Silence and The Affection
.
.
Author:
Aisyah
(@cloudisah)
.
Cast:
Super
Junior’s Ye Sung
OC’s Ji Rin
Super
Junior’s Rye Wook
.
Genre: Family ; Length: Ficlet
.
OoooO
“Apa hal itu boleh kusebut afeksi yang
berlebihan?”
.
.
“Bukankah kalian tidak
pernah saling mendiamkan satu sama lain sampai selama ini?”
Ji Rin menghela nafas dalam
setelah mendengar pertanyaan—atau mungkin pernyataan—yang baru saja terlontar
dari Rye Wook barusan. Seraya mengaduk espresso
yang mulai dingin di atas meja di depannya, Ji Rin menatap cangkir espresso itu tanpa kedip selama belasan
sekon. Dan mungkin ia akan bertahan pada posisi itu lebih lama lagi jika saja
suara Rye Wook tidak menyadarkannya.
“Jadi, apa yang akan kau
lakukan?”
Setelahnya Rye Wook
menghabiskan Americano yang sisa
setengah di dalam cangkirnya. Demi menunggu jawaban dari gadis di depannya ini.
“Entahlah. Mungkin akan
lebih baik jika aku tetap diam dan menunggu Ye Sung Oppa mengatakan sesuatu.”
“Apa kau bisa bertahan
sampai saat itu tiba?” Rye Wook menatap Ji Rin skeptis.
Tak ada jawaban apapun dari
Ji Rin setelahnya ketika Rye Wook menyadari kehadiran Ye Sung. Rye Wook berniat
meninggalkan kedua bersaudara itu seandainya Ji Rin tak lebih dulu bangkit dari
posisinya.
“Wook-a, aku keluar dulu.”
Dan Rye Wook hanya bisa
membiarkan Ji Rin meninggalkan ruang tamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun
pada kakak lelakinya yang baru saja menunjukkan eksistensinya itu. Rye Wook
menatap Ye Sung—menuntut penjelasan—yang lebih memilih bungkam ketimbang
menahan adik perempuannya agar tidak pergi.
Rye Wook bersidekap setelah
Ye Sung mendudukkan diri persis di sisinya. “Kau harus segera menyelesaikan
masalah dengan adikmu itu. Atau kalau tidak, aku yang akan turun tangan dan
meminta bantuan Lee Teuk Hyung bila
perlu.”
Ye Sung hanya tersenyum
getir sembari memandang punggung adiknya yang sudah menjauh dari halaman rumah
mereka. “Aku perlu waktu untuk memperbaiki keadaan ini, Wook-a.”
“Haissh. Terserah kau lah Hyung.
Yang jelas aku hanya ingin mengatakan kalau sekarang sungguh tidak nyaman
bertamu ke rumah kalian dengan suasana tegang seperti ini di antara kalian,”
Rye Wook mengacak rambutnya.
Ye Sung memilih diam. Tak
tahu harus berkata apalagi pada sahabatnya itu mengenai hubungannya dengan adiknya
yang semakin membeku tiap harinya. Dan Ye Sung bersumpah, ia tak pernah
mengharapkan hal ini terjadi. Ia merasa semakin merindukan Ji Rin setiap
harinya sekalipun Ji Rin berada dalam jarak pandangnya.
OoooO
Ji Rin tidak suka jika ayah
dan ibunya pergi ke luar kota. Setidaknya untuk saat ini. Hanya berdua bersama
Ye Sung di rumah membuatnya merasa seperti di ruang sidang skripsi. Oh tidak.
Ini bahkan lebih menegangkan daripada saat ia sidang skripsi bersama dosen-dosen
yang terlihat lebih seperti cheetah kelaparan.
Jika kau pernah mengunjungi
makam pada malam hari, maka suasana sarapan pagi di rumah kediaman keluarga Kim
kali ini jauh lebih mencekam ketimbang suasana di makam itu. Hanya terdengar
dentingan sendok yang beradu dengan piring. Bahkan pergerakan detik jarum jam
bisa terdengar dengan sangat jelas.
Ye Sung terlihat santai
dengan aktivitasnya menghabiskan sandwich
sembari memainkan gadget miliknya.
Sementara di kursi seberang, Ji Rin benar-benar terlihat tak nyaman.
Berkali-kali ia tersedak, namun sepertinya Ye Sung lebih menikmati
mengabaikannya tanpa perlu repot-repot menyodorkan segelas minuman untuknya.
Jika Ji Rin boleh
melebih-lebihkan, ia ingin berganti menjadi adik Lee Teuk saja ketimbang menjadi
adik dari lelaki di depannya ini. Kenapa mereka harus saling mendiamkan selama
ini? Bahkan sekarang sudah memasuki minggu kedua mereka saling diam setelah
pertengkaran hebat mereka dua minggu yang lalu.
Apa Ye sung tidak pernah
sekalipun berpikir untuk—
“Aku duluan.”
—berbaikan dengannya?
Eh, tunggu. Apa itu tadi? Ye
Sung mengatakan apa?
Ji Rin tersadar dari
lamunannya ketika menyadari tak ada lagi eksistensi Ye Sung di kursi seberang.
Apa tadi Ji Rin hanya salah dengar? Apa itu hanya khayalannya yang beresonansi
memenuhi indra pendengarannya?
“Kurasa, Ye Sung Oppa memang tidak ingin berbaikan
denganku,” Ji Rin bermonolog seraya membereskan piring kotor di atas meja
makan. “Ugh, menyebalkan.”
OoooO
Ji Rin ingin pergi saja dari
rumah seandainya ibunya sebelum pergi ke luar kota tidak berpesan untuk tidak
keluar rumah saat malam hari tiba. Ia mungkin akan mati ditelan kesunyian malam
ini. Sendirian—ralat, berdua bersama kakaknya yang menganggap Ji Rin tak lebih
dari sekedar makhluk hidup yang mengerjakan pekerjaan rumah, membuatnya ingin
mengubur dirinya sendiri hidup-hidup saat ini juga.
Lihatlah sekarang.
Ji Rin bahkan sungkan untuk
bangkit dari sofa ruang tengah ketika Ye Sung tiba-tiba saja muncul dan duduk
bersisian dengannya. Yang membuatnya serasa semakin dongkol adalah sikap Ye
Sung yang seolah menganggapnya tak ada. Ji Rin juga tak peduli lagi dengan
tayangan tv di depannya. Yang ia inginkan sekarang adalah pergi dari tempat itu
sekarang juga.
Tapi kedua tungkainya
sepertinya tak bisa diajak bekerja sama. Ji Rin hanya bisa merutuki dirinya
sendiri yang malah membiarkan tubuhnya membeku di samping kakak kandungnya
sendiri.
Dua menit.
Tiga menit.
Lima menit.
Tujuh me—
Dihitungan menit ketujuh
jantung Ji Rin dibuat berdetak tak karuan ketika Ye Sung yang memeluknya secara
tiba-tiba. Oh ayolah. Ini Ye Sung. Kakaknya sendiri. Kenapa Ji Rin jadi segugup
ini, sih?
“Op, Oppa,” lirihnya dalam dekapan Ye Sung.
Alih-alih menjawab ucapan
adiknya, Ye Sung memilih mengeratkan pelukannya. Dan sesekali mencium puncak
kepala adiknya yang ia rindukan setengah mati itu.
“Oppa, ada apa?”
Ye Sung berdecak setelah
melepaskan pelukannya. “Kau bertanya ada apa? Bukankah ini tanda aku ingin
berbaikan denganmu, bodoh?”
Ji Rin mempoutkan bibirnya
kesal. Dasar. Lelaki ini selalu saja seenaknya.
“Aku merindukanmu,” Ye Sung
mengacak gemas surai Ji Rin. “Maafkan Oppa,
ya.”
Ji Rin tak lantas menjawab.
Gadis itu malah menatap lekat-lekat obsidian tajam nan teduh milik kakaknya. Ia
merindukan tatapan lelaki itu. Semenyebalkan apapun Ye Sung, Ji Rin tak bisa
hidup tanpanya.
“Sudahlah. Tidak usah diam
seperti itu. Katakan saja kalau kau juga merindukanku, kan?”
“Oppa menyebalkan,” Ji Rin lantas menghambur memeluk Ye Sung dan
menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ye Sung. “Maafkan Ji Rin juga Oppa.”
Ye Sung tertawa renyah dan
membalas pelukan adiknya. “Maaf, Oppa
selalu ragu untuk memulai konversasi denganmu lebih dulu. Oppa terlalu egois.”
“Hmm, tak apa. Ini lebih
baik dari pada kita saling diam lebih lama lagi.”
Ye Sung menangkup kedua pipi
Ji Rin setelah pelukan mereka terlepas. “Seandainya Oppa sadar berbaikan denganmu semudah ini, pasti Oppa lakukan sejak kemarin. Oppa takut kau akan mengabaikanku.”
Kedua alis Ji Rin bertaut.
Itu berarti suara Ye Sung yang ia dengar saat di ruang makan itu bukanlah
delusinya. Ye Sung memang berbicara dengannya kemarin.
Keduanya bergeming. Saling
menyelami iris masing-masing, mencari kedamaian dalam tatapan saudaranya.
Bahkan selama beberapa menit, hening mengambil alih suasana ketika Ye Sung dan
Ji Rin lebih memilih untuk tak mengatakan apa-apa dan menikmati keheningan
bersama.
“Kita sudah resmi berbaikan,
kan?”
Suara Ji Rin memecah hening.
Yesung mengangguk dan kembali mengacak surai Ji Rin.
“Jadi, bisa Oppa jelaskan kenapa saat itu Oppa memarahiku dan setelahnya
mendiamkanku hampir dua minggu lamanya?”
Ye Sung menggenggam erat
tangan Ji Rin. Menatap adiknya itu dengan kedua sudut bibirnya yang berjungkat
naik.
“Oppa belum siap jika kau menikah. Oppa hanya terkejut ketika kau mengatakan kalau Dae Hyun melamarmu.
Kau tahu kan, kalau kita sejak kecil selalu bersama. Dan oleh sebab itu, aku
terkejut sekaligus marah karena belum siap ditinggalkan oleh adikku
satu-satunya ini.”
Ji Rin terkekeh pelan.
“Jadi, hanya karena itu Oppa
memarahiku dan mendiamkanku huh?” Anggukan dari Ye Sung membuat Ji Rin malah
terbahak. “Apa hal itu boleh kusebut afeksi yang berlebihan?”
“Entahlah. Kau bisa
mengartikannya sesukamu. Yang pasti Oppa
masih belum siap jika kau menikah. Tapi…” Ye Sung menggantungkan kalimatnya.
“Tapi apa?”
“Kenapa kau juga malah diam
dan tidak menegurku?”
Ji Rin mencubit gemas pipi chubby Ye Sung. “Oppa, dengar ya. Kau tahu tidak, tatapanmu itu sungguh tajam.
Bahkan lebih tajam ketimbang pisau pemotong daging milik Park Ahjussi. Oppa pikir aku berani menegurmu saat kau marah? Yang ada aku bisa
jadi jenazah keesokan harinya.”
“Kau takut menegurku
duluan?”
Ji Rin mengangguk mantap.
“Bukankah Si Won Oppa pernah bilang
kalau aura Oppa itu seperti Asa…sin,”
suara Ji Rin memelan di bagian akhirnya.
“Apa? Apa yang kau katakana
tadi?”
Ji Rin meneguk saliva-nya susah payah. Oh tidak, ia
sepertinya salah bicara.
“Kau bilang auraku seperti
Asasin??!” Ye Sung berdiri dan berkacak pinggang.
Kedua bola mata Ji Rin ingin
mencuat dari tempatnya ketika aura kakaknya mulai berubah. Oups, mereka baru saja berbaikan. Dan Ji Rin tidak ingin jadi mayat
malam ini juga.
“Oppa, maafkan aku. Aku hanya bercanda…” Ji Rin berusaha berlari
secepat yang ia bisa dari hadapan Ye Sung.
Tapi, walau bagaimanapun Ye
Sung jauh lebih cepat darinya ketika Ye Sung menarik tangan Ji Rin dan membuat
adiknya itu kembali terududuk di sofa. “Kau harus menerima hukumanmu!”
Alhasil, Ji Rin hanya bisa
pasrah ketika Ye Sung mencubit habis-habisan kedua pipinya. “Ampun Oppa, besok aku ada makan malam dengan
Dae Hyun. Bagaimana jika wajahku besok terlihat jelek huh?”
Tanpa menghiraukan rengekan
Ji Rin, Ye Sung malah tertawa puas dan bertahan mencubit pipi gembul adiknya.
“Begitu lebih baik. Jadi pria itu sadar kalau dia sudah memilih gadis jelek
untuk dijadikan calon istri, hahaha.”
Hanya cicak juga nyamuk di
dalam rumah mereka yang menjadi saksi hidup bagaimana kedua bersaudara itu
menunjukkan rasa kasing sayang mereka. Satu hal yang pasti, diamnya Ye Sung
bukan karena ia marah. Tapi karena rasa sayangnya yang berlebihan pada adik
perempuannya.
“Oppa, hentikaaaan!”
.
.
End
Gubraaakk XD
Aku malah senyam-senyum gaje dan
mau gulung-gulung sendiri pas ngetik fanfiction ini masaa /ditendang/
Ini aselinya mau bikin kalau Ji Rin
itu kekasihnya Ye Sung, tapi entah kenapa aku malah dapat feel kalau mereka itu bersaudara yeheeet *toss
bareng Rye Wook*
Oh iya, mau bilang kalau fanfiction
ini ada wujudnya dalam bentuk anime
buatan temen aku yang cantik, si Eni Palupi J
(sejujurnya aku sih yang request bhahahahakkh…)
Ini dia gambar buatan Eni:
Itu ceritanya si Ye Sung dan Ji Rin
hehe…
Bagus kan??? Eni makasih yaaa
gambarnya emmuuaaach :* kece badai sumpah B)
Lain kali aku boleh request
banyak-banyak donk kan yah :D /ditendang
Eni ke planet Mato/
Buat yang sudah mampir dan berkenan
baca FF gak berkelas juga gak berbobot ini makasih banyak yaaa…
See
you on next post ^^
*dance feel so
good bareng Bang Yongguk*


Tidak ada komentar:
Posting Komentar