RINTIK TERAKHIR
.
(Sumber Gambar: Google Image)
Penulis: Aisyah (@cloudisah_)
.
.
.
Bahkan tanaman merambat sejenis bunga beledru yang
hampir mati kekeringan bisa kembali subur dengan terus menerus diberi pupuk dan
air. Lantas bagaimana dengan hatiku yang terasa gersang ini? Tidak mungkin
tetap bergeming jika hampir setiap hari mendengar ceramah dari Imam Besar
Masjid Agung Nurul Falah ba’da magrib.
Ini semua bermula sejak satu bulan silam. Ketika
teman sekampusku, Fadli, mengajak sholat magrib di sana usai mengerjakan tugas kelompok
mata kuliah Studi Kelayakan Bisnis. Aku menolak mendengar ceramah awalnya,
sebab sudah memiliki janji temu dengan Raya, kekasihku.
Namun bagaimanapun keras kepalanya aku, Fadli jauh
lebih keras kepala. Jadilah aku duduk di sana mendengarkan ceramah meskipun
dengan setengah hati.
Apakah Allah pada akhirnya memilihku sebagai salah
satu hamba-Nya yang layak diberi hidayah? Hanya satu kalimat dari sang imam
ketika itu yang hingga saat ini masih melekat dalam ingatan, membuat dadaku
bergetar.
“Jika seseorang
tak pernah meninggalkan sholat namun maksiat tetap pula dijalankannya, itu
artinya ada yang salah dengan sholatnya.”
Meskipun tak mendengarkan ceramah beliau sejak awal,
anehnya kedua alat indra pendengaranku langsung menangkap satu kalimat tersebut
yang hasilnya membuat hatiku bagai tertohok.
Itu dia. Selama ini tiadalah maksiat menjadi sesuatu
yang tabu bagiku. Kegiatan pacaran yang melanggar syari’at Islam adalah
konsumsiku sehari-hari. Membantah orangtua, berkelahi dengan mahasiswa dari kampus
lain, adalah kebiasaan yang tak pernah lepas dari keseharianku. Padahal tak
pernah kutinggalkan sholat walau satu waktupun.
Dan kini aku menyadari. Pasti ada yang salah dengan
sholatku.
Sejak saat itu, aku sering mengikuti Fadli sholat
magrib di Masjid Agung Nurul Falah hanya demi mendengar ceramah dari sang Imam
Besar. Demi menyirami kembali hatiku yang kerontang disebab hidup yang kujalani
jauh dari syari’at.
OoooO
Ada seseorang yang dengan mudahnya memperoleh
hidayah, sehingga tak sulit baginya untuk berhijrah. Ada seseorang yang
merangkak dan tertatih-tatih demi mencari hidayah dari Illahi. Orang seperti
itu tak jarang menemui banyak sekali rintangan ketika proses berhijrah. Dan ada
pula yang memperoleh hidayah tanpa disangka-sanga, seperti aku misalnya.
Bukan perkara mudah ketika memulai berhijrah. Hijrah
menuju kehidupan syariah. Tidak hanya sekedar memperbaiki sholat, namun juga
aspek-aspek lain dalam kehidupan sehari-hari yang harus sesuai dengan apa yang
telah Allah tentukan dalam Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.
“Ayolah Rizki, kita nongkrong sebentar. Janji deh
kita pulang sebelum jam 12 malam.”
Selama satu bulan ini aku berusaha keras memperbaiki
sholatku dengan harapan agar sholat yang kulakukan tidak sia-sia sehingga
berdampak positif pada keseharianku. Meskipun masih belum sempurna, tapi aku
terus mencobanya. Sayangnya desakan dari Junaidi sejak bermenit-menit lalu
sulit untuk kutolak. Nongkrong bersama teman-teman satu geng sejak SMA dulu
sudah menjadi rutinitas yang tak pernah lepas hampir setiap harinya.
“Tapi Jun—”
“Cuman nongkrong sambil main gitar seperti biasa.
Kenapa sih kamu jadi sok suci begitu?” Ketus
Junaidi setelah menyeruput teh di dalam cangkirnya.
Kuhela nafas dalam. Ini keputusan yang berat.
Kemarin saja Dayat sudah marah habis-habisan denganku setelah kutolak ajakannya
untuk menemaninya ke kost kekasihnya. Biasanya aku memang sering menemaninya,
bahkan tak jarang sampai bermalam di sana. Hanya saja sekarang sudah berbeda.
Aku tak ingin lagi memiliki kehidupan seperti itu.
“Kayaknya enggak dulu deh, Jun. Aku mau tidur lebih
cepat malam ini. Rasanya badanku capek banget,” aku menjawab tanpa berani
menatap matanya. Terserahlah jika setelah ini Junaidi mau mengamuk atau
memukulku. Bagiku mempertahankan hidayah yang telah Allah berikan jauh lebih
berharga, sekalipun aku tak ingin kehilangan teman-teman seperjuanganku,
Junaidi dan yang lainnya.
Tak ada jawaban apapun yang terdengar dari Junaidi.
Hanya suara rintik hujan yang sejak senja tadi tak kunjung reda hingga pukul setengah
sembilan malam ini. Kembali kuhela nafas berat.
“Jun, maafin aku. Aku hanya merasa kalau… Entahlah.
Aku cuman ingin kembali ke jalan yang benar. Itu bukan berarti selama ini
kehidupan kita sesat atau apapun. Hanya saja—”
“Aku ngerti, Ki.”
Aku mengerjap. Menatap Junaidi yang menghabiskan
sisa teh di cangkirnya dalam sekali teguk.
Melihatku yang terus menatapnya, Junaidi terkekeh.
“Ayolah, Dude. Kamu pikir temanmu
sejak masih orok ini mau menyesatkan temannya yang sedang berusaha menjadi
lebih baik?” Junaidi bangkit dari kursi teras yang sudah kami duduki sejak
belasan menit lalu. “Terus terang kurang seru sih kalau nongkrong nggak ada
kamu. Lagian nanti siapa coba yang sanggup ngegombalin cewek-cewek bohay itu
selain kamu?” Junaidi tertawa lantas menepuk pundakku. “Ya sudah kalau gitu aku
pulang dulu, Ki. Aku jadi melas nongkrong.”
“Loh, tumben.” Aku turut bangkit untuk mengantar
Junaidi mengambil motornya yang sudah basah seluruhnya di pekarangan.
“Hati-hati, Jun.”
“Pamit dulu, Bro.
Assalamu’alaikum,” Junaidi melambai lantas detik berikutnya langsung
membawa motornya keluar halaman rumahku.
“Wa’alaikumsalam.”
Aku bergeming sekalipun motor Junaidi sudah hilang
dari pandangan. Membiarkan tubuhku perlahan basah disapu hujan, ingatanku
kembali pada saat awal aku mencoba berhijrah menuju kehidupan syariah. Tepatnya
hampir satu bulan lalu tak lama setelah kali kedua aku mendengarkan ceramah
sang imam masjid.
Terus terang Fadli adalah orang yang paling berjasa
dalam hal ini. Berkatnya, aku tak lagi mengerjakan sholat buru-buru dan lebih
memilih sholat berjama’ah ke masjid. Dengan memperbaiki kualitas sholat, huru-hara
kehidupan dunia tak lagi menarik bagiku, termasuk pacaran. Dan karena itu, Raya
jadi marah besar padaku.
Bohong jika kukatakan aku tak lagi mencintainya. Aku
baru memperbaiki diri dalam kurun waktu satu bulan. Dan satu bulan bukanlah
waktu yang lama, masih sangat singkat dan belum pantas aku mengatakan diriku
sudah sangat paham mana yang benar dan mana yang salah. Tapi kutahu pacaran
bukanlah bagian dari syari’at Islam.
Sudah satu minggu Raya tak lagi menghubungiku. Dan
aku juga mati-matian menahan diri untuk tidak berkomunikasi jika tidak ada
hal-hal yang tidak perlu. Ini berat mengingat hubungan kami sudah berjalan
hampir tiga tahun terhitung sejak awal perkuliahan di semester pertama hingga
di semester enam ini. Perlahan menjauhi gadis yang kucintai bukan main
sulitnya.
Menatap bentangan langit malam yang tak berujung,
aku bermunajat di dalam hati. Berharap Allah tidak mencabut hidayah ini dan
terus menerangi jalanku. Aku tak bohong ketika mengatakan hatiku yang dulu
gersang kini terasa sejuk. Jika saja sejak dulu aku tahu dan memperbaiki
sholatku, tentunya tidaklah kurasakan kelamnya hati dan membuatku menjalani
hidup yang jauh dari kehidupan syariah.
Kedua kelopak mataku terbuka saat mendengar suara
mesin motor memasuki pekarangan rumah. Hatiku mencelos melihatnya yang
menemuiku dengan tubuh basah kuyup. Kalau keadaannya tidak seperti sekarang,
aku pasti langsung menarik pegelangan tangannya dan membawanya masuk ke rumah
sambil membantu mengeringkan tubuhnya dengan anduk.
“Raya,” hanya itu yang mampu kukatakan. Aku
merindukannya. Teramat merindukannya hingga saat ini juga aku seperti pria
melankolis yang tak sanggup menahan genangan air mata.
Raya turun dari motornya dan langsung berdiri di
hadapanku. “Kita ngomong sebentar, Rizki.”
Aku berusaha agar suaraku tak bergetar. “Duduk dulu
di teras.”
“Enggak. Cuman sebentar, please,” suaranya serak dan aku tahu ia habis menangis.
Kami sama-sama terdiam untuk beberapa menit. Raya
menangis karena aku? Kenapa?
Memang benar jika aku memutuskan untuk tak ingin
lagi berpacaran. Tapi tak bisakah ia mengerti keinginanku? Sudah kukatakan
padanya jika aku tetaplah mencintainya dan akan menemuinya lagi nanti untuk
menghalalkannya.
“Kamu benar, Ki. Sudah sepatutunya kita nggak
berpacaran.”
“Raya, maksudku bukan—”
Raya mengangkat sebelah tangannya memotong ucapanku.
“Enggak. Aku bukan mau bilang kita nggak seharusnya bertemu dan menjalin
hubungan,” Raya meraup oksigen sebelum melanjutkan. “Aku mendukung kamu, Ki.
Aku juga mau hijrah seperti kamu. Percuma selama ini aku pakai kerudung, sholat
tepat waktu, tapi kegiatan pacaran yang jelas-jelas bagian dari zina malah
dilakukan.”
Lidahku kelu. Aku terdiam dan menunggunya kembali
melanjutkan ucapannya.
“Kita akhiri hubungan kita, Ki. Bukan untuk
memutuskan silaturrahim tapi untuk memantaskan diri. Doakan aku juga ya supaya
punya keteguhan hati dalam proses berhijrah kayak kamu,” Raya tersenyum tulus.
Aku tak dapat menahan kedua sudut bibirku. “Iya, Ra.
Pasti.”
Sekali lagi Raya tersenyum ketika akan beranjak
pergi. Ia mengambil motornya lalu kembali berucap dari atas motor sebelum
memutar gas. “Kita berpisah baik-baik. Jadi, nanti jemput aku dengan cara
baik-baik ya Ki. Kalau kita memang berjodoh. Assalamu’alaikum.”
Dan dengan itu, Raya melajukan motornya menjauhi
pekarangan rumahku. Menyisakan aku seorang diri dengan rintik hujan terakhir.
Hatiku tak dapat menahan getarannya mendengar kalimat terakhirnya. Dan pada
rintik terakhir di malam ini pula hatiku kian mantap untuk berhijrah menuju
kehidupan yang sesuai syariat Islam.
“Wa’alaikumsalam, Ra. Tunggu aku disaat yang tepat,”
lirihku pada hembus angin malam.
Tamat
Banyak-banyak terima kasih yang berkenan membaca
cerpen ini. Ini cerpen dengan genre religi pertama saya omong-omong ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar