Sweet Temptation
.
.
By @cloudisah_
.
.
Cast:
BAP’s
Youngjae
OC’s Jirin
.
.
Ficlet // Teen // Romance (I’m not sure about this,
kekeke)
.
.
.
OoooO
Bertemu—ralat,
mengenal Youngjae merupakan kutukan dalam hidupku. Mungkin akan lebih baik
seandainya Tuhan mempertemukanku dengan Pangeran Katak saja. Oh, katak terlalu
menjijikkan. Kalau begitu Pangeran Vampire
saja, kurasa itu jauh lebih baik.
“Hahaha.
Mau aku ambilkan katak yang lebih besar, Rin?”
Youngjae
positif sakit jiwa. Ia tidak waras.
“Berhenti
melempari katak-katak itu, Jae! Atau kuadukan kau pada Nenek!!!”
Ia berhenti
tertawa. Kurasa ancamanku tadi berhasil menakutinya. Yah, itu saat aku yakin
jika teriakan yang susah payah kukeluarkan memang berhasil sebelum Youngjae—
“Aaaaakkkhh…”
“Hahaha.
Rasakan itu!”
—kembali
melempariku katak yang ukurannya benar-benar besar.
Kulempar
asal kailku, lantas bangkit dari tepi danau dan berjalan tanpa memperdulikan Youngjae
yang menatapku heran. Pria itu sungguh menyebalkan. Bagaimana mungkin ia sama
sekali tidak merasa bersalah saat mengganggu acara memancingku? Huh. Setelah
ini aku harus mencari obat penawar atas kutukan ini.
“Jirin, kau
sudah mau pulang?! Hey, tunggu aku!”
Kupercepat
kedua tungkaiku agar segera sampai ke rumah Nenek. Kupikir dengan berakhir
pekan di kampung Nenek bisa mengendurkan urat sarafku yang tegang karena
tugas-tugas kuliah. Dan jangan lupakan gangguan eksternal dari
lelaki-pengganggu-kehidupan yang selalu menempel padaku kemanapun. Kenyataan
yang terjadi malah sebaliknya.
“Jirin
tunggu ak—”
“Jangan
mengikutiku, Jae! Sudah sana main dengan katak-katak itu. Kau itu sungguh
menyebalkan. Kau keterlaluan, tahu tidak!” kuhentakkan kakiku sebagai kebiasaanku
jika sedang kesal.
Dan
setelahnya Youngjae bergeming tanpa berniat lagi mengikutiku. Tsssk, bahkan ia sama sekali tidak
berniat meminta maaf. Benar-benar keterlaluan.
OoooO
Delapan
tahun menjadi teman Youngjae membuatku merasa sebagai makhluk paling tidak
beruntung seantaro galaksi Bima Sakti. Aku sendiri heran, kenapa bisa menjadi
temannya bahkan untuk waktu yang cukup lama. Padahal
lelaki-pengganggu-kehidupan itu selalu mengerjaiku kapanpun ada kesempatan.
Sejak
insiden pelemparan katak tadi sore, Youngjae belum kembali ke rumah Nenek. Ini
bahkan sudah pukul delapan malam ketika Nenek menyuruhku menunggu Youngjae
pulang di teras rumah. Ah, bahkan Nenekku lebih mengkhawatirkan Youngjae
ketimbang cucunya sendiri yang sudah menjadi korban.
“Begitu
rindunya kah kau padaku hingga rela kulit mulusmu itu digigit nyamuk?”
Suara itu
muncul ketika nyamuk-nyamuk kelaparan sedang berjuang menghisap darahku. Kedua
netraku membelalak saat lelaki-pengganggu-kehidupan itu menyodorkanku ember—itu
ember yang kubawa saat memancing tadi—yang isinya ada sekitar tiga ekor ikan.
“Jae, kau—”
“Sepertinya
ikan-ikan di danau itu sedang diet. Jadi, aku hanya dapat tiga ekor. Ini,
berikan pada Nenek,” Youngjae tersenyum. Dan itu adalah senyum paling
menyebalkan. Senyum yang membuat aliran darahku terasa panas dan jantungku
berdetak tak normal.
Oh, tidak.
Maksudku aliran darahku jadi panas sebab ia menyebalkan. Yah, menyebalkan.
“Dan juga…
Ini. Maaf yang tadi sore ya, Rin,” Youngjae berlalu setelah menyodorkanku
sebatang es krim vanilla kesukaanku
dan mengusap puncak kepalaku sekilas. Jadilah kini aku malah bergeming
memperhatikan punggungnya yang tengah memasuki rumah.
Setelah
eksistensi Youngjae lenyap dari pandanganku, kualihkan atensiku pada es krim vanilla ‘sialan’ yang selalu jadi
senjata ampuh Youngjae untuk meminta maaf. Ingin aku menceburkan diri ke danau
saat ini juga. Kenapa aku selalu mudah memaafkannya hanya karena sebatang es
krim vanilla. Kenapa? Kenapa?
OoooO
Seandainya
saja Youngjae tak tahu kalau aku begitu tergila-gila pada es krim vanilla, ia tidak akan menjadikan es
krim itu sebagai senjata untuk meminta maaf. Setiap melakukan kesalahan Youngjae
akan selalu memberiku es krim itu dan
aku dengan bodoh memaafkannya tanpa sedikitpun protes.
Tapi, untuk
kali ini aku bersumpah tidak akan luluh hanya karena es krim vanilla itu.
“Rin,
maaf…” rengeknya.
Memilih
berpretensi tak mendengar ucapannya, kufokuskan retinaku pada layar tv yang
entah sedang menayangkan acara apa. Sudah cukup ia mengerjaiku dengan hal-hal
yang aneh, dan aku bukan wanita gampangan yang seenaknya ia perlakukan seperti
tadi malam.
Ia sendiri
yang berjanji menemaniku mencari buku untuk mata kuliah Budgeting, tapi ia juga yang melanggar janji itu dengan membuatku
menunggu hampir satu jam di depan toko buku—sekalipun ia memang datang setelah satu
jam aku menunggu, sih. Jadi, apa begini cara ia meminta maaf?
“Apa satu
es krim ini masih kurang? Baiklah, kalau begitu aku akan belikan satu lagi dan setelah
itu maafkan aku ya Rin. Please.”
Memutar
bola jengah, lantas kutatap Youngjae yang juga tengah menatapku dengan gurat
putus asa, hingga kini pandangan kami saling bersirobok. Oh ayolah, aku tidak
suka jika ia menatapku dengan ekspresi seperti itu.
“Sudahlah, Jae.
Lebih baik kau pulang dan kerjakan tugas kuliah Banking Management. Besok tugasnya harus sudah selesai. Aku tidak
mau kalau—”
“AYOKITAMENIKAH!”
Kedua
netraku nyalang atas kalimat yang ia ucapkan secepat kecepatan cahaya itu. “Ap,
apa kau bilang?”
“Ayo, kita,
menikah,” Youngjae memberi penekanan
pada akhir kalimatnya.
Jantungku
rasanya ingin mencelos dari tempatnya. Youngjae sudah sakit jiwa tingkat
lanjut. Ia harus segera direhabilitasi.
“Berhenti bicara
omong kosong, cepat pulang atau—”
“Atau apa?”
potongnya cepat.
Meneguk saliva susah payah, kuremas ujung baju
kaosku. “Atau… Atau aku tidak akan memaafkan—”
“Kau suka padaku
kan? Aku juga. Jadi, ayo kita menikah. Bukankah menikah muda itu lebih baik?
Dan, aku bisa memberimu es krim vanilla
setiap hari. Oh, bagaimana kalau nanti kita buka usaha es krim vanilla? Kau bisa makan es krim vanilla tiap hari.”
Kedua
netraku semakin nyalang, dan mungkin kelopak mataku bisa robek saking lebarnya
aku membelalakkan mata. “Kau itu—”
Tanpa
membiarkanku melanjutkan apa yang ingin kuucapkan, Youngjae menyodorkan es krim
vanilla yang hampir meleleh itu tepat
di depan wajahku. Sial. Aku bahkan bisa mencium aroma vanilla meskipun masih di dalam bungkusnya. Aromanya benar-benar
menggodaku.
“Kau suka
aku, kan?”
Aku
mengangguk tanpa sadar seraya menatap es krim di tangannya tanpa kedip. Eh? Apa
yang baru saja kulakukan??!
“Berarti
aku dimaafkan dan kita akan menikah sebentar lagi.”
Youngjae
tersenyum. Manis. Manis sekali. Semanis es krim vanilla.
Dan aku
membeku.
Oh Tuhan
bagaimana mungkin aku termakan godaan lelaki-pengganggu-kehidupan ini? Ia
benar-benar sudah merusak hidupku. Dan, apa menerima lamaran-kurang-warasnya
juga adalah sebuah kutukan? Kurasa dalam hal ini akulah yang sudah sakit jiwa.
AKU SUNGGUH
TAK TAHAN DENGAN GODAAN ES KRIM VANILLA ITU!
.
.
End
Aku jatuuuh
cintaaaa pada foto teaser uri Ujae
#Rose
Ujae-ah, saranghaaaaeeeee :*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar