CORETAN
ISAH #5
(Ditulis
pada 12 April 2016)
Jodoh, Oh Jodoh
Hihihi…
Ngomongin jodoh mungkin kayaknya terlalu klise deh ya. Tapi beginilah realita
yang terjadi di kota tempat tinggalku, Tana Paser. Kota kecil di Kalimantan
Timur, arah selatan dari Balikpapan. Bahwa kalau sudah memasuki usia 20 tapi
belum memiliki pasangan, dianggap suatu aib. Beuuh…
Emang
sih nggak semua orang di kotaku beranggapan seperti itu. Tapi hampir sebagian
besar, terutama bagi yang tinggal di daerah pelosok kota. Usia dua puluh tahun
ke atas jalan sendirian—terutama bagi perempuan—dijamin bakalan jadi buah bibir
para tetangga sebelah. Apalagi kalau ibu-ibu lagi berkumpul buat acara Yasinan.
“Itu loh, putri bungsu Pak Udin. Umurnya sudah
22. Masa sampai sekarang belum ada yang ngelamar? Kasihan banget.”
“Kan
kalau nikah masih bisa kuliah. Nggak apa-apa dong kalo lagi kuliah langsung
nikahan. Biar enak ada yang nemenin ngerjakan tugas.”
Dan
bla, bla, bla.
Kalau
jodohnya memang belum sampai yah mau bagaimana? Sedih banget waktu Mama saya
diomongin di acara Yasinan kalau anaknya yang mirip Ariana Grande ini belum
nikah. Padahal usia saya baru masuk dua puluh dua saudara-saudara sekalian.
Yang
tambah bikin kesel itu sejak lulus SMK. Pasti aja ucapan selamat ulang tahun
dari sahabat-sahabat selalu ada embeli-embel “Semoga cepet dapat jodoh”. Dan
gitu juga pas ulang tahun aku yang ke-22 kemarin. Ugh, nyebelin kuadrat pokoknya
>_<
Kenapa
sih harus risau soal jodoh? Please deh
ya. Kita semua pasti tahu donk kalau jodoh itu rahasia Allah. Nah, loh. Nggak
usah ngurusin orang kalo jodohnya belum dateng kali, Jeng. Coba deh nggak usah
pikirin jodoh mulu. Bukannya maut juga rahasia Allah? Kalau jodoh aja terus
dipikirin dan terus-terusan membekali diri demi dapat jodoh yang terbaik,
gimana kalau ternyata Malaikat Maut yang datang duluan? Udah siap belum? Bisa
berabe dah urusannya kalau gitu.
Waktu
pulang kampung, kaget banget pas ketemu sama teman sekelas dulu pas masih
tinggal di sana. Teman sebangku malahan. Anaknya sudah dua! Dua? Dua??! DUA!!!
Eike aja calon belum punya :v *how poor I
am XD wkwkwk*
Sebenarnya
nggak pernah mikirin kapan tuh jodoh bakalan datang. Apalagi kalau lagi sama
teman-teman di kampus. Soalnya mereka juga lebih kejar karir dulu, nyelesaikan
kuliah, dan gimana caranya bisa bahagiakan orangtua. Tapi kalau sudah kumpul
sama sahabat lama yang notabene-nya mereka nggak kuliah, ya pasti obrolannya
nggak jauh-jauh dari jodoh yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Dan
yang paling ngeselin itu omongan tetangga sebelah, dan sebelah, juga sebelah,
sebelah, sebelah, dan sebelahnya lagi rumah. Ini kuping kalau bisa ada asapnya
pasti nggak bakalan berhenti deh tuh keluar asap. Selain omongan yang pedas,
juga mencap orang lain secara semena-mena itu loh yang bikin makan hati.
Kezellll…
Kita kan juga nggak sembarangan donk ya
sebagai perempuan baik-baik nerima lamaran laki-laki. Yang penting asal nikah.
Kan lucu dong nikah hanya karena omongan tetangga. Hanya takut karena dibilang
nggak laku. Kalau misalnya jodohnya nggak di dunia, ya pasti di akhirat. Yakin
deh sama janji Allah. Janji Allah itu pasti. Udah, kelar masalah :D hag hag
hag.
Perempuan
baik itu buat lelaki baik. Nah, jadi perempuan baik pasti bakalan dapat lelaki
baik. Tapi ya jangan juga lah berubah hanya demi jodoh. Demi Allah donk itu
baru mantap ^^
Ada
seorang sahabat saya yang curhat. Sahabat saya ini punya mantan pacar sejibun.
Bahkan dia pernah punya niatan bakalan bikin album kenangan mantan-mantannya
(sumpah mantannya banyak banget vroh!). Alhamdulillah sahabat itu sekarang
sudah berubah, nggak melakukan hal maksiat (baca: pacaran) lagi dan niatnya mau
ta’aruf aja kalau ada laki-laki yang mau ngelamar dia.
Subahanallah…
Allah itu Maha Pengasih. Ketika sahabat ini sudah mulai hijrah, nggak
komunikasi kebablasan lagi dengan lawan jenis, maka ditunjukkanlah seorang
Ustadz yang berniat meminangnya, cieeehhh XD coba deh, percaya kan kalau kita
niat aja berubah karena Allah, pasti deh tuh Allah tunjukin Kekuasaan dan Kebesaran-Nya.
Mulailah
masa penjajakan. Eh, kok penjajakan sih? Apa donk ya istilahnya, eum pokoknya
semacam perkenalan gitu lah. Mulailah mereka saling berbagi informasi satu sama
lain. Hari berganti minggu. Minggu-pun tak terasa sudah berganti bulan.
Ternyata…
Niatan untuk menikah itu kandas saudara sekalian. Apa yang salah dalam hal ini?
Apakah karena mereka nggak jodoh?
Sebenernya
sederhana. Bayangkan saja dalam waktu berbulan-bulan itu si Ustadz ini dengan
sahabat saya tidak ada kemajuan hubungannya. Berbulan-bulan itu termasuk waktu
yang cukup lama kan? Sementara ta’aruf waktunya hanya sebentar saja. Jadi
ternyata sang Ustadz ‘belum’ siap mendatangi wali sang perempuan, dia juga
tidak ada membicarakan sahabat saya ini dengan orangtuanya. Dan sang perempuan
juga tidak mengutarakan kedekatannya dengan sang Ustadz pada orangtuanya.
Jadilah hubungan mereka menggantung sampai sekarang, sampai detik saya menulis
Coretan Isah ini.
Begitulah.
Jodoh itu sebenernya dekat. Kadang kita saja yang menunda-nunda, membuatnya
menjadi hal sulit.
Apa?
Jodoh itu sebenarnya deket? Kalau gitu dimana jodohku??? *lirik kiri kanan,
depan, belakang* nggak kelihatan siapa-siapa tuh, hag hag hag XD
Yah
pokoknya sekian dulu lah Coretan Isah edisi kali ini. Intinya jangan terlalu
risau deh soal jodoh. Kalau Allah belum pertemukan, berarti kita masih harus
banyak belajar dulu. Belajar sabar terutama. Dan yang pasti sekarang waktunya
berbakti dulu banyak-banyak sama orangtua sebelum berbakti dengan anak lelaki
orang yang-entah-siapa-dan-dimana-dirinya :D
Salam
literasi ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar