Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Senin, 29 Februari 2016

(Coretan Isah) Sakit Hati atau Patah Hati?



CORETAN ISAH #2
(Ditulis pada 15 Februari 2016)

“Sakit Hati atau Patah Hati?”

Waduh. Kenapa tiba-tiba hari ini jadi pengen nulis beginian? Yah, mau bagaimana lagi, saya mengikuti suasana hati saja untuk tulisan kedua Coretan Isah ini :D

Kira-kira apa perbedaan antara sakit hati dan patah hati? Mungkin di antara kita semua hampir semuanya pernah mengalami sakit hati ataupun patah hati. Tul tidak?

Saya rasa perbedaannya cukup jelas. Kalau sakit hati itu kondisi di mana hati kita terluka akibat suatu tindakan atau perbuatan maupun perkataan orang lain. Kata sakit dalam KBBI berarti; sa.kit a berasa tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh karena menderita sesuatu (demam, sakit perut, dsb). Sedangkan sakit hati dalam KBBI berarti; merasa tidak senang (dendam, benci, dsb) karena dihina (dilukai hatinya).

Pasti pada tahu donk lirik dalam sebuah lagu yang isinya seperti ini, “Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati.” Itu lagu dangdut, dan saya mendengar lagu itu ketika masih kelas satu SD. Berhubung saya yang masih berpikiran anak-anak saat itu terlalu berlebihan dalam mengkritik lagu, saya langsung berseru kepada paman saya yang memutar lagu tersebut melalui radionya.

“Paman, lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Itu yang nyanyi pasti nggak pernah sakit gigi kan? Rasanya sakit Paman, sampai nggak bisa makan.”

Gubbraakk…

Saya terus termakan gagasan keliru tersebut sampai akhirnya benar-benar mengalami yang namanya sakit hati sungguhan. Sebelumnya, saking penasarannya kenapa banyak orang yang menangis karena sakit hati, saya sampai berdoa semoga suatu hari nanti bisa juga merasakan sakit hati. Sial >,< saya bahkan hampir mengutuk pikiran kekanakan saya karena pernah berdo’a sesuatu yang seperti itu dan akhirnya kejadian T_T

Ternyata benar. Sakit gigi tinggal pergi ke dokter, lalu diberi obat dan rutin sikat gigi. Dan sakit gigipun hilang. Setelahnya kembali bisa makan cokelat ataupun permen, juga makanan sebangsanya yang manis-manis. Sementara sakit hati? Wow, jangan tanya berapa lama sembuhnya. Sudah pasti bertahun-tahun, bahkan ada yang sampai tak terobati saking sakitnya. Juga penderitaan ketika sakit itu loh, Masya Allah sekali.

Biasanya sakit hati itu terjadi karena perbuatan maupun perkataan orang lain yang terlalu dimasukkan ke hati. Apalagi jika orang tersebut terlalu sensitif, biasanya cepat sekali sakit hati. Ada loh beberapa teman saya yang tidak bisa salah sedikit, dia akan langsung sakit hati hanya karena perkataan orang lain yang menyinggung perasaannya. Sekalipun orang lain tersebut hanya bercanda.

Kalau sudah sakit hati, serasa diri ini paling nelangsa sedunia. Merasa beban hidup paling berat, merasa sulit bernafas, diare, muntah-muntah, sulit tidur, dan jika sakit berlanjut segera hubungi mantri terdekat. *ini apaan sih -__-*

Jadi sakit hati diakibatkan dari faktor luar. Ini menurut saya loh. Akibat orang lain berkata-kata atau berbuat tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain akibat dari tindakan ataupun perkataannya. Sekali lagi, ini hanya menurut pendapat saya :p LOL

Lalu bagaimana dengan patah hati. Ah, ini pasti bikin baper kan yah XD PATAH HATI? Hari gini masih patah hati? Halo… Kiamat sudah hampir dekat boys n gals, buat apa sih patah hati.

Eh, tapi apa sih patah hati itu?

Definisi patah hati dalam KBBI ialah; ki 1 cabar hati; hilang keberanian; 2 hilang kemampuan; tidak mau berusaha (berkumpul) lagi; 3 kecewa karena putus percintaan; kecewa karena harapannya gagal.

Siapa yang tidak pernah patah hati? Ah, bohong banget nih yang ngaku nggak pernah.

Patah hati itu tidak hanya karena percintaan kan? Sekalipun banyak yang mengidentikkan patah hati dengan sesuatu yang berbau hubungan antara pria dan wanita yang kandas. Tapi banyak sekali penyebab patah hati itu. Salah satu yang paling sering dialami adalah kenyataan yang tidak sesuai harapan.

Sudah belajar keras, eh tau-tau dapat nilai C T_T (ini pengalaman pribadi). Sudah menabung susah payah, rela tidak jajan demi bisa membeli tiket konser idola kesayangan, sekalinya tiket sudah di tangan, tidak dapat restu orang tua (Sumpah, ini yang paling nyesek). Berharap jadian sama doi yang sering kasih harapan, taunya si doi jadian sama sahabat sendiri (kalo ini sih naudzubillah deh XD).

Jika sudah patah hati, nafsu makan pun hilang. Bahkan ada yang berat badannya turun drastis (Ini pun pengalaman pribadi :p). Ada juga yang kepribadiannya biasanya ceria langsung jadi pendiam, ada yang biasanya rajin belajar jadi tidak semangat belajar. Ugh, rasanya seperti tidak memiliki semangat hidup. Betul apa bujur? #Eh?

Jadi sepertinya jelas kan ya perbedaan sakit hati dan patah hati itu? Kalau sudah jelas kita akhiri sampai sekian, hag hag hag :v

Kalau sakit hati, ya tinggal dikasih obat biar tidak sakit. Kalau patah hati, ya tinggal disambung biar tidak patah (apa deh -,-)

Lalu persamaannya? Yang pasti sama-sama kondisi hati yang tidak enak, kondisi hati yang down membuat sang pemilik hati kecewa, sedih, juga hilang semangat.

Bagaimana caranya supaya tidak patah hati ataupun sakit hati?

Nah, ini pertanyaan menarik. Menurut pengalaman saya yang tidak terlalu berpengalaman ini(?) ketika dilanda sakit hati ataupun patah hati, langsung istighfar. Minta sama pemilik hati kita, minta sama Allah. Minta diberi kekuatan menghadapi sakit hati maupun patah hati yang sedang dialami. Tapi kalau menurut saya, jangan meminta untuk dihilangkan rasa sakit atau patah hati itu. Justru dengan adanya sakit hati dan patah hati itu, menjadikan pembelajaran untuk kita sebagai pendewasaan diri juga agar ke depannya kita bisa melalui ujian yang lebih berat lagi.

Bukankah sudah jelas Allah katakan, kalau sudah kita mengaku beriman lantas masa iya kita nggak diuji? Ya kan?

Saya memang tidak expert masalah solusi. Tapi solusi terbaik bagi saya, ya pasti kembali kepada Allah. Allah kasih kita sakit hati, Allah kasih kita patah hati, mungkin karena kita sudah terlalu lalai, sudah terlalu jauh dari-Nya.

Maka Allah tarik lah kita mendekat pada-Nya dengan adanya sakit hati dan patah hati itu. Kita menangis, kita sujud, kita pasrah kepada Allah. Saya tidak sembarangan menulis ini. Saya menuliskannya berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami. Serius deh.

Jadi, cara PALING AMPUH supaya tidak sakit hati apalagi patah hati, JANGAN BERHARAP DAN BERGANTUNG KEPADA SELAIN ALLAH SWT. Udah gitu aja.

Coba saja buktikan, dijamin… dijamin eumm… dijamin apa ya? Coba saja dulu, buktikah ketauhidan kita hehe.

Sekian Coretan Isah yang kedua ini, mungkin isinya malah melantur tapi begitulah adanya. Harap maklum, masih pemula. Tapi saya sadari, sebagai pemula tidak juga selalunya dimaklumi jika isi tulisan tidak sesuai dengan judul tulisan. Maka ke depannya insya Allah akan coba lagi belajar.

Salam literasi ^^

(Coretan Isah) Suka Duka sebagai Mahasiswa STIE Widya Praja



CORETAN ISAH #1
(Ditulis pada 14 Februari 2016)

“Suka Duka sebagai Mahasiswa STIE Widya Praja”

Sebelum saya menuliskan lebih detail mengenai penjabaran dari judul tulisan yang saya buat, ada baiknya saya beberkan dulu alasan saya mulai menulis coretan ini.

Sebagai salah satu anggota yang telah bergabung lebih dari satu tahun dalam Komunitas Bisa Menulis, tak pernah satu postinganpun yang saya post di dinding salah satu grup besar di Indonesia tersebut. Selama ini yang saya lakukan hanya meninggalkan jejak berupa tanda like maupun memberikan komentar pada beberapa postingan yang menarik untuk saya baca.

Alasan utama saya tidak pernah memposting satupun tulisan karena rasa tidak percaya diri yang terlalu besar. Melihat tulisan-tulisan luar biasa yang di post oleh teman-teman KBM, membuat nyali saya ciut dan niatan untuk membuat sebuah tulisan langsung lenyap begitu saja. Hingga akhirnya gelar newbie masih saya sandang sampai sekarang.

Hingga suatu hari seorang anggota KBM mengajak semua member yang masih merasa kesulitan menulis untuk membuat suatu tulisan, minimal satu hari satu postingan. Jadilah saya tertarik untuk melakukannya di blog pribadi saya demi mengasah lagi kemampuan menulis saya. Maka untuk mempermudah saya dalam postingan pertama ini, maka saya akan menuliskan hal yang paling mudah untuk saya jabarkan lebih dulu.

Langsung saja akan saya mulai, check this out.

Suka duka sebagai mahasiswa STIE WP

Jujur saya katakan sebelumnya tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak saat lulus SMK akan menjadi seorang mahasiswa di STIE Widya Praja. Impian saya setelah lulus SMK adalah kuliah di Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan.

Tapi apalah sudah takdir Illahi yang tak bisa ditentang, memasrahkan diri dan menjalani hari sebagai Mahasiswi di WP adalah sebagai bentuk ketaatan pada Rukun Iman kepada Qada dan Qadar yang bisa saya lakukan. Menyerahkan pada Allah bahwa ini adalah jalan terbaik yang Allah pilihkan untuk saya.

Mungkin dengan seperti ini, saya bisa membantu Mama di rumah juga membantu adik saya mengerjakan PR-nya. Jika ke UnLam sudah dipastikan hanya bisa bertemu keluarga disaat libur.

Sebagai seorang mahasiswi yang kuliah dengan biaya sendiri adalah hal yang paling berat tentu saja. Abah tidak punya biaya untuk membantu kuliah saya, jadilah saya bekerja keras demi membiayai kuliah saya sendiri. Insya Allah, akan lebih berkah karena tidak merepotkan orangtua, Aamiin…

Awal masuk WP rasanya ingin berhenti saat itu juga. Karena di kelas saya tidak memiliki kenalan seorangpun. Masing-masing orang sudah memiliki teman sendiri-sendiri juga bahkan beberapa ada yang sudah membentuk kelompok berdasarkan status sosial mereka. Disitulah letak ujian terberat saya. Ingin berhenti, tapi sayang dengan biaya jutaan yang sudah saya keluarkan. Jadilah saya membesarkan diri kalau saya kuliah demi mencari ilmu, tidak perlu teman yang hanya memadang status sosial saja.

Hingga beberapa bulan Alhamdulillah saya memiliki teman dekat, meskipun hanya satu orang. Hal itu berlangsung selama dua semester. Di semester tiga barulah teman saya bertambah setelah saya berpindah tempat duduk. Dan Alhamdulillah lagi, saya mendapatkan teman-teman baik yang juga memiliki semangat belajar cukup tinggi.

Selain sulitnya dalam hal pertemanan, juga karena cuaca yang tidak menentu saat akan pergi ke kampus. WP yang waktu perkuliahannya di mulai pada jam empat sore hingga jam setengah enam sore, lalu dilanjutkan jam setengah delapan sampai jam sembilan malam, tentu sangat sulit jika sudah mulai memasuki musim hujan.

Terkadang saat kuliah malam, turun hujan cukup deras ketika akan pulang. Menunggu hujan reda bagi mahasiswa yang tidak membawa mantel hujan itu sudah pasti. Tapi terkadang jika hujannya terlalu lama, tentu saja dipastikan akan pulang hampir tengah malam. Begitu juga jika sore, kadang sampai adzan magrib berkumandang barulah bisa pulang ke rumah.

Jika dikatakan saya menyesal masuk WP, sih, iya. Karena ada beberapa dosen yang tidak kompeten dalam mengajar. Selain tidak kompeten, parahnya lagi beberapa dosen tersebut memberikan penilaian subjektif kepada mahasiswanya. Hal itu yang paling saya sesalkan juga sahabat saya yang dari semester satu sampai lima tidak sekelas dengan saya. Tapi Alhamdulillah semester enam ini kami sekelas jadi saya memiliki teman dekat di kelas.

Ada dosen yang mengajarnya hanya mengejar materi kuliah, bahkan satu hari kami harus menghabiskan satu bab yang banyaknya, masya Allah. Beliau tidak memperdulikan apakah mahasiswanya mengerti atau tidak. Dan yang semakin mengesalkan adalah, soal mid juga final yang sangat sulit bagi kami para mahasiswa untuk mejawabnya. Sekali lagi, saya merasa rugi sudah membayar uang kuliah jika tak ada sedikitpun ilmu yang saya peroleh. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya bagi “Beliau”…

Lain lagi dengan dosen ‘senior’ yang mengajar berulang-ulang, tiap pertemuan hanya itu saja diulang-ulang materi yang disampaikan. Bahkan beliau tidak peduli saat mengajar apakah mahasiswanya mendengarkan atau tidak. Saya semakin kesal ketika hasil KHS dibagikan tak pernah dapat nilai memuaskan dari mata kuliahnya. Padahal saya sudah belajar juga menjawab sesuai materi yang disampaikannya. Tapi beberapa mahasiswa yang beliau kenal mendapat nilai ‘A’. Woow, sekali lagi, penilaian subjektif yang membuat saya hampir ingin membom kampus saya sendiri.

Kejadian mengesalkan yang baru saja terjadi ketika pembagian KHS semester lima. Untuk pertama kalinya saya mendapatkan nilai C, dan langsung MUNCUL NILAI ‘C’ DUA MATA KULIAH! Keterlaluan saya pikir ketika KHS berada di tangan saya. Salah satu mata kuliah yang mengajar adalah dosen ‘senior’ yang bahkan ketika mengajar menurut saya lebih baik saya tidak usah kuliah dan memperlajari materi itu di rumah. Toh tak ada juga ilmu yang saya dapatkan dari penjelasannya. Ditambah, saya yang sudah mengerjakan dari awal sampai akhir tugas kelompok, malah saya yang mendapat nilai paling rendah.

Nilai C satunya lagi dari dosen yang JARANG sekali masuk. Hebat sekali bukan suasana di kampus saya? Saya benar-benar kecewa dengan penilaian beberapa dosen yang wallahualam apakah itu memang nilai sebenarnya atau tidak. Sekali lagi, saya kecewa dengan penilaian beberapa dosen.

Tapi di samping beberapa dosen ‘mengesalkan’ tadi, ada juga kok masih dosen yang memang cerdas, juga bisa memberikan saya wawasan yang tidak bisa saya pelajari secara otodidak. Saya ucapkan terima kasih untuk dosen-dosen yang memang memberikan nilai secara adil juga tidak hanya subjektif tapi juga objektif. Yang sudah membuat saya tidak merasa rugi duduk di bangku perkuliahan. Dosen-dosen yang sudah membuka wawasan saya, plus perlahan mengubah mental “tempe” saya. Semoga Allah membalas ilmu yang telah kalian bagikan kepada kami J

Yah, sekiranya cukup sekian CORETAN ISAH kali ini. Hanya ini yang mampu saya tulis untuk tulisan pertama ini.

Bagi yang membaca tulisan ini, saya ucapkan beribu terima kasih karena ini hanyalah coretan seorang pemula yang tidak tahu diri bermimpi untuk bisa menjadi penulis seperti Bunda Asma Nadia dan Om Isa Alamsyah.

Terima kasih…

Salam literasi ^^

Minggu, 14 Februari 2016

(Fanfiction) The Craziest Morning


The Craziest Morning

.
.

Author:
Aisyah (@cloudisah)

.

Cast:
You and All of BAP’s Members

.
.
***

Alarm dari ponsel di atas meja nakas memecah keheningan di pagiku yang damai. Lagu I’m The Best dari 2NE1 yang sengaja kujadikan nada alarm berhasil membuat Ayah mengetuk pintuk kamarku berkali-kali karena nyaringnya suara alarm yang memenuhi sampai seluruh rumah. Dengan malas kuraba benda persegi panjang di atas nakas itu tanpa repot-repot membuka mata, lantas kulepas baterai ponselku dengan mata yang masih tertutup rapat.

Aku benar-benar malas bertemu dengan hari Senin.
Tugas-tugas kuliahku menumpuk dan hari ini harus sudah diserahkan kepada dosen. Tssk… Bahkan membayangkan wajah dosen Manajemen Operasi dan Manajemen Pemasaran sudah membuat kepalaku berdenyut hebat.

Bukannya aku belum mengerjakan sama sekali tugas-tugas itu. Aku sudah mengerjakannya dan tinggal menyelesaikan bagian akhirnya saja. Hanya saja, aku sungguh bosan selalu ditugasi membuat karya tulis ataupun makalah dan aku bahkan muak melihat Ms. Word pada layar laptopku.

Hell…

Mendekati minggu tenang dalam rangka menghadapi UAS seharusnya para dosen itu tidak perlu repot-repot membebani mahasiswanya dengan tugas yang seabrek banyaknya. Ini sih bukan minggu tenang namanya. Huhh, menyebalkan.

Kurasakan seseorang menyenggol pelan bahuku. Kutebak pasti adikku yang disuruh Mama membangunkanku dari tidur damaiku. Oh, bisakah waktu kembali ke hari Minggu saja? Aku tidak ingin pergi ke kampus hari ini -_-

“Hey, bangun. Sudah jam tujuh kurang lima menit. Nanti Nuna terlambat lagi ke kampus.”

Heh? Kenapa suara adik laki-lakiku berubah jadi suara pria dewasa seperti itu? Adikku kan masih SMP, dan ia tidak mungkin mengalami pubertas dalam waktu satu malam. Dan, apa yang dikatakannya tadi? Nuna? Memangnya aku sedang berada dalam drama Korea?

Dengan berat kubuka kedua kelopak mataku…

Oh, baiklah. Sepertinya aku masih bermimpi sekarang.

Aku mendapati seorang Jongup tersenyum lebar tepat di sampingku. Dengan kecepatan cahaya aku bangkit duduk lantas mengucek mataku berkali-kali. Sial! Kenapa aku masih bermimpi? Aku bisa terlambat ke kampus jika masih keenakan bermimpi sekarang. Kurasa aku harus kembali tidur agar bisa kembali ke dunia nyataku.

“Ayo Nuna, Mama sudah menyiapkan sarapan. Cepat ke dapur sebelum Himchan Hyung turun tangan dan membangunkan Nuna secara tidak manusiawi,” Jongup berdiri setelahnya dan berdiri di ambang pintu menungguku mengikutinya.

Himchan? Apa lagi ini? Kenapa ada member BAP dalam mimpiku?

“Kurasa aku harus kembali tidur. Jongup, aku tahu kalau aku sekarang ini terlalu menggilai kalian berenam apalagi setelah comeback kalian. Tapi, aku tidak ingin menjadi gila dengan bermimpi seperti ini bersama kalian,” ucapku serak seperti orang bodoh.

Kulihat Jongup menatapku tanpa ekspresi. “Kurasa tadi Nuna bermimpi aneh. Sudahlah, cepat ke dapur dan berhenti bicara yang tidak-tidak,” Jongup berjalan meninggalkanku sendirian di kamar.

Ragu, aku mencoba melangkahkan kakiku perlahan ke luar kamar. Setidaknya, dalam mimpi ini aku masih berada di dalam rumahku sendiri.

Nuna! Tolong bantu aku memasang dasi ini, ayo Nuna cepat aku harus buru-buru ke sekolah…”

Seorang pria tinggi yang sangat aku ketahui namanya menyodorkan padaku dasi SMA yang membuatku mau tak mau memasangkan dasi itu untuknya. Ini benar-benar gila. Kenapa aku merasa ini sangat nyata? Berapa lama lagi aku harus bermimpi seperti ini???

“Terima kasih Nuna, Zelo pamit ke sekolah dulu—”

~chuu

Kedua mataku melotot sempurna setelah pria tinggi bernama Zelo itu mengecup pipi kananku. Hey! Apa-apaan dia?

Belum sempat aku berteriak, ia sudah menghilang keluar rumah. Aku masih bergeming tak percaya. Jangan-jangan ini bukan mimpi. Jangan-jangan aku terpilih sebagai fans yang dikerjai member BAP dan ada banyak kamera CCTV di setiap sudut rumahku.

Baru saja aku hendak melirik sudut rumah, sebuah lengan besar melingkar di leherku. Aku kembali terkejut ketika—

“Bagaimana tidurmu tadi malam saudara kembarku? Kurasa kau tidak bermimpi aneh lagi karena aku tidak mendengarmu mengigau dari kamar sebelah.”

—seorang Youngjae berdiri di sampingku seraya merangkulku!

“Saudara kembar?” tanyaku dengan ekspresi seperti orang paling bodoh sedunia.

Youngjae menoyor kepalaku pelan lantas berdecak kesal. “Tidak usah berlebihan seperti itu. Aku tahu kita memang tidak mirip, tapi mau bagaimana lagi kita lahir hanya selisih dua menit saja.” Youngjae berjalan meninggalkanku menuju dapur.

Hey ayolah. Jangankan wajah yang tidak mirip, setahuku lelaki itu lahir bulan Januari dan aku Februari meskipun di tahun yang sama. Kenapa bisa jadi saudara kembar sih?

Dongsaeng kesayangan Oppa baru bangun?” seorang pria dengan suara lebih berat tiba-tiba datang dan mengacak-acak pelan rambutku.

Kali ini aku tidak bisa menahan keterkejutanku dan kedua mataku sudah melotot sempurna ketika retinaku menangkap sosok pria dengan handuk kecil di bahunya, mengenakan setelan olahraga—kemungkinan ia habis oahraga pagi—dengan keringat yang memenuhi tubuhnya membuatnya benar-benar seksi! Ya Tuhan… Sungguh Maha Kuasa Engkau yang telah menciptakan pria rupawan bernama…

Eh? Tunggu dulu. SEORANG BANG YONGGUK ADA DI HADAPANKU SEKARANG??!

“Bang… Bang… Bang Yong..guk?” suaraku rasanya sangat sulit kukeluarkan.

Pria di hadapanku ini menatapku seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kurasa adik perempuanku satu-satunya ini harus segera dicarikan jodohnya agar ia kembali normal.”

Setelah berkata begitu, pria tampan itu berlalu dari hadapanku dan menuju tempat yang sama dengan Youngjae tadi, dapur. Tanpa sadar kakiku melangkah dengan sendirinya menuju tempat yang sama dengan mereka. Kurasa aku sudah terlalu berlebihan menggilai mereka sampai-sampai harus bermimpi menjadi saudara mereka seperti sekarang ini.

Jika sekarang aku adalah tokoh kartun, kemungkinan kedua bola mataku sudah digambarkan keluar dan jatuh dari tempatnya. Di sekeliling meja makan ada semua member BAP, Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae, dan Jongup—minus Zelo karena ia sepertinya buru-buru ke sekolah tadi. Mereka sih tidak terlalu mengejutkanku. Tapi yang benar-benar mengejutkanku adalah...

“Kenapa baru bangun? Ayo cepat sarapan dulu. Anak perempuan  tidak baik bangun kesiangan.”

Itu Ayahku. Ya, Ayahku di dunia nyata. Kenapa Ayah dan Mamaku bisa ikut dalam mimpiku?

Kucubit tanganku sekuat yang kubisa. Aww. Loh, kenapa sakit? Lantas kembali kucubit pipiku. Eh? Sakit! Ini mimpi atau bukan sih???

Aku mendudukkan diriku tepat di samping Daehyun. Astaga, jantungku ingin mencelos saja karena aroma tubuh Daehyun yang wangi benar-benar memenuhi indra penciumanku. Belum lagi Himchan yang duduk di sisi kiriku. Aku-benar-benar-sudah-gila!

“Mau Oppa tuangkan susunya?”

Aku gelagapan ketika Daehyun mengambil gelasku yang kosong dan mulai menuangkan susu vanilla ke dalamnya. Oh tidak. Kumohon semoga wajahku tidak memerah sekarang. Bagaimana mungkin aku sanggup bertahan ketika seorang Jung Daehyun yang notabene-nya adalah member favoritku di BAP duduk tepat di sampingku dan tersenyum manis ke hadapanku. Oh Tuhan tolong aku T_T

“Bagaimana tugas-tugasmu yang seharian kau kerjakan kemarin? Sudah selesai?”

Himchan menanyaiku sembari mengunyah nasi goreng. Nasi goreng ini sangat kukenali. Ini kan nasi goreng buatan Mamaku yang sering Mama buat untuk sarapan keluarga kami.

Oppa, aku sedang mimpi kan? Ini mustahil aku bisa bertemu kalian sebagai saudaraku. Ini hanya mimpi kan?” alih-alih menjawab pertanyaannya, aku malah balik mengajukan pertanyaan.

“Mama sudah bilang, sebelum tidur itu baca doa dulu. Sudah, cepat habiskan sarapanmu,” suara Mama terdengar nyata di telingaku. Aku menatap Mama yang dengan santainya menghabiskan sarapannya dan sesekali tertawa bersama Ayah karena lelucon dari Yongguk Oppa.

Kembali kulirik sudut ruangan. Aku harus memastikan ada CCTV kalau-kalau sekarang aku memang sedang dikerjai untuk program baru TS Entertainment.

“Ckk, saudara kembar menyebalkan. Kenapa malah diam saja? Cepat habiskan sarapanmu, nanti aku bisa terlambat ke kampus juga gara-gara menunggumu,” Youngjae menatapku dengan kesal.

Perlahan aku menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutku. Kenapa rasanya aku seperti mengunyah sungguhan? Ini nasi goreng asli. Sungguh. Ini sangat berbeda dengan keadaan dalam mimpi pada umumnya.

“Kamu sakit?”  Daehyun menyentuh pelan keningku.

Oh please jangan lakukan itu. Aku bisa mengalami serangan jantung mendadak karena Daehyun terus-terusan bersikap sebagai kakak yang manis dan baik hati.

“Aku tidak sakit, Oppa,” aku berusaha memasang senyum terbaik agar tidak terlihat buruk di hadapan Daehyun.

“Hahaha, kurasa dia terlalu stress dengan tugas-tugasnya Hyung,” seru Jongup lantas setelahnya ia dan Youngjae ber-high five ria.

“Sudah-sudah. Cepat habiskan sarapan kalian lalu setelah itu pergi ke kampus,” Himchan menengahi.

Aku melirik Daehyun. Sepertinya ia menikmati sekali nasi goreng buatan Mama.

Kembali aku melirik sudut lain di dapur. Ckk, aku sama sekali tidak menemukan CCTV. Jadi, sebenarnya ini apa? Mimpi atau aku pindah ke dunia lain sih? Eh, lagipula jika ini bukan mimpi, bagaimana mungkin mereka fasih berbahasa Indonesia?

“Jongup, hari ini kau tidak ada jadwal kuliah kan? Hari ini temani aku dan Daehyun membantu Ayah mencabut singkong di kebun. Sepertinya kita akan panen besar hari ini.”

Ucapan Yongguk Oppa barusan berhasil membuatku tersedak. Dengan cepat Himchan menyodorkan gelas berisi susu yang tadi dituangkan Daehyun ke hadapanku. Aku segera meminumnya sembari Daehyun mengelus pelan punggungku.

Aku jadi mulai membayangkan, bagaimana keadaan tiga pria tampan itu yang diterpa sinar matahari langsung di kebun singkong Ayah sambil mencabut batang-batang singkong. Ya Tuhan, pasti sungguh mengenaskan sekali keadaan mereka. Berbanding terbalik dengan keadaan mereka saat di stage.

“Aku sudah selesai sarapan. Aku akan membantumu menyelesaikan tugas Manajemen Operasi dan Karya Tulis Manajemen Pemasaran. Jadi setelah ini kau harus bersiap-siap ke kampus supaya kita tidak terlambat. Ayo cepat,” ucap Youngjae lantas meninggalkan dapur.

Kupikir dengan aku yang berada di tengah-tengah member BAP ini, tugas-tugas itu sudah lenyap. Tsk, sepertinya hidupku tidak akan tenang dari tugas-tugas dosen itu.

“Awwwhh…”

“Kamu kenapa??” sayup-sayup kudengar suara Daehyun Oppa. “Hey, ada apa?” suara Daehyun Oppa terdengar semakin memelan.

“Awwwh,” aku merasakan mataku perih seperti kemasukan air. Semakin lama air itu serasa semakin banyak dan membasahi seluruh wajahku.

“Woooey bangun!!! Dari tadi dibangunin sampai Ayah marah-marah tuh kakak masih keenakan tidur.”

Hah? Itu suara adik laki-lakiku satu-satunya. Suara khas anak SMP.

Dengan cepat kubuka mataku. Kudapati adikku membawa sebuah gelas kaca yang sudah kosong isinya. Jangan-jangan tadi ia menumpahkan semuanya ke wajahku??!

“Hyaaaa! Kenapa kamu menyiram wajahku huhhh??” teriakku heboh dan ingin mencubit habis-habisan lengannya.

Belum sempat aku mencapai lengannya, adik laki-lakiku yang kurang ajar itu sudah menghilang dari dalam kamarku. Ckk, adik menyebalkan!

Tsk, jadi tadi hanya mimpi menjadi saudara member BAP.. huhh.

Kutatap meja belajarku yang dipenuhi dengan kertas dan juga buku-buku yang berserakan. Aaggh, aku kembali bertemu tugas-tugas itu lagi.



Kulirik jam dinding. Ya Tuhan! Sudah jam tujuh tepat! Aku belum menyelesaikan bagian akhir tugas-tugas itu. Oh tidak, bagaimana ini? Huwaaa… Yongguk Oppa bawa aku bersamamu ke Korea Selatan…! >_<

.
.
FIN

Mhuehehehehh… kelamaan nggak nulis di blog :p
FF ini aku bikin menjelang UAS saat tugas-tugas malah bergentayangan >_<
Terima kasih yang berkenan membaca FF gaje ini yaaa *big hug*
Syukur-syukur sih kalo ada yang mau baca wkwkwkk :v