Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Senin, 04 Mei 2015

(Cerpen) Dj, Put It Back On!



Dj, Put It Back On
(Special Story for Dj’s Birthday ^^)
.
.
(A/N: Cerita ini aku sebenernya aku bikin buat ulang tahun Dj tahun 2013 dulu. Daripada ngendap di folder draft lebih baik aku posting di sini... Happy reading ^^)
Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah
Cast:
Siti Hadijah a.k.a Dj
Sri Wahyuni a.k.a Serai
Diah Maharani a.k.a Dhidi
Aisyah a.k.a Cloudisah a.k.a Author a.k.a Isah
Ridha Anisa a.k.a Rida
Genre:
Friendsip
Rating:
Teen
Warning:
Alur ngebut, jalan cerita gaje, cerita ngga sesuai judul, bahasa tidak sesuai EYD, typo, ngga sesuai karakter masing-masing, de.el.el
Summary:
Dj maniak hijau, dan Serai tahu itu. Awal mula persahabatan mereka bermula dari, hijau...

<3

Seorang gadis termenung di pojok kelas. Bukan, bukan karena ia sengaja menyendiri di pojokan kelas tapi karena memang kursinya berada di pojok kanan belakang kelas. Saat itu tidak ada guru, dan kelas menjadi sangat-sangat berisik. Teman-temannya, katakanlah teman dekatnya, -yah setidaknya itu yang ada dipikaran gadis itu- sibuk bergosip ria. Apalagi kalau bukan mengenai penampakan ‘kuntilanak’ di ruang UKS beberapa hari yang lalu. Topik yang benar-benar sedang hangat sampai satu sekolah.
Bukannya gadis itu tidak tertarik dengan berita itu, hanya saja ia sedang malas berceloteh panjang lebar saat ini. Ia hanya merasa bosan. Ya, bosan. Gadis itu merasa memang memiliki banyak teman, teman dekat apalagi. Tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa masuk sebagai daftar sahabat di hatinya. Tidak dan belum ada satupun.
“Hey, Dj.. ngapain kamu bengong di situ? Mau mojokan sama nyamuk hah??”, kali ini suara gadis yang dari tadi sibuk berceloteh tak henti-hentinya sambil mengipas-ngipaskan rambutnya dengan kipas pink kesayangannya, Dhidi.
“Eoh, mendingan gabung ama kita-kita aja. Itu loh Dj tentang kuntilanak yang waktu itu di UKS”, kali ini gadis yang duduk di samping Dhidi ikut angkat suara, Isah namanya. Gadis yang benar-benar mengidolakan Yesung Super Junior bahkan cita-cita dalam hidupnya adalah pergi ke Korea Selatan demi bertemu sang idola tercinta (author numpang curcol). Sedangkan gadis di depan Isah dan Dhidi hanya tersenyum menanggapi, Rida. Gadis itu memang menjadi pendengar yang baik jika sudah mulut Dhidi dan Isah mulai berceloteh tentang berbagai hal. Bahkan bisa dikatakan gadis itu masih jauh pendiam jika dibandingkan dengan Dj.
“Lagi males, kalian lanjutin aja begosipnya”, jawab Dj yang sedari tadi masuk duduk pewe dibangkunya.
“Okelah, tapi ntar istirahat kita ke kantin bareng ya”, ujar Isah yang selanjutnya mulai siap untuk kembali menggosip dengan kedua temannya yang lain. “Eh tapi beneran loh kata anak kelas sebelah dia juga waktu itu ada di sekitar UKS”.
“Kok bisa gitu ya, hii serem amat dah...”, dan bla bla bla begitulah kalimat akhir yang bisa ditangkap oleh Dj setelah akhirnya gadis itu menelungkupkan kepala dengan melipat kedua tangannya di atas meja sebagai bantalan, dan tak lama berselang dengkuran halus terdengar dari mulut gadis bertubuh mungil itu.

<3

Siang itu pulang sekolah hujan turun dengan derasnya, sialnya Dj yang kebetulan sedang ada jadwal piket kebersihan siang tidak membawa payung. Dan bahkan teman-temannya, Dhidi, Isah dan Rida sudah pulang terlebih dahulu karena mereka tidak ada jadwal piket siang itu.
Usai melakukan piketnya, Dj berdiri di bawah atap  gerbang sekolah untuk melindungi dirinya dari guyuran hujan. Gadis itu tidak mungkin menunggu di dalam kelas karena kunci kelas sudah diambil oleh Pak satpam, dan dengan terpaksa gadis itu menunggu hujan reda di gerbang sekolah. Sebenarnya Dj bisa saja menunggu hujan reda di selasar kelas, tapi karena saat itu ia sedang takut apalagi dengan adanya rumor mengenai kuntilanak itu, tidak ada lagi siswa yang ingin dan berani berlama-lama di selasar kelas.
“Ckk, berapa lama lagi hujan ini akan reda”, erang Dj frustasi. Siang itu perutnya sudah benar-benar berdemo untuk minta di isi, dan hujan semakin semangat berjatuhan menghantam tanah. O iya, di sekolah Dj dilarang membawa ponsel, dan itu yang membuat Dj merasa nasibnya benar-benar sial. Ia tidak bisa minta jemput orang tuanya ataupun temannya.
“Kok sendirian?”, tiba-tiba seseorang –seorang gadis lebih tepatnya- berdiri di samping Dj sambil membentangkan payungnya. Dan hey, kebetulan apa ini gadis itu memakai payung berwarna hijau, warna kesukaan Dj.
“Eumm, lagi nunggu hujan reda”, jawab Dj singkat sambil menyunggingkan senyuman yang yeah bisa dikatakan sedikit dipaksakan. Gadis itu tidak terlalu biasa berbicara dengan orang baru, sehingga berbicara terlalu panjang dengan orang yang belum pernah dikenalnya membuatnya sedikit canggung.
“Oooh”, hanya itu respon dari gadis di samping Dj. Dilihat dari pakaiannya sepertinya gadis itu bukan siswa di SMA tempat Dj bersekolah. Entahlah apakah gadis itu anak sekolahan atau tidak karena gadis itu hanya berpakaian kasual dengan celana jeans biru gelap beserta sweater biru plus flatshoes berwarna biru malam dan rambut yang dikuncir kuda.
Cukup lama mereka terdiam sembari memandangi tetesan hujan yang menyentuh tanah, dan sepertinya hujan benar-benar tidak ada tanda-tanda untuk berhenti. Cuaca siang itu semakin dingin, dan Dj benar-benar merutuki nasibnya. Hey belum lagi cacing-cacing di perutnya yang sibuk berdemo ria untuk minta makan. Oh ayolah, bahkan mulut Dj-pun ingin sekali menikmati coklat panas, bukan hanya para cacing di perutnya.
“Sepertinya hujan akan masih lama akan reda, di mana rumahmu?”, gadis di samping Dj bertanya dengan ramah seakan mereka sudah kenal cukup lama.
“huh?”
“Rumahmu, di mana rumahmu? Kalau tidak terlalu jauh dari sini aku bisa mengantarmu, kulihat kamu ga bawa kendaraan, jadi kita bisa jalan kaki bersama dengan membawa payung ini”.
Dj memandang gadis di sampingnya dengan kening berkerut. Ini aneh, menurut Dj. Mereka bahkan baru saling mengenal, ralat –mereka bahkan tidak kenal-  tapi gadis ini berani menawarkan diri mengantarnya. “Hey, kamu tidak mengira aku orang jahat kan? Aku hanya ingin menolong orang. Dan lagi kulihat kamu sudah kedinginan”.
“Kau serius ingin mengantarku?”, tanya Dj sedikit canggung yang hanya dibalas anggukan mantap dari gadis itu. “Tentu saja. Jadi, dimana rumahmu?”.
“Rumahku sekitar dua blok dari sini, berjalan kaki sekitar sepuluh menit sudah sampai”.
“Benarkah? Berarti rumahmu dan rumahku dekat, rumahku juga sekitar dua blok dari sini. Kalau begitu tunggu apalagi, ayo cepat kemari”, gadis dengan rambut kuncir kuda itu membentangkan payungnya di atas kepala Dj agar payung itu muat untuk mereka berdua.
Dengan sedikit canggung -lagi- Dj mengikuti gadis itu berjalan meninggalkan gerbang sekolah. Cipratan hujan membasahi sepatu mereka, sehingga keduanya makin merapatkan diri ke tengah payung dengan gadis -rambut kuncir kuda- yang memegang payung tersebut.
“Ehmmm”, sedikit deheman kecil dari Dj, sepertinya gadis itu ingin mengatakan sesuatu. “Kamu bilang rumahmu tidak jauh dari rumahku, tapi kenapa aku belum pernah melihatmu? Apa kamu baru pindah ke daerah ini?”.
“Hummm, begitulah. Aku baru pindah dua hari yang lalu”. Dj hanya mengangguk-angguk kecil. Sebenarnya ada hal yang benar-benar ingin Dj tanyakan sedari tadi pada gadis di sampingnya itu, apa yang dilakukan gadis itu tadi di depan gerbang sekolahnya? Tapi ia urungkan niatnya itu karena ia rasa mereka tidak saling mengenal jadi tidak perlu mencampuri urusan masing-masing.
“Aah, itu rumaku”, Dj menunjuk ke arah rumah dengan pagar bercat hijau.
“Waah, rumahmu besar juga ya. Kalau begitu sampai bertemu lagi”, gadis kuncir kuda tersebut berhenti di depan pagar rumah Dj. Sebenarnya memang sedikit tidak sopan memanggil gadis itu dengan sebutan gadis kuncir kuda. Tapi yah mau bagaimana lagi, Dj bahkan memang tak tahu siapa namanya.
“Hmm, terima kasih ya sudah mengantarkanku. Maaf sudah merepotkan”.
“Ah, ngga masalah. Serai, panggil saja aku Serai. Eumm, aku pulang dulu ya.. kamu cepatlah masuk.. dadaah”, gadis itu, Serai, melambaikan tangannya kearah Dj sambil melangkah pergi. Dj membalas dengan turut melambaikan tangannya juga. Oups, tunggu dulu. Bukankah Dj tidak pernah seperti ini dengan orang yang tidak ia kenal, oke ralat sekali lagi –orang-yang-baru-dikenal. Entahlah, sepertinya gadis bernama Serai tadi tidak terlalu buruk untuk dijadikan teman baru. Dan.. wow bagaimana mereka akan menjadi teman baru jika Dj saja bahkan tidak memperkenalkan dirinya.
“Tssk, nanti kalau aku ketemu dia lagi akan aku perkenalkan diriku”, Dj segera masuk ke dalam rumahnya dengan sedikit berlari-lari kecil setelah sebelumnya ia melihat punggung Serai menghilang dibelokan jalan.

<3

Hari ini hari Rabu, dan pagi ini kelas Dj ada ulangan harian mata pelajaran PKN. Dj yang sudah mempersiapkan dirinya untuk belajar untuk ulangan hari ini melenggang dengan santai memasuki ruang kelasnya.
“Dj!!! Ya ampun kamu jalannya lambat banget sih.. cepetan sini...”, panggil seorang teman dekat Dj, Isah.
“Biar pelan asal selamat, nggak kaya kamu jalan ngangkang, nubruk sana nubruk sini”.
“Eooh, gag gitu juga kali aku jalannya”, Isah mencibir. “Eh, any way kamu udah denger belom kalo hari ini tuh ada murid baru di kelas kita?”
“Murid baru? Seriusan kamu? Kok aku gag tau.. emang siapa yang bilang?”, kali ini Dj mendudukan diri di kursinya.
“Aku denger-denger dari mereka sih tadi pas aku baru dateng”, tunjuk Isah pada teman-teman sekelas mereka yang sedang berkumpul di depan pintu kelas. “Kira-kira cewe atau cowo ya?”, sambung Isah lagi.
“Ah palingan juga cewe, di dunia ini kan lebih banyak cewe dari pada cowo”, jawab Dj sembari mengeluarkan buku dari dalam tas ransel hijau kesayangannya.
Isah mendelik, “Eits, kali aja cowo. Ah semoga cowo tampan, pinter, kaya, rajin sholat, eumm terus apalagi yah..”
“Biar dia sebegitu perfectnya emang dia mau sama kamu?”, potong Dj sebelum temannya itu menyelesaikan kalimatnya.
Isah mencondongkan wajahnya dengan mata yang disipit-sipitkan ke arah Dj, “Lu maksut???”. Dj refleks memundurkan wajahnya.
“Kyaa.. kalian berdua ngapain hah? Tuh guru PKn bentaran lagi mau ke kelas”, satu lagi teman Dj, Diah, datang seperti biasa sambil menenteng kipasnya. Dibelakangnya Rida mengekor dan segera mendudukan diri dikursi samping Isah. (Rida ngekor bukan jadi pengikut, tapi Diah jalannya yang kecepetan, hheheh)
“Yaaah, Rida kenapa kamu baru dateng? Elaah, aku kan mau pinjem catatanmu. Mana mana sini.. ada yang belum aku pelajarin, dikit lagi”, Isah mengeluarkan buku dari tas teman sebangkunya itu dengan beringas, sedangkan sang empunya tas hanya menatap gadis polos nan cerewet itu dengan tatapan datarnya. Sesaat setelahnya mereka mulai sibuk dengan kegiatannya, sedangkan Diah mulai sibuk ber-sms ria, dengan sang kekasih tercinta mungkin.
Dj? Jangan tanya gadis itu, pagi-pagi seperti ini dia kembali melamun, entah melamun atau tidak karena ia memandang ke jendela di sampingnya dengan pandangan kosong.
Selang beberapa menit kemudian, bel tanda pelajaran pertama dimulai. Seisi kelas mulai sibuk duduk di bangku masing-masing, ada yang sibuk membolak balikan halaman buku, ada yang mulutnya komat-kamit mengingat hafalannya dengan mata terpejam, ada yang masih sibuk dengan sarapan paginya, bahkan masih ada yang sibuk melamun ria, yah kau taulah siapalagi kalau bukan Dj.
Tak berselang lama, seorang guru wanita dengan wibawanya serta kacamata yang menghias matanya memasuki kelas mereka, berjalan dengan sangat tenang. Beberapa murid mulai grusak-grusuk, ada yang gugup masih sambil komat-kamit menghafal, ada juga yang masih sibuk melipat-lipat kerta korpe-an untuk ulangan nanti. Hey, bukankah mata pelajaran pagi ini adalah PKN? Mengapa yang masuk adalah wali kelas mereka?
“Assalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh, anak-anak”, salam guru mereka tersebut.
“Wa’alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh”, jawab para murid itu serempak.
“Nah, sudah siap ulangannya? Keluarkah kertas selembar...”
“Haaaah??!!!!”, seluruh murid menjadi heboh. Ckk, ayolah, bagaimana mungkin ulangan harian pelajaran PKN diwakilakan oleh wali kelas mereka yang notabene-nya adalah guru Akuntansi?
“Kok begitu responnya? Tadi Ibu lihat banyak yang sibuk komat-kamit menghafal, berarti ada ulangan toh? Ayo cepet keluarkan kertas selembarnya”. Beberapa, -bahkan kebanyakan- diantara murid-murid yang memasang wajah cemberut. Seharusnya jika wali kelas yang masuk akan ada hal penting yang akan disampaikan, mungkin mengenai anak baru itu dan jika mereka beruntung siapa tau ulangan PKN-nya ditunda minggu depan. Hal itu merupakan harapan hampir semua murid bukan?
“Sekarang kertasnya disimpan dulu untuk ulangan minggu depan, sekarang ibu mau memperkenalkan murid baru untuk kelas kita”, wali kelas yang masih terlihat muda di usianya yang menginjak kepala empat itu menoleh ke arah luar kelas, tak berapa lama masuklah seorang gadis dengan pakaiannya yang masih berwarna cerah, sangat rapi dari ujung kepala sampai ujung kaki, khas murid baru. Dan sepertinya seseorang di kelas itu pernah melihat gadis itu sebelumnya. “Nah, semuanya ini teman baru kalian. Ayo sayang perkenalkan namamu kepada teman-teman barumu”.
“Assalamualaikum semuanya, nama saya Sri Serai, panggil saja Serai. Mohon bantuan kalian semua”, ucap gadis itu dengan sangat ramah. Gadis di pojokan kelas yang awalnya tidak begitu berminat dengan murid baru itu sontak menoleh ke sumber suara saat mendengar nama ‘Serai’. Bukankah itu gadis yang kemarin pulang bersamanya dengan membawa payung? Pantas saja kemarin ia berada di sekolah Dj, mungkin saja  gadis itu sedang mengurus registrasi sebagai murid baru, pikir Dj.
“Cieeeh Fazri dari tadi ngeliyatin anak baru sampe ga bekedip matanya”, goda Lani, teman sebangku Fazri, yang hanya ditanggapi Fazri dengan memutar bola matanya malas. Mungkin mood anak itu sedang tidak baik. “Halaah, sok ga tertarik. Awas Serai jangan sampai digodain sama anak ini, dia itu p-l-a-y spasi b-o-y”.
Serai hanya tersenyum, sedikit risih bisa dibilang. “Nah, karena hanya kursi di belakang yang kosong kamu duduk di sana saja ya”, wali kelas mereka menunjuk kursi kosong di belakang di samping Dj. Dj refleks membuka lebar-lebar kedua matanya saking terkejutnya. Kebetulan apa lagi sekarang ini?
Serai mengangguk, ia segera berjalan ke belakang menuju kursi yang akan ia tempati. Tapi gadis itu sepertinya tidak begitu terkejut saat bertemu pandang dengan Dj, berbanding terbalik dengan Dj yang masih sedikit panik. Bukan karena apa, hanya saja gadis itu belum siap untuk bertemu kembali dengan gadis yang sudah menolongnya kemarin.
“Ibu harap kalian bisa berteman baik dengan teman baru kalian. Kalau begitu ibu keluar dulu, ada jadwal di kelas sepuluh, jangan ribut. Ketua kelas awasi teman-temannya”, perintah sang wali kelas pada ketua kelas yang duduk di pojok kiri depan.
“Tapi Bu, tadi ibu bilang simpan kertasnya buat ulangan minggu depan. Jadi ulangan PKN-Nya bagaimana Bu?”, tanya ketua kelas mereka, Matz.
“Astargifullah, hampir ibu lupa. Hari ini Ibu Sam ada rapat di Dinas Pendidikan, jadi kalian ulangan hariannya minggu depan. Tolong jangan ribut, jangan mengganggu teman-teman kalian di kelas lain. Kalau ada yang mau ke perpus silakan, tapi tetap jangan ribut ya. Kecuali ke kantin, tidak ada yang boleh ke kantin sebelum jas istirahat, mengerti semua?”
“Mengerti bu”, jawab semua murid kembali serempak.
“Ketua kelas awasi kelas, Ibu keluar dulu. Assalamualaikum”. Sembari sang wali kelas melangkah keluar kelas, di dalam kelas mulai riuh perlahan-lahan. Seolah tidak mendengarkan perintah dari wali kelas mereka sebelumnya. Begitulah anak sekolah, sangat menyenangkan bukan?
“Hai Serai, namaku Enoe, ini Bebets, kalo ini Fita”, sapa seorang gadis yang duduk di dekat meja Serai, Enoe. Di samping Enoe, Bebets dan Fita melambai-lambaikan tangannya yang ditanggapi Serai dengan melambai-lambaikan tangannya juga. “Serai mau ikut kami ke perpus ga?”, tanya Enoe kembali.
Serai menggeleng, “Engga dulu. Lain kali aja aku ke perpusnya”, jawabnya sambil tersenyum.
“Yasudah kalo gitu, kami jalan dulu ya Serai”, balas teman di samping Enoe, Bebets.
“Iya”, jawab Serai sambil mengangguk.
“Namamu Serai kan? Aku Dhidi, cieeh Dj sekarang udah ada teman sebangkunya. Isah, Rida, liyat Dj udah punya teman sebangku nih”, Dhidi mengulurkan tangannya pada Serai sambil duduk di bangku Rida, lebih tepatnya mepet-mepet duduk di samping Rida yang duduk satu meja dengan Isah di depan Dj dan Serai. Serai membalas salaman dari Dhidi, masih dengan senyum di wajahnya. Maklumlah, anak baru memang harus ramah agar dapat teman baru bukan? Atau memang gadis ini suka tersenyum? Entahlah.
“Eh, ke kantin yo siapa mau ikut?”, tanya Dhidi pada teman-temannya. “Ayo Dhi aku juga uda laperrrrr”, jawab Isah dengan semangatnya.
“Eh, kan ga boleh ke kantin tadi kata Bu Zul”, sela Dj. Isah mencibir, “Ibu kan ga liyat Dj. Ayo Dhi kita go, ayo Rida, tinggalin aja dua sejoli ini.. hahaa”, balas Isah. “Oh ya Serai aku lupa, aku Isah dan kalo ini namanya Rida. Euumm.. Mau ikut ke kantin ga? Ato mau nemenin nyonya Dj merenung di kelas?”, sambung Isah lagi.
Serai kembali hanya tersenyum,”Engga makasih, kalian duluan aja”.
“Yo weslah, kita ke kantin dulu ya... Cieeh Dj laaah”, Dhidi kembali menggoda Dj sambil berjalan keluar kelas bersama Isah dan Rida. (Author dari tadi lupa bikin Rida ngomong eh)

<3

Suasana kelas kembali tenang, karena kebanyakan penghuninya meninggalkan kelas. Ada yang ke perpus, untuk belajar ataupun tidur, ada yang ke kantin, ada yang nongkrong di depan kelas, namun ada juga yang masih betah di dalam kelas, diantaranya adalah Serai dan Dj.
Sebenarnya Dj sedikit canggung dengan teman sebangkunya itu, ia sudah terbiasa duduk sendirian selama satu semester dikelas sebelas. Sedikit menyesal baginya seandainya tadi ia memilih ikut teman-temnannya ke kantin, sehingga ia tidak perlu merasakan situasi canggung yang benar-benar tidak nyaman ini. “Ehhhm..”, Serai berkali-kali berdehem kecil untuk mengurangi kecanggungan antara mereka.
“Na, nama, namamu Serai kan?”, Dj memulai pembicaraan terlebih dahulu setelah sebelumnya berusaha mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang entah sejak kapan menjadi kering.
“Heummm”, Serai mengangguk. “Kamu yang kemarin kan? Senang bertemu kamu lagi. Bener-bener ngga nyangka kita bisa sebangku”, jawab serai ramah.
“Iya. Oh ya, kenalin namaku Dj”, Dj mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh Serai. “Bener-bener kebetulan ya, rumah kita deketan, terus sekarang kita sebangku”.
“Aku pikir aku ngga ketemu kamu lagi, padahalkan kamu kemarin belum memperkenalkan diri”, jawab Serai usai mereka melepaskan jabatan tangan mereka. “Eum, kalau boleh tau kamu suka warna hijau?”.
Dj mengerjap-ngerjap, “Mm ma makmaksutmu?”.
“Yah, aku hanya menebak-nebak. Soalnya dari tadi aku lihat semua barang-barangmu berwarna hijau”, jawab Serai enteng. “Tapi emang bener kan?”.
“Hehehh, kamu bener banget. Terlalu mencolok yah?”.
“Sedikit”, jawab Serai dengan cengiran di wajahnya. “Oh ya, nanti jam istirahat temanin aku jalan-jalan ke seluruh sekolahan ini ya. Aku mau lihat-lihat seluk beluk sekolah baruku, yayaa..”.
Dj mengacungkan jempolnya dengan mantap, “Siiipp...”.

<3

“Nah, kalau yang ini Lab TOEIC, tempat kita belajar pelajaran Bahasa Inggris terutama untuk materi listening”, Dj masih melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang ‘guide’ untuk teman barunya setelah dari tadi mereka mengelilingi seluruh penjuru sekolah mulai dari aula depan sekolah, kantin, perpus, dan seluk beluk ruangan yang ada di sekolah mereka hingga ke bagian paling ujung dari sekolah –bagian belakang lebih tepatnya- yaitu Lab TOEIC. Serai mengangguk-angguk sembari memperhatikan seisi ruangan di Lab itu. “Tapi masih ada satu ruangan lagi di samping Lab TOEIC ini”, kembali Dj mengajak Serai ke ruangan lain untuk meneruskan tugasnya sebagai ‘guide’.
“Ini adalah Lab terakhir yang ada di sekolah kita, memang paling jauh dan paling belakang. Lab Akuntansi. Memang sengaja dibangun paling ujung dan paling belakang sekolah agar murid-murid akuntansi bisa tenang mengerjakan soal-soal akuntansi. Dan... kita akan sering belajar di Lab ini karena setiap mata pelajaran akuntansi kita akan belajar di Lab ini”, terang Dj mengakhiri tugasnya sebagai guide bagi Serai karena sudah seluruh bagian sekolah ia tunjukkan kepada Serai.
Serai memandangi seluruh isi ruangan Lab dengan sedikit takjub. “Seriusan kamu kita belajar di sini kalau pelajaran akuntansi? Whoaa keren... Ada AC-nya, terus ruangannya luas, bersih, dan...”, Serai sedikit berlari menjauhi Dj dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi Lab paling depan, “Coba lihat, bukankah ini keren?? Kursinya berputar! Ah, sekolah ini benar-benar keren, luas bangeeeeet... “, Serai memutar-mutar kursi yang ia duduki.
Dj tersenyum menanggapi pernyataan yang menurutnya sedikit berlebihan itu dari teman barunya. Hey, ayolah Dj saja dulu tidak seheboh itu saat hari pertama bersekolah di sekolah yang benar-benar luas itu. Bahkan di hari pertama ia sudah tersesat karena bingung dengan sekolah mereka yang berkelok-kelok. Eum, haruskah kejadian saat ia tersesat dulu ia ceritakan pada Serai? Sedikit ragu Dj membuka suaranya, setelah sebelumnya ia turut duduk di kursi di samping Serai. “Benarkah menurutmu seluas itu?”.
Serai refleks menoleh ke arah Dj dengan tatapan yang mengisyaratkan emang-bener-kan?.
“Kamu tau ga? Dulu pas kelas sepuluh di hari pertama aku sekolah di sini, aku sempat kesasar”.
Kening Serai berkerut. “Kesasar?”.
“Iyap, kesasar. Aku malah sampai ke kelas dua belas TKJ, waktu itu aku benar-benar bingung dengan koridor sekolah yang berkelok-kelok”
“Pfffttt...”, bukannya menanggapi kalimat yang baru saja Dj sampaikan, Serai malah tertawa, menahan tawa lebih tepatnya. Alis Dj mengernyit, apa barusan ia salah bicara? Atau ada hal yang lucu sekarang?. “Kau tahu, kau itu benar-benar polos”.
Sekarang Dj balas menatap Serai dengan tatapan maksut-lo-apaan?. “Oh girl... yang benar saja. Bagaimana mungkin kamu bisa kesasar sedangkan di sekolah ini sudah jelas bagian-bagian koridor untuk tiap jenjang kelas. Bukankah koridor kelas sepuluh dan kelas dua belas itu berbeda? Aku yang baru satu hari di sini saja sudah tau... kamu kan melewati masa MOS, tidak mungkin tidak diberitahu hal itu kan sebelumnya oleh kakak OSIS?”, Serai masih mempertahankan ekpressi menahan tawanya. Wajahnya benar-benar hampir mirip tomat mengkal sekarang. Yup, tomat mengkal, tomat belum masak.
Dj mengerucutkan bibrnya. Ckk seharusnya tadi ia tidak usah menceritakan kejadian memalukan itu pada teman barunya. Namun alih-alih menyalak perkataan Serai, ia malah ikut tersenyum. Oh  My, mungkin jika Dhidi yang mengatakan itu Dj pasti sudah membalasnya habis-habisan.
Ini aneh, menurut Dj. Gadis di sampingnya ini mampu memberikan aura positif baginya. Jika biasanya Dj gampang tersulut emosi, namun dengan gadis ini Dj bisa merasakan hal lain dari dirinya. Entahlah Dj sendiri tidak tahu perasaan apa itu. Namun satu yang pasti diketahuinya, saat bersama Serai ada perasaan nyaman. Yah, nyaman. Bukankah ini sedikit aneh? Mereka kan baru saja saling berkenalan. Bagaimana mungkin Dj bisa menyimpulkan seperti itu? Tapi asal kau tahu, benar-benar hal itu yang Dj rasakan.
“Dj, kau masih di sini?”, Serai mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Dj.
Dj mengerjap-ngerjap. “Eum, eh? Apa tadi kamu bilang?”.
“Gapapa. Lupakan. Oiya, bentar lagi bell istirahat selesai, mendingan kita balik ke kelas aja yuk”. Serai mulai beranjak dari kursinya. Dj hanya mengekor. “Hmmm, makasih ya udah ngajak aku keliling ke seluruh bagian sekolah ini”.
“Ah, ga masalah. Lagian aku seneng kok dipercaya buat jadi guide kamu,, hehee”.
“Bagus deh kalo gitu. Eh ntar kita pulang bareng lagi yuk. Sekalian aku mau nunjukkin rumahku.. kamu mau kan pulang bareng aku?”.
“Okey, dengan senang hati”, Dj tersenyum sumringah. Senyum yang belum pernah ia tunjukkan selama ini kepada teman-temannya di sekolah, pun termasuk kepada teman-teman dekatnya, Dhidi, Isah dan Rida.
Mereka berdua berjalan sepanjang koridor menuju kelas dengan tangan yang saling bertautan. Ehm, apakah ada yang mencium bau tanda-tanda persahabatan di sini?

<3

Embun tak perlu warna untuk membuat daun tertarik padanya. Daun hanya merasakan nyaman saat sang embun menyentuh permukaannya. Begitu pula dengan persahabatan. Tak perlu alasan spesifik mengapa kita bisa begitu nyaman bersama seseorang yang kau anggap sahabat. Karena sahabat, siapapun dia, bagaimanapun dia, seperti apapun dia, jika ia mampu membuatmu merasakan kenyamanan dan ketulusan, tak perlu kau mencari yang lain. Cukup dirinya, sahabatmu.
Serai seperti potongan puzzle yang selama ini hilang dari hidup Dj. Entah kenapa, sejak ia mengenal Serai seakan potongan puzzle itu kini sudah lengkap, tanpa cela. Pun demikian dengan Serai. Di tempat barunya, di sekolah barunya, ia beruntung memiliki seorang sahabat, sahabat baru katakanlah. Bukankah semua orang pasti memiliki sahabat? Tak mungkin ada seseorang yang tidak memiliki sahabat dalam hidupnya. Jika kau mengatakan tak ada, bukan berarti kau memang tak memiliki sahabat. Hanya saja mungkin kau belum menemukannya.
Tak terasa sudah setengah tahun hubungan Serai dan Dj sejak pertemuan mereka di awal pelajaran semester dua. Sekarang mereka menginjak kelas dua belas. Kelas penghujung bagi siswa SMA, kelas di mana kau benar-benar harus menentukan nasibmu. Segala jerih payahmu selama bersekolah sebelas tahun dihitung sejak kelas satu SD, dipertaruhkan di sini. Kelas yang merupakan pembuktian apakah  seorang siswa mampu membentuk pribadinya, mampu menjadi pribadi yang berguna usai lulus sekolah nanti. Kelas yang tak akan terlupakan olehmu seumur hidup. Kelas yang benar-benar penuh perjuangan. (Kisah pribadi author, hahaa).
“Dj, nanti sore temenin aku ya...”, ucap Serai memecah keheningan sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini mereka sedang berjalan pulang bersama.
“Ke?”
“Ke kafe yang kemaren baru buka itu... ayolah Dj, aku mau merayakan ulang tahunku. Bolehkan?”.
“Whoaaa, tentu saja. Kamu yang traktir ya..”, jawab Dj dengan pandangan berbinar-binar. Serai menyipitkan matanya menanggapi jawaban Dj.
“Tskk, kalau gratisan baru mau nemenin aku”, Serai mencibirkan bibirnya. Dj hanya terkekeh pelan melihat sahabatnya itu. “Oiya, kamu kasih tau Isah, Dhidi, sama Rida ya buat dateng nanti sore, biar lebih rame”.
“Okkeh siip.. mereka pasti aku kasih tau”, Dj mengacungkan jempolnya di hadapan wajah Serai. Membuat Serai mendelikkan kepalanya. “Yaudah aku masuk duluan yaa... sampai ketemu nanti sore”, Dj melambaikan tangannya di depan pagar rumahnya saat mereka sudah sampai di depan rumah Dj yang dominan bercat hijau.
“Oke... dadaah”, Serai balas melambaikan tangannya sembari berjalan menjauh dari rumah Dj.

<3

“Ckk, kemana mereka... ditelpon gada yang ngangkat, disms ngga ada yang ngebales... apa sih maunya”, gerutu Serai tak henti-hentinya. Well, bagaimana gadis  itu tidak menggerutu, bayangkan saja. Sekarang ia berniat merayakan pesta kecil-kecilan untuk hari ulang tahunnya dan teman-temannya bahkan belum ada satupun yang datang. Bahkan Dj saja tidak membalas smsnya. Atau jangan-jangan mereka tak ada satupun yang berminat merayakan ulang tahunnya? Oh ayolah Serai, jangan berpikir yang tidak-tidak. Gadis itu mengacak rambutnya yang rapi, mengakibatkan berantakan tak karuan dari rambut panjangnya. Gadis itu tak henti-hentinya mengecek ponsel flipnya, mungkin akan ada sms dari teman-temannya, terutama Dj. Sejak tadi hanya Dj yang gadis itu pikirkan. “Dj, di mana kamu???”.
Sedikit menunduk gadis itu memandang keluar kafe dari jendela di samping ia duduk, berharap agar salah satu dari teman-temannya itu mau berbaik hati datang merayakan pesta ulang tahunnya. Gadis itu sebenarnya sudah cukup malu karena sudah terlalu lama di dalam kafe itu, bahkan pengunjung di samping mejanya sudah berganti sampai tiga kali.
Akhirnya dengan nafas yang ia hembuskan dengan kasar, ia menyerah. Memilih untuk beranjak dari duduknya sekitar satu jam lima belas menit yang lalu, dengan rasa dongkol yang teramat sangat. Menahan kesal karena ia sudah dibuat menunggu. Dan hey, tak tahukah kalian anak ini paling benci menunggu? Dan ia hanya akan menunggu paling lama lima belas menit, dan kali ini, karena temannya -ralat- karena sahabatnya, ia bahkan rela menambahkan satu jam dari lima belas menit waktu normal ia biasa menunggu.
Serai melangkah gontai keluar kafe, dengan menekan rasa kesalnya. Tssk, kau bayangkan saja jika kau menunggu selama itu dan bahkan kau tidak mendapatkan hasil apa-apa. Dan hmmm... sepertinya besok gadis itu tidak perlu menegur Dj, sebagai pemberontakan bahwa ia benar-benar kesal hari ini. Wajah gadis itu benar-benar seperti anak kecil yang yang tidak mendapat izin untuk bermain dari orang tuanya. Wajahnya sudah ditekuk berlipat-lipat sekarang.
Gadis itu melewati rumah Dj, berjalan perlahan sambil memandangi rumah sahabatnya itu. “Dj, kamu ke mana sihh??!”, kembali gadis itu mengerang kacewa. Sedikit berharap agar sahabatnya mungkin akan keluar rumah dan menyapanya. Namun nihil. Dan kembali dengan wajah masam, gadis itu berjalan perlahan pulang ke rumahnya, dengan perasaan dongkol -lagi-.
“Tadaaaa...”, teriakan teman-teman dekatnya, Dhidi, Rida, dan Isah, serta sahabatnya, Dj menyambut kedatangan Serai di pintu depan rumahnya. Hey, ada apa ini? Bukankah perjanjiannya mereka  akan merayakan ulang tahun Serai di kafe? Bukan di rumah Serai kan? Atau jangan-jangan tadi Dj salah dengar?
“Serai, selamat ulang tahuuuun!!”, seru Isah sambil melembar kertas konfetti, menyebabkan rambut Serai penuh dengan kertas warna-warni tersebut. Disusul oleh teman-teman yang lainnya.
“Yayaa, ada apa ini huh? Bukankah aku bilang akan mentraktir kalian di kafe? Kenapa kalian ada disini hahhh!! Dan apa kalian tahu, aku menunggu kalian lebih dari satu jam!! Kalian bayangkan itu bagaimana malunya aku di sana, menunggu kalian.. bahkan tak ada satupun dari kalian yang mengangkat telponku atau minimal membalas smsku!! Bahkan sampai pelayan di kafe itu memandangku dengan tatapan yang benar-benar membuatku muak! Kalian tidak tahu kan kalau...”
“Huusstt, oke-oke kami minta maaf. Jangan mengomel lagi yaa... pesta ulang tahun tanpa kejutan bukankah itu hambar? Hehee, jadi kami hanya sedang berusaha membuat pesta ulang tahunmu ada rasanya, tidak hambar dear”, potong Dj dari omelan panjang Serai yang mungkin jika dibiarkan diteruskan sampai adzan magrib tidak akan habis-habis.
Serai masih memasang tampang masam. “Lantas ide siapa ini humm??”.
Sontak semua menoleh ke arah Dhidi, yang berhasil membuat sang tersangka mengerjap-ngerjapkan matanya. “Hey ayolah gals, tapi ini seru kan? Membuat Tuan Putri  kita kesal”, Dhidi menyenggol lengan Serai dengan tampang cengiran khasnya. Yang disenggol hanya mencibir.
“Iya Serai, jangan marah yaaa... kami cuman mau bikin surprise buat kamu”, kali ini Rida yang bersuara sambil merangkul pundak Serai. Serai hanya mampu tersenyum membalas perkataan Rida.
“Naaah, gitu kek dari tadi, senyumlah sedikit.. kalo gitu ayo kita ke dalam. Kami sudah beli kue loh Serai”, ucap Isah dengan semangat sambil mendorong Serai masuk ke dalam rumahnya, ke ruang tamu lebih tepatnya. “Tapi kami ga punya kado, gapapa kan? Heheeh, budget terbatas ces”, sambung Isah lagi. (Author numpang banyakin dialog pribadi, hehee)
Di ruang tamu, para gadis itu bercengkrama sambil sesekali mencolekkan krim ke wajah temannya. Tak usah dijelaskan pun kau tahulah bagaimana situasi saat sedang merayakan pesta ulang tahun bukan? Namun di dalam keceriaan itu ada seseorang yang hatinya menangis. Tidak, bukan karena ia sedih, tapi ia benar-benar bahagia. Sebenarnya kemana saja ia selama ini? Ia memiliki banyak teman baik, teman-teman yang sering membuat senyum dan tawa diwajahnya. Teman-teman yang akan selalu mendukungnya dan mensupportnya jika dalam keadaan down. Dan lagi ditambah seorang Serai, serasa semakin lengkaplah hidupnya. Lantas, mengapa selama ini ia bersedih dan tidak pernah bersyukur?
“Yaah, Dj kenapa melamun hmm? Kamu ga suka kuenya? Sini buat aku aja”, Serai merebut sepotong black forrest dari tangan Dj, hingga berakhir dengan mereka yang berebut black forrest tersebut.
“Hahaaa, Rida coba kamu lihat mukamu. Udah becemong-cemong kayak badut Trans Studio,, hahaha”, yang ditunjuk sontak mengelap wajahnya. “Hei Dhidi, emang kamu ga sadar mukamu lebih banyak cemongnya haah?”, ucap Serai sambil mencolekkan krim kue ke wajah Dhidi. Dhidi yang tidak terima lantas membalas perbuatan nista tersebut, dan... yeah sore itu diakhiri dengan tawa di perayaan pesta kecil-kecilan Serai. Pesta sederhana yang berhasil membuat seseorang di sana merasakan artinya teman, artinya sahabat. Pesta sederhana yang membuat seseorang di sana merasakan bahwa hidupnya selama ini tidaklah gelap, namun penuh warna oleh teman-temannya yang selama ini tidak pernah ia sadari. Gadis itu, Dj.

<3

Musim hujan di bulan Desember. Hampir setiap hari hujan turun mengguyur kota -tanpa mengenal waktu-, tak ayal mengakibatkan para pelajar kesusahan saat akan berangkat ke sekolah. Tak terkecuali Dj, gadis itu masih bersungut-sungut di ruang makan merutuki hujan yang tak kunjung reda. Padahal sekitar lima belas menit lagi bell di sekolahnya akan berbunyi, belum lagi perjalanannya dari rumah ke sekolah yang memakan waktu sekitar sepuluh menit, dan pasti ia merasa akan benar-benar terlambat hari ini.
“Udahlah, santai aja kali. Kalau hujan begini guru-guru di sekolahmu juga pasti banyak yang belum datang”, celoteh Na, kakak Dj, yang masih sibuk menghabiskan serealnya. Yang diajak berbicara sama sekali tak menggubris, sedari tadi pandangannya hanya tertuju pada jam dinding berwarna peach di sudut ruang makan. Berkali-kali gadis itu menghembuskan nafas berat, mengetuk-ngetukkan jari tengahnya ke atas meja makan dengan gelisah.
Na menautkan alisnya bingung melihat tingkah sang adik yang tidak biasanya saat sedang sarapan, “Kamu kenapa sih Dj?”.
“Serai kira-kira datang ngga yah? Sudah sepuluh menit dari waktu yang ia janjikan untuk menjemputku”.
“Hyaaa... kamu ini gimana sih? Hujan begini yah ngga mungkin lah Serai jemputin kamu. Palingan juga dia diantar sama Bapaknya”.
“Tapi kan-“, teriakan seorang gadis di luar rumah mereka menghentikan perkataan Dj.
“Dj!! Dj.....!!!”.
“Nah Serai sudah datang. Aku duluan Ka’.. Assalamualaikum”, Dj bangkit dari kursi.
Na hanya mengendikan bahunya, “Wa’alaikum salam”.
Dj berlari-lari kecil keluar rumah menemui sahabatnya. “Iya Serai tunggu bentar”.
Gadis itu meghampiri Serai yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya, ditambah jaket biru muda yang membalut tubuhnya plus payung hijau yang selalu mengingatkan Dj akan petemuan pertamanya dulu dengan Serai.
“Sorry telat, tadi aku kasih makan kucing-kucingku dulu”.
“Ah iya gapapa kok. Kita kan belum telat juga ke sekolah”.
“Okelah, ayo cepetan”, Serai menarik Dj agar gadis itu bisa berjalan dengan langkah lebih lebar di sampingnya.
“Serai, sini payungnya biar aku yang pegang”, Dj berusaha mengambil pegangan payung dari tangan Serai, namun sebelum tangannya berhasil mengambilnya, Serai keburu menjauhkan tangkai payung terebut. “Hey, ga usah. Biar aku aja. Mendingan kamu jalannya lebih dicepetin deh, langkahmu kalah lebar dari langkahku, hhehee”.
“Tssk, aku kan pakai rok panjang, kamu rok pendek, susah tau”, Dj mengerucutkan bibirnya sebal, hanya pura-pura sebal sebenarnya.
“Hahaa, diangkat dong kalo gitu”. Dj semakin mengerucutkan bibrnya, sepertinya kali ini gadis itu benar-benar sebal dengan sahabatnya. Namun tak lama kemudian, mereka berdua sama-sama tertawa. Entah ada apa, hanya mereka berdua yang mengerti. Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, hanya dipenuhi celotehan-celotehan ringan dan sedikit canda dari keduanya.

<3

Sudah seminggu Dj tak pernah lagi terlihat berangkat ataupun pulang bersama Serai. Gadis itu bahkan lebih senang menyendiri ke perpustakaan jika sedang istirahat atau saat jam kosong. Seperti saat ini, ia tengah berada di perpustakaan, duduk dikursi paling pojok dengan sebuah buku tebal -ensiklopedia alam- di atas mejanya. Gadis itu membalik halaman demi halaman dengan pikiran kosong. Sama sekali tak berniat membaca rentetan tulisan demi tulisan dengan beberapa gambar di dalam buku tersebut. Pikirannya sedikit kacau, ada rasa kecewa dan sedih yang cukup kentara pada ekspressi wajahnya.
Mereka berdua, Serai dan Dj, sedang bermusuhan. Ya, bermusuhan, tidak saling bertegur sapa, saling mendiamkan, tidak berteman, atau berbagai kata yang sejenis dengan itu. Tapi bukankah hal itu sangat wajar terjadi pada setiap orang? Hanya saja, alasan bermusuhan itu berbeda-beda. Namun, hey ayolah. Ini hanya masalah kecil dan mereka tak perlu membesar-besarkan masalah tersebut bukan?
Flashback
Serai berlari-lari menghampiri Dj yang sedang duduk sendirian menunggunya -sekitar empat puluh lima menit yang lalu- di taman dekat rumah mereka. “Hossh, D..j,, hmmph maa apph, tad i di jalanh akhu kete muh samah Fia,, hoosh”, suara Serai tampak ngos-ngosan.
Serai duduk di samping Dj sambil mengatur nafasnya akibat berlari-lari. Namun gadis di sampingya seolah tak begitu memperdulikan Serai yang sudah dipenuhi keringat serta nafas yang tersengal-sengal. Gadis itu hanya memandang Serai dengan sedikit senyum yang tertarik dari sudut kanan bibirnya, bisa dikatakan senyuman sinis.
“Lantas?”, hanya itu yang Dj katakan.
“Huh??”, sedikit bingung Serai dengan sikap Dj.
“Aku tanya, lantas kenapa?”, kali ini Dj bertanya dengan nada rendah, begitu dingin terdengar di telinga Serai.
“Ya, ja..jadi begini”, Serai mencoba menjelaskan dengan  sedikit terbata. “Dia memintaku menemaninya ke rumah wali kelas, karena ada yang harus ia urus”. Yang dijelaskan hanya menatapnya dengan ekspressi datar, entah ekspressi seperti apa itu dan Serai benar-benar tak bisa menjelaskan perubahan pada raut wajah sahabatnya. Serai mengerjap-ngerjapkan matanya membalas ekpressi datar Dj yang mengatakan apa-hanya-itu?
“I, iya ak aku minta maap. Aku tau kamu sudah menunggu lama, tapi... sungguh tadi aku sama sekali tidak bisa menolak permintaannya. Dan,-“, Serai menatap ragu ke arah wajah sahabatnya. “Dan saat di rumah wali kelas, kami berbincang terlalu lama, bahkan sampai lupa waktu.. maaf”, sedikit menunduk Serai saat mengucapkan kata terakhir pada kalimatnya.
Dj menghembuskan nafasnya kasar, “Baiklah tak masalah, toh waktu tidak bisa di ulang lagi bukan? Yang sudah terjadi biarlah.. lalu, apa kamu membawa jaket couple yang kemarin aku berikan?”.
“Ya?”, Serai menatap Dj dengan ekspresi terkejut.
“Kenapa terkejut? Apa jangan-jangan kamu...”
“Dj, maaf. Aku bener-bener lupa... kalau gitu aku pulang sebentar ya-“
“Tidak, tidak usah diambil!”, Dj lantas berdiri dengan menyentakkan kakinya kesal. “Aku ngga nyangka ternyata kamu orangnya ngga setia kawan”, kali ini kalimatnya terdengar seperti menyindir.
Serai yang masih lelah mulai tersulut emosinya dan ikut berdiri menghadap Dj. “Apa maksutmu?”
“Kamu masih bertanya apa maksudku? Kamu tidak tahu berapa lama aku menunggumu di sini haah?!!”.
“Iya aku tahu makanya aku tadi sudah minta maaf kan?”
“Ohya, kamu tahu tapi malah mementingkan Fia dari pada aku, sahabatmu. Dan bahkan, jeket Couple hijau yang aku berikan kemarin buat kita pakai hari ini malah nggak kamu pakai.. kamu sengaja kan? Kalau kamu ngga suka sama warna hijau bilang aja dong... aku tahu kamu suka warna biru, tapi setidaknya kamu menghargai pemberianku!”, cecar Dj semakin emosi.
“Aku kan sudah bilang kalau aku lupa! Kamu ini kenapa sih? Kenapa marah-marah begitu? Kamu ngga tau aku cape lari-lari ke sini buat nemuin kamu haah?!!”, Serai menyalak.
“Ya sudah kalau kamu cape yah nggak usah ke sini, gampang kan???”
“Haah, seharusnya tadi aku nggak usah datang kesini kalau cuman mendengar teriakanmu itu. Kamu benar-benar tidak bisa mengerti teman, kamu selalu mementingkan dirimu kau tahu! Kamu selalu memaksaku memakai benda-benda hijau kesukaanmu, padahal kamu tahu aku suka warna biru. Kamu tahu tidak bagaimana aku berlari ke sini huh??!”, tak ingin kalah dari Dj, Serai mulai meluapkan emosinya.
“Apa peduliku? Kamu juga tadi mengataiku kalau aku lebih mementingkan diriku kan? Oke kalau begitu anggap sekarang aku ngga pernah peduli lagi sama kamu!!”, Dj berjalan meninggalakn Serai. Rahangnya mengeras menandakan bahwa gadis itu saat ini benar-benar emosi. Tidak pernah ia seemosi ini sebelumnya. Ia tahu ia egois, tapi bukankah ini semua salah Serai? Seharusnya gadis itu bisa menghubunginya terlebih dahulu tadi agar ia tidak perlu menunggu seperti orang bodoh di taman itu. Ia merasa kecewa, benar-benar kecewa.
Langkah Dj semakin pasti meninggalkan Serai yang berdiri mematung di taman. Tanpa Dj ketahui, sahabatnya itu kini menangis. Serai menangis dengan pandangan nanar memperhatikan punggung sahabatnya yang semakin menjauh, meskipun bibirnya melengkung membentuk senyuman, namun hatinya sungguh sakit sekarang. Tak pernah ia merasakan seperti ini sebelumnya, apalagi jika yang berkata kasar padanya adalah sahabatnya sendiri. Serai sama sekali tak tersisak, namun bulir demi bulir air mata itu semakin deras membentuk anak sungai di pipi chuby-nya.
Saat punggung Dj sudah tak terlihat lagi, gadis itu perlahan berjalan meninggalkan taman -pulang ke rumahnya- dengan tertatih. Dj tak tahu jika saat berlari menemuinya di taman, sahabatnya itu terjatuh, dan kaki kirinya terkilir. Memang Serai tak memberitahukan pada Dj karena ia tak ingin membuat Dj merasa bersalah dan tak ingin sahabatnya itu khawatir padanya. Sedikit meringis Serai tetap berjalan pulang, matanya sudah merah sekarang menahan agar air mata sialan itu tidak keluar. Baginya sakit di kakinya tidaklah sesakit dibandingkan perasaannya saat sahabatnya berkata kasar dan berteriak padanya. Serai takut, dia takut kehilangan sahabatnya.
Flashback end
Setetes air mata meluncur dari sudut mata Dj. Namun bukannya menyeka air mata tersebut, ia malah membiarkan tetesan demi tetesan cairan bening itu membasahi pipinya. Ia sudah terbiasa dengan keberadaan Serai, namun karena keegoisannya ia membiarkan sahabat satu-satunya itu pergi. Kembali sendiri, hidupnya kembali hambar. Potongan puzzle itu kembali hilang dari hidupnya.
Dj tahu bagaimana cara mengembalikan potongan puzzle itu, dengan meminta maaf. Hanya saja ia terlalu takut. Ia takut Serai tidak akan memaafkannya, bahkan tadi pagi saja saat mereke bertemu di kelas, Serai dengan sengaja membuang mukanya ke arah lain. Dj tahu dia egois, tak seharusnya ia memaksa Serai menuruti semua keinginannya. Menganggap Serai adalah miliknya, hanya untuknya. Terdengar sedikit berlebihan memang.
Gadis itu segera menutup ensiklopedia yang sebenarnya tak dibacanya sama sekali ketika bunyi bell tanda istirahat telah usai dan beranjak dari duduknya dan meletakkan buku tersebut ke rak semula.
“Loh, Dj...”
“Eh Rida, kamu ngapain di perpus?”, jawab Dj sedikit serak.
“Habis pinjem buku. Kamu kok akhir-akhir ini aku liyat ngga bareng Serai lagi. Kenapa? Kalian musuhan?”, selidik Rida sembari mereka berjalan ke kelas dengan Rida yang menenteng beberapa buku yang dipinjamnya di perpustakaan tadi.
Dj hanya balas tersenyum menanggapi pertanyaan Rida, “Ohya, habis ini pelajaran siapa Da?”.
“Halaah.. mengalihkan pembicaraan. Habis ini pelajaraan Kewirausahaan Dj...”
“Kewirausahaan? Ya ampun, bukuku di pinjem Dhidi kemarin. Aduh, gimana ini... Aku takut Dhidi lupa bawa, Rida aku duluan yaaa”, Dj berlari meninggalkan Rida. Gadis yang ditinggal itu hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan temannya.

<3

Hari ini tanggal 21 Desember, dan hari ini adalah hari ulang tahun Dj. Seharusnya hari ini Dj merasa senang karena hari ini adalah hari spesialnya. Namun berbanding terbalik dengan keadaannya saat ini. Gadis itu termenung di taman dekat rumahnya, tempat ia dan Serai biasanya menghabiskan waktu, baik untuk mengerjakan PR bersama atau hanya sekedar mengobrol ringan. Gadis itu sadar tempat itu adalah tempat yang membuatnya ingat akan pertengkarannya dengan Serai dua minggu yang lalu.
Seharusnya ia senang hari ini pertama kalinya ia merayakan ulang tahunnya bersama sahabatnya. Namun ia sendiri yang menghancurkan semua itu. Gadis itu masih duduk melamun di bangku panjang di samping pohon palm kipas. Langit mulai berubah sedikit gelap, padahal masih pukul tiga sore, khas musim hujan di mana cuaca berubah-ubah dan tak dapat diprediksi. Well, jujur Dj membenci keadaannya sekarang. Terlihat begitu menyedihkan.
Sebenarnya bukanlah perayaan ulang tahun yang ia inginkan, hanya sekedar ucapan selamat ulang tahun dari Serai. Ia akui bahwa dirinya benar-benar merindukan Serai saat ini. Memang mereka setiap hari bertemu di sekolah, tapi bukankah mereka sedang bermusuhan? Dan kau taulah tentu saja orang yang sedang bermusuhan tak mungkin saling menganggap satu sama lain. Seolah-olah saling tak mengenal, atau bahkan lebih parahnya menganggap tak ada orang itu di sekitarmu.
Damn!
Dj merasa seperti orang bodoh sekarang. Menunggu Serai di taman ini, berharap agar gadis itu datang dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya dan kemudian mereka kembali berteman. Sesederhana itu. Dan hal sederhana dalam bayanganmu tidaklah semudah pada kenyataannya. Atau, haruskah ia yang datang ke rumah Serai meminta maaf? Lalu ia mengajak Serai merayakan ulang tahunnya seperti saat perayaan ulang tahun Serai beberapa bulan yang lalu dan mengundang teman-teman mereka yang lain?
Tssk, tapi bukankah itu artinya terlalu memaksakan diri? Oh, ayolah.. adakah Dewi Fortune berbaik hati agar harapan Dj itu bisa terkabul di hari ulang tahunnya ini? Tak masalah jika Serai tidak mengingat hari ulang tahunnya dan tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, asalkah mereka bisa kembali berteman, kembali bersahabat.
Dan bingo!
Sepertinya Dewi Fortune sedang berpihak pada seorang Dj. Langit mulai meneteskan air hujan perlahan, dan Dj sontak berlari menghindari hujan menuju sebuah pondok di pinggir taman itu. Bukan, bukan air hujan yang turun itu yang menjadi keberuntungan Dj. Namun seseorang yang sedang membawa payung itu. Payung hijau! Yeha, kau benar, itu Serai.
“Se, Serai??!!”, Dj membulatkan matanya tak percaya jika yang di hadapannya saat ini adalah orang yang sedari tadi dipikirkannya.
“Kamu mau main hujan-hujanan haah? Sudah tahu langit mendung, ngapain kamu duduk di sana?”, Serai meletakkan payungnya di pinggir pondok, lalu memilih posisi paling nyaman di pondok itu untuk duduk. Dj mengekor dari belakang, ikut duduk di dalam pondok itu.
Hujan semakin deras, membuat udara menjadi dingin. Dari pondok mereka duduk tercium aroma khas aspal yang basah karena air hujan. Untuk beberapa saat mereka terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tentu saja tak tahu apa yang harus dibicarakan, dan kalaupun ada tak tahu hendak memulai dari mana. Dj menautkan jemarinya, dia tidak suka suasana canggung seperti ini. Tunggu, bukankah ini sama seperti mereka pertama bertemu dulu di depan gerbang sekolahnya?
Serai berkali-kali berdehem mengurangi kecanggungan yang menggelayuti mereka.
“Serai/Dj..”, ucap keduanya bersamaan. Tak ayal sudut bibir mereka tertarik ke atas, setidaknya sesuatu bernama ‘canggung’ yang ditambah imbuhan ke- dan -an itu tak ada lagi di sekitar mereka.
“Kamu duluan”, Dj kali ini yang memulai.
“Eum, sebenarnya aku hanya ingin bilang kalau hujan sepertinya akan lama. Jadi, apa kamu ga mau pulang?”, sedikit menyesal, Serai merutuki dirinya karena tak mengatakan yang sebenarnya ingin ia katakan.
“Oh.. i, iya.. sepertinya hujan akan lama”, Dj membuang pandangannya ke luar pondok. Begitu bodoh pikirnya jika Serai mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, bahkan mereka sama sekali belum berbaikan.
“Jadi kamu tadi mau bilang apa?”. Pertanyaan sederhana dari Serai barusan berhasil mengalihkan perhatian Dj dari tanaman yang diguyur hujan di luar sana pada gadis yang duduk di hadapannya.
“Eh, iya... itu, sebenarnya-”, Dj menggantungkan kalimatnya. Jemarinya masih ia biarkan saling bertautan, terlihat sangat gugup seperti orang yang akan maju untuk presentasi di depan kelas. Serai mengerutkan alisnya bingung, dan sedikit penasaran apa yang akan dikatakan sahabatnya, mantan sahabatnya, atau calon sahabatnya kembali, tssk mana ada nama sahabat yang seperti itu.
Setidaknya bunyi kodok yang bersahut-sahutan dan bunyi guyuran hujan yang sangat deras cukup untuk membuat suasana hening antara dua gadis itu tidak begitu terasa. Mungkin jika sekarang sedang tidak hujan, suasana hening itu akan sangat terasa seperti di film-film horror. Terdengar terlalu berlebihan memang.
Namun tak disangka, Dj langsung menghambur memeluk Serai, teman yang benar-benar ia rindukan dua minggu ini. Serai awalnya sedikit bingung akan tingkah Dj, bukan sedikit bingung, namun sangat bingung malah. Bukan hanya bingung, bahkan gadis itu benar-benar terkejut sekarang. Ada apa ini? Cukup lama Dj memeluk sahabatnya, dan Serai membalas pelukan Dj dengan sedikit ragu-ragu.
“Maaf...”, dengan lirih Dj mengeluarkan suaranya, masih dalam posisi memeluk sahabatnya itu.
Tak ada respon dari Serai. Setidaknya hanya sebuah anggukan yang diharapkan Dj pun tak ada. Sedikit takut Dj berfikir Serai tak mau memaafkannya, dan mungkin setelah ini ia akan memasang muka tembok karena sangat malu telah memeluknya.
Namun alih-alih menjawab, tak sampai lima belas detik berikutnya, Serai malah mengeratkan pelukannya pada Dj. Kali ini giliran Dj yang kebingungan akan sikap Serai.
“Seharusnya aku yang minta maaf”, sedikit serak Serai mengeluarkan suaranya.
Dj menggeleng dalam pelukannya. “Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Seharusnya aku tidak egois saat itu, dan maaf selama ini aku selalu bertindak sesuka hatiku”.
“Aku juga minta maaf atas yang waktu itu, seandainya saat itu aku menghubungimu dulu.. jadi kamu-“.
“Tidak, tidak apa-apa. Sudahlah, kita lupakan saja yang waktu itu”, Dj melepaskan pelukan mereka setelah memotong ucapan Serai yang tak ingin ia dengar, karena sejujurnya gadis itu tak ingin lagi mengingat kejadiaan waktu itu, kejadian yang telah menghancurkan persahabatannya. “Teman?”, Dj mengangkat kelingking kanannya ke hadapan Serai.
Serai tersenyum dan mengaitkan kelingking mereka. “Teman”.
Keduanya tertawa kecil, mengingat tindakan konyol yang barusan mereka lakukan. Setidaknya tindakan konyol itu kembali membuat mereka berteman, kembali bersahabat.
“Maaf terlambat mengucapkannya, selamat ulang tahun yaa”, kali ini Serai yang terlebih dahulu memeluk Dj. Tanpa canggung Dj membalas pelukan sahabatnya itu.
“Makasih Serai, aku seneng banget. Aku pikir kamu lupa kalau hari ini hari ulang tahunku”.
“Ohya aku punya ini”, Serai mengeluarkan sesuatu dari saku celananya setelah melepaskan pelukan mereka. Sebuah gantungan kunci dengan bulu hijau. “Hanya ini yang bisa aku berikan buatmu”, Serai meletakkan gantungan itu di telapak tangan Dj.
Sebenarnya bagi Dj, ia tak pernah mengharapkan sahabatnya itu memberikan hadiah ulang tahun untuknya. “whoaa, ini cantik banget. Makasih ya Serai”, Dj mengangkat gantungan itu dan menerawangnya. “Padahal aku gak pernah berharap kamu bakal ngasih aku kado buat ulang tahunku”.
“Hahaa, iya sama-sama. Eumm, ada satu lagi yang mau aku berikan ke kamu..”.
“Apaan? Uang? Cek?”, mata Dj berbinar-binar.
“Mata duitan lu!” (Author nyindir diri sendiri :-p) Serai mengambil payung hijau yang tergeletak di depan pondok. (sebenernya author mikir, tuh payung aman-aman aja kah yah? Kan hujan deras tuh, apa nggak terbang yah kena angin.. hahaa.. author upay).
“Ini buatmu..”, Serai menyerahkan payung hijau yang selama ini ia pakai kepada Dj.
“Seriusan kamu payung ini buatku??”, tanya Dj sedikit tidak percaya dengan apa yang dilakukan Serai. “Tapi ini kan payung kesayanganmu?”.
“Udah ambil aja. Jadi mulai sekarang kamu yang jemput aku. Dan mulai sekarang kamu yang bawa payungnya, kan selama ini kamu pengen banget bawa payung itu, jadi payung kebanggan ini aku serahkan padamu.. hahahaa”.
Dj terpana mendengar penuturan Serai.
“Lagi pula payung itu berwarna hijau, nanti aku mau beli payung yang warna biru. Oh iya, kamu salah dear kalau bilang payung itu adalah payung kesayanganku, soalnya payung itu cuman payung satu-satunya yang aku punya yang dibelikan mamaku waktu ke pasar malam, heheeh”, Serai nyengir menunjukkan deretan giginya yang putih.
“Tssskk.. padahal aku udah takjub sama kamu, tapi karena penjelasanmu barusan aku gag jadi takjub”, Dj mencibir. Serai masih nyengir merespon pernyataan Dj. “Jadi, kita pulang?”.
Serai mengangguk mantap,”Humm.. sepertinya hujannya benar-benar masih akan lama redanya”.
Kedua gadis itu berjalan beriringan di bawah payung hijau dengan Dj yang kali ini memegang payung tersebut. Persis seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu, hanya saja sekarang mereka tak canggung lagi, dan juga... yeah sang pemegang payung itu juga berbeda.
Hanya cukup mengucapkan kata maaf, dan potongan puzzle itu kembali dalam kehidupan Dj. Dan untuk mengucapkan kata ‘maaf’ itu tidaklah serumit yang ia pikirkan, cukup katakan, katakan dengan tulus.

<3

Persahabatan itu indah, sangat indah. Manis, pahit, tawa, haru, semuanya akan kau rasakan bersama sahabatmu, dan itu yang akan kau rasakan jika kau benar-benar merasa memiliki sahabat. Perhatikan di sekitarmu, adakah selama ini seseorang yang selalu bersamamu? Selalu berbagi kisah denganmu? Seseorang tempat kau berkeluh kesah? Jika ada, bisa jadi ia adalah sahabatmu selama ini yang tak kau anggap.

Flower are lovely; Love is flower like.
Friendship is a shaltering tree
(Jika cinta adalah sebuah bunga,
Persahabatan adalah pohon untuk bernaung)
~ Samuel Taylor Coleridge’s Quote~

.
.
Fin

<3

Cuap-cuap author:
Hyeeeyeyeye lalalalala...
Fiuuuh /elapkeringet/ akhirnya ini cerita jadi juga,, aku gag tau genre cerita macam apa ini, ini cerpen atau apa gag tau deh... dan aku juga gag tau kenapa bisa bikin cerita beginian.. hahaha /ketawabarengkokoLuhan/
Ohiya, selamat ulang tahuun buat Dijeeee *ciumpipiDj* cerita ini nih sebenernya pengen ngebikin D’pancas tetap berjaya, tapi aku ngebikin tokoh utamanya di sini Serai dan Dj. Abisnya kalo langsung berlima aku bingung kebanyakan dialog ~kekekkkk
Waktu Serai ulang tahun aku juga bikin cerita judulnya “Believe” tapi gag sepanjang ini, dan ini cerita terpanjang yang pernah aku bikin lohhh... cerita ini aku bikinnya dengan berbagai mood, kadang dalam keadaan sedih, kadang lagi ceria-ceria, aduh macem-macem dehhh... aku minta maaf kalo ini cerita jelek dan feel-nya gag dapat, abisnya aku ini cuman berusaha mencoba ngebikin cerita padahal gag punya kemampuan menulis, *hiks /nangis dipojokan bareng Yesung/
Ohya, sekali lagi met ulang tahun Dj... lope yu pull *emmuaaach*
Buat temen-temen D’pancas, hope you like this story....
Pai-pai......
/tebarkembangbarengYesungLuhanJonginJeongminWoohyunWoobinKimnamgilHaneulOnewJunkiHarryLouisLiamZaynNiallDongwooSohyunDaesungKyuhyunRyewookDonghaeLeeteukHeechulSiwonSungminKanginShindongEunhyukKibumJonghyunYonghwaJungshinMinhyukSuhoKyungsooSuhoBaekhyunChanyeolSehunKrisLayChenTaoXiuminKevinAJEliDonghooKiseopSunggyuSunggyeolSungjongMyungsooHoyaJonghyunTaeminMinhoKeyHongki/
*ehbusetbanyakbener* haahahahaa.. kapan habisnya iniiih >_<

Tidak ada komentar:

Posting Komentar