Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Jumat, 08 April 2016

(CORETAN ISAH) 22



CORETAN ISAH #4
(Ditulis pada 20 Maret 2016)

“22”

I don’t know ‘bout u, but I’m feeling twenty two…
Everything will be alright, if u keep me next to youuuu…

Jaaah, malah nyanyi XD

Ini bukan mau nulis lirik lagu Kakak-Sepupuku-yang-Jauh-tapi-Sialnya-Aku-Tidak-Diakui a.k.a Taylor Swift yang judulnya ‘tuenti tu’, tapi mau bercerita kalau sekarang usia aku sudah dua_dua T.T betewe, malah sedih usia nambah lagi satu tahun. Berarti jatah idup aku berkurang lagi, huhuhu ;(

Di usia yang kedua puluh dua ini, bertepatan dengan kuliahku yang memasuki semester enam. Dan itu artinya tidak lama lagi aku sudah bukan mahasiswi lagi yeheeet :v kenapa seneng? Sebab (sorry) aku merasa terkekang dengan gelar mahasiswa itu yang pasti aja selalu ditakut-takutin setelah lulus bakalan menambah daftar pengangguran terdidik di Kabupaten Paser. Waaaa, andweNaudzubillah -_-

Kemarin waktu ulang tahun aku nggak ada yang spesial sih selain dapat kue ulang tahun dari konco terbaik aku, si Yuni dan Ridha :D it was ma first birthday cake that I ever gotten in ma life :p *miris amat lu* hag hag hag… juga kado-kado spesial dari ceman-ceman aku yang tantik-tantik XD. Paling suka sama hadiah Leha tahun ini, dapat gelas yang dia lukis sendiri. Gelas yang berlukiskan bunga juga tulisan “Milad Aisyah” dalam bahasa Arab, beserta tanggal lahir aku dan usia aku sekarang yang juga dalam bahasa Arab. Cantiiiikkk.. kado yang lain juga cantik kok :D tapi paling favorit dari Leha :*

Napa malah bahas kado ulang tahun -____-

Ehm, oke. 22. Dua dua. Dua puluh dua. DUA PULUH DUA. DUA PULUH DUA TAHUN! DUA PULUH DUA TAHUUUUUN???!

Aku merasa sudah terlalu tua sodara-sodara sekalian.

Nggak terasa. Rasanya suasana khas anak-anak dengan segala macam permainannya baru aja terjadi kemarin, berseragamkan putih merah. Menjalani hari-hari selama enam tahun dengan teman-teman di SD. Rasanya baru aja memasuki usia labil ketika pakai seragam putih biru dan mulai menemukan sahabat sejati. Lalu masih terasa seragam putih abu-abu dengan suara tawa juga tangisan bersama teman-teman.

Tiba-tiba aku jadi kangen di usia masih empat tahun. Pertama kali masuk TK diantar Mama. Punya banyak teman, lari-lari, kejar-kejaran, main ayunan, main seluncuran, main jungkat-jungkit. Belajar sama guru-guru yang cantik dan baik hati (yang pasti waktu TK nggak ada PR :v) Aku ingat dulu harus berpura-pura nggak bisa baca saat TK (maaf, bukan bermaksud sombong) karena saat masuk TK aku sudah hafal 26 abjad bahkan aku sudah bisa membaca juga menghitung. Aku juga sudah bisa baca huruf hijaiyah. Ketika TK juga aku sudah membaca Al-Qur’an jus pertama.

Dan sekarang semua seragam itu—seragam TK, SD, SMP, SMA—sudah ditanggalkan diganti dengan pakaian bebas tapi formal. Dunia perkuliahan. Dunia yang aku impikan sejak kecil, tapi ternyata rasanya begitu berat. Bahkan jika bisa aku mau tinggal di Neverland aja bareng Peterpan dan kawan-kawannya biar nggak perlu jadi dewasa T.T

Akhirnya aku harus bisa menerima kenyataan kalau aku sudah DUA PULUH DUA TAHUN pembaca sekalian >,<

Seharusnya di usia ini sudah banyak yang aku lakukan dalam hidupku. Tapi kenyataan tidak berkata seperti itu L kuliah belom selesai, masih belum dapat kerjaan yang layak, masih belum bisa bantu banyak buat keperluan di rumah, masih belum expert masak di dapur, masih nggak punya tujuan hidup, masih belum jago jahit pake mesin jahit, masih belum dapat jodoh :p , masih belum bisa bahagiakan orangtua, masih suka buang waktu nonton K-drama, masih suka fangirling-an, masih suka melamun, masih belum sempurna ibadah, masih belum bisa sepenuhnya hijrah, masih suka santai-santai, masih suka Yesung, masih suka B.A.P, masih suka One Direction (meskipun mereka lagi vakum), masih makan nasi, masih sering minum air putih, masih bernafas, juga… Alhamdulillah, masih idup :v :v

Allah itu lebih suka anak muda yang ahli ibadah ketimbang orangtua yang rajin ibadahnya. Karena yah kalian tahun sendirilah alasannya. Dan itu yang membuat hati ini perih seperti tersayat-sayat pisau dapur Mamaku buat motong sayurrrr.

Padahal di detik-detik terakhir usia aku dua puluh satu, aku sudah janji sama diri aku sendiri bakalan hijrah sepenuhnya ketika umurku memasuki dua puluh dua. Tapi aku malah sama sekali nggak merealisasikan niat aku. Niat itu cuman sebatas ucapan dalam hati. Nggak ada diri ini tergerak sedikitpun buat merubah hidup yang bener-bener useless ini.

Sekarang bahkan sudah tiga minggu berlalu, sejak usia dua puluh dua resmi kusandang. Perubahan walau sedikitpun masih belum ada. Apa yang mau diubah?

Mau berhenti fangirling-an? Tapi masih sering buka media sosial yang kebanyakan isi timeline aku tentang para ido group K-pop ataupun aktor dan aktris Korea.

Mau menyempurnakan ibadah? Sholat fardhu aja masih sering di ujung waktu. Ibadah sunah apalagi, bolong-bolong!

Mau sepenuhnya hijrah? Pakaian sih iya berubah, tapi kelakuan masih aja kayak dulu. Kalimat “No khalwat ‘till akad” itu hanya sekedar bacaan yang nggak bisa terealisasi. Ber-khalwat dengan lawan jenis itu nggak cuma di dunia nyata yang nggak boleh, bahkan termasuk di dunia maya juga lewat sms-pun nggak boleh. Tapi, sekarang apa artinya tahu kalau aku sama sekali nggak melaksanakan? Bukankah ilmuku itu kelak bakalan jadi hujjah di akhirat nanti? L sedih banget kelakuan masih kayak gini.

Mau bahagiakan orangtua? Memangnya arti bahagia itu apa? Apa dengan kasih orangtua uang banyak mereka bakalan bahagia? Lah, sama orangtua aja aku masih sering bilang, “Ah”, bahkan masih sering mengabaikan mereka. Lalu, bahagiain mereka yang seperti apa? Bukannya seharusnya dengan berkata lembut dan berperilaku selayaknya seorang anak itu bisa membuat mereka bahagia? Jadi, mau bahagiakan mereka yang seperti apa?


Aku sadar aku bukan anak remaja lagi, apalagi anak-anak, apalagi balita, dan batita juga bukan, (ini apaan sih). Di usia dua puluh dua ini aku merasa tuntutan hidup aku semakin berat. Aku hanya merasa aku dipaksa bersikap dewasa dibalik sikap kekanakan aku ini. Aku belum siap untuk dewasa. Dan mungkin nggak akan pernah siap untuk itu.

Menjadi dewasa itu merepotkan.

Menjadi dewasa itu melelahkan.

Menjadi dewasa itu membebaniku.

Realita kehidupan dengan segala tetek-bengeknya membuatku ketakutan dan merasa semakin menciut hingga lebih memilih bersembunyi tanpa berani menghadapi derasnya arus masalah yang hilir mudik bergantian menghampiri. Karena hanya bisa bersembunyi, aku akhirnya tanpa sadar sudah tersapu ribuan kali putaran jarum jam tanpa ada sedikitpun yang bisa aku lakukan.

Aku tahu aku salah.

Jadi demi mengurangi keluh kesahku, demi mengurangi penyesalan, juga demi membuatku berhenti menggerutu tentang betapa banyaknya waktuku yang terbuang percuma, aku akan berusaha di usia dua puluh dua ini (nyebut dua puluh dua berasa horror banget, sumpah) melakukan banyak hal yang selama hidupku belum terealisasikan. Sekarang sudah bukan waktunya main-main. Sekarang harus berani keluar dari persembunyia. Bangkit (emang vampire?) dari keterasingan. Hadapilah dunia, genggam tanganku, uwooo… XD jaaah, nyanyi lagi.

Intinya aku Cuma mau bilang kalau menyandang usia dua puluh dua ini berat banget. Nggak segampang bayangan aku ketika masih kecil dulu. Bener-bener horror dah!

Okelah, sekian bacotan aku dalam ‘Coretan Isah’ kali ini. Bagi kalian yang masih belum berusia dua puluh dua, buruan lakukan yang bisa kalian lakukan. Jangan malas-malasan. Nanti bakalan nyesal kayak aku kalau sudah ketemu angka dua-dua T_T nyesekkk vrooh!!!

Salam literasi ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar