Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Rabu, 13 Agustus 2014

(Cerpen) ITB vs DTB



ITB vs DTB
.
.

Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah

.
.

Warning:
Jalan cerita bikin mual, alur cerita gagjelas, typo bertebaran, ini cerita tanpa makna samasekali cuman buat seru-seruan ajaaaahhhh, and... Happy reading ^^

***

.
.

Eumm, jangan kalian berpikir kalau ITB itu adalah Institut Teknologi Bandung. ITB itu adalah singkatan yang aku kasih khusus untuk seseorang yang, yang... yang apa yah,, bisa dibilang cukup spesial buat aku.

I= Isah

T= Tempat

B= Bully

Taraaaaa...

Surprise!

Apa itu Isah? Siapa itu Isah?

Member girlband? Bukan. Pemain film? Hadeeh apalagi itu bukan pake banget. Namanya aja kampungan gitu kok. Masa iya ada pemian film dengan nama Isah, ugh. Emang sih itu nama nggak kampungan amat tapi kaaan...

Ah oke daripada ngelantur aku kasih tau kalau Isah itu adalah my closest friend, hahahahaha. Eh seriusan dia itu temen dekeeeeet aku. Kita jadi teman sejak pertama masuk kuliah sampe sekarang. Nggak tau sih, semacam ada takdir gitu diantara kami berdua jadi kami bisa deket banget. Karena dia adalah my closest friend jadinya aku sering nyebut dia dengan panggilan ‘Ma Kloset Plend’ yang biasa aku singkat jadi ‘Ma Klo’ hahhaa. Kloset? Yap, aku sengaja kasih nama ‘kloset’ yang niatan awalnya supaya kata ‘closest’ itu jadi rada ke-Indonesia-an. Eh tapi ternyata dia sadar kalau kloset yang aku maksud adalah kloset beneran, tapi aku tetep istiqomah manggil dia ‘Ma Klo’ hehee.

Anaknya emang nggak cantik kayak cewek-cewek girlband Korea, apalagi tinggi badannya yang bisa dibilang nggak cocok dengan usianya sebagai anak kuliahan. Warna kulitnya juga jauuuh beda banget sama Miss Indonesia.

Oke-oke cukup mendeskripsikan bentuk tubuhnya. Aku mau kasih tau kalo aku bikin singkatan itu bukan tanpa alasan. Anak itu emang suka aku bully. Beneran loh ini, hahaha. Anaknya enak banget dibully, hampir tiap hari kerjaanku adalah ngebully dia dan dia selalu kalah kalau ngelawan aku. Dan sampe sekarang kegiatan membully dia menjadi hobby baruku, kkkk.

Well..

Mungkin kalo soal bully membully emang aku selalu menang dan dia selalu kalah. Tapi aku akan kalah dan ciut kalo sudah main gombal-gombalan ama tuh anak. Eh ciyusan aku sampe speechless.

.
.

DTB

Itu singkatan emang aneh banget yak.. iya lah, namanya juga singkatan yang aku buat sendiri untuk makhluk paling menyebalkan seduniaaaaa bahkan seakhirat mungkin.

D= Darwin

T= Tukang

B= Bully

Taraaaaaa....

Bagus kan singkatan yang aku buat khusus buat anak itu, hahaha...

Itu anak emang nyebelin banget sumpahhh >_< dia bener-bener hobby buat ngebully aku, nggak tau pagi, siang, sore, malem, bahkan waktu tidurpun dia akan datang dalam mimpiku dan membully-ku dengan tanpa dosa.

Darwin itu anaknya nggak ada keceh-keceh samasekali. Tapi nggak tau kenapa aku bisa akrab sama itu anak, mungkin semacam kayak ada chemistry gitu diantara kami berdua, hahaha. Anaknya juga nggak tinggi kayak cowok-cowok keceh pemain basket, kulitnya juga nggak seputih Yesung Super Junior. Tapi untuk otaknya yah lumayan lah.

Dia sering manggil aku ‘Ma Klo’ yang merupakan singkatan dari ‘Ma Kloset Plend’. Yeah klo to the set, kloset. Itu dari kata ‘My Closest Friend’, tapi seenaknya aja dia manggil aku kloset, memangnya mukaku kayak kloset apa? Jadi aku panggil dia dengan ‘Ma Keset Plend’ yang biasa aku singkat jadi ‘Ma Kes’. Pada tau keset kan yah? Itu loh yang biasa dijadikan lap kaki, kebanyakan bertuliskan WELCOME, hahaha...

Ngomong-ngomong soal urusan bullu-membully dia emang jagonya. Aku sebagai makhluk yang lemah hanya bisa pasrah jika dia udah mulai ngebully aku. Dia bilang ngebully aku itu memiliki kesenangan tersendiri buat dia, dan katanya lagi nih dia ngebully aku juga gara-gara aku yang mancing dia. Aku nggak ngerti banget maksudnya, kapan coba aku mancing dia supaya ngebully aku, huhh.

.
.

ITB vs DTB

Ini mungkin kedengarannya aneh, dan bahkan nggak masuk akal sama sekali. Eum, bukannya benar-benar nggak masuk akal sih. Tapi, inilah kenyataannya yang terjadi. Pukul 20.45  malam makhluk menyebalkan bernama Darwin baru aja nelpon aku dengan suaranya yang serak dan terdengar bergetar. Katanya dia demam mendadak malam ini.

Oke, kita memang nggak pernah tahu kapan kita semua tiba-tiba jatuh sakit. Cuman, apa iya benar-benar semendadak itu? Jelas-jelas tadi sore dia baru aja habis bermain voli dengan teman-temannya di kampus dan tertawa terbahak-bahak tanpa beban, bahkan dia mengabaikan aku yang duduk di pinggir lapangan voli menunggunya selesai bermain. Ckk.

Dan bodohnya aku, sekarang pukul 20.48 sudah bersiap-siap memakai jaket dan jilbab untuk segera menuju ke rumahnya yang jaraknya lebih dari satu kilo dari rumahku. Aku memang nggak yakin kalau makhluk itu benar-benar sakit, tapi aku juga nggak ngerti kenapa kakiku terus saja melangkah keluar rumah setelah meminta ijin pada mamaku dan mengambil motorku untuk segera ku-gas menuju rumah Darwin.

Memang sih anak itu sering bikin aku kesal, tapi aku juga nggak mau kalau sampai dia sakit. Lagian tadi kedengaran jelas kalau suaranya benar-benar serak dan bergetar. Dan yang lebih parahnya dia ditinggal sendirian di rumah karena orangtuanya lagi ada acara pernikahan keluarga mereka di luar kota. Apa jangan-jangan anak itu kelelahan?

Dengan cepat kulajukan motorku agar sampai ke rumahnya, menerobos jalanan malam ini yang nggak begitu ramai karena cuaca yang cukup mendung. Perlu waktu kurang dari sepuluh menit sampai akhirnya aku tiba di perkarangan rumahnya yang nggak begitu luas dan dengan buru-buru aku memarkirkan motorku lalu bergegas mengetuk pintu rumah Darwin.

Tok tok tok

Aku mengetuk pintu dengan nafas tersengal-sengal. Ayolah makhluk yang ada di dalam cepat buka pintunya, aku benar-benar khawatir bagaimana keadaan anak itu sekarang.

Tok tok tok

Berkali-kali aku mengetuk pintu namun nggak ada juga tanda-tanda orang di dalam akan membuka pintu buatku. Ckk, aku lupa bawa ponsel jadi aku nggak bisa nelpon Darwin supaya membukakan pintu buatku.

Tok tok tok

Mungkin sudah lima menit aku berdiri di depan pintu rumah Darwin kayak orang bego, atau lebih parahnya kayak orang yang lagi minta sumbangan. Ah, kalo gini ceritanya aku mending nggak usah datang. Eummh, atau aku pulang aja kali yah sekarang.

Tok tok tok

Ketukan terakhir. Dan kalau kali ini juga nggak ada yang buka pintu aku bener-bener langsung tancap gas balik ke rumah. Ugh, mana malam ini dingin banget lagi. Aku menggosok-gosok kedua tanganku mengusir dingin, kayak di drama-drama Korea yang sering aku tonton di mana pemeran wanita menggosok-gosok tangannya waktu kedinginan terus si cowok yang ada di dekatnya membantu menghangatkan tangan ceweknya sambil niup tangan tuh cewek. Ah, tapi kan aku sendirian. Nggak ada cowok ganteng kayak di drama Korea itu yang mau bantu aku menghangatkan telapak tanganku.

Tsskk. Sepertinya emang nih pintu nggak bakal terbuka, mendingan aku pulang sekarang aja deh. Dari pada aku kayak orang bego di sini, aku buru-buru berbalik untuk mengambil motorku yang terparkir manis di pekarangan.

-Set.

Kalau ini di drama Korea (drama Korea lagi) saat tangan pemeran wanita ditarik tiba-tiba dan wanita tersebut menoleh ke arah pemilik tangan -yang biasanya pemeran pria- pasti akan ada angin yang berhembus lembut membuat surai sang wanita bergerak pelan dan musik slow sebagai latarnya.

Tapi, yang menjadi latar saat ini adalah bunyi petir dan aura kegelapan yang melingkupiku ketika aku melihat dengan jelas siapa tersangka yang baru saja menarik tanganku tiba-tiba. Wajah menyebalkannya yang sedang menunjukkan cengiran tak berdosa menatap ke arahku dengan senyum kemenangannya yang membuatnya terlihat seperti setan.

Belum sempat aku mengeluarkan sepatah kata untuk memakinya, pria dengan ekspresi setan itu langsung menarikku masuk dan langsung menutup pintu ketika kami sudah berada di dalam.

“Duduk di sini dulu okey,” ia menghempaskan tubuhku di atas hambal di depan tv lantas menghilang di balik pintu dapur.

Tunggu. Tangannya saat memegang tanganku tadi tidak panas atau pun dingin. Kurasa suhu tubuhnya normal. Jangan-jangan...

“Hyaaaa!! Darwin kamu mau bohongin aku lagi????,” aku mengikutinya ke dapur dan dengan membabi buta memukulinya yang sedang membuat dua gelas coklat panas. “Kamu nggak tau kalau aku tadi ke sini buru-buru gara-gara aku khawatir haaah??!!,” aku masih memukulinya tanpa ampun.

Bukannya meminta maaf, ia malah tertawa sambil terbahak-bahak sambil terus berusaha menghindari pukulanku.

“Hey Ma Klo berhenti, sakit nih,” rintihnya. Ckk aku nggak peduli dia kesakitan atau nggak yang jelas aku masih tetap istiqomah memukuli tubuhnya itu kalau perlu sampai dia babak belur.

Darwin terus menghindari pukulanku sampai kami harus mengitari dapurnya yang tidak terlalu luas, hingga akhirnya pria itu berhenti berlari yang membuatku ikut berhenti dan menatap heran padanya yang menoleh padaku dengan pandangan menyesal, lalu tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah lantas menatapku tajam sambil menunjukkan smirk-nya yang terlihat errrr menyeramkan.

“Isah maapin aku ya,” lantas setelah mengucapkan kalimat yang aku nggak ngerti kenapa tapi kayaknya aku merasakan firasat buruk setelah ini.

“Hyaaa Darwin kamu mau ngapain haaah???? Lepasin aku.. dodol kamu mau ngapain??!!,” aku berteriak dan meronta-ronta saat tiba-tiba manusia nggak tau diri ini mengangkat tubuhku dan menggendongku ala bridal. Dia berjalan dengan langkah lebar lalu setelah sampai di ruang tengah manusia setan ini menghempaskan tubuhku di atas hambal di depan tv dengan kasar.

Oh God. Kalian tau gimana rasanya? Perih gila cuy. Posisi landing ku bener-bener nggak elit banget karena bokongku duluan yang nyium lantai. Tssk. Aku meringis saking sakitnya tapi manusia di depanku cuman tersenyum penuh kemengan tak menghiraukan tatapan horor dariku yang rasanya amarahku udah tingkat Dewa Bujana(?)

“Anak pintar. Duduk diam yang manis di sini ya... I’ll be back soon,” ucapannya terdengar seperti titah yang harus dilaksanakan dan aku merasa nggak mau berdebat dengannya hingga aku lebih memilih diam dan nggak berniat menatapnya sama sekali karena aku benar-benar sebal banget. Ugh. Dasar Tukang Bully!

“Diam di sini dan jangan kemana-mana,” lalu setelah itu ia pergi ninggalin aku mungkin kembali ke dapur melanjutkan apa yang tadi mau dia buat.

Oh baiklah mungkin aku harus bersyukur pada Allah SWT karena Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar kesanggupan, itu artinya aku termasuk makhluk yang memiliki kesanggupan yang luar biasa karena aku diuji dengan adanya makhluk tukang bully yang selalu mengerjaiku bernama Darwin. Makhluk yang akan selalu menguji kesabaranku dan mengukur sebatas mana kesabaranku.

“Tadaaa... Ini dia menu makan malam kita kali ini,” makhluk yang baru saja kubicarakan sudah muncul di depanku dengan membawa nampan berisi satu piring yang bisa kutebak adalah nasi goreng karena aku bisa mencium baunya yang menguar ke seluruh ruangan dan dua gelas mungkin coklat panas yang tadi ia buat di dapur.

Aku masih diam menatap makhluk itu sampai ia duduk di depanku dan menyodorkan segelas coklat panas dengan uap yang mengepul di atas gelas. Hmmm, sepertinya lezat sekali. Aku masih belum menerima gelas yang ia sodorkan dan malah menatap curiga pada isi gelas dan wajahnya bergantian.

“Hey kamu kenapa? Biasanya kamu suka banget kalau sudah aku bikinin coklat panas. Dan kamu kenapa natap aku kayak gitu?”

Aku menyipitkan mataku yang sebesar biji ramania (buah khas kalsel yang yang masam banget waktu masih mentah, warna ijo kayak mangga muda tapi bentuknya kecil kayak telor burung puyuh, enak banget dibikin rujak dan kalau sudah matang manish bangeth dan berair gitu warnanya orange. Bijinya warna ungu kalau masih muda), menatap curiga pada isi gelas yang ia sodorkan. “Kamu nggak masukin racun kan di dalam gelas ini?”

“Whoaaa. Hebat. Kok kamu bisa tau kalau aku kasih racun tikus di dalam minumannya? Udah buruan minum gih,” paksanya meraih tanganku agar menerima gelas tersebut.

“Aku pastikan akan menghantuimu setelah ini,” ketusku lalu menenggak isi gelas tersebut yang tidak terlalu panas. Lupakan jika memang ia menaruh racun tikus di dalamnya.

“Hahaa... Kalau nanti kamu menghantiku maka Al-Qur’an menjadi peganganku, dan aku meminta perlindungan dari Allah SWT serta akan aku bacakan Ayat Kursi ratusan kali ke wajahmu,” bacotnya yang membuatku kehabisan kata-kata.

Aku lebih memilih diam menatap kosong pada layar tv yang terus mengoceh tanpa kutahu acara apa yang sedang ditayangkan. Sampai aku merasa ada sesuatu yang mengganjal yang sejak tadi sempat aku lupakan.

“Eh Ma Kes, sialan banget kamu. Aku udah buru-buru ke rumahmu gara-gara aku pikir kamu sakit beneran, iih nyebelin banget sih. Lain kali biarpun sampai kamu sekarat beneran aku nggak bakal lagi mau dateng,” ucapku dengan menahan kesal sambil mencubit lengannya kuat-kuat.

Dan, yeah manusia di sampingku ini cuman bisa terkekeh dan terus memasukan nasi goreng ke dalam mulutnya. Hey! Jadi dia makan nggak bagi-bagi nih ceritanya?

“Jadi kamu ngapain nyuruh aku ke rumahmu kalau kamu nggak sakit hah?”

“Aku minta temanin kamu makan aja, hehehe,” ia menatapku dengan wajah ‘sok innocence’ dan mulut yang penuh dengan nasi goreng. “Kamu mau?,” tawarnya lalu menyodorkan sesendok nasi goreng tersebut ke dalam mulutku.

“Ogah”. Aku lebih memilih menghabiskan isi gelasku saja. “Habis ini antar aku pulang”

Darwin melotot ke arahku, hey memangnya apa yang salah sama kalimatku barusan. “Kamu kan bawa motor Sah?”

 “Tapi ini kan sudah hampir pukul setengah sepuluh malam. Kamu tega biarin aku ada di jalanan sendirian malam-malam yang mendung begini? Sunyi tau di jalanan,” aku mempoutkan bibirku kesal.

“Gag mau”

“Apaah?! Hey DTB!”

Darwin ngeluarin sebuah kunci yang ada di kantong celananya dan menggantung-gantungkan benda tersebut di depan wajahku. “Kamu gag bisa pulang. Jadi malam ini tidur di rumahku aja ya nemanin aku soalnya aku nggak berani tidur sendirian di rumah,” ia kembali menunjukkan smirknya.

Aku berusaha merebut kunci tersebut dan ia langsung menghindar dengan cepat.

“Darwiiiiiiiiiiiin nyebeliiiin!!!!”

.
.

Kebahagiaan terbesar di dalam hidupku adalah ketika membully seorang gadis bernama Isah. Hahaha.

Tapi sudah tiga hari ini gadis itu mengacuhkanku setelah kejadian tiga hari yang lalu saat aku membohonginya dan berpura-pura sakit, sebenarnya aku tidak benar-benar ingin membohonginya. Nggak tau kenapa aku senang banget melihat dia khawatir padaku. Lagipula aku kan hanya ingin meminta dia agar menemaniku makan malam karena aku nggak biasa makan sendirian. Toh lagipula kan setelah itu aku ngantar dia pulang sampai selamat di rumahnya.

Ckk.

Aku nggak tahan didiamin terus kayak gini. Lebih baik dia marah-marah aja sama aku atau mukulin aku kayak biasanya daripada harus didiamkan berhari-hari. Smsku gag dibalas. Nelpon sih diangkat tapi dia nggak ada suaranya, ah kan buang-buang pulsa aja.

Kali ini aku coba buat kirim sms lagi ke dia. Kali ini bukan sms berupa bully-an seperti biasa sebagai pembuka sesi sms-an aku dan dia. Aku bener-bener pengen minta maap sama dia.

To: Isah
Isah... q minta mf. Iy sih mmg aq slh v q g bner2 pngen bhongin km. Q g mw khilngan ITB-ku, Ma Klo mfin q yah. Q jnji akn mmprbaiki skapku. Klo km g mw brtman sm q lg trus nnt q brbagi crita ma cv? Brkluh kesah ma cv? Yaya Isah. Q tw km perlu wkt buat mfin q, tp q hrp km mw mfin qw. Ma Klo mf yah :D

Sent

Ugh, semoga setelah ini dia mau balas smsku. Aku tau aku emang keterlaluan selama ini, cuman aku nggak tau kenapa aku seneng banget bisa bikin dia marah, haha.

Ponselku bergetar tanda ada satu pesan masuk. Buru-buru aku buka ponselku,

From: Romi
Win,,, u ad d humz kh? Qw mo nebeng printer u ya ntar mlm

Hadeeeh. Kirain dari Isah.

To: Romi
Iy k rumh q z

Sent

Aaah. Jangan-jangan Isah gag mau balas smsku lagi.

Ponselku bergetar lagi. Kali ini dengan sedikit malas aku buka ponselku. Bingo! Dia balas smsku.

From: Isah
Aku pengen banget maapin kamu, tapi di sisi lain aku rasanya masih susah buat maapin kamu yang sering banget keterluan sama aku.

Aku memandang sedih pada layar ponselku. Iya memang sih aku selama ini keterlaluan banget sama dia, tapi aku bener-bener tulus minta maap kali ini.

To: Isah
Isah plz mfin q ych, q jnji q bkaln brubah... Ma Klo I miss u
Mfin q ya ya ya :D

Sent

Ah semoga setelah ini dia mau maapin aku. Aku bener-bener nggak tahan, dan frustasi rasanya selama beberapa hari ini dia acuhkan.

From: Isah
Hmmm. Iya deh aku juga minta maap kalau ada salah. Jangan diulangi lagi yaaa... JJ

Aku nggak bisa menahan lengkungan dibibirku ketika baca smsnya barusan. Dengan buru-buru aku segera membalas pesannya.

To: Isah
Mksih y Isah ^^ ok q akan brusaha jd lebih baik lg J
Eum, hujan nih. Skr km lg dmn?

Sent

Gag sampe semenit balasan smsnya sudah datang.

From: Isah
Di taman deket rumah Sri nih berteduh, hujan.a deras banget... aku gak bisa pulang.

Apa? Dia nggak di rumah sekarang? Aku segera melirik keadaan di luar dari balik jendelaku, hujannya terlalu deras. Anak itu nggak tahan dengan hujan, pasti habis ini dia bakal bersin-bersin.

To: Isah
Napa km g pulng pke daun keladi aj? Hehee... kn daun kladi itu lebar bs ntupin sluruh badn km yng lebar :p tp srius nih km g bs pulang???

Sent

.

From: Isah
-_- elu emang nggak pernah baek sama gue. Iya ini gue lagi berteduh, mana dingin banget pula ini. Hidung gue mulai gatel uggh

.

To: Isah
Mw aq jmput skr kh? Kyaknya hjannya bklan lama dch

Sent

.

From: Isah
Hehee, serius kamu mau jemput aku? Aku tunggu yaa. Tapi jangan pake daun keladi loh :D jangan lama-lama ya Win dingin banget niih

.

To: Isah
Iya2 crewet bgt jg ah. Bntar diam dsitu jgan kmana2

Sent

Setelah mengirim pesan tersebut aku langsung bergegas mengambil jaket dan mantel hujan, lalu tak lupa membawa kunci motorku dan segera melesat menuju garasi buat ngambil motorku yang terparkir dengan gagah di sana.

Hujan bener-bener deras saat ini. Dan jalanan sekarang sunyi banget cuman ada beberapa mobil yang lewat, gagda motor, cuman ada motorku di sepanjang jalan. Aku semakin mempercepat motorku supaya segera sampai di taman deket rumah Sri.

Segera aku memarkirkan motorku saat sudah sampai di taman yang biasanya menjadi tempat aku dan Isah untuk mengusir penat di akhir pekan. Aku membuka payung berwarna merah hadiah ulang tahunku tahun lalu dari Isah, katanya supaya aku nggak pakai daun keladi lagi kalo hujan, haha. Anak yang aneh. Eh, lupakan tentang payung ini. Yang pasti sekarang aku sedang sibuk mencari-cari keberadaan anak itu ke seluruh area taman. Tapi nihil, aku nggak menemukan ada seorangpun yang berada di taman ini.

Kucoba mengirim pesan untuk Isah.

To: Isah
Isah, km dmn? Q udh smpe nch dtmn

Sent

Aku terus mencoba mencari ke segala arah siapa tahu gadis itu bersembunyi dibalik pohon. Ah iya aku ingat, di tengah taman ini ada sebuah pondok kecil yang atapnya terbuat dari daun. Pasti Isah berteduh di sana. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke tempat yang aku yakini anak itu ada di sana.

Alisku bertaut bingung karena aku nggak menemukan gadis itu sama sekali. Kucek ponselku siapa tahu ada balasan sms darinya, tapi nggak ada balasan. Kuturunkan payung yang sejak tadi kubawa dan meletakkannya didalam pondok lalu setelahnya aku langsung duduk sambil mengatur nafasku, lantas kemudian aku mencoba menelpon Isah.

Setelah terdengar nada dering beberapa kali, akhirnya panggilanku diangkat juga sama orang di seberang sana.

‘Assalamualaikum Win,’ terdengar pelan suara Isah.

“Waalaikumsalam.. Isah kamu di mana? Aku sudah sampai nih di taman”

‘Win,’ suaranya terdengar lemah.

“Iya Isah. Kamu di mana sekarang? Kamu gagpapa kan?,” ucapku terlalu khawatir.

‘Ka, kamu... Kamu serius jemputin aku di tengah hujan deras begini?,’ suaranya terdengar tidak yakin.

“Iya, ini aku sudah sampai. Aku nyari-nyari kamu ke seluruh taman tapi kamu nggak ada, aku di pondok di tengah taman nih. Jadi kamu di mana sekarang?,” tanyaku nggak sabaran.

‘Aku, aku...’

“Iya Isah kamu di mana? Kamu nggak apa-apa kan? Kamu sakit?,” tanyaku semakin khawatir.

‘Win aku’

“Isah buruan deh nggak usah bertele-tele kayak gitu”. Setelah aku mengucapkan kalimat tersebut, tak ada jawaban lagi dari Isah membuat kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. “Halo Isah, halo...”

‘Surprise!! Hahahahhahahaaa’

Aku bisa mendengar dengan jelas tawa anak itu yang melengking yang mebuatku dengan cepat menjauhkan ponselku dari telinga. “Eh kenapa kamu ketawa kayak gitu huh?”

‘Aku bohongin kamu tau.. hahaha. Ngapain coba hujan-hujan kayak gini aku di luar rumah, mending aku di rumah tiduran. Tapi aku nggak nyangka ternyata kamu beneran datang jemputin aku, kamu memang kawan sejati Win’

Aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi sekarang. Mulutku menganga nggak percaya dengan kenyataan yang terjadi. Mungkin Isah balas dendam sama aku gara-gara kejadian tiga hari yang lalu, jadi beginilah apa yang Isah rasakan waktu itu.

‘Halo Win, kamu masih di situ?’

“Hmm. Ya sudah syukurlah kamu nggak kehujanan. Aku pikir kamu kena hujan lagi terus demam lagi kayak waktu itu. Kalau gitu aku pulang dulu, aku matikan telponnya. Assalamualaikum,” nggak tau kenapa aku tiba-tiba berucap dengan nada dingin seperti itu. Aku malah langsung mematikan ponselku tanpa memberi kesempatan anak itu menjawab salamku.

Dengan langkah gontai aku berjalan meninggalkan taman. Padahal tadi aku sudah khawatir banget. Aku menurunkan payung yang melindungi tubuhku ketika sudah sampai di dekat motorku. Tapi tiba-tiba angin kencang bertiup dari arah timur membuat payung yang belum sempat aku tutup terlepas dari tanganku dan terbang ke arah barat. Oh tidak, payung hadiah ulang tahunku terbang ke jalan raya. Buru-buru aku mengejar payungku yang semakin bergerak ke tengah jalan.

Set. Aku berhasil mendapatkannya. Ugh, untung aja dapat. Kalau sampai payung ini hilang, Isah pasti bakalan ngamuk berat. Tapi bukan masalah Isah yang bakalan ngamuk sih, ini kan hadian ulang tahun kesayanganku.

Tiiin tiiiin...

Bunyi klakson dari arah kiri membuyarkan lamunanku. Aku bisa melihat dengan jelas sebuah truk berwarna merah melaju dari arah kiriku dengan kecepatan tinggi. Belum sempat aku menghindar, benda besar tersebut sudah menghantam tubuhku membuatku terasa terbang sejauh sekian meter dan sakit luar biasa di seluruh tubuhku. Payung yang tadi kugenggam terlepas begitu saja seiring dengan aku merasakan cairan hangat keluar dari kepalaku.

Rasanya sakit. Aku kehilangan tenagaku. Tubuhku terbaring bahkan aku sama sekali nggak bisa menggerakkan sedikitpun bagian tubuhku. Bau anyir darah segera menyapa hidungku bersamaan dengan cairan tersebut yang kurasa semakin deras keluar di bagian kepalaku. Cairan merah itu merembes bersamaan dengan tetesan hujan yang terus mengguyur tubuhku. Samar-samar aku melihat orang yang berada di dalam truk menghampiriku, hingga setelahnya... semuanya terasa gelap.

.
.

Ini pertama kalinya aku ngerasain damai itu kayak gimana. Bener-bener damai. Aku nggak tau ini persisnya dimana, tapi yang pasti banyak banget kabut yang menghalangi pandanganku. Dan, aku juga heran. Sejak kapan aku ganti baju pakai baju serba putih kayak gini, perasaan aku nggak pernah punya baju beginian deh.

Aku terus berjalan ngikutin arah jalan setapak yang aku pijak. Aduh, sudah aku pakai baju beginian terus mana aku nggak pakai alas kaki lagi. Nggak kece banget rasanya. Bajuku udah rapi begini tapi aku nggak pakai sendal atau sepatu, uh. Tanah yang aku pijak rasanya lembab seperti terkena embun. Lembab tapi tidak becek.

Jalanan ini mau bawa aku ke mana? Lagian tempat ini seram banget, cuman ada aku sendirian. Bahkan telingaku nggak ada dengar bunyi apapun. Eh? Jangan-jangan aku sudah mati? Ah nggak, nggak mungkin.

Jalanan yang aku pijak menghilang, dan kabut yang dari tadi menghalangi pandangaku juga ikut menghilang. Lalu tergantikan oleh suasana di.... kamar rumah sakit?

Aku mendengar suara tangisan seseorang. Aku kenal tuh suara. Ah, suara Isah. Kenapa dia nangis-nangis begitu?

Isah duduk di samping ranjang sambil terus memegangi tangan seseorang yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Memangnya siapa yang sedang sakit?

Eh tunggu dulu, itu kan aku? Ya ampun, memangnya apa yang terjadi? Jadi, jadi ini aku cuman roh yang sudah keluar dari tubuh? Aku... aku sudah mati???? Oh Tuhan nggak mungkin.

“Hey Isah jangan nangis... Isah,” panggilku berharap gadis itu berhenti menangis. Oh sungguh aku nggak suka melihat Ma Klo menangis begitu.

Tapi bukannya mendengarkan perkatanku dan berhenti menangis, ia malah menangis semakin kencang. “Isah... ini aku di sini, jangan nangis Isah”

Dan Isah malah menangis sampai sesenggukan. Kucoba menyentuh pelan bahunya agar dia nggak terkejut. Loh... aku nggak bisa nyentuh Isah. Aku coba lagipun hasilnya sama. Jadi, aku benar-benar kayak di film yang pernah aku tonton. Aku cuman roh yang nggak bisa nyentuh apapun, dan jasadku nggak kelihatan.

Dan sebenarnya, apakah aku ini sudah mati? Kalau aku sudah mati, kenapa aku masih terbaring di tempat tidur itu? Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa denganku? Kenapa banyak sekali perban di tubuhku itu?

Aku merasa benar-benar lemas. Ah iya aku ingat sekarang. Payung. Aku mengejar payungku yang tertiup angin di tengah jalan dan tiba-tiba... Oh aku nggak mau mengingat kejadian itu lagi. Ini artinya aku sedang koma. Dan Isah, dia pasti merasa bersalah banget.

Kupegangi dadaku. Aku bisa meraskan rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi rongga dadaku. Isah nangis karena aku. Kenapa aku nggak hati-hati dan membuatnya nangis begitu? Darwin bodoh. Kenapa waktu itu aku nggak hati-hati??

Aku benar-benar pengen meluk Isah yang nangis meraung-raung begitu. Aku pengen ngehapus air matanya. Tapi... aku nggak bisa nyentuh dia. Bahkan dia juga nggak bisa ngeliat aku. Sekarang aku harus gimana?

“Darwiiiin... Hiks, bangun Win, hiks, banguuun. Aku janji habis kamu bangun aku nggak jahatin kamu lagi. Aku nggak mau ngerjai kamu lagi. Win, bangun Win.. hiks,” aku benar-benar sakit rasanya melihat sahabatku menangis begitu. Isah, aku di sini. Kamu nggak bisa lihat aku?

“Win... aku sayang sama kamu Win, jadi cepetan bangun, hiks hiks... Darwiiinh”

Isah. Aku juga sayang sama kamu. Dan... aku nggak tau apa yang musti aku lakuin sekarang...

.
.

Ini salahku. Harusnya aku nggak ngerjain dia waktu itu. Kenapa aku tega bikin dia hujan-hujanan buat jemputin aku, mana hujan waktu itu deras banget. Aku menatap pada wajah damai Darwin yang tertidur. Sudah dua hari Darwin koma, dia nggak sadarkan diri setelah operasi dua hari yang lalu. Darwin, aku musti gimana supaya kamu bisa bangun?

“Win, maafin aku...,” lirihku masih dengan terus menggenggam tangan kanannya yang tidak diinfus. Dan lagi-lagi aku nggak bisa menahan mataku supaya nggak nangis. Rasanya sakit banget waktu liat sahabatku kayak gini, apalagi ini semua karena salahku.

“Isah, istirahat dulu gih. Nanti orang tuanya Darwin datang kok. Kamu kan belom makan dari tadi malam,” Sri memelukku dari samping. Aku selalu menjaga Darwin di sini meskipun orangtuanya sudah memintaku untuk beristirahat saja. Aku nggak mau istirahat, aku nggak mau ninggalin Darwin. Dia begini karena aku. “Sah...,” panggil Sri lagi yang kali ini membuaktu menoleh padanya.

“Nanti aja Sri, aku belum lapar. Lagian siapa tau bentar lagi Darwin bangun,” aku tersenyum bersaha meyakinkan Sri.

“Tapi nanti kamu sakit gimana?”

“Tenang aja. Aku nggak ada riwayat sakit maag kok. Nanti aku bakalan makan deh kalau sudah lapar”

“Janji yah kamu musti makan. Ya sudah aku pulang dulu, nanti aku ke sini lagi,” Sri mengambil tasnya yang ada di atas meja di dekat pintu lalu setelahnya ia menghilang di balik pintu kamar inap Darwin.

Kuhela nafas berat. Dokter bilang mereka belum bisa memastikan kapan Darwin akan sadar. Bagian kepala Darwin mengalami pendarahan akibat tabrakan yang cukup kuat dan lengan kirinya patah, kemungkinan tangan kirinya harus di gift dan perlu waktu yang cukup lama untuk pemulihan lengannya nanti. Untung saja supir truk yang menabrak Darwin bertanggung jawab dan langsung membawa Darwin ke rumah sakit sehingga nyawanya masih sempat tertolong. Dan yang membuatku semakin bersyukur adalah operasi Darwin yang berjalan lancar.

Semoga saja Darwin nggak mengalami geger otak. Aku takut kalau sampai dia amnesia, dan yang lebih parahnya kalau sampai dia melupakan aku.

Aku terus berada di sampingnya, menggenggam erat tangannya berharap bisa menyalurkan kekuatan buatnya. Aku terus berdoa, meminta pertolongan Allah di tiap sujud terakhirku usai sholat agar memberi kesembuhan buat Darwin dan yang paling penting supaya dia cepat sadar.

“Wiin, cepet bangun. Nanti habis kamu bangun aku punya gombalan yang bagus loh, yang bisa bikin kamu speechless. Jadi kamu cepet bangun yaa... Wiin,” kali ini aku mengguncang pelan lengannya. Dan lagi-lagi tanpa kukomando air mataku terus saja turun. Aku bahkan nggak tau gimana keadaan mukaku sekarang, Sri bilang mataku sudah kayak mata panda. “Hiks, Win cepetan banguuun, Wiiin, Ma Kes, DTB.... hey Cinta Permai banguun, hiks, hiks,” semakin erat kugenggam tangannya.

Dua hari yang lalu saat aku menerima telpon dari Romi kalau Darwin kecelakaan dan masuk rumah sakit aku sama sekali nggak percaya. Karena aku yakin dia cuman mau membalasku, lagian dia kan memang sering ngerjain aku. Tapi akhirnya aku percaya setelah ibunya Darwin nelpon aku beberapa jam kemudian. Darwin nggak mungkin bawa-bawa ibunya buat ngerjain aku, dan setelah dapat telpon itu aku langsung menuju rumah sakit.

Waktu itu bener-bener rasanya langit runtuh, aku bahkan nggak tau musti gimana bahkan buat berdiri aja kakiku nggak sanggup. Darwin kecelakaan di taman saat hujan deras waktu dia mau jemputin aku padahal aku cuman bohongin dia. Isah dodol. Kenapa aku harus ngerjain dia waktu itu, aku tahu waktu itu hujan deras banget. Semua ini salahku. Kalau bisa aku aja yang gantikan posisi dia saat ini, aku sakit banget ngeliat Darwin kayak gini. Sakit banget.

Wajah damainya masih belum bergerak dengan matanya yang tertutup rapat. Kuusap pelan pipinya, wajah yang biasanya selalu menunjukkan smirk menyeramkannya sekarang hanya terdiam kaku. Perlahan gerakan jemariku beralih dari pipinya menuju bibir penuhnya, bibir ini selalu tersenyum penuh kemenangan tiap dia berhasil mengalahkanku. Dan bibir ini juga yang selalu tersenyum menenangkanku jika aku sedang mengalami masalah.

Win, cepat bangun. Aku kangen kamu.

.
.

“Ma Klo, kamu tau nggak kepanjangan ‘SJC’?”

“Hmmm, ‘SJC’? Sahabat Jadi Cinta?”

“Ugh, ngarep banget kamu. Jadi kamu pengen kita ada hubungan cinta-cintaan begitu huh? ‘SJC’ itu artinya.... Si_Isah Jualan Cireng, hahahahaaa”

“Iih nyebelin banget sih kamu. Nggak pernah sih kamu sekali-sekali baik sama aku,” Isah mempoutkan bibirnya kesal, ah rasanya aku gemas banget ngeliat dia begitu.

Aku hanya terkekeh menanggapinya, aku senang sekali melihat dia kesal seperti ini. Oh iya, ngomong-ngomong aku juga nggak tau kenapa Isah ada di tempat ini. Mungkin rohnya yang sedang tertidur datang menuju duniaku, ah bukan, tapi aku yang mengundang rohnya untuk datang ke sini. Di tempat para roh sepertiku yang menunggu keputusan apakah kami berhak melanjutkan hidup kami di dunia atau hidup kami berakhir dan meninggalkan jasad kami yang sudah lama terbaring koma.

“Isah,” panggilku untuk membuatnya mengalihkan perhatiannya dari lembah yang penuh kabut di depan kami karena saat ini kami sedang duduk di pinggir tebing batu di mana hanya ada aku dan Isah di sini.

“Hmmm?”

“Kalau aku udah nggak ada lagi, gimana perasaan kamu?,” tanyaku dengan ekspresi serius serta menatap dalam pada iris coklatnya.

Isah balas menatapku, cukup lama kami pada posisi ini sampai-

“Bhuahahahahahhahh,” gadis di depanku ini terbahak-bahak sambil meninju pelan bahuku. Hey memangnya apa yang lucu?

“Kamu kenapa ketawa? Aku serius tau,” aku melipat kedua tanganku di depan dada dan berpura-pura kesal padanya.

“Hahhaahh, aduuh, maapph. Habisnyah mukamuh lucu banget, hahaha, sumpah lucu banget waktu sok-sok mau serius begitu,” jawabnya lagi sambil berusaha menahan tawanya.

“Aku serius Isah”

“Hmmmh, bagaimana yaa... Mungkin aku akan jadi gadis yang paling bahagia sedunia karena nggak ada lagi makhluk pengganggu kayak kamu,” jawabnya sambil menerawang langit yang berhiaskan awan putih tanpa cela.

“Beneran? Kamu serius seneng kalo aku nggak ada lagi?,” ulangku memastikan.

“Yah nggak mungkin lah Win, sama siapa lagi aku berantem kalau nggak sama kamu. Siapa lagi yang rela jemputin aku hujan-hujan, nganter aku pulang malam-malam, siapa lagi yang bisa bikin aku memutar otak sekuat tenaga biar nggak kalah. Pasti aku sedih banget lah Win. Eh tapi, kenapa kamu nanya begitu?”

Aku sendiri bingung harus menjawab apa karena aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba aku nanya begitu. Aku lebih memilih mengabaikan pertanyaannya dan menarik kepalanya untuk bersandar di bahu kananku. Membiarkan udara yang berembun menyentuh permukaan kulit kami. Membiarkan kesunyian melingkupi kami berdua. Biarkan sebentar begini, hanya ada aku dan Isah. Kami berdua yang tenang dalam damai seperti ini, bukan Isah dan Darwin yang terus menerus berdebat dan bahkan teman Isah yang bernama Sri memberi label kami berdua sebagai tukang rusuh. Haha.

“Win,” ucap Isah di sela-sela acara menerawang kami pada hamparan kabut di depan kami.

“Apa?”

“Do you love me?,” kepalanya dia angkat dari bahuku dan kali ini menatapku dengan ekspresi serius.

Aku tersenyum dengan pertanyaannya itu, tentu saja aku mencintainya. Aku mengangguk mantap, “Hmm.. Iya donk. Aku mencintaimu. I love you as Ma Kloset Plend”

Kulihat ia menghela nafas. “Syukurlah, aku juga mencintaimu sebagai sahabatku. Biarkan selamanya seperti ini, biarkan cinta itu terus tumbuh antara sahabat dengan sahabatnya.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Isah kembali menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Yeah, karena orang aneh juga bersahabat dengan orang aneh, hahaa”

Ia mencubit kuat lenganku hingga aku meringis kesakitan. “Jadi maksudmu aku aneh begitu? Enak aja, kamu aja yang aneh nggak usah ajak-ajak aku”

Aku hanya kembali terkekeh pelan dan tak ingin berdebat dengannya saat ini. Kuelus pelan kepalanya yang terbalut kerudung, aku benar-benar menikmati waktu ini. Menikmati waktu berdua dengan sahabatku. Jarang sekali kami berdua bisa seperti ini.

Angin bertiup teramat pelan seolah ikut memberi kenyamanan pada kami.

“Isah, kalau aku pergi kuharap kamu bisa jaga dirimu baik-baik. Jangan berteman dengan laki-laki sembarangan, oke”

“Huhh? Maksudmu?”

“Nggak ada. Hanya seandainya saja”

.
.

Jemari pria itu bergerak pelan, membuat gadis yang kepalanya tertidur di tepi tempat tidurnya terbangun meskipun dengan mata yang masih sulit dibuka. Dan jemari itu kembali bergerak hingga membuat gadis itu membulatkan matanya tak percaya.

“Eungh..” pria itu melenguh pelan.

Dengan cepat gadis di sampingnya menekan tombol darurat agar dokter segera datang memeriksa kondisinya.

“Ka, kamu udah sadar? Kamu baik-baik aja? Kamu, kamu ingat sama aku?,” tanya Isah tak sabaran usai dokter beserta suster keluar dari ruangan serba putih itu dan memastikan kalau Darwin sudah siuman.

Semua pertanyaan itu hanya Darwin jawab dengan anggukan lemah. Bibir pria itu masih pucat, dan lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas. Pria itu duduk di atas ranjang dengan punggungnya bersandar pada dashboard ranjang, tangan kirinya masih menggunakan infus serta bagian kepalanya masih diperban. Isah berdiri tak jauh di samping tempat tidur Darwin, gadis itu terlalu terkejut bahkan tak tahu harus melakukan apa.

“Isah peluk aku,” lirih Darwin.

Isah yang mengerjapkan matanya beberapa kali, “Huhh? Apa kamu bilang?”

“Peluk aku sekarang. Aku nggak mungkin berdiri dan meluk kamu kan? Jadi cepetan sini peluk aku”

Isah mengerutkan keningnya, namun meski begitu ia tetap saja melakukan apa yang diminta Darwin. Gadis itu langsung duduk di tepi ranjang Darwin dan memeluk pria itu, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Darwin. Darwin membalas pelukan Isah dengan tangan kanannya yang terbebas dari infus.

“Aku kangen kamu Win, kangen banget,” Isah lantas semakin mengeratkan pelukannya pada Darwin.

“Memangnya berapa lama aku nggak sadarkan diri sampai kamu sebegitu kangennya sama aku?”

“Tiga hari,” jawab Isah masih membenamkan wajahnya pada dada Darwin.

“Ti, tiga hari? Pantas saja..”

Isah melepaskan pelukannya dan menatap bingung pada Darwin yang menatapnya sambil tersenyum. “Pantas saja apa?”

“Pantas saja aku mencium bau aneh, jangan-jangan kamu nggak mandi ya selama tiga hari ini?”

Isah seketika mempoutkan bibirnya dan detik berikutnya gadis itu mengangguk lemah. “Aku terlalu khawatir sama kamu, makanya aku nggak mau ninggalin kamu sendirian”

Darwin kembali tersenyum, “Oh Ma klo, so sweet banget... Tapi, coba kamu mandi pasti lebih so sweet lagi,” Darwin mencoba berkelakar dengan sahabatnya itu.

“Tskk, ya sudah aku mau mandi dulu. Bentar lagi orang tua kamu datang jadi kamu nggak usah takut sendirian,” Isah berniat beranjak dari duduknya di samping Darwin namun pria itu lebih dulu menahannya agar tidak bangun.

“Jangan kemana-mana, temani aku aja. Kan tadi kamu belum selesai meluk aku,” Darwin menaikkan alisnya, menggoda Isah.

“Ckk, ternyata setelah kecelakaan kamu malah semakin nyebelin yah,” Isah menatap jengah Darwin. “Oh ya ngomong-ngomong soal kecelakaan waktu itu....” Isah menatap bersalah pada Darwin, “Maaf...”

Darwin menggenggam tangan sahabatnya, “Nggak apa-apa bukan salahmu. Mungkin ini teguran dari Tuhan supaya aku nggak ngejahilin kamu lagi. Yang penting sekarang aku kan udah bangun, jadi nggak apa-apa”

Isah mengangguk lemah, “Maaf ya Win, aku ngerasa bersalah banget sama kamu... dan.... makasih, makasih kamu sudah bertahan dan makasih kamu masih hidup. Aku takut banget kehilangan kamu,” Isah menunduk usai menyelesaikan kalimatnya.

Darwin lagi-lagi hanya tersenyum, “Harusnya aku yang bilang makasih sama kamu karna bau badanmu itu aku jadinya nggak tahan buat nggak bangun. Jadi bersyukurlah kamu nggak mandi selama tiga hari yang bikin aku cepat siuman”

Isah melototkan matanya menatap Darwin yang hanya menunjukkan cengiran tak berdosanya, gadis itu kemudian hanya menghela nafas. Mungkin jika Darwin tidak sakit saat ini ia pasti sudah mencubit lengan Darwin sampai meninggalkan bekas biru keunguan.

“Isah.. Makasih ya udah ngejagain aku beberapa hari ini. Maap sudah bikin kamu khawatir, dan maap sudah bikin kamu nangis selama tiga hari berturut-turut”

Isah menatap bingung pada Darwin, “Kok kamu bisa tau kalau aku nangis?”

Darwin mengangkat bahunya enteng lantas menarik tangan Isah dan menenggelamkan kembali kepala Isah dalam dadanya. “Enggak. Cuman nebak aja, soalnya matamu bengkak”

Isah hanya bisa diam dan balas memeluk Darwin, merasakan hangat di dadanya karena akhirnya sahabat yang ia rindukan sudah kembali sadar meskipun butuh waktu lama sampai pria itu benar-benar pulih dan bisa kembali bermain bersamanya.

“Win..”

“Hmm?”

“Cepat sembuh yaa, biar kamu cepat jadi DTB-ku lagi”

“Ya, pasti. Aku akan sembuh secepatnya, karena ITB-ku pasti kesepian tanpa Tukang Bully sepertiku, hahaa”

Isah memukul pelan dada Darwin, sedangkan pria itu hanya tertawa pelan lantas menenggelamkan  kepalanya pada lekukan leher Isah. “Isah”

“Mmm?”

“Mandi gih... badanmu bau- aaaargh,” Darwin hanya bisa pasrah menahan sakit karena gadis itu mencubit kuat pinggangnya. “Isah aku lagi sakit nih”

“Biarin, ugh...”

Dan keduanya tertawa bersama, tawa penuh kebahagiaan. Tawa yang tulus dari dua sahabat yang tidak akan berhenti bertengkar, ITB dan DTB.

.
.

FIN
***

Finally nih cerita gagje kelar juga setelah sekian minggu mengendap di folder draft, hahaha.
Aneh banget kah ini ceritanya? Hohoo, ini sudah maksimal imajinasiku mentok sampai di sini... karena pada awalnya emang aku nggak tau ini cerita mau dibawa kemana dan mau digimanain makanya lama banget gag kelar-kelar.
Dan seperti biasa makasih buat yang udah meluangkan waktu buat baca my gagje story, hehee... Pai-pai ^^

Minggu, 03 Agustus 2014

(Cerpen) Chocolate Love - Umairoh's Story



CHOCOLATE LOVE
(Umairoh’s Story)

.
.

Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah

.
.

<3<3<3

Chocolate Love

“Ayo Mer cepetan... Tuh mumpung dia masih ada di dalam perpustakaan!,” seru Windy sembari menarik-narik tangan sahabatnya itu agar mengikutinya ke depan pintu ruang perpustakaan kampus.

“Ta, tap tapi.. tapi aku malu Win,” Umairoh berusaha berontak ketika lengannya semakin ditarik lebih kuat oleh Windy.

Windy lantas melepaskan tangannya yang sedari tadi mencengkram lengan Umairoh kemudian berkacak pinggang, menatap sahabatnya itu dengan jengah. “Kalau tidak sekarang, sampai kapan lagi kamu harus jadi ‘secret admirer’ pria itu huhh? Sudahlah kamu temui aja dia, toh kamu cuman mau kasih coklat kan? Ayo buruan sana...,” kali ini Windy mendorong tubuh mungil Umairoh, alhasil membuat pemilik tubuh tersebut terdorong tepat di depan pintu masuk perpustakaan.

Umairoh menatap kesal pada Windy yang menunjukkan ekspresi tak berdosanya, lantas gadis itu berusaha menjauh dari pintu perpustakaan meskipun usahanya sia-sia karena Windy kembali menahannya agar gadis itu tetap bertahan di depan pintu perpustakaan. “Win lepasin aku...,” Umairoh meronta dan menahan tubuhnya ketika Windy semakin kuat mendorongnya.

“Enggak. Aku nggak mau. Sekarang atau enggak sama sekali,” Windy masih istiqomah medorong tubuh sahabatnya itu.

Kali ini Umairoh berusaha lebih kuat menghindari tangan Windy yang mendorong punggungnya dan untungnya kali ini berhasil dan gadis itu segera menjauh beberapa langkah dari pintu perpustakaan. “Kamu jahat Win,” ketus Umairoh.

Alis Windy seketika bertaut bingung, “Apa yang salah denganku? Aku nggak jahat okey”

“Kamu jahat. Kamu jahat! Kamu nggak ngerti perasaanku sebagai sahabatmu? Aku malu Win aku malu,” Umairoh membuang tatapannya ke arah lain dan dengan refleks ia menggigit bibir bawahnya.

Windy menghela nafas panjang lalu menyentuh kedua bahu Umairoh dengan kedua tangannya, membuat sahabatnya itu kembali menatap padanya. “Denger Umairoh sayang... Kamu tau nggak yang jahat di sini sebenarnya siapa? Kamu. Kenapa? Kamu selalu cerita tentang cowok itu ke aku se-ti-ap ha-ri oke. Dan kamu ngerti nggak gimana perasaan aku ketika kamu sekarang jadi lebih banyak cerita tentang cowok itu dibandingkan nanyain gimana keadaanku.”

Umairoh merubah ekspresi kesalnya, ia menatap Windy dengan perasaan menyesal, sedikit tersadar dalam hatinya. Benarkah akhir-akhir ini ia jadi lebih banyak menceritakan tentang pria itu?

“Maaf Win”

Windy kembali menghela nafas dan kali ini kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan. “Baiklah nggak apa-apa kok. Eumm ngomong-ngomong-,” Windy menghentikan kalimatnya dan perhatiannya teralih pada seseorang yang berada tak jauh di belakang Umairoh. Buru-buru ia memutar tubuh sahabatnya dan dengan segera berbisik tepat di telinga gadis itu, “Semoga berhasil sahabatku.”

Oh baiklah. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang tak akan terlupakan Umairoh. Pria itu. Pria yang selama ini diam-diam ia kagumi, berada lima langkah di hadapannya, menatapnya sambil tersenyum dengan membawa sebuah buku tebal yang bisa Umairoh tebak itu adalah kamus Bahasa Inggris.

Gadis itu merasa ciut dan berniat menggagalkan rencana bodohnya untuk memberikan coklat secara langsung pada pria itu. Gadis itu hanya terdiam selama beberapa sekon hingga pria itu kini sudah berada dua langkah di depannya dan membuat tubuhnya semakin membeku. Oke, salahkan Windy jika ia mati mendadak di tempat ini karena jantungnya yang tiba-tiba berhenti berdetak atau paru-parunya yang berhenti berfungsi menukarkan oksigen dengan karbon dioksida. Pria itu tepat di hadapannya!

“Windy kamu meny-,” Umairoh menolehkan kepalanya ke belakang dan sudah dipastikan sahabatnya itu telah menghilang puluhan sekon yang lalu, membuat Umairoh berusaha mengatur nafasnya yang serasa sesak dan kembali menolehkan kepalanya pada pria yang masih berdiri di depannya dengan senyum ‘menyebalkannya’ karena –senyum-itu-membuatnya-sulit-tertidur-. “Ha, hai...,” Umairoh berusaha memasang ekspresi santai meskipun ia akui kalau wajahnya terlihat aneh sekarang.

“Hai... Kamu ngapain di sini? Mau ke perpustakaan?,” pria itu masih tersenyum. Oh Tuhan jika ada kolam di dekat sini sudah pasti Umairoh lebih memilih menceburkan dirinya ke dalam kolam tersebut dari pada terus-terusan berdiri di hadapan pria ini. Lupakan jika memang ia tidak bisa berenang.

“Oh? Eng, enggak.. enggak aku nggak mau ke perpustakaan, hehee...”

Pria itu hanya mengangguk masih dengan senyum ‘menyebalkannya’ itu. “Eum, Darwin...”

“Ya?”

Umairoh refleks menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Gadis itu benar-benar bingung apakah harus memberikan coklat yang masih tersimpan manis di dalam ranselnya atau niat itu ia gagalkan saja? Ugh ia benar-benar bingung sekarang.

“Hai Umairoh... Kau kenapa?”

Umairoh? Pria ini memanggilnya dengan sebutan ‘Umairoh’? Tunggu, ini bukan mimpi kan? Atau lebih parahnya ini bukan khayalannya saja kan? Dan yang pasti ia tadi tidak salah dengar kan? Pria ini tahu namanya! Oh Tuhan dari mana ia mengetahuinya sedangkan mereka berbeda kelas?

Jika Umairoh ingin melebih-lebihkan suasana, maka saat ini banyak kembang api yang meletus ke udara dengan berbagai macam warna, lalu mahkota bunga mawar berguguran serta alunan musik yang romantis menjadi latarnya.

“Umairoh...,” panggil Darwin lagi dan membuat semua lamunan yang berlebihan dari Umairoh lenyap seketika.

“Y ya?”

“Kamu melamun,” pria itu terkekeh dan membuat senyumannya terlihat semakin ‘menyebalkan’ menurut pandangan Umairoh.

Oh bisakah pria itu menyingkir saja sekarang? Apa pria itu benar-benar ingin membuatnya mati berdiri saat ini juga?

“Be, benarkah? Apa tadi aku... melamun?,” tunjuk Umairoh pada dirinya sendiri dan dijawab dengan anggukan mantap dari Darwin. Umairoh kembali hanya bisa menggaruk tengkuknya dan menatap canggung pada pria di hadapannya yang masih berdiri seolah tahu Umairoh ingin mengatakan sesuatu padanya.

“Jadi?”

Umairoh menatap bingung pada Darwin, “Jadi apa maksudnya?”

Darwin mengangkat bahunya enteng dan kembali menatap Umairoh yang terlihat berdiri tidak nyaman di hadapanya. “Yaah... Kau tidak ingin, euummm mengatakan sesuatu begitu? Entahlah... aku hanya merasa ada sesuatu yang akan kau katakan padaku”

“Oh, eung ya.. semacam itu. Yah, aku sebenarnya... Sebenarnya-,” Umairoh dengan cukup pelan melepas ransel yang sedari tadi tersampir di punggugnya dan membuka ransel tersebut dengan ragu, mengambil sebuah benda yang sejak tadi ingin ia berikan pada pria di hadapannya itu. Berikan atu tidak? Berikan sekarang atau tidak? Umairoh sudah memegang benda tersebut meskipun belum mengeluarkannya dari dalam ransel biru miliknya. Kembali ia menghela nafas gugup ketika matanya bersirobok dengan pandangan teduh milik Darwin. Oh Tuhan Umairoh serasa galau seperti iklan di tv sekarang.

Benda itu masih ia pegang namun dalam posisi di dalam ransel, belum berniat ia keluarkan apalagi memberikannya pada pria itu. Berikan... Tidak jadi... Berikan... Tida jadi... Berikan-

“Kamu kenapa sih,?” interupsi Darwin karena menurutnya gadis di depannya terlihat aneh. Bukan, bukan aneh dalam artian benar-benar aneh. Hanya saja gadis itu terlihat gugup seperti seseorang yang ketahuan mencuri.

“Oh ya, tid tidak, eh maksud,, maksudku enggak.. enggak ada apa-apa kok. Aku, aku itu,, eumm sebenerna aku... aku mau.. aku,” Umairoh merasa bodoh sekarang. Hey kenapa ia jadi mendadak gagap seperti ini?

Darwin menaikkan kedua alisnya menunggu gadis di depannya menyelesaikan kalimatnya.

“Akuinginmemberikancoklatinibuatkamu!,” seru Umairoh cepat, teramat cepat malah membuat Darwin sama sekali tidak bisa menangkap perkataan Umairoh dan matanya spontan melebar ketika Umairoh menyodorkan sebatang coklat dengan pita biru di bagian bungkusnya, menyodorkan benda itu dengan kecepatan cahaya.

Darwin bisa melihat dengan jelas Umairoh menghela nafas panjang dan gadis itu membuang tatapannya ke arah lain, seolah ia menghindari untuk bertatapan dengan Darwin. Umairoh yakin ia benar-benar terlihat aneh sekarang, dan mungkin wajahnya sudah seperti tomat cherry yang baru matang. Dia benar-benar malu saat ini. Oh sepertinya setelah ini akan menceburkan dirinya ke dalam selokan di samping kampus.

Tanpa Umairoh sadari, -karena gadis itu kini menatap ke arah lain- kedua sudut bibir Darwin semakin tertarik dan menatap coklat di tangannya dengan kagum. “Kamu gadis jahat,” ucap Darwin cukup pelan namun Umairoh masih bisa dengan jelas mendengarnya.

Umairoh dengan cepat kembali menatap Darwin dan memandang heran pada pria itu. Apa katanya? Ia gadis jahat? Apakah memberi sebatang coklat pada pria itu termasuk tindak kejahatan?

Umairoh hanya menatap Darwin dengan ekspresi bingung, sedangkan Darwin kini mendekatkan langkahnya pada Umairoh hingga menyisakan jarak beberapa centi meter di antara tubuh mereka.

Darwin mencondongkan tubuhnya dan berbisik tepat di telinga Umairoh, “Ya, kamu jahat. Kamu sudah mencuri hatiku”

Dan seperti tersengat jarum suntik, tubuh Umairoh serasa lemas bahkan nafasnya tercekat, tenggorokannya serasa kering mendadak dan keringat tiba-tiba saja mengalir di pelipisnya. Oh, bunuh saja ia saat ini.

Darwin kembali pada posisinya dan menatap gadis itu dengan tersenyum hangat. Ia menatap gemas pada wajah Umairoh yang semakin memerah sebelum ia kembali berucap, “Aku akan menghubungimu malam ini. Aku duluan ya,” sebelum benar-benar melangkahkan kakinya menjauhi Umairoh, Darwin mengusap sekilas puncak kepala Umairoh dan lagi-lagi membuat gadis itu kehabisan nafas.

Umairoh hanya menatap dalam diam punggung Darwin yang semakin menjauh hingga tubuh itu menghilang di belokan ruang BAAK.

Gadis itu memegangi dada kirinya, mencari letak jantungnya apakah jantung itu masih berdetak sekarang...

Ya, jatungnya masih berdetak. Ia masih hidup sekarang. Ia tidak mati, ia tidak mati konyol di hadapan Darwin. Seketika Umairoh memegangi kedua pipinya yang terasa panas. Oh Tuhan benarkah ini?

Sepertinya ia harus segera mencari Windy dan berterima kasih atas paksaan sahabatnya itu.

Windy.. ngomong-ngomong tentang gadis itu, di mana ia sekarang?

“WINDY SAYANG KAMU DIMANAAA! WINDY...,” Umairoh segera berlari menuju ruang kelasnya mencari sahabatnya itu, tak memperdulikan tatapan aneh dari mahasiswa lain yang melihatnya berlari-lari dan berteriak seperti anak kecil.

Tapi terkadang, bukankah cinta itu memang aneh?

.
.

FIN

<3<3<3

Another absurd story from my wild imagination, hahahaa... setelah lama gag ngetik usai bulan puasa, akhirnya berhasil bikin sebuah cerpen di tengah hari yang panashhh... Semoga ceritanya tidak membosankan ya ^^ aku akan mencoba menulis lebih baik lagi... and last, thaks for everyone who have read this story JJ
Pai pai...

Selasa, 22 Juli 2014

(Cerpen) On a Rain Day



ON A RAIN DAY

.
.

Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah

.
.

<3<3<3

Oh sungguh Darwin tidak menyukai suasana saat ini. Ia benar-benar tidak menyukainya. Tempat yang pengap, gelap, hujan di luar yang henti-hentinya turun sejak satu jam yang lalu, ditambah lagi ia kedinginan saat ini.

Bukan. Bukan hujan yang membuatnya serasa dongkol saat ini. Ia bersumpah dirinya begitu menyukai hujan. Dan lagi... ia juga tidak sepenuhnya menyalahkan tempat pengap dan gelap seperti ini jika saja ia tidak terjebak hujan bersama seorang gadis.

Oke. Terjebak dalam tempat yang pengap dan gelap bersama seorang gadis. Harus digaris bawahi dan diberi cetak tebal, BERSAMA SEORANG GADIS!

Itulah masalah utamanya saat ini.

Sejak satu jam yang lalu ia hanya berdiri di depan pintu gudang tua ini menunggu hujan di luar berbaik hati untuk berhenti meski beberapa menit agar ia bisa keluar dari tempat ini, sedangkan gadis yang bersamanya hanya terduduk diam pun tanpa melakukan hal-hal yang lain selain terus meniupkan kedua telapak tangannya, bermaksud mengusir dingin mungkin.

Bukannya Darwin tidak menyukai eksistensi gadis itu bersamanya. Oh ayolah tak ada alasan spesifik kenapa ia tidak meyukai berada di tempat ini bersama gadis itu. Ia hanya bingung. Benar-benar bingung.

Pertama. Darwin tidak mengenal gadis itu. Mereka berdua hanya pengunjung di kebun kakao ini lalu saat hujan tiba-tiba turun tanpa diduga ia berlari mencari tempat berteduh hingga menemukan gudang ini dan... siapa sangka seorang gadis juga berlari kecil –dengan kakinya yang cukup pendek menurut pandangan Darwin- dan berteduh di tempat yang sama dengannya.

Kedua.  Sejak satu jam yang lalu tak ada seorangpun diantara mereka berdua yang berniat mengeluarkan suara disamping deheman pelan Darwin demi mengusir aura canggung dan juga suara bersin dari gadis yang masih saja duduk tak jauh dari tempat Darwin berdiri dengan memeluk kedua kakinya yang ditekuk. Alasan kedua ini menjadi alasan utama dan satu-satunya alasan kenapa ia membenci dirinya berada di tempat ini. Ia tak suka aura canggung. Dan ia tidak suka membuang waktu tanpa melakukan apapun dengan hanya berdiri sejak tadi di depan pintu gudang menunggu tetesan hujan itu berhenti sepenuhnya.

Berdiri selama satu jam tanpa melakuan apapun cukup membuat kaki pria itu sedikit keram. Udara dingin semakin menusuk kulitnya karena saat ini ia hanya mengenakan jaket tipis.

Darwin menghela nafas gusar. Ia tidak mengerti kenapa ia tidak berani sekedar menyapa gadis itu. Oke tidak perlu bertanya siapa namanya, cukup sekedar menyapa, berbasa-basi selama menuggu hujan. Toh setelah hujan reda ia dan gadis itu akan berpisah dan tidak akan bertemu lagi. Tapi, hey demi Merkurius suaranya seolah lenyap ketika pandangannya bersibobrok dengan tatapan gadis itu ketika ia tidak sengaja mencuri pandang pada gadis yang lebih sering menundukan wajahnya itu.

Entah seperti ada magnet yang mampu menarik perhatiannya hingga Darwin merasa ia tenggelam ketika manik hazel gadis itu menilik dalam maniknya. Dan waktu seolah berhenti berputar, pun bunyi rintik hujan yang cukup nyaring seolah lenyap begitu saja. Darwin bisa merasakan bagaimana detak jantungnya bekerja dan bagaimana rasanya oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya dan bertukar dengan karbon dioksida.

“Hatsyuuuu!”

Darwin seketika tersadar ketika suara bersin keluar diantara kedua bibir merah gadis itu, matanya mengerjap seolah membuat waktu berjalan kembali.

Baiklah Darwin rasa cukup kebingungannya. Memilih mengabaikan rasa gugupnya pria itu melangkah pelan dari posisinya sejak satu jam yang lalu dan mendekat lantas berjongkok persis di hadapan gadis dengan baju berwarna peach yang sama sekali tidak ia kenal.

“Ehm, Nona dari tadi kamu bersin-bersin. Kamu nggak apa-apa?,” Darwin mencoba merendahkan nada suaranya. Entahlan menurut Darwin suaranya saat ini terdengar sumbang dan eumm.. cukup jelek.

Darwin bisa melihat dengan jelas ketika gadis itu mengigit bibir bawahnya sebelum sebuah gelengan ia lakukan sebagai jawaban dari pertanyaan Darwin barusan.

“Hatsyiiim,” gadis itu kembali bersin namun cukup pelan kali ini.

Darwin tersenyum tipis. Jujur ia cukup risih juga karena sejak tadi gadis itu tidak berhenti mengeluarkan suara bersin. Ia rasa hidungnya juga mulai gatal sekarang.

“Nona..”, Darwin menggaruk tengkuk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kalau kamu nggak keberatan, eumm.. mau pakai jaketku?,” tanyanya seraya melepaskan jaket tipis yang membalut tubuhnya.

Gadis itu menatap waspada ke arah Darwin yang telah selesai melepas jaketnya dan mengulurkan jaket itu ke hadapannya. “Pakai aja. Kayaknya kamu kedinginan,” pria itu semakin mengulurkan jaketnya agar gadis itu mau menerimanya.

Gadis itu menatap bergantian pada Darwin dan jaketnya hingga akhirnya ia mengangguk pelan dan menerima jaket itu dengan ragu. “Terima kasih,” ucapnya pelan namun masih bisa didengar dengan jelas oleh Darwin.

“Heumm,” Darwin mengangguk lantas ikut duduk di samping gadis itu yang mulai mengenakan jaketnya. “Kamu sendirian ke sini?”. Oh sungguh dalam hati Darwin ingin sekali berteriak kenapa tidak sejak tadi ia melakukannya dari pada harus membiarkan kakinya keram berdiri di depan pintu.

Sejenak hening. Darwin pikir gadis itu tidak perlu menjawab pertanyaan basa-basinya toh ia juga tidak benar-benar ingin tahu.

“Aku tadi datang sama teman-temanku. Tapi aku memilih melihat-lihat lebih dalam kebun kakao ini dan memisahkan diri dari mereka. Lalu... yeah akhirnya hujan turun dan aku terjebak di sini sama kamu. Aku mau nelpon temanku tapi hp-ku kehabisan baterai”

Darwin menatap gadis itu dan mengangguk pelan. Ckk, sungguh ia kembali merasa dongkol. Kenapa sejak tadi ia diam saja. Toh ternyata gadis ini tidak galak seperti pikian awalnya.

“Kalau kamu?,” dua kata yang membentuk sebuah kalimat tanya yang baru saja meluncur dari mulut gadis itu membuat Darwin kembali menoleh menatapnya. Ia barusan tidak salah dengar kan? Gadis itu bertanya padanya kan?

Darwin kembali berdehem sebelum menjawabnya. “Sama kayak kamu. Aku tadi juga datang sama teman-temanku, dan dengan alasan yang kurang lebih sama kayak kamu akhirnya aku ada di sini,” Darwin menunjukkan cengirannya usai menyelesaikan kalimatnya.

Kini giliran gadis di sampingnya yang mengangguk.

Lantas setelahnya kembali hening di antara mereka. Banyak pertanyaan yang ingin Darwin ajukan untuk gadis itu, hanya saja ia bingung harus memulainya dari mana. Lagi pula, ia harus menghindari pertanyaan yang terlalu pribadi karena ia rasa mereka tak perlu terlibat dalam kehidupan satu sama lain.

“Ohya-“

“Hatsyuuuu!”. Suara bersin lagi-lagi keluar dari mulut gadis di sampingnya membuat kalimat yang akan Darwin utarakan terhenti dan beralih mengerjapkan matanya menatap gadis itu yang sepertinya juga tidak nyaman karena sejak tadi ia terus saja bersin. “Ma, maaf. Aku... alergi hujan,” gadis itu tersenyum dipaksakan berharap Darwin mengerti keadaannya.

Darwin menggaruk tengkuknya dan terkekeh pelan, “Eung, nggak apa-apa kok... Hehee”

Gadis itu kini tersenyum lebih lebar menatap Darwin. Well, gadis itu tak tahu apa yang terjadi pada pria di sampingnya. Darwin gugup melihat senyuman itu. Darwin serasa membeku menatap matanya. Darwin merasa jantungnya mencelos seketika. Oh ada apa dengannya? Ia tidak mengalami demam mendadak hanya karena tadi ia terkena sedikit hujan kan?

Darwin merasa ia mulai gila sekarang. Ia bahkan lupa kalau saat ini mereka berada di dalam sebuah gudang yang pengap dan minim cahaya selain cahaya yang masuk melalui pintu gudang yang terbuka lebar dan menampakkan hujan yang masih saja turun. Ia malah merasa berada di taman dandelion sekarang.

“Hujannya lama banget ya,” akhirnya gadis itu yang kini mengeluarkan suaranya lebih dulu, lalu ia menatap tetesan air yang masih saja turun dengan cukup deras di luar pintu gudang.

Darwin menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya dengan cepat. “Iya lama banget. Harusnya kalau hujan deras begini sebentar aja, tapi ini udah lebih dari satu jam”

“Hatsyuuuu,” lagi suara bersin dari gadis itu. Darwin kembali hanya terkekeh, rasanya ia akan mulai terbiasa sekarang jika gadis itu terus menerus bersin dalam frekuensi tiap satu menit. “Maaf,” kata gadis itu lagi.

“Nggak apa-apa kok. Lagian kamu emang alergi hujan jadinya mana mungkin kamu tahan suara bersinmu. Santai aja...”, Darwin tersenyum sembari memainkan jemarinya.

Lalu kembali hening untuk kesekian kalinya diantara keduanya. Darwin memilih diam tanpa melanjutkan kalimat sebelumnya yang sempat terhenti karena suara bersin gadis di sampingnya itu, begitupun dengan gadis itu yang sepertinya juga sama sekali tidak tertarik untuk mengajukan barang satu pertanyaan untuknya.

Hujan sudah tidak sederas tadi namun tidak bisa dikatakan reda karena kuantitasnya masih banyak bahkan cukup membuat tubuh basah meski hanya satu menit berdiri di luar sana. Darwin menselonjorkan kakinya yang serasa cukup pegal. Udara benar-benar dingin dan ia rasa cacing-cacing di dalam perutnya sudah berdemo ria untuk meminta makanan.

Hey ayolah, tidak hanya cacing-cacing itu yang ingin makan. Darwin juga ingin sekali meminum secangkir coklat panas saat ini. Ugh, membayangkan secangkir coklat panas dengan uap yang mengepul di atas cangkir membuatnya berusaha menelan ludah menahan rasa laparnya.

“Hatsyiiim, hatsyiiiim!”

Keduanya sama-sama terkekeh setelah gadis itu kembali bersin untuk kesekian kalinya. “Maaf, hidungku rasanya gatal banget,” gadis itu menggosok hidungnya dengan jari telunjuknya yang menurut Darwin... terlihat menggemaskan.

Kali ini Darwin kembali menelan ludahnya. Bukan, ia bukan menahan lapar sekarang tapi menahan dentaman jantungnya yang bekerja tidak terkendali kala menatap gadis di sampingnya itu.

“Hehehh, kan tadi sudah aku bilang nggak apa-apa. Aku ngerti kok,” kali ini Darwin berusaha membuat lengkungan di bibirnya yang ia rasa pasti terlihat aneh.

“Makasih ya-,” gadis itu menahan kalimatnya dan langsung menatap keadaan di luar gudang yang tiba-tiba saja hujan deras tadi berhenti seketika. “Hey hujannya sudah reda!,” serunya lantas bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu disusul Darwin yang juga mengamati keadaan di luar. “Oh ya, aku duluan kalau gitu. Temanku pasti khawatir... Daah,” serunya seraya berlari meninggalkan Darwin yang berdiri di ambang pintu gudang.

Darwin hanya menatap dalam diam punggung gadis itu yang mulai berlari menjauh meninggalkannya. Tanpa sadar ia tersenyum tipis mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, apa ini yang disebut Love at the first sight?

“Hey!,” suara lengkingan gadis menyadarkannya dan membuat kedua alis Darwin bertaut karena gadis tadi kembali berdiri di hadapannya. Sejak kapan gadis itu kembali? Ia bahkan tidak menyadarinya sama sekali. “Aku lupa ngembalikan jaketmu... Ini-,” gadis itu mengulurkan jaket milik Darwin tadi dan langsung diterima Darwin dengan sedikit ragu.

“Makasih yaaa...” gadis itu kembali berniat beranjak meninggalkan Darwin. Namun belum selangkah gadis itu berbalik, lengannya ditahan oleh Darwin membuat gadis itu langsung berbalik dan menatap heran padanya.

Darwin menggaruk pelipisnya sedangkan sebelah tangannya masih memegang lengan gadis itu. “Yeah kamu tahu kan, ini seperti sebuah takdir yang tidak disengaja,” gadis itu masih menatap heran pada Darwin.

“Oh, maafkan aku...” Darwin seakan tersadar tangannya terlalu kuat mencengkeram lengan gadis itu dan dengan segera melepaskannya. “Aku... aku cuman mau tanya siapa namamu. Maksudku, siapa tahu nanti kita ketemu lagi, jadi-“

“Umairoh,” jawab gadis itu cepat seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Darwin dan menunjukkan senyumnya yang Darwin akui terlihat sangat manis.

“Darwin,” ucap Darwin sambil menjabat tangan gadis itu. Terlihat kali ini ia kembali tak dapat menahan senyumannya.

“Baiklah Darwin, senang ketemu sama kamu. Semoga nanti kita ketemu lagi yaa... Aku duluan, bye! Hatsyiiim,” gadis itu, Umairoh, kembali beranjak meninggalkan Darwin setelah sebelumnya menunjukkan senyum lebarnya dan kali ini tanpa ditahan oleh laki-laki yang masih berdiri di ambang pintu gudang dengan memegangi dadanya.

Dan sekarang Darwin tak bisa lagi menyangkal teori mengenai ‘Cinta pada pandangan pertama’ karena ia baru saja merasakan sensasi aneh di dalam dadanya ketika bersama gadis yang baru ia temui karena sama-sama terjebak oleh hujan tadi. Dan tidak bisa dipungkiri setelah ini ia akan selalu mengingat momen ini di tiap hujan turun.

Hujan yang membuatnya bertemu dengan seorang gadis yang dengan mudahnya masuk ke dalam hatinya. Hujan yang membuatnya bisa mengerti maksud dari kalimat “Cinta pada pandangan pertama”. Dan hujan, ia pasti akan semakin menyukai hujan setelah ini.

Seperti ia menyukai gadis itu sebanyak derasnya tetesan hujan yang menyapu tanah.

.
.
Fin

<3<3<3

Welllll...
I dunno why I made this story. Hahahahahahahahahahahaa...
Oke, I wanna say thanks for everyone who have read this arsurd cerpen, kkkk... I think it’s an awkward cerpen, heheee...
Eumm, actually this cerpen special for my BF (Not Boy Friend but my Best Friend)....
Thank u so much much much cz you had teached and explained me about English... And now I’ll learn English seriously...
Okey sekian bacotan nggak penting dari akuuuuh... pai pai...
*peluk Yesung, Zayn, Louis, Liam, Niall, Harry, Kai, Suho, Sehun, D.O, Baek Hyun, Chanyeol, Luhan, Kris, Tao, Xiumin, Chen, Lay, Woohyun, L, Sunggyu, Sunggyeol, Hoya, Dongwoo, Sungjong, Jeongmin, Hyunseong, Donghyun, Kwangmin, Yongmin, Minwoo, Leeteuk, Heechul, Hangeng, Kangin, Sungmin, Shindong, Siwon, Eun Hyuk, Donghae, Ryewook, Kibum, Kyuhyun, Zhoumi, Henry, Junhyung, Yoseob, Onew, Minho, Key, Jonghyun, Taemin, Cap, L.Joe, Niell, Changjo, Chunji, Ricky....oalaaah kebanyakaaann*