalees beneran 5 menit. Kan awalnya aku bilang yasudah kita jadian aja tapi 5 menit aja, tapi emang niatnya kan cuman main-main aja. Nah jadi selama 5 menit dia bener-bener memanfaatkan waktu yang limited edition itu buat mengungkapkan segala perasaannya ke aku. Ya Allah Ya Rabb, ampuni dosa hamba-Mu ini karena telah mempermainkan hati pria lain yang sangat menyayangi hamba L

Jadi mungkin aku semacam kayak kena karma gitu karena terus-tersan nolak dia, eh jujur dia sudah nembak aku lebih dari tiga kali dan selalu aku tolak. Aku tau dia tulus, aku bisa liat itu di matanya. Aku tau dia nggak mau main-main sama aku... tapi justru itu yang bikin aku takut buat menerima perasaannya. Aku nggak pantas dapatin ketulusannya itu, aku nggak pantas dapatin rasa sayangnya dia. Aku ini bukan cewek yang baik, yah bukannya juga aku bad girl, cumaaan yah gitu deh aku ini cuman gadis biasa. Dan meskipun aku menerima perasaan dia juga apa hasilnya karena toh hatiku nggak buat dia. Jadi aku harap hubungan pertemanan kami ini terus berlanjut.

Pas SMK ada adek kelas juga jurusan Akuntansi suka sama aku, konyol, heheheheeh. Cuman aku nggak suka sama dia. Oke lupakan tentang adek kelas ini yang kurang berkesan buat aku.

Nah karena mungkin aku sering nolak si K, aku mengalami yang namanya patah hati hingga hancur berkeping-keping bahkan membuatku rasanya jatuh ke dalam jurang yang banyak ular gude-gude, hohoo. Biasanya kan yah kita mulai ngerasa kehilangan waktu seseorang itu pergi, nah itulah yang aku alamin. Teman dekatku yang aku bilang inisial “P” tadi di kelas 3 semester dua mulai menjauh dari aku. Aku nggak tau apa sebabnya bahkan sampai detik ini pas aku nulis tulisan nggak jelas ini pun aku nggak pernah tau kenapa.

Aku sadar waktu dia mulai dekat sama cewek lain di kelas yang menurut gosip yang beredar di kelas kalau cewek itu suka sama si P. Tapi itu bukan sekedar gosip lagi karena cewek itu sendiri juga pernah bilang sama aku kalau dia tuh suka sama si P. Awalnya aku iya-iyain aja tiap dia cerita ke aku, tapi lama kelamaan sejak si P mulai menjauhih aku, aku ngerasa kehilangan dia banget. Selama satu semester bahkan sampai deket UAN si P masih aja bersikap dingin sama aku. Kalau datang ke kelas seolah-olah aku nggak ada, masa iya dia cuman negur teman sebangkuku doank, ckckckk.

Sehari sebelum UAN kami semua salam-salaman ke satu sekolahan termasuk guru-guru, staff TU, adek kelas juga. Nah setelah itu kami salam-salaman di kelas, dia satu-satunya orang yang nggak aku salamin. Aku pikir ya sudah inilah akhir hubungan kami. Tapi, di saat kelas rada sunyi dia datangin aku yang duduk di depan kelas sambil nyodorin tangannya buat jabatan sama aku. “Sah, maap ya,” itu kata-katanya yang masih aku ingat dan ekspresi hangatnya yang selama satu semester hilang, ekspresi hangat yang dulu selalu dia tunjukkin buat aku, aku ngeliat buat yang pertama kalinya lagi. Dia senyum lebar ke aku, senyum yang nggak tau kenapa bikin rasanya ribuan mahkota bunga mawar beterbangan di dalam perutku.

Tanpa pikir panjang aku langsung jabat tangannya, aku cuman senyum sambil nahan air mata ke-lebay-an-ku biar nggak netes ala sinetron. Aku nggak ngomong apa-apa soalnya aku nggak tau harus ngucapin kata apa. “Sudah Sah, lupain aja yang kemaren,” itu kalimat setelah kami berjabatan dan habis itu dia pergi keluar kelas gabung sama teman-teman cowoknya.

Aku yang speechless dan ngerasa jantungku mau copot langsung jatoh lemes teduduk kembali. Gilaaa gue kenapa? Setelah aku sharing sama sahabatku, ternyata aku emang ngerasain perasaan nggak biasa ke dia. Cuman selama beberapa tahun di SMK aku selalu menghindari perasaan itu dan nggak pernah mengakuinya.

Aku semakin sadar sama perasaanku setelan kami perpisahan. Setelah perpisahan itu kembali dia seperti P di kelas tiga semester dua yang dingin banget sama aku. Nggak ada lagi sms dia seperti dulu sebelum tidur, “G’d nite, mimpiin aku yaa”. Atau sms isengnya yang memulai acara smsan kami, “Wooy, boboboy.. u g nnton spongebob kh? Tuh udh mulai”.

Gila... kenapa aku makin menyadari sama perasaan ini setelah kami lulus. Mati-matian aku buat ngelupain dia karena toh dia juga udah nggak ngasih kabar lagi ke aku. Bahkan nih ya yang namanya mimpiin dia pas tidur itu di masa-masa usaha merelakan dan melepas perasaan aku ke dia itu bukan hal yang tabu lagi. Bahkan aku sampe nangis alay gitu di depan sahabatku sambil cerita tentang dia. Ugh, itu tuh bener-bener masa tersulit aku :’(

Akhirnya aku bisa melepas perasaanku, yehet! Karena aku mulai menyibukkan diriku buat memperbaiki diri *eaaaa... selain mencoba jadi pribadi yang lebih baik lagi, aku semakin menggila jadi sasaeng fans-nya Yesung Super Junior. Jadi nggak ada tuh galau karena cowok, paling kemaren tuh tahun 2013 sempet galau karena Yesung wamil yah meskipun pada akhirnya ternyata dia makin sering update di jejaring sosial, hohooo. Selain Yesung aku juga makin menggilai One Direction jadi yah sudah teralihkanlah perhatianku dari si P itu.

Selesailah urusan di SMK. Lanjut semasa kuliah.

Allahu akbar... cobaan, bener-bener cobaan. Gimana nggak aku bilang cobaan yah, baru juga hari pertama Ospek aku langsung ketemu cowok yang maniiiiiiishhhh gilaaaak, kulitnya hitam manis gitu kayak kecap Bango :p

Dan parahnya waktu Ospek dia satu gugus sama aku. Inisialnya “S”. Ya Allah, pooknya selama Ospek berlangsung aku selalu curi-curi pandang ke S itu. Dan tau nggak, aku malah berdoa supaya bisa sekelas sama dia. Aaaakkh, beneran selesai Ospek dan masa perkuliahan di mulai aku sekelas sama dia. Asdfghjkl

Tapi parah. Teman dekat aku di kampus juga suka sama tuh manusia, haduuuhai. Jadi kami berdua memutuskan buat jadi “Secret Admirer” si S. Ya ampun makin gila waktu aku presentasi, si S jadi moderator kelompok presentasiku. Demi Allah aku waktu itu nggak konsen banget selama presentasi. Uhuhuhhh, kenapa dikau terlalu manis begitu? Apalagi pas dia senyum, omoooo rasanya Shindong Oppa tiba-tiba jatoh dari langit dan nimpa badanku yang pendek ini.

Sayangnya si S ini cuman kuliah satu semester satu karena di semester dua dia kata teman dekatnya berhenti kuliah. Aiiiiiih, nggak ada lagi sudah yang bisa dipandang di kelas. Jadi sampai sekarang nggak ada cowok yang ‘menurutku’ keceh yang sedap dipandang mata yang bisa ngusir kejenuhan selama di kampus, hehehehhh.

Tapiiii... sekarang di kampus aku deket sama salah seorang cowok di kelas, inisialnya D. Cuman memutuskan jadi teman dekat sih. Tapi yah aku harap sampai wisuda nanti kami akan tetap jadi teman dekat dan nggak ada perasaan antara pria dan wanita di antara kami J karena dia berharga buat aku. Biarpun dia nyebelin, biarpun dia suka membully aku, biarpun dia nggak pernah mau ngalah sama aku tapi buat aku dia tetap berharga ^_^

Serangkaian kisah sebelumnya yang semuanya nggak jelas bin aneh itu adalah kisah masa lalu aku yang mungkin nggak akan bisa aku lupain. Masa lalu aku yang aneh, absurd, awkward, gagje, lebay, alay... wkwkwkwkk

Di awal kan aku bilang dulu aku pengen hidup bahagia sama orang yang aku sayangin. Tapi sekarang semua pandangan aku berubah karena aku sekarang pengen hidup bahagia sama orang yang ‘menyayangiku’. Dan itu sungguh-sungguh dari lubuk hatiku yang paling dalem.

Sekarang aku mau membicarakan sesuatu yang serius banget.

Aku mungkin terlampau sering bikin cerpen atau fanfiction bergenre romance, padahal kisah cintaku sadis banget nggak ada manis-manisnya sama sekali. Semua kisah cinta monyetku sudah aku tutup. Sekarang aku mau serius dengan perasaan aku. Cuman yah itu, akunya serius tapi keadaan sama sekali nggak mendukung. Aku ngerasa perasaan aku ini ditarik ulur, kalau kata sahabatku sih aku ini kayak layang-layang yang kadang dibiarkan terbang kadang ditarik.

Aku kenal orang itu waktu masih kelas 1 SMK. Dia kakak kelasku dan pertama kali kenal pas kami satu tim mewakili sekolah kami dalam lomba cerdas cermat UUD 1945 tingkat kabupaten yang Alhamdulillah cuman juara 3 :p. Aku lupa mulai akrab banget itu kapan tapi yang jelas sejak di kuliah di luar kota kami makin akrab, akrab dalam artian cuman smsan doank.

Awalnya aku tuh cuman ngerasa enjoy aja sama dia, entahlah aku ngerasa nyaman banget cerita sama dia. Jadi hubungan kami tuh yah adek-kakak. Seiring berjalannya waktu, sampai beberapa tahun aku dekat sama dia aku ngerasain perasaan aneh yang jujur selama ini nggak pernah aku rasaian. Termasuk beberapa cowok yang aku ceritakan di atas tadi. Rasanya bukan cuman joma-joma, rasanya bukan cuman ada ribukan mahkota bunga mawar betaburan dalam perutku, rasanya nggak cuman bikin aku meleleh kayak es lilin yang didekatin sama setrikaan.

Rasanya bener-bener aneh yang nggak bisa aku deskripsikan samasekali.

Cara dia memperhatikan aku. Cara dia ngomong ke aku. Cara dia berbagi cerita sama aku. Segalanya tentang dia yang selalu bikin aku ngerasa kalau hidup aku ini berarti banget. Rasanya aku kayak lagi ada di drama Korea gitu, heheheeh. Ini seriusan loh.

Semakin lama perasaan ini semakin kuat dan menjadi-jadi yang bikin aku jadi kayak orang aneh. Tapi itu tadi, kami ini cuman adek-kakak, nggak lebih. Emang sih aku nggak mau pacaran. Tapi aku berharap banget dia juga ngerasain apa yang aku rasa. Kadang saat dia khawatir sama aku, saat dia datang nemuin aku, aku bahkan terlampau yakin kalau dia juga ngerasain hal yang sama kayak aku. Tapi di saat dia mulai jauh, mulai nggak ada kabarnya, saat dia mulai mengacuhkan aku, aku kembali sadar kalau ekspektasiku itu terlalu berlebihan.

Rasa kecewa itu muncul karena keinginan yang terlalu tinggi. Mungkin dia emang nggak pernah ngerasa ng-php-in aku. Cuman aku yang kegeeran dan selalu ngerasa di selalu ng-php-in aku, ngerasa aku ditarik ulur kayak layang-layang. Ini semua karena ekspektasiku yang terlalu berlebihan dan terlampau tinggi terhadap hubungan kami.

Hubungan tanpa status itu emang nggak enak banget. Masing-masing nggak punya hak buat mengatur hidup yang lain. Tapi, yang ngerasa adanya hubungan tanpa status itu cuman aku. Belum tentu dan kemungkinan besar dia nggak ada samasekali ngerasa begitu.

Perasaan ini sudah sekian tahun bersarang dalam diriku yang gagje ini. Ini bener-bener nyiksa aku banget >_< aku cuman berharap kalau dia bukan jodohku, semoga Allah segera ngilangin perasaan aneh ini. Perasaan yang bikin aku terlihat menyedihkan. Meskipun jujur dalam hatiku aku pengen juga dia ngerasain apa yang aku rasa. Tapi kita nggak bisa kan maksa orang juga buat ngerasain apa yang kita rasain.

Sedih sih. Aku belom siap sekarang merelakan dan melepaskan perasaan ini. Pernah aku coba move on tapi hasilnya selalu gagal T_T karena kenyataannya semakin aku berusaha ngelupain dia, maka perasaan itu semakin kuat dan aku malah semakin ingat sama dia, ckckckk, #miris

Yah inti dari tulisanku ini cuman tentang kisah cintaku yang gagje ini aja sih. Yang pasti sekarang aku belom menemukan my true love (tapi cinta sejatiku adalah Allahu Rabbul Izzati). Ini cuman share karena denger lagu galau doank jadi beginilah.

Ini tulisan nggak berarti banget, ancur parah dan nggak layak dibaca apalagi di copas :p sykur kalau ada yang mau baca, kalau nggak ada ya Alhamdulillah, hahahahaa... sekian postingan aneh hasil dari ketikan jemari ane. Ane tau yang baca ini jadi eneg dan langsung mual-mual, ane minta maap dah.

Sudahlah, daripada makin ngaco alias Zayn macho, ane akhirin dah nih tulisan. Tapi kok ni tangan kagak mau brenti ngetik, oalaaaah. Yesungdah, DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA!!! JAYA SELALU! Ane juga berharap dunia sastra Indonesia jadi semakin maju, amiin.

Billahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh J