CORETAN
ISAH #4
(Ditulis
pada 20 Maret 2016)
“22”
I don’t know
‘bout u, but I’m feeling twenty two…
Everything will
be alright, if u keep me next to youuuu…
Jaaah, malah nyanyi XD
Ini bukan mau nulis lirik lagu
Kakak-Sepupuku-yang-Jauh-tapi-Sialnya-Aku-Tidak-Diakui a.k.a Taylor Swift yang
judulnya ‘tuenti tu’, tapi mau bercerita kalau sekarang usia aku sudah dua_dua
T.T betewe, malah sedih usia nambah lagi satu tahun. Berarti jatah idup aku
berkurang lagi, huhuhu ;(
Di usia yang kedua puluh dua ini, bertepatan
dengan kuliahku yang memasuki semester enam. Dan itu artinya tidak lama lagi
aku sudah bukan mahasiswi lagi yeheeet :v kenapa seneng? Sebab (sorry) aku merasa terkekang dengan gelar
mahasiswa itu yang pasti aja selalu ditakut-takutin setelah lulus bakalan
menambah daftar pengangguran terdidik di Kabupaten Paser. Waaaa, andwe… Naudzubillah -_-
Kemarin waktu ulang tahun aku nggak ada yang
spesial sih selain dapat kue ulang tahun dari konco terbaik aku, si Yuni dan
Ridha :D it was ma first birthday cake
that I ever gotten in ma life :p *miris amat lu* hag hag hag… juga
kado-kado spesial dari ceman-ceman aku yang tantik-tantik XD. Paling suka sama
hadiah Leha tahun ini, dapat gelas yang dia lukis sendiri. Gelas yang
berlukiskan bunga juga tulisan “Milad Aisyah” dalam bahasa Arab, beserta
tanggal lahir aku dan usia aku sekarang yang juga dalam bahasa Arab.
Cantiiiikkk.. kado yang lain juga cantik kok :D tapi paling favorit dari Leha
:*
Napa malah bahas kado ulang tahun -____-
Ehm, oke. 22. Dua dua. Dua puluh dua. DUA
PULUH DUA. DUA PULUH DUA TAHUN! DUA PULUH DUA TAHUUUUUN???!
Nggak terasa. Rasanya suasana khas anak-anak
dengan segala macam permainannya baru aja terjadi kemarin, berseragamkan putih
merah. Menjalani hari-hari selama enam tahun dengan teman-teman di SD. Rasanya
baru aja memasuki usia labil ketika pakai seragam putih biru dan mulai
menemukan sahabat sejati. Lalu masih terasa seragam putih abu-abu dengan suara
tawa juga tangisan bersama teman-teman.
Tiba-tiba aku jadi kangen di usia masih empat
tahun. Pertama kali masuk TK diantar Mama. Punya banyak teman, lari-lari,
kejar-kejaran, main ayunan, main seluncuran, main jungkat-jungkit. Belajar sama
guru-guru yang cantik dan baik hati (yang pasti waktu TK nggak ada PR :v) Aku
ingat dulu harus berpura-pura nggak bisa baca saat TK (maaf, bukan bermaksud
sombong) karena saat masuk TK aku sudah hafal 26 abjad bahkan aku sudah bisa
membaca juga menghitung. Aku juga sudah bisa baca huruf hijaiyah. Ketika TK
juga aku sudah membaca Al-Qur’an jus pertama.
Dan sekarang semua seragam itu—seragam TK, SD,
SMP, SMA—sudah ditanggalkan diganti dengan pakaian bebas tapi formal. Dunia
perkuliahan. Dunia yang aku impikan sejak kecil, tapi ternyata rasanya begitu
berat. Bahkan jika bisa aku mau tinggal di Neverland
aja bareng Peterpan dan kawan-kawannya biar nggak perlu jadi dewasa T.T
Akhirnya aku harus bisa menerima kenyataan
kalau aku sudah DUA PULUH DUA TAHUN pembaca
sekalian >,<
Seharusnya di usia ini sudah banyak yang aku
lakukan dalam hidupku. Tapi kenyataan tidak berkata seperti itu L kuliah belom
selesai, masih belum dapat kerjaan yang layak, masih belum bisa bantu banyak
buat keperluan di rumah, masih belum expert
masak di dapur, masih nggak punya tujuan hidup, masih belum jago jahit pake
mesin jahit, masih belum dapat jodoh :p , masih belum bisa bahagiakan orangtua,
masih suka buang waktu nonton K-drama, masih suka fangirling-an, masih suka melamun, masih belum sempurna ibadah,
masih belum bisa sepenuhnya hijrah, masih suka santai-santai, masih suka
Yesung, masih suka B.A.P, masih suka One Direction (meskipun mereka lagi
vakum), masih makan nasi, masih sering minum air putih, masih bernafas, juga… Alhamdulillah, masih idup :v :v
Allah itu lebih suka anak muda yang ahli
ibadah ketimbang orangtua yang rajin ibadahnya. Karena yah kalian tahun
sendirilah alasannya. Dan itu yang membuat hati ini perih seperti
tersayat-sayat pisau dapur Mamaku buat motong sayurrrr.
Padahal di detik-detik terakhir usia aku dua
puluh satu, aku sudah janji sama diri aku sendiri bakalan hijrah sepenuhnya
ketika umurku memasuki dua puluh dua. Tapi aku malah sama sekali nggak
merealisasikan niat aku. Niat itu cuman sebatas ucapan dalam hati. Nggak ada
diri ini tergerak sedikitpun buat merubah hidup yang bener-bener useless ini.
Sekarang bahkan sudah tiga minggu berlalu,
sejak usia dua puluh dua resmi kusandang. Perubahan walau sedikitpun masih
belum ada. Apa yang mau diubah?
Mau berhenti fangirling-an? Tapi masih sering buka media sosial yang kebanyakan
isi timeline aku tentang para ido group K-pop ataupun aktor dan aktris
Korea.
Mau menyempurnakan ibadah? Sholat fardhu aja
masih sering di ujung waktu. Ibadah sunah apalagi, bolong-bolong!
Mau sepenuhnya hijrah? Pakaian sih iya
berubah, tapi kelakuan masih aja kayak dulu. Kalimat “No khalwat ‘till akad” itu hanya sekedar bacaan yang nggak bisa
terealisasi. Ber-khalwat dengan lawan
jenis itu nggak cuma di dunia nyata yang nggak boleh, bahkan termasuk di dunia
maya juga lewat sms-pun nggak boleh. Tapi, sekarang apa artinya tahu kalau aku
sama sekali nggak melaksanakan? Bukankah ilmuku itu kelak bakalan jadi hujjah di akhirat nanti? L sedih banget
kelakuan masih kayak gini.
Mau bahagiakan orangtua? Memangnya arti
bahagia itu apa? Apa dengan kasih orangtua uang banyak mereka bakalan bahagia?
Lah, sama orangtua aja aku masih sering bilang, “Ah”, bahkan masih sering
mengabaikan mereka. Lalu, bahagiain mereka yang seperti apa? Bukannya
seharusnya dengan berkata lembut dan berperilaku selayaknya seorang anak itu
bisa membuat mereka bahagia? Jadi, mau bahagiakan mereka yang seperti apa?
Aku sadar aku bukan anak remaja lagi, apalagi
anak-anak, apalagi balita, dan batita juga bukan, (ini apaan sih). Di usia dua
puluh dua ini aku merasa tuntutan hidup aku semakin berat. Aku hanya merasa aku
dipaksa bersikap dewasa dibalik sikap kekanakan aku ini. Aku belum siap untuk
dewasa. Dan mungkin nggak akan pernah siap untuk itu.
Menjadi dewasa itu merepotkan.
Menjadi dewasa itu melelahkan.
Menjadi dewasa itu membebaniku.
Realita kehidupan dengan segala
tetek-bengeknya membuatku ketakutan dan merasa semakin menciut hingga lebih
memilih bersembunyi tanpa berani menghadapi derasnya arus masalah yang hilir
mudik bergantian menghampiri. Karena hanya bisa bersembunyi, aku akhirnya tanpa
sadar sudah tersapu ribuan kali putaran jarum jam tanpa ada sedikitpun yang
bisa aku lakukan.
Aku tahu aku salah.
Jadi demi mengurangi keluh kesahku, demi
mengurangi penyesalan, juga demi membuatku berhenti menggerutu tentang betapa
banyaknya waktuku yang terbuang percuma, aku akan berusaha di usia dua puluh
dua ini (nyebut dua puluh dua berasa horror
banget, sumpah) melakukan banyak hal yang selama hidupku belum terealisasikan.
Sekarang sudah bukan waktunya main-main. Sekarang harus berani keluar dari
persembunyia. Bangkit (emang vampire?)
dari keterasingan. Hadapilah dunia,
genggam tanganku, uwooo… XD jaaah, nyanyi lagi.
Intinya aku Cuma mau bilang kalau menyandang
usia dua puluh dua ini berat banget. Nggak segampang bayangan aku ketika masih
kecil dulu. Bener-bener horror dah!
Okelah, sekian bacotan aku dalam ‘Coretan
Isah’ kali ini. Bagi kalian yang masih belum berusia dua puluh dua, buruan
lakukan yang bisa kalian lakukan. Jangan malas-malasan. Nanti bakalan nyesal
kayak aku kalau sudah ketemu angka dua-dua T_T nyesekkk vrooh!!!
Salam literasi ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar