Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Kamis, 25 Januari 2018

(Cerpen Religi) RIntik Terakhir



RINTIK TERAKHIR
.
(Sumber Gambar: Google Image)
Penulis: Aisyah (@cloudisah_)
.
.
.

Bahkan tanaman merambat sejenis bunga beledru yang hampir mati kekeringan bisa kembali subur dengan terus menerus diberi pupuk dan air. Lantas bagaimana dengan hatiku yang terasa gersang ini? Tidak mungkin tetap bergeming jika hampir setiap hari mendengar ceramah dari Imam Besar Masjid Agung Nurul Falah ba’da magrib.

Ini semua bermula sejak satu bulan silam. Ketika teman sekampusku, Fadli, mengajak sholat magrib di sana usai mengerjakan tugas kelompok mata kuliah Studi Kelayakan Bisnis. Aku menolak mendengar ceramah awalnya, sebab sudah memiliki janji temu dengan Raya, kekasihku.

Namun bagaimanapun keras kepalanya aku, Fadli jauh lebih keras kepala. Jadilah aku duduk di sana mendengarkan ceramah meskipun dengan setengah hati.

Apakah Allah pada akhirnya memilihku sebagai salah satu hamba-Nya yang layak diberi hidayah? Hanya satu kalimat dari sang imam ketika itu yang hingga saat ini masih melekat dalam ingatan, membuat dadaku bergetar.

“Jika seseorang tak pernah meninggalkan sholat namun maksiat tetap pula dijalankannya, itu artinya ada yang salah dengan sholatnya.”

Meskipun tak mendengarkan ceramah beliau sejak awal, anehnya kedua alat indra pendengaranku langsung menangkap satu kalimat tersebut yang hasilnya membuat hatiku bagai tertohok.

Itu dia. Selama ini tiadalah maksiat menjadi sesuatu yang tabu bagiku. Kegiatan pacaran yang melanggar syari’at Islam adalah konsumsiku sehari-hari. Membantah orangtua, berkelahi dengan mahasiswa dari kampus lain, adalah kebiasaan yang tak pernah lepas dari keseharianku. Padahal tak pernah kutinggalkan sholat walau satu waktupun.

Dan kini aku menyadari. Pasti ada yang salah dengan sholatku.

Sejak saat itu, aku sering mengikuti Fadli sholat magrib di Masjid Agung Nurul Falah hanya demi mendengar ceramah dari sang Imam Besar. Demi menyirami kembali hatiku yang kerontang disebab hidup yang kujalani jauh dari syari’at.

OoooO

Ada seseorang yang dengan mudahnya memperoleh hidayah, sehingga tak sulit baginya untuk berhijrah. Ada seseorang yang merangkak dan tertatih-tatih demi mencari hidayah dari Illahi. Orang seperti itu tak jarang menemui banyak sekali rintangan ketika proses berhijrah. Dan ada pula yang memperoleh hidayah tanpa disangka-sanga, seperti aku misalnya.

Bukan perkara mudah ketika memulai berhijrah. Hijrah menuju kehidupan syariah. Tidak hanya sekedar memperbaiki sholat, namun juga aspek-aspek lain dalam kehidupan sehari-hari yang harus sesuai dengan apa yang telah Allah tentukan dalam Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.

“Ayolah Rizki, kita nongkrong sebentar. Janji deh kita pulang sebelum jam 12 malam.”

Selama satu bulan ini aku berusaha keras memperbaiki sholatku dengan harapan agar sholat yang kulakukan tidak sia-sia sehingga berdampak positif pada keseharianku. Meskipun masih belum sempurna, tapi aku terus mencobanya. Sayangnya desakan dari Junaidi sejak bermenit-menit lalu sulit untuk kutolak. Nongkrong bersama teman-teman satu geng sejak SMA dulu sudah menjadi rutinitas yang tak pernah lepas hampir setiap harinya.

“Tapi Jun—”

“Cuman nongkrong sambil main gitar seperti biasa. Kenapa sih kamu jadi sok suci begitu?” Ketus  Junaidi setelah menyeruput teh di dalam cangkirnya.

Kuhela nafas dalam. Ini keputusan yang berat. Kemarin saja Dayat sudah marah habis-habisan denganku setelah kutolak ajakannya untuk menemaninya ke kost kekasihnya. Biasanya aku memang sering menemaninya, bahkan tak jarang sampai bermalam di sana. Hanya saja sekarang sudah berbeda. Aku tak ingin lagi memiliki kehidupan seperti itu.

“Kayaknya enggak dulu deh, Jun. Aku mau tidur lebih cepat malam ini. Rasanya badanku capek banget,” aku menjawab tanpa berani menatap matanya. Terserahlah jika setelah ini Junaidi mau mengamuk atau memukulku. Bagiku mempertahankan hidayah yang telah Allah berikan jauh lebih berharga, sekalipun aku tak ingin kehilangan teman-teman seperjuanganku, Junaidi dan yang lainnya.

Tak ada jawaban apapun yang terdengar dari Junaidi. Hanya suara rintik hujan yang sejak senja tadi tak kunjung reda hingga pukul setengah sembilan malam ini. Kembali kuhela nafas berat.

“Jun, maafin aku. Aku hanya merasa kalau… Entahlah. Aku cuman ingin kembali ke jalan yang benar. Itu bukan berarti selama ini kehidupan kita sesat atau apapun. Hanya saja—”

“Aku ngerti, Ki.”

Aku mengerjap. Menatap Junaidi yang menghabiskan sisa teh di cangkirnya dalam sekali teguk.

Melihatku yang terus menatapnya, Junaidi terkekeh. “Ayolah, Dude. Kamu pikir temanmu sejak masih orok ini mau menyesatkan temannya yang sedang berusaha menjadi lebih baik?” Junaidi bangkit dari kursi teras yang sudah kami duduki sejak belasan menit lalu. “Terus terang kurang seru sih kalau nongkrong nggak ada kamu. Lagian nanti siapa coba yang sanggup ngegombalin cewek-cewek bohay itu selain kamu?” Junaidi tertawa lantas menepuk pundakku. “Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu, Ki. Aku jadi melas nongkrong.”

“Loh, tumben.” Aku turut bangkit untuk mengantar Junaidi mengambil motornya yang sudah basah seluruhnya di pekarangan. “Hati-hati, Jun.”

“Pamit dulu, Bro. Assalamu’alaikum,” Junaidi melambai lantas detik berikutnya langsung membawa motornya keluar halaman rumahku.

“Wa’alaikumsalam.”

Aku bergeming sekalipun motor Junaidi sudah hilang dari pandangan. Membiarkan tubuhku perlahan basah disapu hujan, ingatanku kembali pada saat awal aku mencoba berhijrah menuju kehidupan syariah. Tepatnya hampir satu bulan lalu tak lama setelah kali kedua aku mendengarkan ceramah sang imam masjid.

Terus terang Fadli adalah orang yang paling berjasa dalam hal ini. Berkatnya, aku tak lagi mengerjakan sholat buru-buru dan lebih memilih sholat berjama’ah ke masjid. Dengan memperbaiki kualitas sholat, huru-hara kehidupan dunia tak lagi menarik bagiku, termasuk pacaran. Dan karena itu, Raya jadi marah besar padaku.

Bohong jika kukatakan aku tak lagi mencintainya. Aku baru memperbaiki diri dalam kurun waktu satu bulan. Dan satu bulan bukanlah waktu yang lama, masih sangat singkat dan belum pantas aku mengatakan diriku sudah sangat paham mana yang benar dan mana yang salah. Tapi kutahu pacaran bukanlah bagian dari syari’at Islam.

Sudah satu minggu Raya tak lagi menghubungiku. Dan aku juga mati-matian menahan diri untuk tidak berkomunikasi jika tidak ada hal-hal yang tidak perlu. Ini berat mengingat hubungan kami sudah berjalan hampir tiga tahun terhitung sejak awal perkuliahan di semester pertama hingga di semester enam ini. Perlahan menjauhi gadis yang kucintai bukan main sulitnya.

Menatap bentangan langit malam yang tak berujung, aku bermunajat di dalam hati. Berharap Allah tidak mencabut hidayah ini dan terus menerangi jalanku. Aku tak bohong ketika mengatakan hatiku yang dulu gersang kini terasa sejuk. Jika saja sejak dulu aku tahu dan memperbaiki sholatku, tentunya tidaklah kurasakan kelamnya hati dan membuatku menjalani hidup yang jauh dari kehidupan syariah.

Kedua kelopak mataku terbuka saat mendengar suara mesin motor memasuki pekarangan rumah. Hatiku mencelos melihatnya yang menemuiku dengan tubuh basah kuyup. Kalau keadaannya tidak seperti sekarang, aku pasti langsung menarik pegelangan tangannya dan membawanya masuk ke rumah sambil membantu mengeringkan tubuhnya dengan anduk.

“Raya,” hanya itu yang mampu kukatakan. Aku merindukannya. Teramat merindukannya hingga saat ini juga aku seperti pria melankolis yang tak sanggup menahan genangan air mata.

Raya turun dari motornya dan langsung berdiri di hadapanku. “Kita ngomong sebentar, Rizki.”

Aku berusaha agar suaraku tak bergetar. “Duduk dulu di teras.”

“Enggak. Cuman sebentar, please,” suaranya serak dan aku tahu ia habis menangis.

Kami sama-sama terdiam untuk beberapa menit. Raya menangis karena aku? Kenapa?
Memang benar jika aku memutuskan untuk tak ingin lagi berpacaran. Tapi tak bisakah ia mengerti keinginanku? Sudah kukatakan padanya jika aku tetaplah mencintainya dan akan menemuinya lagi nanti untuk menghalalkannya.

“Kamu benar, Ki. Sudah sepatutunya kita nggak berpacaran.”

“Raya, maksudku bukan—”

Raya mengangkat sebelah tangannya memotong ucapanku. “Enggak. Aku bukan mau bilang kita nggak seharusnya bertemu dan menjalin hubungan,” Raya meraup oksigen sebelum melanjutkan. “Aku mendukung kamu, Ki. Aku juga mau hijrah seperti kamu. Percuma selama ini aku pakai kerudung, sholat tepat waktu, tapi kegiatan pacaran yang jelas-jelas bagian dari zina malah dilakukan.”

Lidahku kelu. Aku terdiam dan menunggunya kembali melanjutkan ucapannya.

“Kita akhiri hubungan kita, Ki. Bukan untuk memutuskan silaturrahim tapi untuk memantaskan diri. Doakan aku juga ya supaya punya keteguhan hati dalam proses berhijrah kayak kamu,” Raya tersenyum tulus.

Aku tak dapat menahan kedua sudut bibirku. “Iya, Ra. Pasti.”

Sekali lagi Raya tersenyum ketika akan beranjak pergi. Ia mengambil motornya lalu kembali berucap dari atas motor sebelum memutar gas. “Kita berpisah baik-baik. Jadi, nanti jemput aku dengan cara baik-baik ya Ki. Kalau kita memang berjodoh. Assalamu’alaikum.”

Dan dengan itu, Raya melajukan motornya menjauhi pekarangan rumahku. Menyisakan aku seorang diri dengan rintik hujan terakhir. Hatiku tak dapat menahan getarannya mendengar kalimat terakhirnya. Dan pada rintik terakhir di malam ini pula hatiku kian mantap untuk berhijrah menuju kehidupan yang sesuai syariat Islam.

“Wa’alaikumsalam, Ra. Tunggu aku disaat yang tepat,” lirihku pada hembus angin malam.

Tamat

Banyak-banyak terima kasih yang berkenan membaca cerpen ini. Ini cerpen dengan genre religi pertama saya omong-omong ^^



Tidak ada komentar:

Posting Komentar