Dj, Put It Back On
(Special Story for Dj’s
Birthday ^^)
.
.
(A/N: Cerita ini aku sebenernya aku bikin buat ulang tahun Dj tahun 2013
dulu. Daripada ngendap di folder draft lebih baik aku posting di sini... Happy
reading ^^)
Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah
Cast:
Siti Hadijah a.k.a Dj
Sri Wahyuni a.k.a Serai
Diah Maharani a.k.a Dhidi
Aisyah a.k.a Cloudisah a.k.a Author
a.k.a Isah
Ridha Anisa a.k.a Rida
Genre:
Friendsip
Rating:
Teen
Warning:
Alur ngebut, jalan cerita gaje,
cerita ngga sesuai judul, bahasa tidak sesuai EYD, typo, ngga sesuai karakter
masing-masing, de.el.el
Summary:
Dj maniak hijau, dan Serai tahu itu.
Awal mula persahabatan mereka bermula dari, hijau...
<3
Seorang gadis termenung di pojok
kelas. Bukan, bukan karena ia sengaja menyendiri di pojokan kelas tapi karena
memang kursinya berada di pojok kanan belakang kelas. Saat itu tidak ada guru,
dan kelas menjadi sangat-sangat berisik. Teman-temannya, katakanlah teman
dekatnya, -yah setidaknya itu yang ada dipikaran gadis itu- sibuk bergosip ria.
Apalagi kalau bukan mengenai penampakan ‘kuntilanak’ di ruang UKS beberapa hari
yang lalu. Topik yang benar-benar sedang hangat sampai satu sekolah.
Bukannya gadis itu tidak tertarik
dengan berita itu, hanya saja ia sedang malas berceloteh panjang lebar saat
ini. Ia hanya merasa bosan. Ya, bosan. Gadis itu merasa memang memiliki banyak
teman, teman dekat apalagi. Tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa masuk
sebagai daftar sahabat di hatinya. Tidak dan belum ada satupun.
“Hey, Dj.. ngapain kamu bengong di
situ? Mau mojokan sama nyamuk hah??”, kali ini suara gadis yang dari tadi sibuk
berceloteh tak henti-hentinya sambil mengipas-ngipaskan rambutnya dengan kipas
pink kesayangannya, Dhidi.
“Eoh, mendingan gabung ama kita-kita
aja. Itu loh Dj tentang kuntilanak yang waktu itu di UKS”, kali ini gadis yang
duduk di samping Dhidi ikut angkat suara, Isah namanya. Gadis yang benar-benar
mengidolakan Yesung Super Junior bahkan cita-cita dalam hidupnya adalah pergi
ke Korea Selatan demi bertemu sang idola tercinta (author numpang curcol).
Sedangkan gadis di depan Isah dan Dhidi hanya tersenyum menanggapi, Rida. Gadis
itu memang menjadi pendengar yang baik jika sudah mulut Dhidi dan Isah mulai
berceloteh tentang berbagai hal. Bahkan bisa dikatakan gadis itu masih jauh
pendiam jika dibandingkan dengan Dj.
“Lagi males, kalian lanjutin aja
begosipnya”, jawab Dj yang sedari tadi masuk duduk pewe dibangkunya.
“Okelah, tapi ntar istirahat kita ke
kantin bareng ya”, ujar Isah yang selanjutnya mulai siap untuk kembali menggosip
dengan kedua temannya yang lain. “Eh tapi beneran loh kata anak kelas sebelah
dia juga waktu itu ada di sekitar UKS”.
“Kok bisa gitu ya, hii serem amat
dah...”, dan bla bla bla begitulah kalimat akhir yang bisa ditangkap oleh Dj
setelah akhirnya gadis itu menelungkupkan kepala dengan melipat kedua tangannya
di atas meja sebagai bantalan, dan tak lama berselang dengkuran halus terdengar
dari mulut gadis bertubuh mungil itu.
<3
Siang itu pulang sekolah hujan turun
dengan derasnya, sialnya Dj yang kebetulan sedang ada jadwal piket kebersihan
siang tidak membawa payung. Dan bahkan teman-temannya, Dhidi, Isah dan Rida
sudah pulang terlebih dahulu karena mereka tidak ada jadwal piket siang itu.
Usai melakukan piketnya, Dj berdiri
di bawah atap gerbang sekolah untuk
melindungi dirinya dari guyuran hujan. Gadis itu tidak mungkin menunggu di
dalam kelas karena kunci kelas sudah diambil oleh Pak satpam, dan dengan
terpaksa gadis itu menunggu hujan reda di gerbang sekolah. Sebenarnya Dj bisa
saja menunggu hujan reda di selasar kelas, tapi karena saat itu ia sedang takut
apalagi dengan adanya rumor mengenai kuntilanak itu, tidak ada lagi siswa yang
ingin dan berani berlama-lama di selasar kelas.
“Ckk, berapa lama lagi hujan ini akan
reda”, erang Dj frustasi. Siang itu perutnya sudah benar-benar berdemo untuk
minta di isi, dan hujan semakin semangat berjatuhan menghantam tanah. O iya, di
sekolah Dj dilarang membawa ponsel, dan itu yang membuat Dj merasa nasibnya
benar-benar sial. Ia tidak bisa minta jemput orang tuanya ataupun temannya.
“Kok sendirian?”, tiba-tiba seseorang
–seorang gadis lebih tepatnya- berdiri di samping Dj sambil membentangkan
payungnya. Dan hey, kebetulan apa ini gadis itu memakai payung berwarna hijau,
warna kesukaan Dj.
“Eumm, lagi nunggu hujan reda”, jawab
Dj singkat sambil menyunggingkan senyuman yang yeah bisa dikatakan sedikit
dipaksakan. Gadis itu tidak terlalu biasa berbicara dengan orang baru, sehingga
berbicara terlalu panjang dengan orang yang belum pernah dikenalnya membuatnya
sedikit canggung.
“Oooh”, hanya itu respon dari gadis
di samping Dj. Dilihat dari pakaiannya sepertinya gadis itu bukan siswa di SMA
tempat Dj bersekolah. Entahlah apakah gadis itu anak sekolahan atau tidak
karena gadis itu hanya berpakaian kasual dengan celana jeans biru gelap beserta
sweater biru plus flatshoes berwarna biru malam dan rambut yang dikuncir kuda.
Cukup lama mereka terdiam sembari
memandangi tetesan hujan yang menyentuh tanah, dan sepertinya hujan benar-benar
tidak ada tanda-tanda untuk berhenti. Cuaca siang itu semakin dingin, dan Dj
benar-benar merutuki nasibnya. Hey belum lagi cacing-cacing di perutnya yang
sibuk berdemo ria untuk minta makan. Oh ayolah, bahkan mulut Dj-pun ingin
sekali menikmati coklat panas, bukan hanya para cacing di perutnya.
“Sepertinya hujan akan masih lama
akan reda, di mana rumahmu?”, gadis di samping Dj bertanya dengan ramah seakan
mereka sudah kenal cukup lama.
“huh?”
“Rumahmu, di mana rumahmu? Kalau
tidak terlalu jauh dari sini aku bisa mengantarmu, kulihat kamu ga bawa
kendaraan, jadi kita bisa jalan kaki bersama dengan membawa payung ini”.
Dj memandang gadis di sampingnya
dengan kening berkerut. Ini aneh, menurut Dj. Mereka bahkan baru saling
mengenal, ralat –mereka bahkan tidak kenal-
tapi gadis ini berani menawarkan diri mengantarnya. “Hey, kamu tidak
mengira aku orang jahat kan? Aku hanya ingin menolong orang. Dan lagi kulihat
kamu sudah kedinginan”.
“Kau serius ingin mengantarku?”,
tanya Dj sedikit canggung yang hanya dibalas anggukan mantap dari gadis itu.
“Tentu saja. Jadi, dimana rumahmu?”.
“Rumahku sekitar dua blok dari sini,
berjalan kaki sekitar sepuluh menit sudah sampai”.
“Benarkah? Berarti rumahmu dan
rumahku dekat, rumahku juga sekitar dua blok dari sini. Kalau begitu tunggu
apalagi, ayo cepat kemari”, gadis dengan rambut kuncir kuda itu membentangkan
payungnya di atas kepala Dj agar payung itu muat untuk mereka berdua.
Dengan sedikit canggung -lagi- Dj
mengikuti gadis itu berjalan meninggalkan gerbang sekolah. Cipratan hujan
membasahi sepatu mereka, sehingga keduanya makin merapatkan diri ke tengah
payung dengan gadis -rambut kuncir kuda- yang memegang payung tersebut.
“Ehmmm”, sedikit deheman kecil dari
Dj, sepertinya gadis itu ingin mengatakan sesuatu. “Kamu bilang rumahmu tidak
jauh dari rumahku, tapi kenapa aku belum pernah melihatmu? Apa kamu baru pindah
ke daerah ini?”.
“Hummm, begitulah. Aku baru pindah
dua hari yang lalu”. Dj hanya mengangguk-angguk kecil. Sebenarnya ada hal yang
benar-benar ingin Dj tanyakan sedari tadi pada gadis di sampingnya itu, apa
yang dilakukan gadis itu tadi di depan gerbang sekolahnya? Tapi ia urungkan
niatnya itu karena ia rasa mereka tidak saling mengenal jadi tidak perlu
mencampuri urusan masing-masing.
“Aah, itu rumaku”, Dj menunjuk ke
arah rumah dengan pagar bercat hijau.
“Waah, rumahmu besar juga ya. Kalau
begitu sampai bertemu lagi”, gadis kuncir kuda tersebut berhenti di depan pagar
rumah Dj. Sebenarnya memang sedikit tidak sopan memanggil gadis itu dengan
sebutan gadis kuncir kuda. Tapi yah mau bagaimana lagi, Dj bahkan memang tak
tahu siapa namanya.
“Hmm, terima kasih ya sudah
mengantarkanku. Maaf sudah merepotkan”.
“Ah, ngga masalah. Serai, panggil
saja aku Serai. Eumm, aku pulang dulu ya.. kamu cepatlah masuk.. dadaah”, gadis
itu, Serai, melambaikan tangannya kearah Dj sambil melangkah pergi. Dj membalas
dengan turut melambaikan tangannya juga. Oups, tunggu dulu. Bukankah Dj tidak
pernah seperti ini dengan orang yang tidak ia kenal, oke ralat sekali lagi
–orang-yang-baru-dikenal. Entahlah, sepertinya gadis bernama Serai tadi tidak
terlalu buruk untuk dijadikan teman baru. Dan.. wow bagaimana mereka akan
menjadi teman baru jika Dj saja bahkan tidak memperkenalkan dirinya.
“Tssk, nanti kalau aku ketemu dia
lagi akan aku perkenalkan diriku”, Dj segera masuk ke dalam rumahnya dengan
sedikit berlari-lari kecil setelah sebelumnya ia melihat punggung Serai
menghilang dibelokan jalan.
<3
Hari ini hari Rabu, dan pagi ini
kelas Dj ada ulangan harian mata pelajaran PKN. Dj yang sudah mempersiapkan
dirinya untuk belajar untuk ulangan hari ini melenggang dengan santai memasuki
ruang kelasnya.
“Dj!!! Ya ampun kamu jalannya lambat banget
sih.. cepetan sini...”, panggil seorang teman dekat Dj, Isah.
“Biar pelan asal selamat, nggak kaya
kamu jalan ngangkang, nubruk sana nubruk sini”.
“Eooh, gag gitu juga kali aku
jalannya”, Isah mencibir. “Eh, any way kamu udah denger belom kalo hari ini tuh
ada murid baru di kelas kita?”
“Murid baru? Seriusan kamu? Kok aku
gag tau.. emang siapa yang bilang?”, kali ini Dj mendudukan diri di kursinya.
“Aku denger-denger dari mereka sih
tadi pas aku baru dateng”, tunjuk Isah pada teman-teman sekelas mereka yang
sedang berkumpul di depan pintu kelas. “Kira-kira cewe atau cowo ya?”, sambung
Isah lagi.
“Ah palingan juga cewe, di dunia ini
kan lebih banyak cewe dari pada cowo”, jawab Dj sembari mengeluarkan buku dari
dalam tas ransel hijau kesayangannya.
Isah mendelik, “Eits, kali aja cowo.
Ah semoga cowo tampan, pinter, kaya, rajin sholat, eumm terus apalagi yah..”
“Biar dia sebegitu perfectnya emang
dia mau sama kamu?”, potong Dj sebelum temannya itu menyelesaikan kalimatnya.
Isah mencondongkan wajahnya dengan
mata yang disipit-sipitkan ke arah Dj, “Lu maksut???”. Dj refleks memundurkan
wajahnya.
“Kyaa.. kalian berdua ngapain hah?
Tuh guru PKn bentaran lagi mau ke kelas”, satu lagi teman Dj, Diah, datang
seperti biasa sambil menenteng kipasnya. Dibelakangnya Rida mengekor dan segera
mendudukan diri dikursi samping Isah. (Rida ngekor bukan jadi pengikut, tapi
Diah jalannya yang kecepetan, hheheh)
“Yaaah, Rida kenapa kamu baru dateng?
Elaah, aku kan mau pinjem catatanmu. Mana mana sini.. ada yang belum aku pelajarin,
dikit lagi”, Isah mengeluarkan buku dari tas teman sebangkunya itu dengan
beringas, sedangkan sang empunya tas hanya menatap gadis polos nan cerewet itu
dengan tatapan datarnya. Sesaat setelahnya mereka mulai sibuk dengan
kegiatannya, sedangkan Diah mulai sibuk ber-sms ria, dengan sang kekasih
tercinta mungkin.
Dj? Jangan tanya gadis itu, pagi-pagi
seperti ini dia kembali melamun, entah melamun atau tidak karena ia memandang
ke jendela di sampingnya dengan pandangan kosong.
Selang beberapa menit kemudian, bel
tanda pelajaran pertama dimulai. Seisi kelas mulai sibuk duduk di bangku
masing-masing, ada yang sibuk membolak balikan halaman buku, ada yang mulutnya
komat-kamit mengingat hafalannya dengan mata terpejam, ada yang masih sibuk
dengan sarapan paginya, bahkan masih ada yang sibuk melamun ria, yah kau taulah
siapalagi kalau bukan Dj.
Tak berselang lama, seorang guru
wanita dengan wibawanya serta kacamata yang menghias matanya memasuki kelas
mereka, berjalan dengan sangat tenang. Beberapa murid mulai grusak-grusuk, ada
yang gugup masih sambil komat-kamit menghafal, ada juga yang masih sibuk
melipat-lipat kerta korpe-an untuk ulangan nanti. Hey, bukankah mata pelajaran
pagi ini adalah PKN? Mengapa yang masuk adalah wali kelas mereka?
“Assalamualaikum warohmatullahi wa
barokatuh, anak-anak”, salam guru mereka tersebut.
“Wa’alaikum salam warohmatullahi wa
barokatuh”, jawab para murid itu serempak.
“Nah, sudah siap ulangannya?
Keluarkah kertas selembar...”
“Haaaah??!!!!”, seluruh murid menjadi
heboh. Ckk, ayolah, bagaimana mungkin ulangan harian pelajaran PKN diwakilakan
oleh wali kelas mereka yang notabene-nya adalah guru Akuntansi?
“Kok begitu responnya? Tadi Ibu lihat
banyak yang sibuk komat-kamit menghafal, berarti ada ulangan toh? Ayo cepet
keluarkan kertas selembarnya”. Beberapa, -bahkan kebanyakan- diantara
murid-murid yang memasang wajah cemberut. Seharusnya jika wali kelas yang masuk
akan ada hal penting yang akan disampaikan, mungkin mengenai anak baru itu dan
jika mereka beruntung siapa tau ulangan PKN-nya ditunda minggu depan. Hal itu
merupakan harapan hampir semua murid bukan?
“Sekarang kertasnya disimpan dulu
untuk ulangan minggu depan, sekarang ibu mau memperkenalkan murid baru untuk
kelas kita”, wali kelas yang masih terlihat muda di usianya yang menginjak
kepala empat itu menoleh ke arah luar kelas, tak berapa lama masuklah seorang
gadis dengan pakaiannya yang masih berwarna cerah, sangat rapi dari ujung
kepala sampai ujung kaki, khas murid baru. Dan sepertinya seseorang di kelas
itu pernah melihat gadis itu sebelumnya. “Nah, semuanya ini teman baru kalian.
Ayo sayang perkenalkan namamu kepada teman-teman barumu”.
“Assalamualaikum semuanya, nama saya
Sri Serai, panggil saja Serai. Mohon bantuan kalian semua”, ucap gadis itu
dengan sangat ramah. Gadis di pojokan kelas yang awalnya tidak begitu berminat
dengan murid baru itu sontak menoleh ke sumber suara saat mendengar nama
‘Serai’. Bukankah itu gadis yang kemarin pulang bersamanya dengan membawa
payung? Pantas saja kemarin ia berada di sekolah Dj, mungkin saja gadis itu sedang mengurus registrasi sebagai
murid baru, pikir Dj.
“Cieeeh Fazri dari tadi ngeliyatin
anak baru sampe ga bekedip matanya”, goda Lani, teman sebangku Fazri, yang
hanya ditanggapi Fazri dengan memutar bola matanya malas. Mungkin mood anak itu
sedang tidak baik. “Halaah, sok ga tertarik. Awas Serai jangan sampai digodain
sama anak ini, dia itu p-l-a-y spasi b-o-y”.
Serai hanya tersenyum, sedikit risih
bisa dibilang. “Nah, karena hanya kursi di belakang yang kosong kamu duduk di
sana saja ya”, wali kelas mereka menunjuk kursi kosong di belakang di samping
Dj. Dj refleks membuka lebar-lebar kedua matanya saking terkejutnya. Kebetulan
apa lagi sekarang ini?
Serai mengangguk, ia segera berjalan
ke belakang menuju kursi yang akan ia tempati. Tapi gadis itu sepertinya tidak
begitu terkejut saat bertemu pandang dengan Dj, berbanding terbalik dengan Dj
yang masih sedikit panik. Bukan karena apa, hanya saja gadis itu belum siap
untuk bertemu kembali dengan gadis yang sudah menolongnya kemarin.
“Ibu harap kalian bisa berteman baik
dengan teman baru kalian. Kalau begitu ibu keluar dulu, ada jadwal di kelas
sepuluh, jangan ribut. Ketua kelas awasi teman-temannya”, perintah sang wali
kelas pada ketua kelas yang duduk di pojok kiri depan.
“Tapi Bu, tadi ibu bilang simpan
kertasnya buat ulangan minggu depan. Jadi ulangan PKN-Nya bagaimana Bu?”, tanya
ketua kelas mereka, Matz.
“Astargifullah, hampir ibu lupa. Hari
ini Ibu Sam ada rapat di Dinas Pendidikan, jadi kalian ulangan hariannya minggu
depan. Tolong jangan ribut, jangan mengganggu teman-teman kalian di kelas lain.
Kalau ada yang mau ke perpus silakan, tapi tetap jangan ribut ya. Kecuali ke
kantin, tidak ada yang boleh ke kantin sebelum jas istirahat, mengerti semua?”
“Mengerti bu”, jawab semua murid
kembali serempak.
“Ketua kelas awasi kelas, Ibu keluar
dulu. Assalamualaikum”. Sembari sang wali kelas melangkah keluar kelas, di
dalam kelas mulai riuh perlahan-lahan. Seolah tidak mendengarkan perintah dari
wali kelas mereka sebelumnya. Begitulah anak sekolah, sangat menyenangkan
bukan?
“Hai Serai, namaku Enoe, ini Bebets,
kalo ini Fita”, sapa seorang gadis yang duduk di dekat meja Serai, Enoe. Di
samping Enoe, Bebets dan Fita melambai-lambaikan tangannya yang ditanggapi
Serai dengan melambai-lambaikan tangannya juga. “Serai mau ikut kami ke perpus
ga?”, tanya Enoe kembali.
Serai menggeleng, “Engga dulu. Lain
kali aja aku ke perpusnya”, jawabnya sambil tersenyum.
“Yasudah kalo gitu, kami jalan dulu
ya Serai”, balas teman di samping Enoe, Bebets.
“Iya”, jawab Serai sambil mengangguk.
“Namamu Serai kan? Aku Dhidi, cieeh
Dj sekarang udah ada teman sebangkunya. Isah, Rida, liyat Dj udah punya teman
sebangku nih”, Dhidi mengulurkan tangannya pada Serai sambil duduk di bangku
Rida, lebih tepatnya mepet-mepet duduk di samping Rida yang duduk satu meja
dengan Isah di depan Dj dan Serai. Serai membalas salaman dari Dhidi, masih
dengan senyum di wajahnya. Maklumlah, anak baru memang harus ramah agar dapat
teman baru bukan? Atau memang gadis ini suka tersenyum? Entahlah.
“Eh, ke kantin yo siapa mau ikut?”,
tanya Dhidi pada teman-temannya. “Ayo Dhi aku juga uda laperrrrr”, jawab Isah
dengan semangatnya.
“Eh, kan ga boleh ke kantin tadi kata
Bu Zul”, sela Dj. Isah mencibir, “Ibu kan ga liyat Dj. Ayo Dhi kita go, ayo
Rida, tinggalin aja dua sejoli ini.. hahaa”, balas Isah. “Oh ya Serai aku lupa,
aku Isah dan kalo ini namanya Rida. Euumm.. Mau ikut ke kantin ga? Ato mau
nemenin nyonya Dj merenung di kelas?”, sambung Isah lagi.
Serai kembali hanya tersenyum,”Engga
makasih, kalian duluan aja”.
“Yo weslah, kita ke kantin dulu ya...
Cieeh Dj laaah”, Dhidi kembali menggoda Dj sambil berjalan keluar kelas bersama
Isah dan Rida. (Author dari tadi lupa bikin Rida ngomong eh)
<3
Suasana kelas kembali tenang, karena
kebanyakan penghuninya meninggalkan kelas. Ada yang ke perpus, untuk belajar
ataupun tidur, ada yang ke kantin, ada yang nongkrong di depan kelas, namun ada
juga yang masih betah di dalam kelas, diantaranya adalah Serai dan Dj.
Sebenarnya Dj sedikit canggung dengan
teman sebangkunya itu, ia sudah terbiasa duduk sendirian selama satu semester
dikelas sebelas. Sedikit menyesal baginya seandainya tadi ia memilih ikut
teman-temnannya ke kantin, sehingga ia tidak perlu merasakan situasi canggung
yang benar-benar tidak nyaman ini. “Ehhhm..”, Serai berkali-kali berdehem kecil
untuk mengurangi kecanggungan antara mereka.
“Na, nama, namamu Serai kan?”, Dj
memulai pembicaraan terlebih dahulu setelah sebelumnya berusaha mengeluarkan
suara dari tenggorokannya yang entah sejak kapan menjadi kering.
“Heummm”, Serai mengangguk. “Kamu
yang kemarin kan? Senang bertemu kamu lagi. Bener-bener ngga nyangka kita bisa
sebangku”, jawab serai ramah.
“Iya. Oh ya, kenalin namaku Dj”, Dj
mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh Serai. “Bener-bener kebetulan
ya, rumah kita deketan, terus sekarang kita sebangku”.
“Aku pikir aku ngga ketemu kamu lagi,
padahalkan kamu kemarin belum memperkenalkan diri”, jawab Serai usai mereka
melepaskan jabatan tangan mereka. “Eum, kalau boleh tau kamu suka warna
hijau?”.
Dj mengerjap-ngerjap, “Mm ma
makmaksutmu?”.
“Yah, aku hanya menebak-nebak.
Soalnya dari tadi aku lihat semua barang-barangmu berwarna hijau”, jawab Serai
enteng. “Tapi emang bener kan?”.
“Hehehh, kamu bener banget. Terlalu
mencolok yah?”.
“Sedikit”, jawab Serai dengan
cengiran di wajahnya. “Oh ya, nanti jam istirahat temanin aku jalan-jalan ke
seluruh sekolahan ini ya. Aku mau lihat-lihat seluk beluk sekolah baruku,
yayaa..”.
Dj mengacungkan jempolnya dengan
mantap, “Siiipp...”.
<3
“Nah, kalau yang ini Lab TOEIC,
tempat kita belajar pelajaran Bahasa Inggris terutama untuk materi listening”,
Dj masih melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang ‘guide’ untuk teman barunya
setelah dari tadi mereka mengelilingi seluruh penjuru sekolah mulai dari aula
depan sekolah, kantin, perpus, dan seluk beluk ruangan yang ada di sekolah
mereka hingga ke bagian paling ujung dari sekolah –bagian belakang lebih
tepatnya- yaitu Lab TOEIC. Serai mengangguk-angguk sembari memperhatikan seisi
ruangan di Lab itu. “Tapi masih ada satu ruangan lagi di samping Lab TOEIC
ini”, kembali Dj mengajak Serai ke ruangan lain untuk meneruskan tugasnya
sebagai ‘guide’.
“Ini adalah Lab terakhir yang ada di
sekolah kita, memang paling jauh dan paling belakang. Lab Akuntansi. Memang
sengaja dibangun paling ujung dan paling belakang sekolah agar murid-murid
akuntansi bisa tenang mengerjakan soal-soal akuntansi. Dan... kita akan sering
belajar di Lab ini karena setiap mata pelajaran akuntansi kita akan belajar di
Lab ini”, terang Dj mengakhiri tugasnya sebagai guide bagi Serai karena sudah
seluruh bagian sekolah ia tunjukkan kepada Serai.
Serai memandangi seluruh isi ruangan
Lab dengan sedikit takjub. “Seriusan kamu kita belajar di sini kalau pelajaran
akuntansi? Whoaa keren... Ada AC-nya, terus ruangannya luas, bersih, dan...”,
Serai sedikit berlari menjauhi Dj dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi
Lab paling depan, “Coba lihat, bukankah ini keren?? Kursinya berputar! Ah,
sekolah ini benar-benar keren, luas bangeeeeet... “, Serai memutar-mutar kursi
yang ia duduki.
Dj tersenyum menanggapi pernyataan
yang menurutnya sedikit berlebihan itu dari teman barunya. Hey, ayolah Dj saja
dulu tidak seheboh itu saat hari pertama bersekolah di sekolah yang benar-benar
luas itu. Bahkan di hari pertama ia sudah tersesat karena bingung dengan
sekolah mereka yang berkelok-kelok. Eum, haruskah kejadian saat ia tersesat
dulu ia ceritakan pada Serai? Sedikit ragu Dj membuka suaranya, setelah
sebelumnya ia turut duduk di kursi di samping Serai. “Benarkah menurutmu seluas
itu?”.
Serai refleks menoleh ke arah Dj
dengan tatapan yang mengisyaratkan emang-bener-kan?.
“Kamu tau ga? Dulu pas kelas sepuluh
di hari pertama aku sekolah di sini, aku sempat kesasar”.
Kening Serai berkerut. “Kesasar?”.
“Iyap, kesasar. Aku malah sampai ke
kelas dua belas TKJ, waktu itu aku benar-benar bingung dengan koridor sekolah
yang berkelok-kelok”
“Pfffttt...”, bukannya menanggapi
kalimat yang baru saja Dj sampaikan, Serai malah tertawa, menahan tawa lebih
tepatnya. Alis Dj mengernyit, apa barusan ia salah bicara? Atau ada hal yang
lucu sekarang?. “Kau tahu, kau itu benar-benar polos”.
Sekarang Dj balas menatap Serai
dengan tatapan maksut-lo-apaan?. “Oh girl... yang benar saja. Bagaimana mungkin
kamu bisa kesasar sedangkan di sekolah ini sudah jelas bagian-bagian koridor
untuk tiap jenjang kelas. Bukankah koridor kelas sepuluh dan kelas dua belas
itu berbeda? Aku yang baru satu hari di sini saja sudah tau... kamu kan
melewati masa MOS, tidak mungkin tidak diberitahu hal itu kan sebelumnya oleh
kakak OSIS?”, Serai masih mempertahankan ekpressi menahan tawanya. Wajahnya
benar-benar hampir mirip tomat mengkal sekarang. Yup, tomat mengkal, tomat
belum masak.
Dj mengerucutkan bibrnya. Ckk
seharusnya tadi ia tidak usah menceritakan kejadian memalukan itu pada teman
barunya. Namun alih-alih menyalak perkataan Serai, ia malah ikut tersenyum.
Oh My, mungkin jika Dhidi yang
mengatakan itu Dj pasti sudah membalasnya habis-habisan.
Ini aneh, menurut Dj. Gadis di
sampingnya ini mampu memberikan aura positif baginya. Jika biasanya Dj gampang
tersulut emosi, namun dengan gadis ini Dj bisa merasakan hal lain dari dirinya.
Entahlah Dj sendiri tidak tahu perasaan apa itu. Namun satu yang pasti
diketahuinya, saat bersama Serai ada perasaan nyaman. Yah, nyaman. Bukankah ini
sedikit aneh? Mereka kan baru saja saling berkenalan. Bagaimana mungkin Dj bisa
menyimpulkan seperti itu? Tapi asal kau tahu, benar-benar hal itu yang Dj
rasakan.
“Dj, kau masih di sini?”, Serai
mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Dj.
Dj mengerjap-ngerjap. “Eum, eh? Apa
tadi kamu bilang?”.
“Gapapa. Lupakan. Oiya, bentar lagi
bell istirahat selesai, mendingan kita balik ke kelas aja yuk”. Serai mulai
beranjak dari kursinya. Dj hanya mengekor. “Hmmm, makasih ya udah ngajak aku
keliling ke seluruh bagian sekolah ini”.
“Ah, ga masalah. Lagian aku seneng
kok dipercaya buat jadi guide kamu,, hehee”.
“Bagus deh kalo gitu. Eh ntar kita
pulang bareng lagi yuk. Sekalian aku mau nunjukkin rumahku.. kamu mau kan
pulang bareng aku?”.
“Okey, dengan senang hati”, Dj
tersenyum sumringah. Senyum yang belum pernah ia tunjukkan selama ini kepada
teman-temannya di sekolah, pun termasuk kepada teman-teman dekatnya, Dhidi,
Isah dan Rida.
Mereka berdua berjalan sepanjang
koridor menuju kelas dengan tangan yang saling bertautan. Ehm, apakah ada yang
mencium bau tanda-tanda persahabatan di sini?
<3
Embun tak perlu warna untuk membuat
daun tertarik padanya. Daun hanya merasakan nyaman saat sang embun menyentuh
permukaannya. Begitu pula dengan persahabatan. Tak perlu alasan spesifik
mengapa kita bisa begitu nyaman bersama seseorang yang kau anggap sahabat.
Karena sahabat, siapapun dia, bagaimanapun dia, seperti apapun dia, jika ia
mampu membuatmu merasakan kenyamanan dan ketulusan, tak perlu kau mencari yang
lain. Cukup dirinya, sahabatmu.
Serai seperti potongan puzzle yang
selama ini hilang dari hidup Dj. Entah kenapa, sejak ia mengenal Serai seakan
potongan puzzle itu kini sudah lengkap, tanpa cela. Pun demikian dengan Serai.
Di tempat barunya, di sekolah barunya, ia beruntung memiliki seorang sahabat,
sahabat baru katakanlah. Bukankah semua orang pasti memiliki sahabat? Tak
mungkin ada seseorang yang tidak memiliki sahabat dalam hidupnya. Jika kau
mengatakan tak ada, bukan berarti kau memang tak memiliki sahabat. Hanya saja
mungkin kau belum menemukannya.
Tak terasa sudah setengah tahun
hubungan Serai dan Dj sejak pertemuan mereka di awal pelajaran semester dua.
Sekarang mereka menginjak kelas dua belas. Kelas penghujung bagi siswa SMA,
kelas di mana kau benar-benar harus menentukan nasibmu. Segala jerih payahmu
selama bersekolah sebelas tahun dihitung sejak kelas satu SD, dipertaruhkan di
sini. Kelas yang merupakan pembuktian apakah
seorang siswa mampu membentuk pribadinya, mampu menjadi pribadi yang
berguna usai lulus sekolah nanti. Kelas yang tak akan terlupakan olehmu seumur
hidup. Kelas yang benar-benar penuh perjuangan. (Kisah pribadi author, hahaa).
“Dj, nanti sore temenin aku ya...”,
ucap Serai memecah keheningan sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini mereka
sedang berjalan pulang bersama.
“Ke?”
“Ke kafe yang kemaren baru buka
itu... ayolah Dj, aku mau merayakan ulang tahunku. Bolehkan?”.
“Whoaaa, tentu saja. Kamu yang
traktir ya..”, jawab Dj dengan pandangan berbinar-binar. Serai menyipitkan
matanya menanggapi jawaban Dj.
“Tskk, kalau gratisan baru mau
nemenin aku”, Serai mencibirkan bibirnya. Dj hanya terkekeh pelan melihat
sahabatnya itu. “Oiya, kamu kasih tau Isah, Dhidi, sama Rida ya buat dateng
nanti sore, biar lebih rame”.
“Okkeh siip.. mereka pasti aku kasih
tau”, Dj mengacungkan jempolnya di hadapan wajah Serai. Membuat Serai
mendelikkan kepalanya. “Yaudah aku masuk duluan yaa... sampai ketemu nanti
sore”, Dj melambaikan tangannya di depan pagar rumahnya saat mereka sudah
sampai di depan rumah Dj yang dominan bercat hijau.
“Oke... dadaah”, Serai balas
melambaikan tangannya sembari berjalan menjauh dari rumah Dj.
<3
“Ckk, kemana mereka... ditelpon gada
yang ngangkat, disms ngga ada yang ngebales... apa sih maunya”, gerutu Serai
tak henti-hentinya. Well, bagaimana gadis
itu tidak menggerutu, bayangkan saja. Sekarang ia berniat merayakan pesta
kecil-kecilan untuk hari ulang tahunnya dan teman-temannya bahkan belum ada
satupun yang datang. Bahkan Dj saja tidak membalas smsnya. Atau jangan-jangan
mereka tak ada satupun yang berminat merayakan ulang tahunnya? Oh ayolah Serai,
jangan berpikir yang tidak-tidak. Gadis itu mengacak rambutnya yang rapi,
mengakibatkan berantakan tak karuan dari rambut panjangnya. Gadis itu tak
henti-hentinya mengecek ponsel flipnya, mungkin akan ada sms dari
teman-temannya, terutama Dj. Sejak tadi hanya Dj yang gadis itu pikirkan. “Dj,
di mana kamu???”.
Sedikit menunduk gadis itu memandang
keluar kafe dari jendela di samping ia duduk, berharap agar salah satu dari
teman-temannya itu mau berbaik hati datang merayakan pesta ulang tahunnya.
Gadis itu sebenarnya sudah cukup malu karena sudah terlalu lama di dalam kafe
itu, bahkan pengunjung di samping mejanya sudah berganti sampai tiga kali.
Akhirnya dengan nafas yang ia
hembuskan dengan kasar, ia menyerah. Memilih untuk beranjak dari duduknya
sekitar satu jam lima belas menit yang lalu, dengan rasa dongkol yang teramat
sangat. Menahan kesal karena ia sudah dibuat menunggu. Dan hey, tak tahukah
kalian anak ini paling benci menunggu? Dan ia hanya akan menunggu paling lama
lima belas menit, dan kali ini, karena temannya -ralat- karena sahabatnya, ia
bahkan rela menambahkan satu jam dari lima belas menit waktu normal ia biasa
menunggu.
Serai melangkah gontai keluar kafe,
dengan menekan rasa kesalnya. Tssk, kau bayangkan saja jika kau menunggu selama
itu dan bahkan kau tidak mendapatkan hasil apa-apa. Dan hmmm... sepertinya
besok gadis itu tidak perlu menegur Dj, sebagai pemberontakan bahwa ia
benar-benar kesal hari ini. Wajah gadis itu benar-benar seperti anak kecil yang
yang tidak mendapat izin untuk bermain dari orang tuanya. Wajahnya sudah
ditekuk berlipat-lipat sekarang.
Gadis itu melewati rumah Dj, berjalan
perlahan sambil memandangi rumah sahabatnya itu. “Dj, kamu ke mana sihh??!”,
kembali gadis itu mengerang kacewa. Sedikit berharap agar sahabatnya mungkin
akan keluar rumah dan menyapanya. Namun nihil. Dan kembali dengan wajah masam,
gadis itu berjalan perlahan pulang ke rumahnya, dengan perasaan dongkol -lagi-.
“Tadaaaa...”, teriakan teman-teman
dekatnya, Dhidi, Rida, dan Isah, serta sahabatnya, Dj menyambut kedatangan Serai
di pintu depan rumahnya. Hey, ada apa ini? Bukankah perjanjiannya mereka akan merayakan ulang tahun Serai di kafe?
Bukan di rumah Serai kan? Atau jangan-jangan tadi Dj salah dengar?
“Serai, selamat ulang tahuuuun!!”,
seru Isah sambil melembar kertas konfetti, menyebabkan rambut Serai penuh
dengan kertas warna-warni tersebut. Disusul oleh teman-teman yang lainnya.
“Yayaa, ada apa ini huh? Bukankah aku
bilang akan mentraktir kalian di kafe? Kenapa kalian ada disini hahhh!! Dan apa
kalian tahu, aku menunggu kalian lebih dari satu jam!! Kalian bayangkan itu
bagaimana malunya aku di sana, menunggu kalian.. bahkan tak ada satupun dari
kalian yang mengangkat telponku atau minimal membalas smsku!! Bahkan sampai
pelayan di kafe itu memandangku dengan tatapan yang benar-benar membuatku muak!
Kalian tidak tahu kan kalau...”
“Huusstt, oke-oke kami minta maaf.
Jangan mengomel lagi yaa... pesta ulang tahun tanpa kejutan bukankah itu
hambar? Hehee, jadi kami hanya sedang berusaha membuat pesta ulang tahunmu ada
rasanya, tidak hambar dear”, potong Dj dari omelan panjang Serai yang mungkin
jika dibiarkan diteruskan sampai adzan magrib tidak akan habis-habis.
Serai masih memasang tampang masam.
“Lantas ide siapa ini humm??”.
Sontak semua menoleh ke arah Dhidi,
yang berhasil membuat sang tersangka mengerjap-ngerjapkan matanya. “Hey ayolah
gals, tapi ini seru kan? Membuat Tuan Putri
kita kesal”, Dhidi menyenggol lengan Serai dengan tampang cengiran
khasnya. Yang disenggol hanya mencibir.
“Iya Serai, jangan marah yaaa... kami
cuman mau bikin surprise buat kamu”, kali ini Rida yang bersuara sambil
merangkul pundak Serai. Serai hanya mampu tersenyum membalas perkataan Rida.
“Naaah, gitu kek dari tadi, senyumlah
sedikit.. kalo gitu ayo kita ke dalam. Kami sudah beli kue loh Serai”, ucap
Isah dengan semangat sambil mendorong Serai masuk ke dalam rumahnya, ke ruang
tamu lebih tepatnya. “Tapi kami ga punya kado, gapapa kan? Heheeh, budget
terbatas ces”, sambung Isah lagi. (Author numpang banyakin dialog pribadi,
hehee)
Di ruang tamu, para gadis itu
bercengkrama sambil sesekali mencolekkan krim ke wajah temannya. Tak usah
dijelaskan pun kau tahulah bagaimana situasi saat sedang merayakan pesta ulang
tahun bukan? Namun di dalam keceriaan itu ada seseorang yang hatinya menangis.
Tidak, bukan karena ia sedih, tapi ia benar-benar bahagia. Sebenarnya kemana
saja ia selama ini? Ia memiliki banyak teman baik, teman-teman yang sering
membuat senyum dan tawa diwajahnya. Teman-teman yang akan selalu mendukungnya
dan mensupportnya jika dalam keadaan down. Dan lagi ditambah seorang Serai,
serasa semakin lengkaplah hidupnya. Lantas, mengapa selama ini ia bersedih dan
tidak pernah bersyukur?
“Yaah, Dj kenapa melamun hmm? Kamu ga
suka kuenya? Sini buat aku aja”, Serai merebut sepotong black forrest dari
tangan Dj, hingga berakhir dengan mereka yang berebut black forrest tersebut.
“Hahaaa, Rida coba kamu lihat mukamu.
Udah becemong-cemong kayak badut Trans Studio,, hahaha”, yang ditunjuk sontak
mengelap wajahnya. “Hei Dhidi, emang kamu ga sadar mukamu lebih banyak
cemongnya haah?”, ucap Serai sambil mencolekkan krim kue ke wajah Dhidi. Dhidi
yang tidak terima lantas membalas perbuatan nista tersebut, dan... yeah sore
itu diakhiri dengan tawa di perayaan pesta kecil-kecilan Serai. Pesta sederhana
yang berhasil membuat seseorang di sana merasakan artinya teman, artinya
sahabat. Pesta sederhana yang membuat seseorang di sana merasakan bahwa
hidupnya selama ini tidaklah gelap, namun penuh warna oleh teman-temannya yang
selama ini tidak pernah ia sadari. Gadis itu, Dj.
<3
Musim hujan di bulan Desember. Hampir
setiap hari hujan turun mengguyur kota -tanpa mengenal waktu-, tak ayal
mengakibatkan para pelajar kesusahan saat akan berangkat ke sekolah. Tak
terkecuali Dj, gadis itu masih bersungut-sungut di ruang makan merutuki hujan
yang tak kunjung reda. Padahal sekitar lima belas menit lagi bell di sekolahnya
akan berbunyi, belum lagi perjalanannya dari rumah ke sekolah yang memakan
waktu sekitar sepuluh menit, dan pasti ia merasa akan benar-benar terlambat hari
ini.
“Udahlah, santai aja kali. Kalau
hujan begini guru-guru di sekolahmu juga pasti banyak yang belum datang”,
celoteh Na, kakak Dj, yang masih sibuk menghabiskan serealnya. Yang diajak
berbicara sama sekali tak menggubris, sedari tadi pandangannya hanya tertuju
pada jam dinding berwarna peach di sudut ruang makan. Berkali-kali gadis itu
menghembuskan nafas berat, mengetuk-ngetukkan jari tengahnya ke atas meja makan
dengan gelisah.
Na menautkan alisnya bingung melihat
tingkah sang adik yang tidak biasanya saat sedang sarapan, “Kamu kenapa sih
Dj?”.
“Serai kira-kira datang ngga yah?
Sudah sepuluh menit dari waktu yang ia janjikan untuk menjemputku”.
“Hyaaa... kamu ini gimana sih? Hujan
begini yah ngga mungkin lah Serai jemputin kamu. Palingan juga dia diantar sama
Bapaknya”.
“Tapi kan-“, teriakan seorang gadis
di luar rumah mereka menghentikan perkataan Dj.
“Dj!! Dj.....!!!”.
“Nah Serai sudah datang. Aku duluan
Ka’.. Assalamualaikum”, Dj bangkit dari kursi.
Na hanya mengendikan bahunya,
“Wa’alaikum salam”.
Dj berlari-lari kecil keluar rumah
menemui sahabatnya. “Iya Serai tunggu bentar”.
Gadis itu meghampiri Serai yang sudah
rapi dengan pakaian sekolahnya, ditambah jaket biru muda yang membalut tubuhnya
plus payung hijau yang selalu mengingatkan Dj akan petemuan pertamanya dulu
dengan Serai.
“Sorry telat, tadi aku kasih makan
kucing-kucingku dulu”.
“Ah iya gapapa kok. Kita kan belum
telat juga ke sekolah”.
“Okelah, ayo cepetan”, Serai menarik
Dj agar gadis itu bisa berjalan dengan langkah lebih lebar di sampingnya.
“Serai, sini payungnya biar aku yang
pegang”, Dj berusaha mengambil pegangan payung dari tangan Serai, namun sebelum
tangannya berhasil mengambilnya, Serai keburu menjauhkan tangkai payung
terebut. “Hey, ga usah. Biar aku aja. Mendingan kamu jalannya lebih dicepetin
deh, langkahmu kalah lebar dari langkahku, hhehee”.
“Tssk, aku kan pakai rok panjang,
kamu rok pendek, susah tau”, Dj mengerucutkan bibirnya sebal, hanya pura-pura
sebal sebenarnya.
“Hahaa, diangkat dong kalo gitu”. Dj
semakin mengerucutkan bibrnya, sepertinya kali ini gadis itu benar-benar sebal
dengan sahabatnya. Namun tak lama kemudian, mereka berdua sama-sama tertawa.
Entah ada apa, hanya mereka berdua yang mengerti. Di sepanjang perjalanan
menuju sekolah, hanya dipenuhi celotehan-celotehan ringan dan sedikit canda
dari keduanya.
<3
Sudah seminggu Dj tak pernah lagi
terlihat berangkat ataupun pulang bersama Serai. Gadis itu bahkan lebih senang
menyendiri ke perpustakaan jika sedang istirahat atau saat jam kosong. Seperti
saat ini, ia tengah berada di perpustakaan, duduk dikursi paling pojok dengan
sebuah buku tebal -ensiklopedia alam- di atas mejanya. Gadis itu membalik
halaman demi halaman dengan pikiran kosong. Sama sekali tak berniat membaca
rentetan tulisan demi tulisan dengan beberapa gambar di dalam buku tersebut.
Pikirannya sedikit kacau, ada rasa kecewa dan sedih yang cukup kentara pada
ekspressi wajahnya.
Mereka berdua, Serai dan Dj, sedang
bermusuhan. Ya, bermusuhan, tidak saling bertegur sapa, saling mendiamkan,
tidak berteman, atau berbagai kata yang sejenis dengan itu. Tapi bukankah hal
itu sangat wajar terjadi pada setiap orang? Hanya saja, alasan bermusuhan itu
berbeda-beda. Namun, hey ayolah. Ini hanya masalah kecil dan mereka tak perlu
membesar-besarkan masalah tersebut bukan?
Flashback
Serai berlari-lari menghampiri Dj
yang sedang duduk sendirian menunggunya -sekitar empat puluh lima menit yang
lalu- di taman dekat rumah mereka. “Hossh, D..j,, hmmph maa apph, tad i di
jalanh akhu kete muh samah Fia,, hoosh”, suara Serai tampak ngos-ngosan.
Serai duduk di samping Dj sambil
mengatur nafasnya akibat berlari-lari. Namun gadis di sampingya seolah tak
begitu memperdulikan Serai yang sudah dipenuhi keringat serta nafas yang
tersengal-sengal. Gadis itu hanya memandang Serai dengan sedikit senyum yang
tertarik dari sudut kanan bibirnya, bisa dikatakan senyuman sinis.
“Lantas?”, hanya itu yang Dj katakan.
“Huh??”, sedikit bingung Serai dengan
sikap Dj.
“Aku tanya, lantas kenapa?”, kali ini
Dj bertanya dengan nada rendah, begitu dingin terdengar di telinga Serai.
“Ya, ja..jadi begini”, Serai mencoba
menjelaskan dengan sedikit terbata. “Dia
memintaku menemaninya ke rumah wali kelas, karena ada yang harus ia urus”. Yang
dijelaskan hanya menatapnya dengan ekspressi datar, entah ekspressi seperti apa
itu dan Serai benar-benar tak bisa menjelaskan perubahan pada raut wajah
sahabatnya. Serai mengerjap-ngerjapkan matanya membalas ekpressi datar Dj yang
mengatakan apa-hanya-itu?
“I, iya ak aku minta maap. Aku tau
kamu sudah menunggu lama, tapi... sungguh tadi aku sama sekali tidak bisa
menolak permintaannya. Dan,-“, Serai menatap ragu ke arah wajah sahabatnya.
“Dan saat di rumah wali kelas, kami berbincang terlalu lama, bahkan sampai lupa
waktu.. maaf”, sedikit menunduk Serai saat mengucapkan kata terakhir pada
kalimatnya.
Dj menghembuskan nafasnya kasar,
“Baiklah tak masalah, toh waktu tidak bisa di ulang lagi bukan? Yang sudah
terjadi biarlah.. lalu, apa kamu membawa jaket couple yang kemarin aku
berikan?”.
“Ya?”, Serai menatap Dj dengan ekspresi
terkejut.
“Kenapa terkejut? Apa jangan-jangan
kamu...”
“Dj, maaf. Aku bener-bener lupa...
kalau gitu aku pulang sebentar ya-“
“Tidak, tidak usah diambil!”, Dj
lantas berdiri dengan menyentakkan kakinya kesal. “Aku ngga nyangka ternyata
kamu orangnya ngga setia kawan”, kali ini kalimatnya terdengar seperti
menyindir.
Serai yang masih lelah mulai tersulut
emosinya dan ikut berdiri menghadap Dj. “Apa maksutmu?”
“Kamu masih bertanya apa maksudku?
Kamu tidak tahu berapa lama aku menunggumu di sini haah?!!”.
“Iya aku tahu makanya aku tadi sudah
minta maaf kan?”
“Ohya, kamu tahu tapi malah
mementingkan Fia dari pada aku, sahabatmu. Dan bahkan, jeket Couple hijau yang
aku berikan kemarin buat kita pakai hari ini malah nggak kamu pakai.. kamu
sengaja kan? Kalau kamu ngga suka sama warna hijau bilang aja dong... aku tahu
kamu suka warna biru, tapi setidaknya kamu menghargai pemberianku!”, cecar Dj
semakin emosi.
“Aku kan sudah bilang kalau aku lupa!
Kamu ini kenapa sih? Kenapa marah-marah begitu? Kamu ngga tau aku cape
lari-lari ke sini buat nemuin kamu haah?!!”, Serai menyalak.
“Ya sudah kalau kamu cape yah nggak
usah ke sini, gampang kan???”
“Haah, seharusnya tadi aku nggak usah
datang kesini kalau cuman mendengar teriakanmu itu. Kamu benar-benar tidak bisa
mengerti teman, kamu selalu mementingkan dirimu kau tahu! Kamu selalu memaksaku
memakai benda-benda hijau kesukaanmu, padahal kamu tahu aku suka warna biru.
Kamu tahu tidak bagaimana aku berlari ke sini huh??!”, tak ingin kalah dari Dj,
Serai mulai meluapkan emosinya.
“Apa peduliku? Kamu juga tadi
mengataiku kalau aku lebih mementingkan diriku kan? Oke kalau begitu anggap
sekarang aku ngga pernah peduli lagi sama kamu!!”, Dj berjalan meninggalakn
Serai. Rahangnya mengeras menandakan bahwa gadis itu saat ini benar-benar
emosi. Tidak pernah ia seemosi ini sebelumnya. Ia tahu ia egois, tapi bukankah
ini semua salah Serai? Seharusnya gadis itu bisa menghubunginya terlebih dahulu
tadi agar ia tidak perlu menunggu seperti orang bodoh di taman itu. Ia merasa
kecewa, benar-benar kecewa.
Langkah Dj semakin pasti meninggalkan
Serai yang berdiri mematung di taman. Tanpa Dj ketahui, sahabatnya itu kini
menangis. Serai menangis dengan pandangan nanar memperhatikan punggung
sahabatnya yang semakin menjauh, meskipun bibirnya melengkung membentuk
senyuman, namun hatinya sungguh sakit sekarang. Tak pernah ia merasakan seperti
ini sebelumnya, apalagi jika yang berkata kasar padanya adalah sahabatnya
sendiri. Serai sama sekali tak tersisak, namun bulir demi bulir air mata itu semakin
deras membentuk anak sungai di pipi chuby-nya.
Saat punggung Dj sudah tak terlihat
lagi, gadis itu perlahan berjalan meninggalkan taman -pulang ke rumahnya-
dengan tertatih. Dj tak tahu jika saat berlari menemuinya di taman, sahabatnya
itu terjatuh, dan kaki kirinya terkilir. Memang Serai tak memberitahukan pada
Dj karena ia tak ingin membuat Dj merasa bersalah dan tak ingin sahabatnya itu
khawatir padanya. Sedikit meringis Serai tetap berjalan pulang, matanya sudah
merah sekarang menahan agar air mata sialan itu tidak keluar. Baginya sakit di
kakinya tidaklah sesakit dibandingkan perasaannya saat sahabatnya berkata kasar
dan berteriak padanya. Serai takut, dia takut kehilangan sahabatnya.
Flashback end
Setetes air mata meluncur dari sudut
mata Dj. Namun bukannya menyeka air mata tersebut, ia malah membiarkan tetesan
demi tetesan cairan bening itu membasahi pipinya. Ia sudah terbiasa dengan
keberadaan Serai, namun karena keegoisannya ia membiarkan sahabat satu-satunya
itu pergi. Kembali sendiri, hidupnya kembali hambar. Potongan puzzle itu
kembali hilang dari hidupnya.
Dj tahu bagaimana cara mengembalikan
potongan puzzle itu, dengan meminta maaf. Hanya saja ia terlalu takut. Ia takut
Serai tidak akan memaafkannya, bahkan tadi pagi saja saat mereke bertemu di
kelas, Serai dengan sengaja membuang mukanya ke arah lain. Dj tahu dia egois,
tak seharusnya ia memaksa Serai menuruti semua keinginannya. Menganggap Serai
adalah miliknya, hanya untuknya. Terdengar sedikit berlebihan memang.
Gadis itu segera menutup ensiklopedia
yang sebenarnya tak dibacanya sama sekali ketika bunyi bell tanda istirahat
telah usai dan beranjak dari duduknya dan meletakkan buku tersebut ke rak
semula.
“Loh, Dj...”
“Eh Rida, kamu ngapain di perpus?”,
jawab Dj sedikit serak.
“Habis pinjem buku. Kamu kok
akhir-akhir ini aku liyat ngga bareng Serai lagi. Kenapa? Kalian musuhan?”,
selidik Rida sembari mereka berjalan ke kelas dengan Rida yang menenteng
beberapa buku yang dipinjamnya di perpustakaan tadi.
Dj hanya balas tersenyum menanggapi
pertanyaan Rida, “Ohya, habis ini pelajaran siapa Da?”.
“Halaah.. mengalihkan pembicaraan.
Habis ini pelajaraan Kewirausahaan Dj...”
“Kewirausahaan? Ya ampun, bukuku di
pinjem Dhidi kemarin. Aduh, gimana ini... Aku takut Dhidi lupa bawa, Rida aku
duluan yaaa”, Dj berlari meninggalkan Rida. Gadis yang ditinggal itu hanya
menggeleng-geleng melihat kelakuan temannya.
<3
Hari ini tanggal 21 Desember, dan
hari ini adalah hari ulang tahun Dj. Seharusnya hari ini Dj merasa senang
karena hari ini adalah hari spesialnya. Namun berbanding terbalik dengan
keadaannya saat ini. Gadis itu termenung di taman dekat rumahnya, tempat ia dan
Serai biasanya menghabiskan waktu, baik untuk mengerjakan PR bersama atau hanya
sekedar mengobrol ringan. Gadis itu sadar tempat itu adalah tempat yang
membuatnya ingat akan pertengkarannya dengan Serai dua minggu yang lalu.
Seharusnya ia senang hari ini pertama
kalinya ia merayakan ulang tahunnya bersama sahabatnya. Namun ia sendiri yang
menghancurkan semua itu. Gadis itu masih duduk melamun di bangku panjang di
samping pohon palm kipas. Langit mulai berubah sedikit gelap, padahal masih
pukul tiga sore, khas musim hujan di mana cuaca berubah-ubah dan tak dapat
diprediksi. Well, jujur Dj membenci keadaannya sekarang. Terlihat begitu
menyedihkan.
Sebenarnya bukanlah perayaan ulang
tahun yang ia inginkan, hanya sekedar ucapan selamat ulang tahun dari Serai. Ia
akui bahwa dirinya benar-benar merindukan Serai saat ini. Memang mereka setiap
hari bertemu di sekolah, tapi bukankah mereka sedang bermusuhan? Dan kau taulah
tentu saja orang yang sedang bermusuhan tak mungkin saling menganggap satu sama
lain. Seolah-olah saling tak mengenal, atau bahkan lebih parahnya menganggap
tak ada orang itu di sekitarmu.
Damn!
Dj merasa seperti orang bodoh
sekarang. Menunggu Serai di taman ini, berharap agar gadis itu datang dan
mengucapkan selamat ulang tahun untuknya dan kemudian mereka kembali berteman.
Sesederhana itu. Dan hal sederhana dalam bayanganmu tidaklah semudah pada
kenyataannya. Atau, haruskah ia yang datang ke rumah Serai meminta maaf? Lalu
ia mengajak Serai merayakan ulang tahunnya seperti saat perayaan ulang tahun
Serai beberapa bulan yang lalu dan mengundang teman-teman mereka yang lain?
Tssk, tapi bukankah itu artinya
terlalu memaksakan diri? Oh, ayolah.. adakah Dewi Fortune berbaik hati agar
harapan Dj itu bisa terkabul di hari ulang tahunnya ini? Tak masalah jika Serai
tidak mengingat hari ulang tahunnya dan tidak mengucapkan selamat ulang tahun
untuknya, asalkah mereka bisa kembali berteman, kembali bersahabat.
Dan bingo!
Sepertinya Dewi Fortune sedang
berpihak pada seorang Dj. Langit mulai meneteskan air hujan perlahan, dan Dj
sontak berlari menghindari hujan menuju sebuah pondok di pinggir taman itu.
Bukan, bukan air hujan yang turun itu yang menjadi keberuntungan Dj. Namun
seseorang yang sedang membawa payung itu. Payung hijau! Yeha, kau benar, itu
Serai.
“Se, Serai??!!”, Dj membulatkan
matanya tak percaya jika yang di hadapannya saat ini adalah orang yang sedari
tadi dipikirkannya.
“Kamu mau main hujan-hujanan haah?
Sudah tahu langit mendung, ngapain kamu duduk di sana?”, Serai meletakkan
payungnya di pinggir pondok, lalu memilih posisi paling nyaman di pondok itu
untuk duduk. Dj mengekor dari belakang, ikut duduk di dalam pondok itu.
Hujan semakin deras, membuat udara
menjadi dingin. Dari pondok mereka duduk tercium aroma khas aspal yang basah
karena air hujan. Untuk beberapa saat mereka terdiam dan sibuk dengan pikiran
masing-masing. Tentu saja tak tahu apa yang harus dibicarakan, dan kalaupun ada
tak tahu hendak memulai dari mana. Dj menautkan jemarinya, dia tidak suka
suasana canggung seperti ini. Tunggu, bukankah ini sama seperti mereka pertama
bertemu dulu di depan gerbang sekolahnya?
Serai berkali-kali berdehem
mengurangi kecanggungan yang menggelayuti mereka.
“Serai/Dj..”, ucap keduanya
bersamaan. Tak ayal sudut bibir mereka tertarik ke atas, setidaknya sesuatu
bernama ‘canggung’ yang ditambah imbuhan ke- dan -an itu tak ada lagi di
sekitar mereka.
“Kamu duluan”, Dj kali ini yang
memulai.
“Eum, sebenarnya aku hanya ingin
bilang kalau hujan sepertinya akan lama. Jadi, apa kamu ga mau pulang?”,
sedikit menyesal, Serai merutuki dirinya karena tak mengatakan yang sebenarnya
ingin ia katakan.
“Oh.. i, iya.. sepertinya hujan akan
lama”, Dj membuang pandangannya ke luar pondok. Begitu bodoh pikirnya jika
Serai mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, bahkan mereka sama sekali belum
berbaikan.
“Jadi kamu tadi mau bilang apa?”.
Pertanyaan sederhana dari Serai barusan berhasil mengalihkan perhatian Dj dari
tanaman yang diguyur hujan di luar sana pada gadis yang duduk di hadapannya.
“Eh, iya... itu, sebenarnya-”, Dj
menggantungkan kalimatnya. Jemarinya masih ia biarkan saling bertautan,
terlihat sangat gugup seperti orang yang akan maju untuk presentasi di depan
kelas. Serai mengerutkan alisnya bingung, dan sedikit penasaran apa yang akan
dikatakan sahabatnya, mantan sahabatnya, atau calon sahabatnya kembali, tssk
mana ada nama sahabat yang seperti itu.
Setidaknya bunyi kodok yang
bersahut-sahutan dan bunyi guyuran hujan yang sangat deras cukup untuk membuat
suasana hening antara dua gadis itu tidak begitu terasa. Mungkin jika sekarang
sedang tidak hujan, suasana hening itu akan sangat terasa seperti di film-film
horror. Terdengar terlalu berlebihan memang.
Namun tak disangka, Dj langsung
menghambur memeluk Serai, teman yang benar-benar ia rindukan dua minggu ini.
Serai awalnya sedikit bingung akan tingkah Dj, bukan sedikit bingung, namun
sangat bingung malah. Bukan hanya bingung, bahkan gadis itu benar-benar
terkejut sekarang. Ada apa ini? Cukup lama Dj memeluk sahabatnya, dan Serai
membalas pelukan Dj dengan sedikit ragu-ragu.
“Maaf...”, dengan lirih Dj
mengeluarkan suaranya, masih dalam posisi memeluk sahabatnya itu.
Tak ada respon dari Serai. Setidaknya
hanya sebuah anggukan yang diharapkan Dj pun tak ada. Sedikit takut Dj berfikir
Serai tak mau memaafkannya, dan mungkin setelah ini ia akan memasang muka
tembok karena sangat malu telah memeluknya.
Namun alih-alih menjawab, tak sampai
lima belas detik berikutnya, Serai malah mengeratkan pelukannya pada Dj. Kali
ini giliran Dj yang kebingungan akan sikap Serai.
“Seharusnya aku yang minta maaf”,
sedikit serak Serai mengeluarkan suaranya.
Dj menggeleng dalam pelukannya.
“Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Seharusnya aku tidak egois saat itu,
dan maaf selama ini aku selalu bertindak sesuka hatiku”.
“Aku juga minta maaf atas yang waktu
itu, seandainya saat itu aku menghubungimu dulu.. jadi kamu-“.
“Tidak, tidak apa-apa. Sudahlah, kita
lupakan saja yang waktu itu”, Dj melepaskan pelukan mereka setelah memotong
ucapan Serai yang tak ingin ia dengar, karena sejujurnya gadis itu tak ingin
lagi mengingat kejadiaan waktu itu, kejadian yang telah menghancurkan
persahabatannya. “Teman?”, Dj mengangkat kelingking kanannya ke hadapan Serai.
Serai tersenyum dan mengaitkan
kelingking mereka. “Teman”.
Keduanya tertawa kecil, mengingat
tindakan konyol yang barusan mereka lakukan. Setidaknya tindakan konyol itu
kembali membuat mereka berteman, kembali bersahabat.
“Maaf terlambat mengucapkannya,
selamat ulang tahun yaa”, kali ini Serai yang terlebih dahulu memeluk Dj. Tanpa
canggung Dj membalas pelukan sahabatnya itu.
“Makasih Serai, aku seneng banget.
Aku pikir kamu lupa kalau hari ini hari ulang tahunku”.
“Ohya aku punya ini”, Serai
mengeluarkan sesuatu dari saku celananya setelah melepaskan pelukan mereka.
Sebuah gantungan kunci dengan bulu hijau. “Hanya ini yang bisa aku berikan
buatmu”, Serai meletakkan gantungan itu di telapak tangan Dj.
Sebenarnya bagi Dj, ia tak pernah
mengharapkan sahabatnya itu memberikan hadiah ulang tahun untuknya. “whoaa, ini
cantik banget. Makasih ya Serai”, Dj mengangkat gantungan itu dan
menerawangnya. “Padahal aku gak pernah berharap kamu bakal ngasih aku kado buat
ulang tahunku”.
“Hahaa, iya sama-sama. Eumm, ada satu
lagi yang mau aku berikan ke kamu..”.
“Apaan? Uang? Cek?”, mata Dj
berbinar-binar.
“Mata duitan lu!” (Author nyindir
diri sendiri :-p) Serai mengambil payung hijau yang tergeletak di depan pondok.
(sebenernya author mikir, tuh payung aman-aman aja kah yah? Kan hujan deras
tuh, apa nggak terbang yah kena angin.. hahaa.. author upay).
“Ini buatmu..”, Serai menyerahkan
payung hijau yang selama ini ia pakai kepada Dj.
“Seriusan kamu payung ini buatku??”,
tanya Dj sedikit tidak percaya dengan apa yang dilakukan Serai. “Tapi ini kan
payung kesayanganmu?”.
“Udah ambil aja. Jadi mulai sekarang
kamu yang jemput aku. Dan mulai sekarang kamu yang bawa payungnya, kan selama
ini kamu pengen banget bawa payung itu, jadi payung kebanggan ini aku serahkan
padamu.. hahahaa”.
Dj terpana mendengar penuturan Serai.
“Lagi pula payung itu berwarna hijau,
nanti aku mau beli payung yang warna biru. Oh iya, kamu salah dear kalau bilang
payung itu adalah payung kesayanganku, soalnya payung itu cuman payung satu-satunya
yang aku punya yang dibelikan mamaku waktu ke pasar malam, heheeh”, Serai
nyengir menunjukkan deretan giginya yang putih.
“Tssskk.. padahal aku udah takjub
sama kamu, tapi karena penjelasanmu barusan aku gag jadi takjub”, Dj mencibir.
Serai masih nyengir merespon pernyataan Dj. “Jadi, kita pulang?”.
Serai mengangguk mantap,”Humm..
sepertinya hujannya benar-benar masih akan lama redanya”.
Kedua gadis itu berjalan beriringan
di bawah payung hijau dengan Dj yang kali ini memegang payung tersebut. Persis
seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu, hanya saja sekarang mereka tak
canggung lagi, dan juga... yeah sang pemegang payung itu juga berbeda.
Hanya cukup mengucapkan kata maaf,
dan potongan puzzle itu kembali dalam kehidupan Dj. Dan untuk mengucapkan kata
‘maaf’ itu tidaklah serumit yang ia pikirkan, cukup katakan, katakan dengan
tulus.
<3
Persahabatan itu indah, sangat indah.
Manis, pahit, tawa, haru, semuanya akan kau rasakan bersama sahabatmu, dan itu
yang akan kau rasakan jika kau benar-benar merasa memiliki sahabat. Perhatikan
di sekitarmu, adakah selama ini seseorang yang selalu bersamamu? Selalu berbagi
kisah denganmu? Seseorang tempat kau berkeluh kesah? Jika ada, bisa jadi ia
adalah sahabatmu selama ini yang tak kau anggap.
Flower are lovely; Love is flower
like.
Friendship is a shaltering tree
(Jika cinta adalah sebuah bunga,
Persahabatan adalah pohon untuk
bernaung)
~ Samuel Taylor Coleridge’s Quote~
.
.
Fin
<3
Cuap-cuap
author:
Hyeeeyeyeye
lalalalala...
Fiuuuh
/elapkeringet/ akhirnya ini cerita jadi juga,, aku gag tau genre cerita macam
apa ini, ini cerpen atau apa gag tau deh... dan aku juga gag tau kenapa bisa
bikin cerita beginian.. hahaha /ketawabarengkokoLuhan/
Ohiya,
selamat ulang tahuun buat Dijeeee *ciumpipiDj* cerita ini nih sebenernya pengen
ngebikin D’pancas tetap berjaya, tapi aku ngebikin tokoh utamanya di sini Serai
dan Dj. Abisnya kalo langsung berlima aku bingung kebanyakan dialog ~kekekkkk
Waktu
Serai ulang tahun aku juga bikin cerita judulnya “Believe” tapi gag sepanjang
ini, dan ini cerita terpanjang yang pernah aku bikin lohhh... cerita ini aku
bikinnya dengan berbagai mood, kadang dalam keadaan sedih, kadang lagi
ceria-ceria, aduh macem-macem dehhh... aku minta maaf kalo ini cerita jelek dan
feel-nya gag dapat, abisnya aku ini cuman berusaha mencoba ngebikin cerita
padahal gag punya kemampuan menulis, *hiks /nangis dipojokan bareng Yesung/
Ohya,
sekali lagi met ulang tahun Dj... lope yu pull *emmuaaach*
Buat
temen-temen D’pancas, hope you like this story....
Pai-pai......
/tebarkembangbarengYesungLuhanJonginJeongminWoohyunWoobinKimnamgilHaneulOnewJunkiHarryLouisLiamZaynNiallDongwooSohyunDaesungKyuhyunRyewookDonghaeLeeteukHeechulSiwonSungminKanginShindongEunhyukKibumJonghyunYonghwaJungshinMinhyukSuhoKyungsooSuhoBaekhyunChanyeolSehunKrisLayChenTaoXiuminKevinAJEliDonghooKiseopSunggyuSunggyeolSungjongMyungsooHoyaJonghyunTaeminMinhoKeyHongki/
*ehbusetbanyakbener*
haahahahaa.. kapan habisnya iniiih >_<
Tidak ada komentar:
Posting Komentar