Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Senin, 04 Mei 2015

(Cerpen) Bonjour!

BONJOUR!
.
.

Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah
.
.

**^_^**

2015

Aku menatap daftar menu pada papan menu yang terpajang pada dinding cafė di belakang counter. Tertulis dua bahasa di sana. Bahasa Inggris dan bahasa yang tak aku mengerti satu katapun, dan itu sudah pasti bahasa Prancis.


Do you wanna order something, Miss?”

Aku masih mencari-cari sesuatu pada deretan menu tanpa menatap waiter yang baru saja menyapa dari balik counter. Perhatianku tertuju pada chocolat chaud. Sepertinya aku harus mencoba menu yang paling terkenal di Cafė de Flore ini.

I want a cup of chocolat chaud  please.” Aku masih menatap deretan menu di sana. Biasanya kalau ke cafė aku selalu memesan vanilla latte, tapi pengecualian untuk kali ini. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatanku saat berkunjung ke Paris.

Alright, wait a minute Miss.”

Setelah itu aku mengalihkan fokusku dari mengobservasi daftar menu dan memperhatikan seorang waiter pria bertubuh jangkung yang kini membelakangiku karena ia sedang membuatkan pesananku. Semua waiter di Cafė de Flore ini mengenakan apron putih sebagai ciri khas dari cafė ini yang memang bergaya klasik.

Seraya menunggu waiter itu selesai dengan pesananku, kuedarkan netraku ke seluruh penjuru cafė. Cafė ini memiliki interior bergaya art deco, dengan lampu bercahaya kuning dan kursi booth berwarna merah. Bagian luar cafė bergaya klasik khas negara Prancis dengan jendela kaca besar berbingkai kayu.

Here you are...Miss...” kudengar suara waiter itu memelan di akhir kalimatnya.

Aku tersenyum ramah pada waiter yang menyodorkan satu cup chocolat chaud yang kini menatapku dengan ekspresi... err...

Oh Tuhan!

Oksigen tiba-tiba bagaikan duri kecil di dalam paru-paruku. Jantungku rasanya hampir mencelos dari tempatnya. Sistem sarafku seperti berhenti bekerja. Puluhan sekon aku menatapnya tanpa kedip dan mungkin ekspresiku sekarang sudah seperti orang paling bodoh sedunia.

Orang di depanku ini tidak mungkin dia kan? Aku salah lihat kan? Atau mereka mungkin hanya mirip saja, kan?

**^_^**

2009

“Mau kemana, Da?” aku menatap Rida-teman sebangkuku- yang bersiap-siap meninggalkan kelas. “Kan belum jam istirahat.”

“Bosan nih di kelas. Nggak ada guru yang masuk juga. Lagian aku mau cari teman baru di kelas sebelah. Mau ikut?”

Aku menggeleng. “Lagi males. Kamu aja deh, aku di kelas aja.”

Rida hanya mengangguk lantas meninggalkanku sendirian di kelas. Sebenarnya aku tidak benar-benar sendirian. Ada banyak murid di dalam kelas namun aku masih belum mengenal mereka semua. Maklumlah, Masa Orientasi Sekolah baru saja selesai kemarin dan hari ini adalah hari pertama bagi kami murid kelas sepuluh sebagai siswa SMK 1.

“Ditinggal temannya ya?”

Suara bass namun terkesan cempreng mengejutkanku. Aku menatap pemilik suara yang kini tengah berdiri di samping mejaku. Astaga, tubuhnya tinggi sekali. Sampai-sampai aku harus mendongak untuk melihat wajahnya.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Jujur saja aku tidak begitu terbiasa untuk berbasa-basi dengan teman baru.

Setelahnya pria jangkung itu menarik sebuah kursi yang berada di deretan sebelanku dan memposisikannya tepat di samping mejaku lantas ia duduk di kursi itu. “Aku Pur,” ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku.

Aku menyambut tangannya dengan sedikit ragu seraya memperkenalkan diriku. Kulihat ia tersenyum lebar. Membuatku sedikit risih karena aku tak terbiasa berdekatan dengan pria. Terus terang selama aku masih di MTs aku tak pernah berdekatan dengan laki-laki. Itu karena kelasku dulu dipisah antara siswa perempuan dan laki-laki.

“Kamu kok tegang gitu sih? Santai aja kalau sama aku. Mulai sekarang kita adalah teman. Teman sampai kita lulus nanti bahkan sampai setelah lulus..”

Aku kembali hanya tersenyum. Yah, semoga saja aku bisa beradaptasi dengan cepat di sekolah umum ini. Kalau bukan karena sebuah konflik dengan temanku, aku pasti sudah masuk MAN setelah lulus MTs, bukan SMK 1.

**^_^**

2015

Cafė de Flore merupakan salah satu cafė tertua dan paling bergengsi di Paris. Cafė ini terletak di sudut persimpangan jalan Boulevard Saint German dan Rue St. Benoit, Arrondissment 6 kota Paris.

Sekarang aku sedang duduk di salah satu kursi outdoor cafė yang berada di pinggir trotoar. Seraya berusaha menghabiskan dengan susah payah chocolat chaud pesananku yang tiba-tiba rasanya sangat tidak enak di tenggorokanku. Mungkin tidak ada yang salah dengan chocolat chaud ini, tapi karena tenggorokanku yang bagaikan tertusuk jutaan jarum.

Long time no see. How was your life?”

Pertanyaan yang baru saja meluncur dengan mudahnya dari mulutnya membuatku mau tak mau menatapnya yang kini tengah duduk di sampingku. Kupaksakan sebuah senyum meskipun kuakui senyumku pasti terlihat aneh.

I’m good, and you?”

Yeah,  I’m doing fine.”

Entah kenapa setelah itu tenggorokanku tiba-tiba tercekat. Bernafaspun rasanya sulit sekali saat pandangan kami saling bersirobok. Hingga akhirnya aku lebih memilih diam dan netraku kembali beralih pada kendaraan dan juga pedestrian yang berlalu lalang di hadapanku. Pertemuan ini begitu mengejutkanku sampai-sampai aku tak tahu harus berbuat apa dan harus bersikap seperti apa.

Setelahnya hening untuk beberapa menit.

I think I can’t see you anymore.” Pur memberi jeda pada kalimatnya. “Anyway, how long we haven’t met? Eum, almost three years?”

Ia kembali bersuara memecah keheningan di antara kami. Aku hanya mengangguk pelan tanpa menatapnya. Chocolat chaud yang kuminum rasanya semakin tidak enak di kerongkonganku. Tapi aku tak mau membuangnya. Harga minuman ini 7 . Dan aku masih sayang dengan uangku yang sebanyak itu.

Lantas kembali hening. Ada banyak hal yang ingin kukatakan padanya tapi aku tak tahu harus mengatakan yang mana lebih dulu. Pertemuan ini sungguh di luar ekspektasiku dan diluar dugaanku.

It’s so clumsy. You must be surprised, right? Me too. I can’t believe that  I can see you again since we had graduated from Vocational High School about three years ago. So... what are you doing here?”

Kuberanikan diriku kembali menatapnya dan berusaha bersikap senormal mungkin. “Just vacation. How about you?”

Ia terkekeh sebelum menjawab pertanyaanku. Membuat kedua alisku bertaut bingung. “Why? Is there something wrong, Mr. Pur?”

“Nggak. Rasanya aneh kalau kita ngobrol pakai bahasa Inggris. Kita pakai bahasa Indonesia aja ya, soalnya sudah lama aku nggak ngomong pake bahasa Indonesia.” Ia masih terkekeh.

Aku mencibirnya. “Memangnya kamu kuliah di sini?” tebakku. Ia mengangguk membuatku hampir tersedak saliva-ku sendiri. “Really?”

“Memangnya aku kelihatan lagi bohong? Lagian memangnya kamu lupa dulu sama obrolan kita waktu masih sekolah?”

Mulutku menganga tidak percaya. Seorang Purwanto... Benar-benar kuliah di Paris??!

**^_^**

2011

“Bentar lagi kita kelas dua belas. Nanti kalau sudah lulus mau lanjut kemana kamu?” tanya Pur dengan mata terpejam sambil menyandarkan punggungnya pada dinding kelas.

Sekarang ini aku dan Pur tengah duduk di belakang kelas karena guru yang mengajar mata pelajaran Kewirausahaan sedang tidak masuk.

“Belum ada planning. Lagian masih ada waktu satu tahun sebelum benar-benar lulus dari sekolah ini. Kamu sendiri gimana?”

Kedua kelopak mata Pur terbuka lantas ia memicingkan matanya menatapku. “Jangan-jangan kamu langsung nikah habis lulus, haha...”

Aku mempoutkan bibirku kesal. “Enak aja. Jangan-jangan kamu tuh.”

“Hyee.. aku sih masih mau lanjut kuliah dulu,” jawabnya dan kembali memejamkan kedua matanya.

“Kuliah di mana?”

“Paris,” jawabnya cepat.

Aku terkekeh. “Huh. Ngawur kamu. Paris itu jauh. Luar negri. Impossible banget kalo kamu bisa sampe kuliah di sana. Lagian kalo mimpi itu yang normal-normal aja kali Pur.”

“Itu normal kok.”

“Buat aku itu nggak normal. Banget,” tekanku pada bagian terakhir kalimatku.

Pur masih tetap mempertahankan kedua matanya yang terpejam. “Yah, terserah kamu deh.”

**^_^**

2015

Chocolate chaud di dalam cup yang kugenggam sudah habis beberapa menit yang lalu. Sementara kami berdua masih terkurung dalam obrolah yang canggung ini. Menurutku canggung, entah bagaimana menurutnya.

“Rasanya aneh kita ngobrol begini. Seolah-olah kita teman dekat yang lama nggak ketemu,” aku mencoba memulai pembicaraan setelah beberapa menit kembali tak ada satupun di antara kami yang membuka suara. Selama beberapa menit yang kudengar hanya orang-orang di sekitarku berbicara dalam bahasa yang begitu asing di telingaku. Bahasa Prancis, mungkin.

Kulihat Pur menatap bingung ke arahku, lantas ia menarik nafas dalam. Ekspresinya berubah dan menatap bersalah padaku. “Kita memang pernah dekat. Dulu.”

Kuhela nafas panjang. Terus terang aku tak ingin mengingat kejadian itu lagi. Kejadian yang benar-benar membuat masa SMA-ku buruk. Dan kurasa tadi aku sudah salah mengangkat tema untuk bahan obrolan.

“Kamu kerja part time di sini?” ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan. Lagipula aku memang penasaran kenapa ia bisa bekerja di cafė terkenal ini. Yah meskipun sekarang Pur sudah tak mengenakan apronnya lagi.

“Yah begitulah,” jawabnya singkat.

Aku mengangguk pelan. Cup di genggamanku sudah tak berbentuk lagi karena tadi aku beberapa kali meremasnya. Aku berharap waktu cepat berputar agar aku bisa pergi dari tempat ini secepatnya.

“Sendirian?”

Aku menggeleng. Kulirik sebentar jam di pergelangan tanganku. Seharusnya sepuluh menit yang lalu seseorang sudah menjemputku. Jadi aku tak perlu terjebak dalam konversasi  canggung ini.

“Dari pada bosan nunggu, gimana kalau kutemani jalan-jalan di sekitar sini?”

Pur sepertinya bisa membaca pikiranku. Benar. Aku sedang menunggu seseorang. Dan aku harap ia segera datang. Aku hanya bisa kembali mengangguk dan detik berikutnya Pur sudah menarik pergelangan tanganku untuk mengikutinya berjalan meninggalkan cafė.

“Kebetulan shift kerjaku sudah habis. Ohya, kamu sudah lihat Patung Flora belum? Patung Dewi Romawi untuk bunga dan musim semi yang merupakan asal dari nama Cafė de Flore. Patung itu ada di seberang jalan Boulevard Saint German.”

Lagi-lagi aku hanya menjawabnya dengan bahasa tubuh. Aku menggeleng pelan seraya mensejajarkan langkah kecilku dengan langkahnya di pinggir jalan.

Kami berjalan beriringan dan sangat pelan. Banyak sekali pedestrian di sepanjang jalan yang kami lalui. Aku beruntung diajak ke Paris saat musim semi seperti ini. Karena aku bisa melihat berbagai bunga yang-aku-tak-tahu-namanya-karena tak ada di Indonesia, bermekaran tumbuh dan bunga-bunga itu begitu cantik.

When we were in 3rd grade of High School, why did you avoid me? Did I do something wrong?” tiba-tiba saja kalimat tanya itu meluncur dengan sendirinya dari mulutku tanpa kurencanakan. Yah baiklah. Sejujurnya memang sejak tadi pertanyaan itu terus berkelebat di pikiranku.

Pur menghentikan langkahnya, membuatku juga turut menghentikan langkahku. Aku menatap lurus trotoar di hadapanku tanpa berani menatapnya. Oke, aku salah. Lagi-lagi aku salah mengangkat tema pembicaraan. Jangan dijawab. Kumohon jangan dijawab.

**^_^**

2012

“Kamu kenapa sih? Bentar lagi Ujian Nasional. Kok lesu banget? Kayak nggak dikasih makan aja di rumah,” celetuk Rida saat kami sedang berjalan bersama menuju perpustakaan.

Kupaksakan sebuah senyum. “Aku nggak apa-apa kok. Emang aku kelihatannya lesu banget?”

“Yap. Kamu nggak banyak omong lagi sekarang. Aneh aja sih.”

Aku terkekeh pelan. “Aku cuman pusing mikirin ujian nanti, Da,” jawabku sedikit berbohong.

Langkahku terhenti saat berdiri di ambang pintu perpustakaan. Dari sudut mataku bisa kulihat Rida terlihat bingung karena aku bergeming di ambang pintu.

“Hey, mau masuk nggak?”

Aku tak begitu menghiraukan pertanyaannya. Di dalam sana ada pria itu yang sepertinya sama sekali tak ingin melihatku. Terlihat sekali tadi ia sempat menatapku namun buru-buru ia membereskan bukunya dan bersiap meninggalkan perpustakaan.

Rida berjalan medahuluiku memasuki perpustakaan. Sepertinya Rida tak menyadari dengan situasi yang sedang kuhadapi sekarang.

Sebelum pria itu benar-benar berjalan melewatiku untuk meninggalkan perpustakaan, dengan cepat aku menghentikan langkahnya. Aku sudah tidak tahan lagi dengan perlakuannya padaku beberapa bulan terakhir ini.

“Bisa ngomong bentar?” ucapku cepat dan menahan pergelangan tangannya.

Kulihat ia terkejut dengan skinship yang aku lakukan dan dengan cepat ia melepas tanganku yang mencengkram pergelangannya. “Aku sibuk. Nanti aja-”

“Kamu selalu bilang gitu tiap aku mau ngomong sama kamu. Sebenernya kamu ini kenapa? Kenapa kamu ngejauhin aku? Apa salah aku ke kamu Pur? Kalo aku salah ngomong, jangan didiemin kayak gini.”

“Kalo kamu cuman mau ngomong hal-hal yang nggak penting kayak gini, mending-”

“Jadi kamu anggap ini nggak penting??!” potongku lagi. “Aku nggak nyangka, kamu itu kekanak-kanakan banget Pur. Aku pikir kamu itu beda dari yang lain, ternyata kamu lebih parah!” aku segera berlari meninggalkannya.

Aku tak perduli dengan orang-orang yang menatapku aneh saat aku belari menuju kamar mandi. Sekuat tenaga aku menahan air mata yang mendesak untuk keluar. Aku benci Pur. Aku benci!

**^_^**

2015

Kami kembali melanjutkan langkah dalam diam. Tungkaiku terasa berat. Kembali aku tak mendapatkan jawaban apa-apa karena Pur lebih memilih diam dan tak mengatakan sepatah katapun. Lagipula aku tak mengharapkan ia menjawab pertanyaanku. Sampai kami di dekat Patung Flora, yang ada hanya hening melingkupi kami. Bahkan suara-suara di sekitar kami seolah tak merambat ke udara karena aku tak bisa mendengar apapun selain semilir angin.

Langkah kami berhenti di depan Patung Flora. Aku meremas jari-jariku dan tak berani menatap sedikitpun padanya. Seharusnya pertemuan ini tak usah terjadi. Seharusnya aku tak perlu lagi bertemu dengannya dan mengubur dalam-dalam kisah SMA-ku.

I’m gonna answer your question, so-”

 Stop it,” potongku cepat. “Nggak usah dijawab. Nggak perlu ada jawaban. Lagipula nggak ada yang perlu dijawab dan nggak ada yang harus dijawab.”

“Tapi-”

“Lagian kita juga nggak sengaja ketemu kan? Dan aku... sudah ngelupain masa SMK dulu. Terutama tentang kamu.”

Bohong. Tentu saja aku bohong. Sampai detik inipun aku masih tak bisa melupakan pria di hadapanku ini. Segalanya. Sejak pertemuan pertama kami, sampai terakhir kami bertemu sekitar tiga tahun yang lalu.

But you haven’t heard my reason,” Pur menyentuh kedua bahuku dengan tangan besarnya membuatku kini tepat menghadapnya dan pandangan kami saling bersirobok. Aku bisa dengan jelas melihat manik kelamnya yang menghujam irisku, membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku ke arah lain. “Dulu... Sebenenya aku-”

“Sayang!”

Suara bass yang sangat kukenali memenuhi indra pendengaranku. Membuatku menelengkan kepalaku mencari sumber suara. Dan benar saja, aku melihatnya berdiri tak jauh dari tempatku dan Pur berada sekarang.

Pur melepaskan tangannya yang bertengger di bahuku dan menatap pria yang kini sudah berdiri di sampingku setelah tadi ia berlari-lari kecil menghampiri kami. Kedua pria dihadapnku ini lantas saling bertatapan dengan ekspresi kuriositas yang bisa kulihat dengan jelas.

“Maaf terlambat,” ia mengusap pelan puncak kepalaku seraya tersenyum membuatku tak tahan untuk ikut menarik kedua sudut bibirku. “Siapa?” tanyanya padaku setelah kembali menatap Pur untuk kedua kalinya.

Aku menatap Pur terlebih dahulu. “Teman. Teman lama waktu SMK,” jawabku dengan tetap mempertahankan lengkungan di bibirku.

“Oh ya sudah. Eum, kalau begitu kami permisi dulu ya. Makasih sudah jagain gadis pendek ini tadi.” Ia tersenyum ke arah Pur, namun kulihat Pur hanya diam saja.

Aku mempoutkan bibirku kesal. Seenaknya saja dia selalu mengataiku gadis pendek. Sebenarnya aku ini kekasihnya atau bukan sih. Huh.

Aku menatap pria yang sedikit lebih pendek dari Pur yang kini menungguku melakukan sesuatu. “Apa?” tanyaku bingung.

“Pamit dulu sama teman kamu,” perintahnya.

Aku menatap tak enak pada Pur. “Pur. Aku jalan dulu. Makasih tadi udah nemanin aku. Dan eum, sukses buat kuliahnya ya. Bye,” aku melambaikan tanganku riang seolah tak terjadi apapun sebelumnya.

Dan kekasihku yang cerewet ini sudah menarik tanganku meninggalkan Pur sendirian di depan Patung Flora. Pur tak sempat mengatakan apapun padaku tadi. Sampai kami berbelok di persimpangan jalan, aku melihat Pur masih bergeming di tempatnya tadi.

Biarlah. Lebih baik aku tak tahu alasannya saat itu menjauhiku. Lebih baik seperti ini sehingga aku dan Pur tak perlu ada keterikatan lagi selain sebagai teman satu sekolah di masa SMK. Meskipun dulu saat SMK Pur-lah orang yang mengisi hari-hariku hingga jadi berwarna, namun ia juga yang membuat masa SMK-ku menjadi suram.

Dia. Purwanto. Pria yang selalu terlintas namanya dalam benakku. Pria yang dulu memiliki banyak tempat di hatiku. Bahkan sampai saat ini, ia masih memiliki tempat meskipun ada nama kekasihku di dalam hatiku.

Pertemuan ini seperti mimpi di musim semi.

Kuharap suatu saat nanti aku bisa kembali bertemu dengannya. Dan kami bisa membicarakan banyak hal. Suatu saat. Jika itu memungkinkan.

.
.
FIN

Thanks a lot for ma best friend ever a.k.a Kukang a.k.a Iwin... Thank you for accompanying me when I typed this story some days ago J
And for someone who I lent his name on my story, thank you so much ^^
For my beloved readers, a lot of love for you all ;)
Thank you for reading ^-^ *big hug*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar