Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Minggu, 14 Februari 2016

(Fanfiction) The Craziest Morning


The Craziest Morning

.
.

Author:
Aisyah (@cloudisah)

.

Cast:
You and All of BAP’s Members

.
.
***

Alarm dari ponsel di atas meja nakas memecah keheningan di pagiku yang damai. Lagu I’m The Best dari 2NE1 yang sengaja kujadikan nada alarm berhasil membuat Ayah mengetuk pintuk kamarku berkali-kali karena nyaringnya suara alarm yang memenuhi sampai seluruh rumah. Dengan malas kuraba benda persegi panjang di atas nakas itu tanpa repot-repot membuka mata, lantas kulepas baterai ponselku dengan mata yang masih tertutup rapat.

Aku benar-benar malas bertemu dengan hari Senin.
Tugas-tugas kuliahku menumpuk dan hari ini harus sudah diserahkan kepada dosen. Tssk… Bahkan membayangkan wajah dosen Manajemen Operasi dan Manajemen Pemasaran sudah membuat kepalaku berdenyut hebat.

Bukannya aku belum mengerjakan sama sekali tugas-tugas itu. Aku sudah mengerjakannya dan tinggal menyelesaikan bagian akhirnya saja. Hanya saja, aku sungguh bosan selalu ditugasi membuat karya tulis ataupun makalah dan aku bahkan muak melihat Ms. Word pada layar laptopku.

Hell…

Mendekati minggu tenang dalam rangka menghadapi UAS seharusnya para dosen itu tidak perlu repot-repot membebani mahasiswanya dengan tugas yang seabrek banyaknya. Ini sih bukan minggu tenang namanya. Huhh, menyebalkan.

Kurasakan seseorang menyenggol pelan bahuku. Kutebak pasti adikku yang disuruh Mama membangunkanku dari tidur damaiku. Oh, bisakah waktu kembali ke hari Minggu saja? Aku tidak ingin pergi ke kampus hari ini -_-

“Hey, bangun. Sudah jam tujuh kurang lima menit. Nanti Nuna terlambat lagi ke kampus.”

Heh? Kenapa suara adik laki-lakiku berubah jadi suara pria dewasa seperti itu? Adikku kan masih SMP, dan ia tidak mungkin mengalami pubertas dalam waktu satu malam. Dan, apa yang dikatakannya tadi? Nuna? Memangnya aku sedang berada dalam drama Korea?

Dengan berat kubuka kedua kelopak mataku…

Oh, baiklah. Sepertinya aku masih bermimpi sekarang.

Aku mendapati seorang Jongup tersenyum lebar tepat di sampingku. Dengan kecepatan cahaya aku bangkit duduk lantas mengucek mataku berkali-kali. Sial! Kenapa aku masih bermimpi? Aku bisa terlambat ke kampus jika masih keenakan bermimpi sekarang. Kurasa aku harus kembali tidur agar bisa kembali ke dunia nyataku.

“Ayo Nuna, Mama sudah menyiapkan sarapan. Cepat ke dapur sebelum Himchan Hyung turun tangan dan membangunkan Nuna secara tidak manusiawi,” Jongup berdiri setelahnya dan berdiri di ambang pintu menungguku mengikutinya.

Himchan? Apa lagi ini? Kenapa ada member BAP dalam mimpiku?

“Kurasa aku harus kembali tidur. Jongup, aku tahu kalau aku sekarang ini terlalu menggilai kalian berenam apalagi setelah comeback kalian. Tapi, aku tidak ingin menjadi gila dengan bermimpi seperti ini bersama kalian,” ucapku serak seperti orang bodoh.

Kulihat Jongup menatapku tanpa ekspresi. “Kurasa tadi Nuna bermimpi aneh. Sudahlah, cepat ke dapur dan berhenti bicara yang tidak-tidak,” Jongup berjalan meninggalkanku sendirian di kamar.

Ragu, aku mencoba melangkahkan kakiku perlahan ke luar kamar. Setidaknya, dalam mimpi ini aku masih berada di dalam rumahku sendiri.

Nuna! Tolong bantu aku memasang dasi ini, ayo Nuna cepat aku harus buru-buru ke sekolah…”

Seorang pria tinggi yang sangat aku ketahui namanya menyodorkan padaku dasi SMA yang membuatku mau tak mau memasangkan dasi itu untuknya. Ini benar-benar gila. Kenapa aku merasa ini sangat nyata? Berapa lama lagi aku harus bermimpi seperti ini???

“Terima kasih Nuna, Zelo pamit ke sekolah dulu—”

~chuu

Kedua mataku melotot sempurna setelah pria tinggi bernama Zelo itu mengecup pipi kananku. Hey! Apa-apaan dia?

Belum sempat aku berteriak, ia sudah menghilang keluar rumah. Aku masih bergeming tak percaya. Jangan-jangan ini bukan mimpi. Jangan-jangan aku terpilih sebagai fans yang dikerjai member BAP dan ada banyak kamera CCTV di setiap sudut rumahku.

Baru saja aku hendak melirik sudut rumah, sebuah lengan besar melingkar di leherku. Aku kembali terkejut ketika—

“Bagaimana tidurmu tadi malam saudara kembarku? Kurasa kau tidak bermimpi aneh lagi karena aku tidak mendengarmu mengigau dari kamar sebelah.”

—seorang Youngjae berdiri di sampingku seraya merangkulku!

“Saudara kembar?” tanyaku dengan ekspresi seperti orang paling bodoh sedunia.

Youngjae menoyor kepalaku pelan lantas berdecak kesal. “Tidak usah berlebihan seperti itu. Aku tahu kita memang tidak mirip, tapi mau bagaimana lagi kita lahir hanya selisih dua menit saja.” Youngjae berjalan meninggalkanku menuju dapur.

Hey ayolah. Jangankan wajah yang tidak mirip, setahuku lelaki itu lahir bulan Januari dan aku Februari meskipun di tahun yang sama. Kenapa bisa jadi saudara kembar sih?

Dongsaeng kesayangan Oppa baru bangun?” seorang pria dengan suara lebih berat tiba-tiba datang dan mengacak-acak pelan rambutku.

Kali ini aku tidak bisa menahan keterkejutanku dan kedua mataku sudah melotot sempurna ketika retinaku menangkap sosok pria dengan handuk kecil di bahunya, mengenakan setelan olahraga—kemungkinan ia habis oahraga pagi—dengan keringat yang memenuhi tubuhnya membuatnya benar-benar seksi! Ya Tuhan… Sungguh Maha Kuasa Engkau yang telah menciptakan pria rupawan bernama…

Eh? Tunggu dulu. SEORANG BANG YONGGUK ADA DI HADAPANKU SEKARANG??!

“Bang… Bang… Bang Yong..guk?” suaraku rasanya sangat sulit kukeluarkan.

Pria di hadapanku ini menatapku seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kurasa adik perempuanku satu-satunya ini harus segera dicarikan jodohnya agar ia kembali normal.”

Setelah berkata begitu, pria tampan itu berlalu dari hadapanku dan menuju tempat yang sama dengan Youngjae tadi, dapur. Tanpa sadar kakiku melangkah dengan sendirinya menuju tempat yang sama dengan mereka. Kurasa aku sudah terlalu berlebihan menggilai mereka sampai-sampai harus bermimpi menjadi saudara mereka seperti sekarang ini.

Jika sekarang aku adalah tokoh kartun, kemungkinan kedua bola mataku sudah digambarkan keluar dan jatuh dari tempatnya. Di sekeliling meja makan ada semua member BAP, Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae, dan Jongup—minus Zelo karena ia sepertinya buru-buru ke sekolah tadi. Mereka sih tidak terlalu mengejutkanku. Tapi yang benar-benar mengejutkanku adalah...

“Kenapa baru bangun? Ayo cepat sarapan dulu. Anak perempuan  tidak baik bangun kesiangan.”

Itu Ayahku. Ya, Ayahku di dunia nyata. Kenapa Ayah dan Mamaku bisa ikut dalam mimpiku?

Kucubit tanganku sekuat yang kubisa. Aww. Loh, kenapa sakit? Lantas kembali kucubit pipiku. Eh? Sakit! Ini mimpi atau bukan sih???

Aku mendudukkan diriku tepat di samping Daehyun. Astaga, jantungku ingin mencelos saja karena aroma tubuh Daehyun yang wangi benar-benar memenuhi indra penciumanku. Belum lagi Himchan yang duduk di sisi kiriku. Aku-benar-benar-sudah-gila!

“Mau Oppa tuangkan susunya?”

Aku gelagapan ketika Daehyun mengambil gelasku yang kosong dan mulai menuangkan susu vanilla ke dalamnya. Oh tidak. Kumohon semoga wajahku tidak memerah sekarang. Bagaimana mungkin aku sanggup bertahan ketika seorang Jung Daehyun yang notabene-nya adalah member favoritku di BAP duduk tepat di sampingku dan tersenyum manis ke hadapanku. Oh Tuhan tolong aku T_T

“Bagaimana tugas-tugasmu yang seharian kau kerjakan kemarin? Sudah selesai?”

Himchan menanyaiku sembari mengunyah nasi goreng. Nasi goreng ini sangat kukenali. Ini kan nasi goreng buatan Mamaku yang sering Mama buat untuk sarapan keluarga kami.

Oppa, aku sedang mimpi kan? Ini mustahil aku bisa bertemu kalian sebagai saudaraku. Ini hanya mimpi kan?” alih-alih menjawab pertanyaannya, aku malah balik mengajukan pertanyaan.

“Mama sudah bilang, sebelum tidur itu baca doa dulu. Sudah, cepat habiskan sarapanmu,” suara Mama terdengar nyata di telingaku. Aku menatap Mama yang dengan santainya menghabiskan sarapannya dan sesekali tertawa bersama Ayah karena lelucon dari Yongguk Oppa.

Kembali kulirik sudut ruangan. Aku harus memastikan ada CCTV kalau-kalau sekarang aku memang sedang dikerjai untuk program baru TS Entertainment.

“Ckk, saudara kembar menyebalkan. Kenapa malah diam saja? Cepat habiskan sarapanmu, nanti aku bisa terlambat ke kampus juga gara-gara menunggumu,” Youngjae menatapku dengan kesal.

Perlahan aku menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutku. Kenapa rasanya aku seperti mengunyah sungguhan? Ini nasi goreng asli. Sungguh. Ini sangat berbeda dengan keadaan dalam mimpi pada umumnya.

“Kamu sakit?”  Daehyun menyentuh pelan keningku.

Oh please jangan lakukan itu. Aku bisa mengalami serangan jantung mendadak karena Daehyun terus-terusan bersikap sebagai kakak yang manis dan baik hati.

“Aku tidak sakit, Oppa,” aku berusaha memasang senyum terbaik agar tidak terlihat buruk di hadapan Daehyun.

“Hahaha, kurasa dia terlalu stress dengan tugas-tugasnya Hyung,” seru Jongup lantas setelahnya ia dan Youngjae ber-high five ria.

“Sudah-sudah. Cepat habiskan sarapan kalian lalu setelah itu pergi ke kampus,” Himchan menengahi.

Aku melirik Daehyun. Sepertinya ia menikmati sekali nasi goreng buatan Mama.

Kembali aku melirik sudut lain di dapur. Ckk, aku sama sekali tidak menemukan CCTV. Jadi, sebenarnya ini apa? Mimpi atau aku pindah ke dunia lain sih? Eh, lagipula jika ini bukan mimpi, bagaimana mungkin mereka fasih berbahasa Indonesia?

“Jongup, hari ini kau tidak ada jadwal kuliah kan? Hari ini temani aku dan Daehyun membantu Ayah mencabut singkong di kebun. Sepertinya kita akan panen besar hari ini.”

Ucapan Yongguk Oppa barusan berhasil membuatku tersedak. Dengan cepat Himchan menyodorkan gelas berisi susu yang tadi dituangkan Daehyun ke hadapanku. Aku segera meminumnya sembari Daehyun mengelus pelan punggungku.

Aku jadi mulai membayangkan, bagaimana keadaan tiga pria tampan itu yang diterpa sinar matahari langsung di kebun singkong Ayah sambil mencabut batang-batang singkong. Ya Tuhan, pasti sungguh mengenaskan sekali keadaan mereka. Berbanding terbalik dengan keadaan mereka saat di stage.

“Aku sudah selesai sarapan. Aku akan membantumu menyelesaikan tugas Manajemen Operasi dan Karya Tulis Manajemen Pemasaran. Jadi setelah ini kau harus bersiap-siap ke kampus supaya kita tidak terlambat. Ayo cepat,” ucap Youngjae lantas meninggalkan dapur.

Kupikir dengan aku yang berada di tengah-tengah member BAP ini, tugas-tugas itu sudah lenyap. Tsk, sepertinya hidupku tidak akan tenang dari tugas-tugas dosen itu.

“Awwwhh…”

“Kamu kenapa??” sayup-sayup kudengar suara Daehyun Oppa. “Hey, ada apa?” suara Daehyun Oppa terdengar semakin memelan.

“Awwwh,” aku merasakan mataku perih seperti kemasukan air. Semakin lama air itu serasa semakin banyak dan membasahi seluruh wajahku.

“Woooey bangun!!! Dari tadi dibangunin sampai Ayah marah-marah tuh kakak masih keenakan tidur.”

Hah? Itu suara adik laki-lakiku satu-satunya. Suara khas anak SMP.

Dengan cepat kubuka mataku. Kudapati adikku membawa sebuah gelas kaca yang sudah kosong isinya. Jangan-jangan tadi ia menumpahkan semuanya ke wajahku??!

“Hyaaaa! Kenapa kamu menyiram wajahku huhhh??” teriakku heboh dan ingin mencubit habis-habisan lengannya.

Belum sempat aku mencapai lengannya, adik laki-lakiku yang kurang ajar itu sudah menghilang dari dalam kamarku. Ckk, adik menyebalkan!

Tsk, jadi tadi hanya mimpi menjadi saudara member BAP.. huhh.

Kutatap meja belajarku yang dipenuhi dengan kertas dan juga buku-buku yang berserakan. Aaggh, aku kembali bertemu tugas-tugas itu lagi.



Kulirik jam dinding. Ya Tuhan! Sudah jam tujuh tepat! Aku belum menyelesaikan bagian akhir tugas-tugas itu. Oh tidak, bagaimana ini? Huwaaa… Yongguk Oppa bawa aku bersamamu ke Korea Selatan…! >_<

.
.
FIN

Mhuehehehehh… kelamaan nggak nulis di blog :p
FF ini aku bikin menjelang UAS saat tugas-tugas malah bergentayangan >_<
Terima kasih yang berkenan membaca FF gaje ini yaaa *big hug*
Syukur-syukur sih kalo ada yang mau baca wkwkwkk :v


Rabu, 18 November 2015

(Fanfiction) Dewdrop



Dewdrop
.
.

Author:
Aisyah (@cloudisah)

.
.

Cast:
OC’s Choi Jirin
B.A.P’s Daehyun

.
.

***

Ugh.

Menyebalkan.

Bagaimana bisa ia melakukan hal itu pada seorang wanita huh? Terlebih kepada kekasihnya sendiri. Tsk, awas saja nanti. Ia tidak akan kumaafkan. Tidak-akan-pernah.

 “Kenapa malah duduk di balkon? Cuaca sangat dingin sekarang. Bagaimana kalau nanti kamu masuk angin? Ayo masuk ke dalam.”

Suara sok keren itu adalah suara kekasihku. Yah, kekasihku yang kurang ajar. Jung Daehyun.

Tanpa memperdulikan ucapannya barusan, aku hanya menatap dedaunan di dalam pot gantung—dimana ujung tanaman itu menjuntai melewati pot—yang ujung-ujungnya dibasahi embun. Sebenarnya tadi malam tidak hujan. Hanya saja karena sekarang sudah mulai memasuki musim gugur makanya cuaca jadi sedingin sekarang.

Seraya merapatkan sweater yang tengah kukenakan, kupeluk kedua kakiku yang kulipat. Duduk di atas kursi kayu di balkon di pagi buta seperti ini memang terlihat konyol. Tapi yah, mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur merajuk dengan pria itu.

Kudengar suara helaan nafas berat di belakangku. Suaranya seperti orang selesai mengerjakan pekerjaan berat saja. Ckk... Memangnya apa yang ia lakukan semalam? Bukankah ia sudah  pasti tidur dengan nyenyak? Tentu saja begitu. Bagaimana tidak, ia merebut selimut dari dalam kamarku dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Selimut satu-satunya yang kubawa ke vila ini. Dan berakhir dengan aku yang tak bisa tidur karena kedinginan.

“Rin-ah, ayo masuk ke dalam. Nanti kamu hipotermia,” suara Daehyun memelan. Beberapa sekon berikutnya pria itu sudah berdiri tepat di sampingku.

Aku tak berniat meladeni ucapannya. Yang kulakukan sekarang hanya mengabaikannya dan memilih menyibukkan diri menatap burung-burung pemakan biji yang hinggap di dahan pohon bunga aprikot yang tumbuh persis di sisi luar balkon.

“Kamu marah?”

Kuhembuskan nafas kasar agar ia mengerti. Tentu saja aku marah. Tanpa ia bertanya seharusnya ia tahu. Lagi pula yang memaksaku ke vila ini kan dia? Lantas, kenapa ia malah membuat liburan akhir pekanku menjadi seperti ini? Huh.

“Rin-ah...”

“Kamu masuk saja. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu,” ketusku karena aku memang sedang tidak ingin mendengar suaranya ataupun melihat wajahnya.

Dan, oh sial.

Ternyata pria itu benar-benar masuk ke dalam. Ia bahkan tak memintaku masuk bersamanya? Bagus. Benar-benar kekasih yang kurang ajar.

Tapi, bukankah aku hebat sekali? Aku sudah menjadi kekasihnya hampir tiga tahun. TIGA TAHUN! Yap, tiga tahun. Bukankah seharusnya aku mendapat penghargaan karena sanggup menghadapi kekasih seperti itu?

Dari pada aku harus masuk ke dalam aku lebih memilih kedinginan di balkon ini. Karena aku tidak ingin Daehyun menganggap rendah harga diriku sebagai wanita. Sekali lagi, aku sedang merajuk. Dan aku harus menahan dinginnya cuaca pagi ini agar tidak terlihat lemah.

Dari balkon ini aku bisa melihat tetesan embun yang jatuh dari ujung mahkota bunga aprikot. Juga embun yang menetes dari ujung daun di pot gantung itu. Melihat tetesan embun, membuat suasana hatiku sedikit hangat. Meskipun dinginnya udara terus saja menusuk permukaan kulitku.

Kurasa tak buruk juga duduk di balkon ini. Karena aku begitu menyukai tiap tetesan embun yang jatuh dari ujung dedaunan. Membuatku serasa hangat dan damai di saat yang bersamaan.

Tapi... kenapa mendadak tubuhku hangat seperti ini?

Eh?

“Daehyun...” gumamku.

Daehyun membawa selimut yang tadi malam ia rebut dariku dan meletakkannya pada kedua bahuku. Gigi-gigiku yang sejak tadi bergemeletuk karena menahan dingin, sekarang berganti dengan mulutku yang terbuka melihatnya yang sekarang duduk tepat di sampingku dan memelukku.

“Bagaimana? Sudah hangat?” ucapnya seraya tersenyum—senyum itu sangat menyebalkan sungguh—dan menatap dalam irisku.

Aku tak berkedip selama beberapa sekon sebelum akhirnya kekehan dari mulut Daehyun membuatku tersadar dan berdehem lantas mengalihkan perhatianku dari wajahnya. Selalu saja seperti ini. Kenapa hatiku selalu luluh dengan senyuman dan tatapan matanya? Ugh. Ayolah Jirin, kau harus kuat menghadapi kekasihmu ini. Ingatlah, ia sudah merebut selimutmu dan membuatmu hampir mati kedinginan semalaman.

“Jangan marah lagi ya. Aku tak berniat merebut selimutmu dan berencana membuatmu mati kedinginan. Aku juga tidak bisa tidur tadi malam karena khawatir kamu kedinginan. Hanya saja...”

Daehyun menghentikan ucapannya lantas tangannya terulur menyentuh wajahku agar kembali bersitatap dengan manik kelamnya. Aku kembali hanya bisa diam. Membiarkan Daehyun menyelesaikan kalimatnya.

“Kamu tahu kan seminggu terakhir cuaca semakin dingin. Jadi, maksudku, eum, maksudku... Tidakkah tadi malam kamu berfikir untuk-”

Lagi-lagi Daehyun menghentikan ucapannya. Namun tak lama, kedua netraku melebar saat tangannya semakin erat memeluk tubuhku.


Aliran darahku serasa terhenti dan mungkin saja wajahku sudah seperti kepiting rebus ketika Daehyun berucap seduktif tepat di telingaku, “Tidakkah kamu berfikir untuk masuk ke kamarku lantas tidur bersamaku dan saling menghangatkan satu sama lain—Akkkhh...”

“Dasar pervert!”

Kucubit kuat lengannya yang bertengger di tubuhku lantas aku segera bangkit dari duduk dan berlari masuk ke dalam. Sebelum Daehyun melakukan hal yang tidak-tidak padaku. Oh, sekarang aku menyesal. Mungkin setelah ini aku tidak ingin lagi melihat tetesan embun yang akan mengingatkanku akan ucapannya barusan. Entah dimanapun itu. Ckk, kau benar-benar keterlaluan Jung Daehyun.

“Akkh, Jirin. Sakiiiit...”

.
.
FIN

THE KING IS BACK!!!
I just wanna say "WELCOME BACK B.A.P!!!!!!" ^^

(Fanfiction) Himawari No Yokusoku



Himawari No Yakusoku
.
.

Author:
Aisyah (@cloudisah)

.
.

Cast:
Super Junior’s Yesung
OC’s Jirin

.

Lenght:
Drabble

.

Inspired by:
Motohiro Hata- Himawari No Yakusoku (Doraemon, Stand By Me’s Ost)

.

<3<3<3

Aku adalah salah satu dari sejumlah pria di dunia ini yang menyukai bunga matahari. Memang kelihatannya terlalu feminim, sih. Jangan tanyakan mengapa aku begitu menyukai tanaman dengan bunga berwarna kuning yang memiliki banyak biji—kau pasti tahu biji itu kesukaan kebanyakan hamster—dan selalu mengikuti di mana posisi matahari berada.

Sederhana. Karena gadisku begitu menyukainya.

Yah, hanya seperti itu. Dan aku langsung mendeklarasikan diriku sebagai seorang penyuka bunga matahari.

Awalnya aku sama sekali tak tertarik dengan bunga bermahkota kuning yang kadang kala membuat mataku sakit ketika matahari menyirami cahaya pada mahkotanya itu. Terus terang saja, itu cukup silau bagiku. Aku lebih suka bunga aprikot. Bunga yang mengawali mekar kuncupnya pada awal musim semi.

Tapi itu dulu sekali. Sebelum gadisku masuk dalam kehidupanku. Terlampau dalam malah. Karena sekarang, bunga matahari dan gadisku adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dalam hidupku.

Aku masih duduk di atas rerumputan di tengah taman bunga matahari menunggu gadisku datang. Hari ini adalah hari spesial. Yah tentu saja, aku sangat bersemangat karena aku selalu menunggu datangnya hari ini. Setiap tahun gadisku selalu datang membawa sebuket bunga matahari tepat pada tanggal ini.

Kuhirup nafas dalam. Entah kenapa rasanya biar sebanyak apapun aku berusaha meraup oksigen, rasanya tak pernah cukup untuk memenuhi paru-paruku. Oksigen yang kuhirup serasa hampa. Seperti jiwaku saat ini. Kosong.
Dengan gaun peach selututnya, gadisku—namanya Jirin—berjalan perlahan menghampiriku tempat dimana aku duduk sejak tadi. Surai hitam sebahunya tertiup semilir angin, membuatku tak tahan ingin merapikan surainya ke balik daun telinganya lantas memeluknya erat. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggunya hingga tiba di sini, persis di sampingku.


Dengan sebuket bunga matahari yang masih segar di tangan kanannya, serta sebuah keranjang rotan di tangan kirinya, Jirin duduk perlahan di sampingku. Oh, kenapa wajahnya muram? Berbanding terbalik dengan senyum lebar yang sejak tadi tak henti-hentinya menghiasi wajah tampanku.

Perlahan Jirin meletakkan bunga matahari dan keranjang yang ia bawa, lantas menatap hamparan birunya langit di atas sana dimana tak ada sedikitpun awan yang menutupi. Ia bahkan tak menatapku sama sekali.

Oppa,” gumamnya pelan.

Aku menatap wajahnya yang masih menatap langit biru di atas sana. Tanpa ingin menginterupsi, aku memilih diam membiarkan ia melanjutkan kalimat yang ingin dikatakannya.

“Sudah tiga tahun,” ia kemudian diam dan menghirup nafas dalam. Lantas setelahnya kedua kelopaknya terpejam, membiarkan angin sore menerpa kulit wajahnya. Aku hanya bisa tersenyum melihat gadisku ini. Entah dalam keadaan apapun bagiku ia selalu terlihat manis. Apa pun yang ia lakukan.

Oppa... Aku merindukanmu.”

Senyum yang sejak tadi senantiasa bertengger di wajahku seketika menghilang seiring dengan air mata yang mengalir dari sudut mata Jirin. Tanganku terulur hendak menghapus air matanya, namun akhirnya hanya bisa tertahan di udara. Karena aku tahu, aku tak mungkin bisa melakukannya.

“Jirin-ah, jangan menangis. Oppa di sini, di sampingmu,” ucapku berharap ia bisa mendengarnya. Tapi percuma, suaraku ikut terbang bersama hembusan angin hingga tak merambat ke indra pendengaran Jirin.


Puluhan sekon berikutnya Jirin membuka kelopak matanya lantas menghapus kasar air mata yang membasahi wajahnya. Setelahnya, ia menatap benda putih yang melingkar di jari manisnya. Cincin pertunangan kami. Kuperhatikan Jirin tersenyum kecut memandang cincin itu. Cincin yang kuberikan padanya tiga tahun yang lalu.

Aku kembali hanya diam. Memilih untuk menatap wajah yang begitu kurindukan itu yang sekarang tengah menaburkan bunga yang ia bawa dari dalam keranjang rotannya di atas gundukan tanah serta meletakkan buket bunga matahari yang dibawanya tepat di samping batu nisan. Nisan yang bertuliskan nama Kim Yesung.

Hangat tangannya tak lama terasa di seluruh tubuhku ketika kedua lengan rampingnya memeluk erat nisan itu. Membuatku akhirnya harus mati-matian menahan sesak di dalam dada.

Oppa, kau jahat. Hiks... Oppa, apa kau pikir dengan kau pergi seperti ini aku akan bahagia? Tidak Oppa, aku sakit. Hiks, aku merindukanmu Oppa, sangat sangat merindukanmu. Hiks... Oppa, hiks, apah, apah yang haruss hiks aku lakukan sekarang tanpamu Oppa?”

Aku memukul dadaku, berharap mengurangi rasa sakit yang tiba-tiba menjalar ke seluruh rongga dadaku. “Jirin, maafkan aku...” dan suaraku kembali terbang bersama hembusan angin sore.

“Mana janjimu Oppa? Janjimu yang akan membuat taman bunga matahari bersamaku di belakang rumah kita nanti. Kenapa kau pergi sebelum kau menepati janjimu? Hiks, Oppa... Kau bilang kau selalu merasa hangat ketika melihat bunga matahari itu kan? Lantas, hiks, apa di sana kau melihat lebih banyak bunga matahari ketimbang di dunia ini? Hiks...”

Penglihatanku memburam seiring dengan Jirin yang semakin erat memeluk batu nisan itu. “Melihat wajahmu jauh lebih hangat Rin-ah. Wajahmu yang sehangat cahaya mentari pagi. Maaf, aku tak bisa menepati janjiku,” gumamku meskipun aku tahu ia tak mungkin bisa mendengar suaraku.

“Hari ini tepat tiga tahun kau pergi, Oppa. Setelah ini, apa... Apa aku, apa aku masih sanggup hidup? Oppa, nan neol saranghae... Noumu saranghae... hiks...”


Burung gereja bersahutan, seiring dengan jingga yang mulai tampak di ufuk barat. Jirin masih di posisi yang sama, memeluk nisan di atas makamku. Makam pria yang tak bisa memenuhi janjinya. Dan tak akan pernah lagi bisa memenuhi janjinya. Janji bunga matahari.

“Jirin-ah, neo hanaman saranghannika...”

.
.
FIN

Aku keinspirasi bikin fict ini tetiba gegara nonton KRY nyanyi lagu Motohiro Hata itu waktu mereka lagi di Jepang. Keren, aku sukak :D Apalagi yang pas part Yesung, jantungku langsung bertalu nggak karuan sumvah :v
Udah lama nggak bikin fanfiction dengan cast Yesung Oppa. Semoga ini layak baca yah...
Makasih buat yang sudah berkenenan membaca fict tidak berkelas ini ^-^