Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Jumat, 08 April 2016

(Fanfiction) Silence and The Affection



Silence and The Affection

.
.

Author:
Aisyah (@cloudisah)

.

Cast:
Super Junior’s Ye Sung
OCs Ji Rin
Super Junior’s Rye Wook

.

Genre: Family ; Length: Ficlet

.

OoooO

 “Apa hal itu boleh kusebut afeksi yang berlebihan?”

.
.

“Bukankah kalian tidak pernah saling mendiamkan satu sama lain sampai selama ini?”

Ji Rin menghela nafas dalam setelah mendengar pertanyaan—atau mungkin pernyataan—yang baru saja terlontar dari Rye Wook barusan. Seraya mengaduk espresso yang mulai dingin di atas meja di depannya, Ji Rin menatap cangkir espresso itu tanpa kedip selama belasan sekon. Dan mungkin ia akan bertahan pada posisi itu lebih lama lagi jika saja suara Rye Wook tidak menyadarkannya.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan?”

Setelahnya Rye Wook menghabiskan Americano yang sisa setengah di dalam cangkirnya. Demi menunggu jawaban dari gadis di depannya ini.

“Entahlah. Mungkin akan lebih baik jika aku tetap diam dan menunggu Ye Sung Oppa mengatakan sesuatu.”

“Apa kau bisa bertahan sampai saat itu tiba?” Rye Wook menatap Ji Rin skeptis.

Tak ada jawaban apapun dari Ji Rin setelahnya ketika Rye Wook menyadari kehadiran Ye Sung. Rye Wook berniat meninggalkan kedua bersaudara itu seandainya Ji Rin tak lebih dulu bangkit dari posisinya.

“Wook-a, aku keluar dulu.”

Dan Rye Wook hanya bisa membiarkan Ji Rin meninggalkan ruang tamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun pada kakak lelakinya yang baru saja menunjukkan eksistensinya itu. Rye Wook menatap Ye Sung—menuntut penjelasan—yang lebih memilih bungkam ketimbang menahan adik perempuannya agar tidak pergi.

Rye Wook bersidekap setelah Ye Sung mendudukkan diri persis di sisinya. “Kau harus segera menyelesaikan masalah dengan adikmu itu. Atau kalau tidak, aku yang akan turun tangan dan meminta bantuan Lee Teuk Hyung bila perlu.”

Ye Sung hanya tersenyum getir sembari memandang punggung adiknya yang sudah menjauh dari halaman rumah mereka. “Aku perlu waktu untuk memperbaiki keadaan ini, Wook-a.”

Haissh. Terserah kau lah Hyung. Yang jelas aku hanya ingin mengatakan kalau sekarang sungguh tidak nyaman bertamu ke rumah kalian dengan suasana tegang seperti ini di antara kalian,” Rye Wook mengacak rambutnya.

Ye Sung memilih diam. Tak tahu harus berkata apalagi pada sahabatnya itu mengenai hubungannya dengan adiknya yang semakin membeku tiap harinya. Dan Ye Sung bersumpah, ia tak pernah mengharapkan hal ini terjadi. Ia merasa semakin merindukan Ji Rin setiap harinya sekalipun Ji Rin berada dalam jarak pandangnya.

OoooO

Ji Rin tidak suka jika ayah dan ibunya pergi ke luar kota. Setidaknya untuk saat ini. Hanya berdua bersama Ye Sung di rumah membuatnya merasa seperti di ruang sidang skripsi. Oh tidak. Ini bahkan lebih menegangkan daripada saat ia sidang skripsi bersama dosen-dosen yang terlihat lebih seperti cheetah kelaparan.

Jika kau pernah mengunjungi makam pada malam hari, maka suasana sarapan pagi di rumah kediaman keluarga Kim kali ini jauh lebih mencekam ketimbang suasana di makam itu. Hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring. Bahkan pergerakan detik jarum jam bisa terdengar dengan sangat jelas.

Ye Sung terlihat santai dengan aktivitasnya menghabiskan sandwich sembari memainkan gadget miliknya. Sementara di kursi seberang, Ji Rin benar-benar terlihat tak nyaman. Berkali-kali ia tersedak, namun sepertinya Ye Sung lebih menikmati mengabaikannya tanpa perlu repot-repot menyodorkan segelas minuman untuknya.

Jika Ji Rin boleh melebih-lebihkan, ia ingin berganti menjadi adik Lee Teuk saja ketimbang menjadi adik dari lelaki di depannya ini. Kenapa mereka harus saling mendiamkan selama ini? Bahkan sekarang sudah memasuki minggu kedua mereka saling diam setelah pertengkaran hebat mereka dua minggu yang lalu.

Apa Ye sung tidak pernah sekalipun berpikir untuk—

“Aku duluan.”

—berbaikan dengannya?

Eh, tunggu. Apa itu tadi? Ye Sung mengatakan apa?

Ji Rin tersadar dari lamunannya ketika menyadari tak ada lagi eksistensi Ye Sung di kursi seberang. Apa tadi Ji Rin hanya salah dengar? Apa itu hanya khayalannya yang beresonansi memenuhi indra pendengarannya?

“Kurasa, Ye Sung Oppa memang tidak ingin berbaikan denganku,” Ji Rin bermonolog seraya membereskan piring kotor di atas meja makan. “Ugh, menyebalkan.”

OoooO

Ji Rin ingin pergi saja dari rumah seandainya ibunya sebelum pergi ke luar kota tidak berpesan untuk tidak keluar rumah saat malam hari tiba. Ia mungkin akan mati ditelan kesunyian malam ini. Sendirian—ralat, berdua bersama kakaknya yang menganggap Ji Rin tak lebih dari sekedar makhluk hidup yang mengerjakan pekerjaan rumah, membuatnya ingin mengubur dirinya sendiri hidup-hidup saat ini juga.

Lihatlah sekarang.

Ji Rin bahkan sungkan untuk bangkit dari sofa ruang tengah ketika Ye Sung tiba-tiba saja muncul dan duduk bersisian dengannya. Yang membuatnya serasa semakin dongkol adalah sikap Ye Sung yang seolah menganggapnya tak ada. Ji Rin juga tak peduli lagi dengan tayangan tv di depannya. Yang ia inginkan sekarang adalah pergi dari tempat itu sekarang juga.

Tapi kedua tungkainya sepertinya tak bisa diajak bekerja sama. Ji Rin hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang malah membiarkan tubuhnya membeku di samping kakak kandungnya sendiri.

Dua menit.

Tiga menit.

Lima menit.

Tujuh me—

Dihitungan menit ketujuh jantung Ji Rin dibuat berdetak tak karuan ketika Ye Sung yang memeluknya secara tiba-tiba. Oh ayolah. Ini Ye Sung. Kakaknya sendiri. Kenapa Ji Rin jadi segugup ini, sih?

Op, Oppa,” lirihnya dalam dekapan Ye Sung.

Alih-alih menjawab ucapan adiknya, Ye Sung memilih mengeratkan pelukannya. Dan sesekali mencium puncak kepala adiknya yang ia rindukan setengah mati itu.

Oppa, ada apa?”

Ye Sung berdecak setelah melepaskan pelukannya. “Kau bertanya ada apa? Bukankah ini tanda aku ingin berbaikan denganmu, bodoh?”

Ji Rin mempoutkan bibirnya kesal. Dasar. Lelaki ini selalu saja seenaknya.

“Aku merindukanmu,” Ye Sung mengacak gemas surai Ji Rin. “Maafkan Oppa, ya.”



Ji Rin tak lantas menjawab. Gadis itu malah menatap lekat-lekat obsidian tajam nan teduh milik kakaknya. Ia merindukan tatapan lelaki itu. Semenyebalkan apapun Ye Sung, Ji Rin tak bisa hidup tanpanya.

“Sudahlah. Tidak usah diam seperti itu. Katakan saja kalau kau juga merindukanku, kan?”

Oppa menyebalkan,” Ji Rin lantas menghambur memeluk Ye Sung dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ye Sung. “Maafkan Ji Rin juga Oppa.”

Ye Sung tertawa renyah dan membalas pelukan adiknya. “Maaf, Oppa selalu ragu untuk memulai konversasi denganmu lebih dulu. Oppa terlalu egois.”

“Hmm, tak apa. Ini lebih baik dari pada kita saling diam lebih lama lagi.”

Ye Sung menangkup kedua pipi Ji Rin setelah pelukan mereka terlepas. “Seandainya Oppa sadar berbaikan denganmu semudah ini, pasti Oppa lakukan sejak kemarin. Oppa takut kau akan mengabaikanku.”

Kedua alis Ji Rin bertaut. Itu berarti suara Ye Sung yang ia dengar saat di ruang makan itu bukanlah delusinya. Ye Sung memang berbicara dengannya kemarin.


Keduanya bergeming. Saling menyelami iris masing-masing, mencari kedamaian dalam tatapan saudaranya. Bahkan selama beberapa menit, hening mengambil alih suasana ketika Ye Sung dan Ji Rin lebih memilih untuk tak mengatakan apa-apa dan menikmati keheningan bersama.

“Kita sudah resmi berbaikan, kan?”

Suara Ji Rin memecah hening. Yesung mengangguk dan kembali mengacak surai Ji Rin.

“Jadi, bisa Oppa jelaskan kenapa saat itu Oppa memarahiku dan setelahnya mendiamkanku hampir dua minggu lamanya?”

Ye Sung menggenggam erat tangan Ji Rin. Menatap adiknya itu dengan kedua sudut bibirnya yang berjungkat naik.

Oppa belum siap jika kau menikah. Oppa hanya terkejut ketika kau mengatakan kalau Dae Hyun melamarmu. Kau tahu kan, kalau kita sejak kecil selalu bersama. Dan oleh sebab itu, aku terkejut sekaligus marah karena belum siap ditinggalkan oleh adikku satu-satunya ini.”

Ji Rin terkekeh pelan. “Jadi, hanya karena itu Oppa memarahiku dan mendiamkanku huh?” Anggukan dari Ye Sung membuat Ji Rin malah terbahak. “Apa hal itu boleh kusebut afeksi yang berlebihan?”


“Entahlah. Kau bisa mengartikannya sesukamu. Yang pasti Oppa masih belum siap jika kau menikah. Tapi…” Ye Sung menggantungkan kalimatnya.

“Tapi apa?”

“Kenapa kau juga malah diam dan tidak menegurku?”

Ji Rin mencubit gemas pipi chubby Ye Sung. “Oppa, dengar ya. Kau tahu tidak, tatapanmu itu sungguh tajam. Bahkan lebih tajam ketimbang pisau pemotong daging milik Park Ahjussi. Oppa pikir aku berani menegurmu saat kau marah? Yang ada aku bisa jadi jenazah keesokan harinya.”

“Kau takut menegurku duluan?”

Ji Rin mengangguk mantap. “Bukankah Si Won Oppa pernah bilang kalau aura Oppa itu seperti Asa…sin,” suara Ji Rin memelan di bagian akhirnya.

“Apa? Apa yang kau katakana tadi?”

Ji Rin meneguk saliva-nya susah payah. Oh tidak, ia sepertinya salah bicara.

“Kau bilang auraku seperti Asasin??!” Ye Sung berdiri dan berkacak pinggang.

Kedua bola mata Ji Rin ingin mencuat dari tempatnya ketika aura kakaknya mulai berubah. Oups, mereka baru saja berbaikan. Dan Ji Rin tidak ingin jadi mayat malam ini juga.

Oppa, maafkan aku. Aku hanya bercanda…” Ji Rin berusaha berlari secepat yang ia bisa dari hadapan Ye Sung.

Tapi, walau bagaimanapun Ye Sung jauh lebih cepat darinya ketika Ye Sung menarik tangan Ji Rin dan membuat adiknya itu kembali terududuk di sofa. “Kau harus menerima hukumanmu!”

Alhasil, Ji Rin hanya bisa pasrah ketika Ye Sung mencubit habis-habisan kedua pipinya. “Ampun Oppa, besok aku ada makan malam dengan Dae Hyun. Bagaimana jika wajahku besok terlihat jelek huh?”

Tanpa menghiraukan rengekan Ji Rin, Ye Sung malah tertawa puas dan bertahan mencubit pipi gembul adiknya. “Begitu lebih baik. Jadi pria itu sadar kalau dia sudah memilih gadis jelek untuk dijadikan calon istri, hahaha.”

Hanya cicak juga nyamuk di dalam rumah mereka yang menjadi saksi hidup bagaimana kedua bersaudara itu menunjukkan rasa kasing sayang mereka. Satu hal yang pasti, diamnya Ye Sung bukan karena ia marah. Tapi karena rasa sayangnya yang berlebihan pada adik perempuannya.

Oppa, hentikaaaan!”

.
.
End

Gubraaakk XD
Aku malah senyam-senyum gaje dan mau gulung-gulung sendiri pas ngetik fanfiction ini masaa /ditendang/
Ini aselinya mau bikin kalau Ji Rin itu kekasihnya Ye Sung, tapi entah kenapa aku malah dapat feel kalau mereka itu bersaudara yeheeet *toss bareng Rye Wook*
Oh iya, mau bilang kalau fanfiction ini ada wujudnya dalam bentuk anime buatan temen aku yang cantik, si Eni Palupi J
(sejujurnya aku sih yang request bhahahahakkh…)
Ini dia gambar buatan Eni:


Itu ceritanya si Ye Sung dan Ji Rin hehe…
Bagus kan??? Eni makasih yaaa gambarnya emmuuaaach :* kece badai sumpah B)
Lain kali aku boleh request banyak-banyak donk kan yah :D /ditendang Eni ke planet Mato/
Buat yang sudah mampir dan berkenan baca FF gak berkelas juga gak berbobot ini makasih banyak yaaa…
See you on next post ^^
*dance feel so good bareng Bang Yongguk*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar