Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Minggu, 26 Februari 2017

(Fanfiction) Sweet Temptation


Sweet Temptation

.
.



By @cloudisah_

.
.

Cast:
BAP’s Youngjae
OC’s Jirin

.
.

Ficlet // Teen // Romance (I’m not sure about this, kekeke)

.
.
.

OoooO

Bertemu—ralat, mengenal Youngjae merupakan kutukan dalam hidupku. Mungkin akan lebih baik seandainya Tuhan mempertemukanku dengan Pangeran Katak saja. Oh, katak terlalu menjijikkan. Kalau begitu Pangeran Vampire saja, kurasa itu jauh lebih baik.


“Hahaha. Mau aku ambilkan katak yang lebih besar, Rin?”

Youngjae positif sakit jiwa. Ia tidak waras.

“Berhenti melempari katak-katak itu, Jae! Atau kuadukan kau pada Nenek!!!”

Ia berhenti tertawa. Kurasa ancamanku tadi berhasil menakutinya. Yah, itu saat aku yakin jika teriakan yang susah payah kukeluarkan memang berhasil sebelum Youngjae—

“Aaaaakkkhh…”

“Hahaha. Rasakan itu!”

—kembali melempariku katak yang ukurannya benar-benar besar.

Kulempar asal kailku, lantas bangkit dari tepi danau dan berjalan tanpa memperdulikan Youngjae yang menatapku heran. Pria itu sungguh menyebalkan. Bagaimana mungkin ia sama sekali tidak merasa bersalah saat mengganggu acara memancingku? Huh. Setelah ini aku harus mencari obat penawar atas kutukan ini.

“Jirin, kau sudah mau pulang?! Hey, tunggu aku!”

Kupercepat kedua tungkaiku agar segera sampai ke rumah Nenek. Kupikir dengan berakhir pekan di kampung Nenek bisa mengendurkan urat sarafku yang tegang karena tugas-tugas kuliah. Dan jangan lupakan gangguan eksternal dari lelaki-pengganggu-kehidupan yang selalu menempel padaku kemanapun. Kenyataan yang terjadi malah sebaliknya.

“Jirin tunggu ak—”

“Jangan mengikutiku, Jae! Sudah sana main dengan katak-katak itu. Kau itu sungguh menyebalkan. Kau keterlaluan, tahu tidak!” kuhentakkan kakiku sebagai kebiasaanku jika sedang kesal.

Dan setelahnya Youngjae bergeming tanpa berniat lagi mengikutiku. Tsssk, bahkan ia sama sekali tidak berniat meminta maaf. Benar-benar keterlaluan.

OoooO

Delapan tahun menjadi teman Youngjae membuatku merasa sebagai makhluk paling tidak beruntung seantaro galaksi Bima Sakti. Aku sendiri heran, kenapa bisa menjadi temannya bahkan untuk waktu yang cukup lama. Padahal lelaki-pengganggu-kehidupan itu selalu mengerjaiku kapanpun ada kesempatan.

Sejak insiden pelemparan katak tadi sore, Youngjae belum kembali ke rumah Nenek. Ini bahkan sudah pukul delapan malam ketika Nenek menyuruhku menunggu Youngjae pulang di teras rumah. Ah, bahkan Nenekku lebih mengkhawatirkan Youngjae ketimbang cucunya sendiri yang sudah menjadi korban.

“Begitu rindunya kah kau padaku hingga rela kulit mulusmu itu digigit nyamuk?”

Suara itu muncul ketika nyamuk-nyamuk kelaparan sedang berjuang menghisap darahku. Kedua netraku membelalak saat lelaki-pengganggu-kehidupan itu menyodorkanku ember—itu ember yang kubawa saat memancing tadi—yang isinya ada sekitar tiga ekor ikan.

“Jae, kau—”

“Sepertinya ikan-ikan di danau itu sedang diet. Jadi, aku hanya dapat tiga ekor. Ini, berikan pada Nenek,” Youngjae tersenyum. Dan itu adalah senyum paling menyebalkan. Senyum yang membuat aliran darahku terasa panas dan jantungku berdetak tak normal.

Oh, tidak. Maksudku aliran darahku jadi panas sebab ia menyebalkan. Yah, menyebalkan.

“Dan juga… Ini. Maaf yang tadi sore ya, Rin,” Youngjae berlalu setelah menyodorkanku sebatang es krim vanilla kesukaanku dan mengusap puncak kepalaku sekilas. Jadilah kini aku malah bergeming memperhatikan punggungnya yang tengah memasuki rumah.

Setelah eksistensi Youngjae lenyap dari pandanganku, kualihkan atensiku pada es krim vanilla ‘sialan’ yang selalu jadi senjata ampuh Youngjae untuk meminta maaf. Ingin aku menceburkan diri ke danau saat ini juga. Kenapa aku selalu mudah memaafkannya hanya karena sebatang es krim vanilla. Kenapa? Kenapa?

OoooO

Seandainya saja Youngjae tak tahu kalau aku begitu tergila-gila pada es krim vanilla, ia tidak akan menjadikan es krim itu sebagai senjata untuk meminta maaf. Setiap melakukan kesalahan Youngjae akan selalu memberiku es krim itu dan aku dengan bodoh memaafkannya tanpa sedikitpun protes.

Tapi, untuk kali ini aku bersumpah tidak akan luluh hanya karena es krim vanilla itu.

“Rin, maaf…” rengeknya.

Memilih berpretensi tak mendengar ucapannya, kufokuskan retinaku pada layar tv yang entah sedang menayangkan acara apa. Sudah cukup ia mengerjaiku dengan hal-hal yang aneh, dan aku bukan wanita gampangan yang seenaknya ia perlakukan seperti tadi malam.

Ia sendiri yang berjanji menemaniku mencari buku untuk mata kuliah Budgeting, tapi ia juga yang melanggar janji itu dengan membuatku menunggu hampir satu jam di depan toko buku—sekalipun ia memang datang setelah satu jam aku menunggu, sih. Jadi, apa begini cara ia meminta maaf?

“Apa satu es krim ini masih kurang? Baiklah, kalau begitu aku akan belikan satu lagi dan setelah itu maafkan aku ya Rin. Please.

Memutar bola jengah, lantas kutatap Youngjae yang juga tengah menatapku dengan gurat putus asa, hingga kini pandangan kami saling bersirobok. Oh ayolah, aku tidak suka jika ia menatapku dengan ekspresi seperti itu.

“Sudahlah, Jae. Lebih baik kau pulang dan kerjakan tugas kuliah Banking Management. Besok tugasnya harus sudah selesai. Aku tidak mau kalau—”

“AYOKITAMENIKAH!”

Kedua netraku nyalang atas kalimat yang ia ucapkan secepat kecepatan cahaya itu. “Ap, apa kau bilang?”

“Ayo, kita, menikah,” Youngjae memberi penekanan pada akhir kalimatnya.

Jantungku rasanya ingin mencelos dari tempatnya. Youngjae sudah sakit jiwa tingkat lanjut. Ia harus segera direhabilitasi.

“Berhenti bicara omong kosong, cepat pulang atau—”

“Atau apa?” potongnya cepat.

Meneguk saliva susah payah, kuremas ujung baju kaosku. “Atau… Atau aku tidak akan memaafkan—”

“Kau suka padaku kan? Aku juga. Jadi, ayo kita menikah. Bukankah menikah muda itu lebih baik? Dan, aku bisa memberimu es krim vanilla setiap hari. Oh, bagaimana kalau nanti kita buka usaha es krim vanilla? Kau bisa makan es krim vanilla tiap hari.”

Kedua netraku semakin nyalang, dan mungkin kelopak mataku bisa robek saking lebarnya aku membelalakkan mata. “Kau itu—”

Tanpa membiarkanku melanjutkan apa yang ingin kuucapkan, Youngjae menyodorkan es krim vanilla yang hampir meleleh itu tepat di depan wajahku. Sial. Aku bahkan bisa mencium aroma vanilla meskipun masih di dalam bungkusnya. Aromanya benar-benar menggodaku.

“Kau suka aku, kan?”

Aku mengangguk tanpa sadar seraya menatap es krim di tangannya tanpa kedip. Eh? Apa yang baru saja kulakukan??!

“Berarti aku dimaafkan dan kita akan menikah sebentar lagi.”

Youngjae tersenyum. Manis. Manis sekali. Semanis es krim vanilla.

Dan aku membeku.

Oh Tuhan bagaimana mungkin aku termakan godaan lelaki-pengganggu-kehidupan ini? Ia benar-benar sudah merusak hidupku. Dan, apa menerima lamaran-kurang-warasnya juga adalah sebuah kutukan? Kurasa dalam hal ini akulah yang sudah sakit jiwa.

AKU SUNGGUH TAK TAHAN DENGAN GODAAN ES KRIM VANILLA ITU!

.
.
End

Aku jatuuuh cintaaaa pada foto teaser uri Ujae #Rose
Ujae-ah, saranghaaaaeeeee :*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar