The Creepy Story At Midnight
.
.
Author:
Aisyah
a.k.a Cloudisah
.
.
Cast:
All of B.A.P’s Member
Author
a.k.a Isah a.k.a musuh bebuyutan Yongguk ikutan mampang
Warning:
Typo, Bahasa tidak sesuai EYD, Alur cerita garing+hambar...
.
(^=^)
Setengah lusin alien itu tampak membentuk formasi lingkaran
di tengah-tengah ruangan pengap yang gelap sepenuhnya. Di tengah formasi
lingkaran itu terdapat sebuah pelita kecil yang cukup memberi sedikit
penerangan pada setengah lusin alien tersebut.
/ini kok berasa ceritanya serius amat yak/ *plakk... Ketahuan
authornya nggak berjiwa humor.
Back to the
story...
“Jadi siapa yang dapat giliran cerita nih?” ucap Jongup
kurang semangat sambil nepokin nyamuk yang dari tadi terbang-terbang di dekat
telinganya.
Salah satu alien berwajah kucing namun bersuara macan
meletakkan sebuah senter kecil di tengah-tengah formasi lingkaran. “Kita pakai
senter ini. Senter ini akan aku putar lalu siapa yang mendapati kepala senter,
itu artinya dia yang cerita. Gimana?”
Dari temaramnya cahaya pelita, alien berwajah kucing itu
melihat kelima alien yang lain tampak mengangguk patuh. Maka, ia pun mulai
memutar senter kecil tersebut. Alien berwajah bayi namun tubuhnya seperti
jerapah yang duduk di samping Alien berwajah kucing terlihat harap-harap cemas.
Ia benar-benar ingin sekali bercerita. Menceritakan sebuah pengalaman seramnya
saat ia masih di Sekolah Dasar. Saat salah satu teman sekelasnya kerasukan
karena bermain di hutan belakang sekolah.
Sementara alien yang masih sibuk nepokin nyamuk-Jongup-anteng
aja. Dia mah bodo amat mau kedapatan giliran cerita ato nggak. Baginya yang
penting harus segera keluar dari tempat gelap nan pengap ini karena dia capek
dari tadi harus terus menerus nepokin nyamuk-nyamuk tak berdosa yang mencari peruntungan
dengan menghisap darah Jongup.
Dua alien lainnya malah sibuk bercumbu(?) ehh.. nggak ding
bukan. Dua alien itu malah main pukul-pukulan hanya karena salah satu diantara
mereka pinjem talenan-super-canggih (gedget maksudnya) milik salah satu alien
itu namun karena alien yang meminjam talenan-super-canggih itu rada gaptek, yah
akhirnya benda tersebut rusak dan akhirnya tergeletak tak bernyawa.
Jangan lupakan satu alien lagi yang masih nyante dengan pose gentle seraya bersidekap. Alien yang
satu itu memang selalu menjaga image cool-nya
dan tak pernah mau menjatuhkan harga dirinya dengan melakukan tindakan-tindakan
konyol seperti kelima alien lainnya.
Dan senter itupun berhenti berputar.
Semua pasang mata tertuju pada alien yang menjadi sasaran
kepala senter. Alien berwajah bayi mendengus sebal. Sementara yang menjadi
objek membulatkan matanya lebar.
“Yehaaaa! Wuhuuuuu... Akhirnya gue yang dapat giliran cerita,
yeaaaay,” alien itu bertepuk tangan senang dan heboh seperti anak TK yang
sedang meniup lilin ulang tahunnya. Kelima alien lain menatapnya tanpa kedip
dan pandangan aneh. Karena tingkah alien itu berbanding terbalik dengan
tingkahnya beberapa menit yang lalu, yang selalu berpose ‘sok’ gentle.
Menyadari tatapan aneh dari kelima alien lainnya yang
notabene-nya lebih muda darinya itu, alien itupun berdehem dan kembali pada
pose awalnya. Gentle.
“Baiklah kamu yang cerita, Guk-a,” alien berwajah kucing mengambil kembali senter kecilnya.
“Ehemm. Dengarkan baik-baik-“ sang Alien yang mendapat giliran
cerita pun memulai ceritanya.
“Huwaaa.. Hyung
ceritanya seram. Aku takuuuuuut.”
“Gua belom cerita cumi!”
Sang tersangka-Youngjae-menunjukkan cengiran lebarnya.
“Hehe.. Lanjutkan, Hyung.”
“Kalian sudah pernah denger Urband Legend tentang Square
nggak?” tanyanya pada kelima Alien lainnya dengan suara yang dibuat seseram
mungkin. Padahal kan Bang Yongguk meskipun nggak usah dibikin seram suaranya,
emang udah seram duluan dari sononya -_-
*Yongguk: Elu ngomong apa Sah? /death glare membahana/
Isah: /pura-pura nggak denger/
Yongguk: /jitak kepala Isah yang tak berdosa/ Sekali lagi elu
ngatain gue, gue lempar lu ke planet Mato...
Isah: Issh.. Ampuuun Prabu Yongguk /ngelus pala yang mulai
benjol/
Daehyun: Author yang malaaaang*
“Square itu bukannya
bahasa Inggris persegi, Hyung?” kali ini Jongup udah bisa duduk dengan tenang
tanpa nepokin nyamuk. Tadi dia sempat pake lotion
anti nyamuk saat pertengkaran antara author dan Prabu Yongguk.
“Hmm, tepat sekali. Seratus buat Jongup,” ucap Youngjae dengan
pose ‘sok’ pinter.
“Emang kalo bahasa Inggris-nya lingkaran apaan?” si bayi
besar a.k.a Zelo a.k.a Junhong yang dari tadi diem mulai mengeluarkan suaranya.
“Circle,” jawab
Youngjae cepat.
“Kalo segitiga?”
“Triangle,” kembali
Youngjae membuktikan kemampuan bahasa Inggrisnya. Elaah, bahasa Inggris gitu
doank mah cetek... anak SD juga bisa atuh, Jae.
“Segi enam?” kali ini si muka kucing-Himchan-yang juga
ikut-ikutan.
“Hexagon,” Youngjae
mulai besar kepala.
“Kalo aku cinta padamu?”
Youngjae sedikit terkejut dengan pertanyaan barusan, dan
tersenyum menatap Daehyun yang tadi melontarkan pertanyaan itu. “I love you..”
“I love you too, Youngjae-a,” Daehyun membentuk love sign dengan kedua tangannya.
*Eaaa.. DaeJae moment
/Isah guling-guling/*
“Gue jadi cerita nggak sih?” Yongguk mulai nggak nyante.
“Sabar Hyung...
Inget kata Ustadz Maulana, orang sabar itu disayang Tuhan,” sang alien maknae mulai mengingatkan hyung-nya.
“Jel, elu suka nonton Usatadz Maulana jugak?” Jongup kaget
karena si maknae akhirnya kembali ke
jalan yang benar.
“Iya lah, dia suka nonton Ustadz Maulana tiap pagi bareng
gue. Kita kan suka nonton Ustadzah Oki yang cantik. Ya kan Jel?” Himchan pun
ber-high five dengan Zelo.
“Aku juga suka Hyung.
Kita suka nonton itu berdua di kamar, iya kan Dae?”
Daehyun ngangguk-ngangguk pelan jawab pertanyaan Youngjae.
Dia dari tadi ngelirik sang Prabu Yongguk dengan tatapan miris. Gimana nggak
miris coba ngeliat Yongguk yang tadi sudah mulai semangat cerita eh, tau-tau dongsaeng-dongsaengnya malah cerita
sendiri. Dan sekarang Yongguk pundung sambil duduk rada menjauh dari formasi
lingkaran seraya memeluk kedua lututnya dan menggambar abstrak di atas lantai
dengan jari telunjuk kanannya. Kalo ini di komik, Bang Yongguk bakalan
digambarkan dengan garis-garis hitam. Auranya gelap dah pokoknya.
*Yongguk: Gue ini leader
woooy! Kenapa gue selalu dinistakan sih, Sah? Elu dendam banget emangnya
sama gue?
Isah: Kan tampang Oppa
emang cocok buat dinistakan /sembunyi di punggung Daehyun/
Youngjae: Hey, Isah elu ngapain? Daehyun tuh punya
gue.../sewot/
Isah: Enak aja... Daehyun Oppa
punyakuuuu /tarik Daehyun/
Youngjae: /ikutan narik Daehyun/ Kalo elu ambil Daehyun, ntar
nggak ada lagi couple manis di B.A.P
Isah: Tapi kan-
Yongguk: Hiks, gue dikacangin lagi /pundung lagi/
Isah: Jiaah, nih leader
tampang doank preman. Cemen banget sih Oppa...
Yongguk: Gue tembak baru tau lu Sah. Only oneshot, only oneshot.. you only have a chance you know...
/Yongguk nge-dance push up ala MV Oneshot di tengah temaramnya cahaya/
Himchan: Ini cerita lanjut apa kagak? Yang ada gue tembak elu
semua...
Isah: Hehee, oke-oke kita lanjutkan... Action!*
“Loh, Hyung ngapain
di situ? Bukannya Hyung harusnya
cerita?” si Jongup protes karena Yongguk malah duduk menjauh dari mereka.
“ELU SEMUA ITU DONGSAENG
KURANG AJAR TAU GAK! KITA INI NIH LAGI NGADAIN CERITA SERAM DI MALAM HARI,
KENAPA ELU SEMUA MALAH SIBUK CERITA SENDIRI SIIIIIIIIH?”
Akhirnya Yongguk mengeluarkan kekesalannya dan kembali lagi
ke dalam formasi lingkaran. Sementara
Himchan gosok-gosok kupingnya karena suara Yongguk kayak orang tereak pake toak
masjid dan bikin kupingnya berdengung. Lain lagi dengan Daehyun yang megangin
pelita di tengah lingkaran soalnya tuh pelita hampir aja jatoh karena suara
Bang Yongguk bikin seisi ruangan bergetar.
Jongup dan Zelo lagi istighfar, sedang Yongjae berusaha
mati-matian menahan kelatahannya biar nggak malu-maluin. Soalnya ada Daehyun di
sampingnya, bisa mati karena malu dia gara-gara latah ayam-ayamnya.
Yongguk menarik nafas dalam. Sebagai leader yang bijaksana dia harus bisa mengendalikan emosinya agar
bisa dicontoh kelima alien yang masih polos sepolos author yang lagi bikin
cerita ini.
*Yongguk: Oh aja sih Sah*
“Nah, Urban Legend
ini tentang lima orang pendaki yang kehabisan bekal di tengah pendakian mereka.
Padahal saat itu sedang musim dingin. Lalu salah satu diantara mereka kelaparan
dan kehabisan tenaga akhirnya meninggal. Keempat temannya kebingungan. Mereka
juga kelaparan dan lelah. Akhirnya...”
“Akhirnya yang lain meninggal juga Hyung?” tebak Yongjae sotoy.
“Nggak gitu Jae. Kalo mereka semua mati, lalu mana cerita
perseginya? Lagian kalo gitu nggak seram sama sekali,” Daehyun ikutan nimbrung.
“Ah, iya bener juga sih. Kalo cuman gitu ngapain sampe
dikenal dengan urbanlejen kan?” ucapan Jongup mendapat anggukan dari kelima
alien terkecuali Yongguk yang mati-matian menahan kekesalannya karena
adik-adiknya kembali sibuk berargumen.
Yongguk kembali
menghela nafas. “Makanya elu semua dengerin gue dulu.” Titah Prabu Yongguk.
Kelima alien lainnya kembali fokus pada Yongguk. Hening. Aura
seram tiba-tiba menjalar. Angin malam merambat masuk menerpa kulit mereka,
membuat Zelo merapatkan duduknya pada Himchan di sampingnya.
“Ditengah kelelahan, mereka menemukan sebuah gubuk. Karena
hari sudah beranjak malam, akhirnya mereka berempat memutuskan istirahat di
gubuk itu.”
“Gimana teman mereka yang meninggal itu, Hyung?” tanya Jongup penasaran.
“Mereka tinggalin teman mereka yang meninggal itu. Jadi cuma
mereka berempat yang masuk ke gubuk. Tapi gubuk itu gelaaaaaaap banget. Nggak
ada apa-apa buat nerangin. Akhirnya mereka duduk berempat di dalam gubuk itu
sambil menahan dingin. Tapi tiba-tiba...” Yongguk menghentikan kalimatnya dan
menatap kelima alien di depannya satu persatu dengan mata elangnya yang tajam
setajam pisau dapur Mama author buat motong ikan.
“Tiba-tiba apa, Hyung?”
Daehyun mepet-mepet duduknya ke Youngjae sambil tangannya dan tangan Youngjae
saling bertautan.
*Eaaa, DaeJae moment
again... ^_^*
“Tiba-tiba pintu gubuk itu tertutup sendiri dan tidak bisa
terbuka lagi!” Yongguk menakut-nakuti kelima alien di depannya yang mulai
ketakutan dengan wajahnya yang dibuatnya seram.
Himchan keringat dingin. Jongup nguap sepuluh senti. Zelo
makin mepet ke Himchan. Daehyun dan Youngjae... Makin erat tangan mereka
bertautan.
*Wuhuuu author seneng bikin full DaeJae moment :p*
“Keempat pendaki itu ketakutan dan semakin kedinginan.
Akhirnya salah satu dari mereka berinisiatif untuk mengusir dingin agar mereka
semua tidak mati kedinginan.”
“Gimana caranya Guk-a?”
keringat dingin semakin mengucur deras di pelipis Himchan. Bukannya karena
ketakutan, soalnya emang ruangan itu pengap. Ditambah Himchan pake kaos hitam
lengan panjang bikin dia makin kegerahan. Belum lagi Zelo yang makin
mepet-mepet di sampingnya.
Yongguk kembali menatap kelima alien polos nan unyu-unyu yang
berbeda jauh sama dia yang bertampang preman dan beraura gelap.
*Yongguk: Orang yang dianiaya do’a-nya diijabah.
Sabaaaar-sabaaar /ngelus dada/
Isah: kebahagiaan terbesar dalam hidup aku adalah saat
membully Prabu Yongguk, kkkk /evil laugh/
Yongguk: /nelen senter/*
“Salah satu dari mereka berinisiatif untuk melakukan sebuah
permainan agar mereka tetap hangat. Berhubung gubuk itu berbentuk persegi, jadi
ia memerintahkan ketiga temannya yang lain untuk mengambil posisi di setiap
sudut. Lalu cara bermainnya adalah dimulai dari pendaki pemilik ide yang
berdiri di salah satu sudut berjalan ke sudut lain yang sejajar dengannya, dan
menyentuh orang yang ada di sudut itu. Orang yang disentuh itu berjalan ke
sudut berikutnya dan menyentuh orang yang ada di sudut tersebut. Begitu
seterusnya dari sudut ke sudut. Dan mereka bermain sampai pagi hari.”
“Apaan? Gitu doank?”
Jongup nguap makin lebar.
Yongguk menjitak Jongup yang kebetulan duduk di sampingnya.
Membuat Jongup yang lagi mau nguap akhirnya nggak jadi nguap lagi. “Elu ke-pabo-an jangan dipelihara dong Ngup,”
protes Yongguk.
“Emang kenapa?” tanya Jongup polos sambil ngelus-ngelus
kepalanya. Kasihan kepala Jongup bisa kempes entar karena tangan kekar Preman
Yongguk tadi kuat banget mendarat di kepalanya.
“Astaga!” Yongjae berucap tiba-tiba bikin Himchan latah
maling-maling.
“Kenapa?” tanya Jongup polos-lagi.
“Kalau begitu bukannya mereka bermain berlima Hyung? Coba kalian pikirkan. Orang di
sudut pertama, menyentuh orang di sudut kedua. Orang di sudut kedua menyentuh
orang di sudut ketiga. Lalu orang di sudut ketiga menyentuh orang di sudut
keempat. Setelah itu orang di sudut keempat menyentuh kembali orang di sudut pertama.
Seharusnya di sudut pertama tidak ada orang kan? Karena orang yang di sudut
pertama tadi tidak kembali ke sudut awal, tapi diam di sudut kedua.” Youngjae
menjelaskan apa yang otak cerdasnya pikirkan.
“Ya Tuhaaan!”
“Oh My God!”
“Houl!.”
“Saesange!”
Himchan, Zelo, Jongup, dan Daehyun terkejut bersamaan.
Sementara Yongguk mengangguk-angguk membenarkan ucapan Youngjae.
“Benar sekali,” Yongguk menjentikkan jari tengah dan ibu
jarinya.
“Hyung, aku takut.”
Sang maknae memeluk Himchan erat.
“Dan setelah pagi menjelang, keempat orang itu baru sadar
kalau mereka baru saja bermain lima orang. Mereka mulai curiga,
jangan-jangan...”
“Jangan-jangan yang ikut bermain bersama mereka itu teman
mereka yang meninggal?” tebak Youngjae lagi.
Daehyun mempoutkan bibirnya kesal. Tadi dia yang mau nebak,
tapi keburu Youngjae yang ngomong. *Poor
Daehyun*
“Benar. Akhirnya keempat pendaki itu berlari terbirit-birit
keluar gubuk dengan mendobrak pintu gubuk itu. Dan... Kkeutt. Ceritanya selesai.” Yongguk mengakhiri ceritanya sambil
menunjukkan cengiran lebar menampilkan deretan gusi merahnya yang menurut
Author tampangnya malah nggak ada ganteng-gantengnya sama sekali.
*Yongguk: /pura-pura nggak denger omongan author/*
“Huaaa, Hyung...
Jelo takuuuuut.”
Himchan ngelus-ngelus punggung sang maknae. Sementara moment
itu dijadikan kesempatan Daehyun dan Youngjae buat makin mepet-mepet berdua.
Jongup lagi-lagi mau nguap tapi keburu nyamuk terbang-terbang lagi di dekat
telinganya bikin dia nggak jadi nguap dan beralih kembali nepokin nyamuk.
“Zelo, waktunya tidur. Sudah hampir jam satu malam sayang,”
Mamanya Zelo tiba-tiba nongol dari pintu dan bikin setengah lusin alien itu
berteriak kenceng kayak orang kesetanan.
Gimana mereka nggak kaget kalo Mama-nya Zelo tiba-tiba buka
pintu dan nyalain lampu kamar Zelo dan mukanya lagi pake masker bengkoang
langsung tersorot jelas oleh cahaya lampu.
“Huaaaaaaaa! Mama aku takuuuuut”
Lima alien langsung menatap aneh pada pemilik suara. Siapa
coba tebak yang tereak?
“Hyung payah.”
“Gitu doank pake manggil mama segala.”
“Hyung cemen.”
“Leader apaan nih.
Nggak gentle.”
“Tadi dia yang cerita seram. Tapi malah ketakutan.. huh”
Kelima alien mengomel memandang sang pemilik suara yang
sedang tersenyum malu-malu kukang. Sementara Mama Zelo udah balik lagi keluar
setelah nutup pintu kamar.
*Isah: Iya nih leader
apaan. Payah. Uyuh. Nggak keceh. Tampang doank preman. Bikin malu /bully sepuas hati/
Yongguk: Stop!
Berhenti menistakan gue Isaaaaah!! Kemari luuuu... mau gue jitak kepala lu
sampe benjol sepuluuuh!! /ngejar Isah/
Isah: Huaaa, ada preman yang mau membully wanita polos nan
unyu-unyuu... /lari sekuat tenaga/
Yongguk: Gue kejar lu sampe ke ujung dunia!*
Kelima alien akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar Zelo.
Soalnya mereka nggak berani balik pulang ke rumah masing-masing. Ntar ada
apa-apa di tengah jalan. Sementara Yongguk masih tetep istiqomah ngejar si
author unyu. Ceritanya-pun berakhir sampai di sini... wkwkkk...
.
.
FIN
Bahagianya bisa membully
Bang Yongguk, bhahahahaa...
Makasih yang sudah mau
membaca fanfiction nista dan nggak
waras ini :D
/peluk Daehyun Oppa
erat-erat/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar