Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Rabu, 14 Oktober 2015

(Fanficion) Chocolate Love - Liam's Story



CHOCOLATE LOVE
(Liam’s Story)
.
.

Author:
Aisyah a.k.a Cloudisah

Cast:
One Direction’s Liam Payne
OC’s Lucy

Genre:
Family

Warning:
Typo, alur ngebut, OOC, de.el.el

.
.

Cuap-cuap Author:
Nih cerita uda aku bikin tahun kemaren, tapi bagian akhirnya belom diselesaikan. Aku bahkan lupa kalau aku pernah bikin cerita ini, hihi ^^ Waktu aku berniat membersihkan arsip di folder draft, ketemulah FF ini yang terbengkalai di bagian akhirnya. Daripada mubazir jadi aku putuskan untuk memposting FF ini setelah lebih dulu menyelesaikan bagian endingnya... Happy reading J

<3<3<3

Chocolate Love

Hari ini akan menjadi hari yang sangat menyebalkan sekaligus membosankan bagi gadis berambut pirang sebahu yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk boneka Winnie The Pooh kesayangannya. Dan mungkin hari ini juga akan menjadi ulang tahun yang paling dibencinya.

Oke salahkan Liam yang pagi-pagi tadi sudah pergi dengan motor kesayangannya ke rumah pacarnya untuk menghabiskan hari Minggu ini bersama. Memang Lucy tak bisa menyalahkan Liam sepenuhnya karena ia sendiri benar-benar paham kalau ia dan Liam bukan lagi anak-anak, mereka sudah memasuki usia remaja saat ini. Mereka bukan lagi anak-anak yang sering bertengkar lalu berbaikan dengan mudahnya. Mereka bukan lagi anak-anak yang akan mandi bersama dengan bebek karet kesukaan mereka. Dan mungkin, mereka bukan anak-anak lagi yang saling bertukar kado di hari ulang tahun masing-masing.

Itu dia masalahnya.

Hari ini ulang tahun Lucy dan Liam bahkan sampai pagi ini belum mengucapkan ‘Selamat ulang tahun’ untuknya. Tahun lalu sebelum kakaknya itu sekolah di SMA, Liam masih seperti yang dulu. Yang selalu memberi kejutan untuknya tepat jam dua belas malam. Baiklah, sepertinya sejak masuk SMA dan memiliki pacar Liam lupa kalau ia memiliki adik yang manis yang masih membutuhkan perhatian seorang kakak.

Lucy memandang sebal pada foto berbingkai ungu di atas meja belajarnya, foto ia dan Liam saat ulang tahunnya tahun lalu. Saat itu Liam masih kelas 3 SMP, dan Lucy kelas 2 SMP. Saat itu mereka masih adik kakak yang manis, yang sering bertengkar, sering berebut makanan, namun saat itulah saat yang Lucy rindukan.

Saat di mana Liam belum masuk SMA, saat di mana Liam masih selalu memperhatikan Lucy, saat di mana Liam belum memiliki pacar. Oh lihatlah sekarang, Lucy sendirian di kamarnya karena orang tua mereka sedang dinas keluar kota. Bolehkah Lucy membenci pacar kakaknya? Gadis yang sudah merebut perhatian kakaknya darinya.

Ponsel Lucy berdering. Dengan malas gadis itu meraih benda berbentuk kotak di meja nakas dan melihat dengan malas nama penelpon yang mengganggu acara melamunnya.

Ekspresinya seketika berubah ketika membaca nama penelpon tersebut dan dengan segera ia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. “Halo Mia,” jawabnya antusias.

“Halo Lucy... Hey sahabatku yang cantik, selamat ulang tahun ya. Maaf tidak sempat mengucapkannya tadi malam karena aku ketiduran.”

“Hey... tak masalah. Selama kamu masih ingat ulang tahunku itu sudah cukup. Aku tahu kok kamu pasti lelah kan setelah membereskan perabotan di rumah barumu.”

“Hehee, iya kamu benar. Oh iya, hadiahnya akan segera menyusul.. besok aku berikan saat kita bertemu di sekolah, okey...”

“Hmmm,, terima kasih ya Mia, kamu memang sahabatku yang paling baik”

“Eits, kamu bicara apa sih. Ngomong-ngomong apa hadiah ulang tahun dari kakakmu tahun ini? Boneka Winnie The Pooh lagi?” Lucy bisa mendengar dengan jelas Mia yang terkekeh di seberang senang.

Ekspresi Lucy kembali keruh mendengar pertanyaan Mia barusan. “Jangankan hadiah, ucapan selamat ulang tahun saja dia belum mengucapkannya,” Lucy menghela nafas berat.

“Benarkah? Tumben sekali, bukankah biasanya dia selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukmu?”

Lucy lagi-lagi menghela nafasnya. “Dia terlalu sibuk dengan pacarnya sekarang.”

“Lucy sayang, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Kamu pasti sedikit cemburu kan dengan pacar kakakmu itu? Hmm, aku juga dulu begitu saat kakakku akan bertunangan. Ckk, tapi lama kelamaan aku mulai biasa. Dan nanti kamu juga akan terbiasa seperti itu. Hanya saja, kakakmu sedikit keterlaluan. Yang benar saja dia, ulang tahun adik sendiri dilupakan dan malah sibuk berkencan. Kalau aku jadi kamu, pasti sudah aku pukuli dia habis-habisan, hahahaa...”

Lucy tersenyum mendengar penuturan sahabatnya itu. Mia benar, mungkin ia sedikit cemburu dengan pacar kakaknya.

“Oh ya, Lucy.. nanti aku telpon lagi ya. Ibuku memanggil untuk membantunya. Kami belum membereskan perabotan di dapur kemarin, ugh sepertinya hari ini aku sibuk lagi. Eumm, sekali lagi selamat ulang tahun Lucy... dah.”

“Dah. Selamat membereskan rumah barumu Mia.”

Sambungan telpon terputus.

Menyisakan Lucy yang kembali sendirian di dalam kamarnya. Jika saja Neverland itu benar-benar ada, Lucy akan dengan senang hati tinggal di sana dan mengajak Liam bersamanya sehingga ia dan kakaknya tidak perlu melewati masa remaja dan bisa terus bermain bersama.

Jam di ponsel Lucy menunjukkan angka 10.30 pagi. Dan ini masih terlalu pagi jika Lucy tidur siang. Namun sepertinya gadis itu lebih memilih tidur dari pada ia mati bosan sendirian di rumahnya. Toh ia tidak berminat menonton TV saat ini karena gadis itu sedang kesal pada kakak laki-lakinya.

<3<3<3

Jarum pendek jam dinding di ruang tengah sudah menunjuk angka delapan. Baiklah, lebih tepatnya sekarang sudah jam delapan malam dan Lucy benar-benar sendirian selama seharian di rumah. Tanpa Liam yang seharusnya menjaga adik perempuannya itu.

Lucy duduk di atas sofa di depan tv seraya memeluk kedua lututnya. Layar tv sudah menyala sejak satu jam yang lalu namun Lucy sama sekali tak melihat gambar pada benda kotak di hadapannya itu. Sejak tadi ia hanya menatap layar tv dengan pandangan kosong.

Sejak tadi Lucy menahan amarah serta umpatan-umpatan kasar untuk Liam yang sungguh dengan tidak berperikemanusiaan lebih memilih berkencan seharian dengan pacarnya. Liam sepertinya benar-benar lupa kalau ia memiliki seorang adik perempuan yang seharusnya ia temani di rumah saat orang tua mereka sedang pergi. Oh, atau Liam bahkan lupa jika ia memiliki rumah untuk tinggal? Jangan katakan Liam lebih memilih tinggal dengan pacarnya sekarang karena ini tak biasanya Liam pergi keluar rumah selama seharian.

~Ting tong...

Bunyi bell memenuhi indra pendengaran Lucy. Dengan malas gadis itu turun dari sofa dan melangkahkan kakinya dengan teramat-sangat-pelan menuju ruang tamu untuk membuka pintu.

Kedua bola mata Lucy hampir mencuat dari tempatnya ketika mendapati presensi seseorang yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Orang itu tersenyum lebar dengan wajah innocent-nya dan tanpa mengucapkan sepatah kata, orang itu masuk melewati Lucy yang malah bergeming di ambang pintu.

“Adik yang baik... Kamu pasti menunggu kakak pulang kan?” Liam berucap setelah Lucy menghampirinya di ruang tengah. “Kamu kesepian sendirian di rumah?”

Lucy memutar bola matanya jengah. Bukannya merasa bersalah, pria itu malah sibuk menggonta ganti channel tv tanpa menatap Lucy sedikitpun dimana gadis itu saat ini tengah menatapnya dengan pandangan horror.

“Hey... Kenapa dengan wajahmu itu? Kalau merengut seperti itu nanti cepat tua sayang,” Liam tersenyum saat menatap Lucy sekilas dan kembali mengalihkan perhatiannya pada layar tv.

“Lucy benci kakak!”

Sejurus kemudian Lucy berlari meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya. Bunyi debuman terdengar cukup nyaring setelah Lucy menutup pintunya dengan keras, sebagai tanda kalau ia sedang sangat marah pada Liam.

Tentu saja Liam tak bodoh untuk tidak mengerti situasinya. Pria itu segera menghampiri kamar adiknya yang sudah tertutup rapat.

Liam mengetuk pintu kamar Lucy dengan tak sabaran. “Lucy, buka pintunya....”

Tak ada sahutan dari dalam. Liam terus menerus mengetuk pintu kamar Lucy berharap adiknya itu mau membuka pintu.

“Lucy, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu benci sama kakak? Lucy... Ayolah jangan begini, kakak juga sedang lelah okey...”

Masih tak ada sahutan. Dan tentu saja tak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka dengan senang hati oleh sang empunya kamar.

“Kakak sedang lelah sekarang. Jadi, kakak mohon Lucy jangan marah-marah seperti ini. Lucy, buka pintunya sebentar...” Liam masih tak menyerah untuk terus mengetuk pintu kamar adiknya.

Hampir saja Liam menyerah saat ia hendak berbalik meninggalkan kamar Lucy, ketika pintu itu perlahan terbuka dan sang pemilik kamar menatap Liam dengan mata sembab-nya. Sontak hal itu membuat Liam semakin khawatir melihat adik satu-satunya itu.

“Lucy, Lucy kamu kenapa?” tanya Liam panik dan menangkup kedua pipi chubby adiknya namun segera ditepis oleh Lucy.

“Kakak bilang kakak sedang lelah?” Lucy terkekeh sinis seraya bersidekap. “Jadi sebegitu lelahnya kah berkencan seharian? JADI SEKARANG PACAR KAKAK LEBIH PENTING DARI PADA LUCY HUHH??? KAKAK BAHKAN LUPA KALAU HARI INI ULANG TAHUNKU!”

Akhirnya Lucy mengeluarkan kalimat yang sejak tadi ia tahan. Gadis itu menghapus kasar air mata di wajahnya.

Liam terkejut saat Lucy berteriak seperti itu padanya. Bahkan ini baru pertama kali Liam mendapati Lucy seperti ini. Namun sebelah alis Liam terangkat saat menyadari apa yang baru saja adiknya katakan. “Berkencan?”

Lucy lantas kembali terkekeh. “Lalu ke rumah pacar itu kalau bukan berkencan apa namanya huh?”

Liam menghela nafas dalam lantas menarik paksa tangan Lucy untuk mengikutinya ke ruang tengah. “Duduk,” perintah Liam pada Lucy saat mereka berada di depan sofa ruang tengah.

Awalnya Lucy ragu, namun akhirnya ia menurut saja apa yang Liam katakan. Lucy mengamati Liam yang saat ini tengah mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam bungkusan hitam yang Lucy ingat tadi bungkusan itu dibawa Liam saat masuk rumah. Setelahnya Liam turut memposisikan tubuhnya duduk di samping Lucy dan menatap Lucy yang saat ini tengah menatapnya dengan ekspresi kuriositas, terlebih ketika Liam menyodorkan kota kecil itu padanya.

“Bukalah,” pinta Liam setelah kotak kecil itu berpindah tangan pada Lucy.

Lucy membuka kotak kecil itu dan menemukan sesuatu di dalamnya yang membuat kedua alisnya bertaut. “Ap, apa ini?”

Liam menghembuskan nafasnya lantas bersandar pada sofa. Pria itu lebih memilih menatap layar tv yang entah acara apa yang sedang ditayangkan. “Kamu bukan anak kecil yang tidak tahu apa itu.”

“Iya aku tahu. Tapi, ini-”

“Jangan dilihat bentuknya. Memang terlihat abstrak. Tapi aku membuatnya dengan susah payah,” Liam kembali menatap Lucy yang menimang-nimang isi di dalam kotak itu.

Lucy kembali menatap Liam menuntut penjelasan dari sang kakak.

“Iya, kakak tahu kamu pasti marah karena kakak tidak menemanimu seharian ini di rumah. Dan kakak sangat tahu sekali adik kakak yang manis ini benar-benar marah karena kakak tidak mengucapkan selamat ulang tahun kan?”

Lucy hanya diam mendengarkan Liam melanjutkan penjelasannya.

“Kakak ingin memberi kejutan untukmu awalnya. Memang benar kakak di rumah pacar kakak seharian ini. Tapi tidak berkencan seperti yang kamu pikir. Kakak belajar membuat coklat itu di rumahnya. Kakak ingin membuat coklat berbentuk Winnie The Pooh sebagai kado ulang tahunmu. Hanya saja.... Yah seperti yang kamu lihat, bentuknya malah abstrak seperti itu. Padahal kakak sudah berkali-kali membuatnya sampai senja. Ckk, menyebalkan. Ternyata sangat sulit membuat bentuk yang bagus,” terang Liam membuat kedua sudut bibir Lucy akhirnya tertarik untuk pertama kalinya setelah seharian cemberut.

“Jadi...” Liam kembali menangkup kedua pipi Lucy namun kali ini Lucy tak menolaknya. “Selamat ulang tahun Lucy. Kakak bukannya tak ingat, kakak hanya ingin memberi kejutan tapi sepertinya gagal. Jangan marah lagi yaaaa...” Liam menghapus sisa air mata di wajah Lucy dengan ibu jarinya.

Bukannya berhenti menangis, namun Lucy malah tak tahan untuk menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Gadis itu lantas segera menghambur dalam pelukan kakak laki-lakinya. “Hiks, kakak jahat. Lucy pikir kakak sudah melupakan ulang tahun Lucy. Lucy bahkan sempat membenci pacar kakak, karena sudah merebut seluruh perhatian kakak dari Lucy, hiks...”

Liam tersenyum seraya membalas pelukan sang adik. “Tentu saja tidak. Kakak tidak akan pernah melupakan ulang tahunmu. Lagi pula, tak ada satupun di dunia ini yang mengalahkan kecantikanmu. Tapi, yah tantu saja kamu wanita tercantik  nomor dua setelah ibu.”

Lucy melepaskan pelukannya dan mencubit pinggang Liam membuat pria itu meringis heboh. “Kakak tidak usah berlebihan seperti itu.”

Liam mengelus pinggangnya dan berpura-pura kesakitan meskipun sebenarnya cubitan Lucy memang membuat nyeri pinggangnya. “Oh ya, kamu tidak membenci pacar kakak kan? Dia kan sudah membantu kakak membuat coklat itu.”

“Lucy ingin membunuhnya tadi-“

“Apa??!”

“Hey, tentu saja tidak jadi. Meskipun coklat itu berbentuk abstrak, tapi aku harus berterima kasih untuknya,” ucap Lucy tulus.

Liam kembali memeluk Lucy, dan kali ini lebih erat dari sebelumnya. “Kakak sayang sama Lucy. Posisi Lucy di hati kakak tentu tidak sama dengan pacar kakak. Lucy sangat berharga bagi kakak. Sekali lagi, selamat ulang tahun adik kakak tersayang.”

Setetes air mata kembali meluncur dari sudut mata Lucy. Gadis itu benar-benar terharu dengan ucapan tulus Liam barusan. “Heum. Lucy juga sangat sayaaaang kakak. Terima kasih kado ulang tahunnya. Dan terima kasih selama ini sudah menjaga Lucy dengan baik.”

Kedua kakak beradik itu menikmati hening selama beberapa menit dalam pelukan mereka. Oh, lupakan saja apa yang terjadi seharian ini. Karena pada dasarnya, mereka berdua memanglah diciptakan menjadi kakak beradik yang manis dan saling menyangi.

~krryyyuuukk

Lucy dengan cepat melepaskan pelukannya setelah mendengar bunyi perut Liam. Sementara Liam hanya terkekeh dan menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal.

“Kakak belum makan seharian ini, jadi... Bisakah kamu buatkan sesuatu yang bisa dimakan?”

Lucy memandang horror Liam. “Jadi pacar kakak tidak memberi kakak makan seharian di rumahnya?? Awas saja, aku akan membuat perhitungan dengannya...!”

“Hey, Lucy bukan begitu... Lucy tunggu apa yang kau lakukan?!” seru Liam panik saat Lucy menelpon seseorang.

“Halo Kak Sophia, ini aku Lucy adik Kak Liam. Apa yang kakak lakukan pada kakakku huhh??? Kakak tidak memberinya makan sedikitpun atau-”

Liam segera merebut ponsel Lucy. “Hai sayang. Maaf, tadi adikku tidak bermaksud marah-marah. Eum, nanti aku telpon lagi yah. Dah sayang...”

Liam menatap Lucy dengan pandangan tak suka. Begitu pula dengan Lucy yang sekarang tengah melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa kamu bertindak sejauh itu?”

“Memangnya apa yang salah? Bukankah sebagai pacar seharusnya ia memberi kakak makan?”

“Bukan salah Sophia, tapi aku yang tidak sempat memakan masakan buatannya. Lagi pula kamu harus berterima kasih pada Sophia tahu.”

“Berterima kasih untuk apa? Untuk meminjam kakakku seharian dan membuat kakak mengabaikanku begitu?”

“Kenapa kamu bilang begitu? Bukankah tadi sudah kakak jelaskan...”

Yah, sepertinya kisah ini tak akan ada habisnya jika diceritakan. Liam dan Lucy memanglah kakak beradik yang teramat sangat manis. Mudah bertengkar, dan sangat mudah kembali berbaikan. Namun dibalik itu semua, mereka saling menyayangi satu sama lain.

Persaudaraan yang sangat manis. Semanis coklat ;)

.
.
FIN

Wah wahh...
Apa-apaan ini, aku jadi pengen punya kakak laki-laki kayak Daddy Liam masaaa u_u
Tapi sayangnya aku tak punya kakak laki-laki huhuuu T.T
Sulit banget menyelesaikan bagian akhir cerita ini, karena aku lupa dulu gimana pengennya alur untuk endingnya. Jadi, Yesungdahlah aku bikin seadanya saja.. wkwkk..
Semoga FF ini masih layak baca yah J
Makasih yang sudah mau baca ^^



Selasa, 29 September 2015

(Fanfiction) At Gwanghwamun



At Gwanghwamun
(This is special for Yuni’s Birthday)

.
.

Author:
Aisyah (@cloudisah)

.
.

Cast:
Yuni as Park Gaein
Super Junior’s Cho Kyuhyun

Lenght:
Drabble

.
ÿÿÿ

Gwanghwamun.

Salah satu distrik yang ada di Seoul itu menyimpan memori sekitar tujuh belas tahun yang lalu bagi gadis yang kini tengah berjalan sendirian di area khusus pedestrian itu. Tujuh belas tahun yang lalu ia tinggal di daerah ini bersama keluarganya sebelum ayahnya yang menjabat sebagai Direktur Pemasaran SJ Corp dipindahtugaskan oleh Presdir SJ Corp  untuk menjadi Direktur Utama pada salah satu cabang perusahaan mereka di Busan.

Dengan membawa payung berwarna biru langit, serta headphone yang ia biarkan bertengger di lehernya, gadis bergaun peach yang senada dengan flat shoes di kedua kakinya itu terus menyusuri jalanan yang di kiri dan kanannya berjejer pepohonan yang dedaunannya mulai memerah dan ada sebagian yang sudah mulai berjatuhan menyentuh tanah.

Sekarang memang sudah mulai memasuki musim gugur. Gadis itu datang dari Busan tadi malam ke Gwanghwamun karena pesta pindah rumah samchon­-nya.

“Shileo. Aku tidak suka yang walna melah... kubilang aku mau yang walna biluuu...”

Kedua tungkainya berhenti. Suara seorang bocah perempuan memenuhi indra pendengarannya. Lantas gadis itu menelengkan kepalanya ke segala arah mencari sumber suara, namun yang ia temukan hanya beberapa lansia yang tengah berjalan beberapa meter dari posisinya sekarang.

Kedua alisnya mengernyit lantas kembali dengan perlahan kedua tungkainya membawa tubuhnya merajut langkah sebelum akhirnya suara bocah lelaki kembali menyapa pendengarannya. Mau tak mau gadis itu kembali berhenti dan membiarkan suara-suara itu memenuhi indra pendengarannya lagi.

“Tapi kamu janji akan membeli aku balon bilu kalau aku belhasil memecahkan pinata itu!”

“Mwo? Ya! Sejak kapan aku beljanji padamu huh? Cepat kembalikan balon bilu itu... Kalau tidak, maka akan aku adukan pada Eomma-ku...”

“Shileo. Tangkap aku kalau kamu bisa, weeee”


Sejenak, geming mengambil alih. Entah kenapa suara-suara itu membuatnya merasa de javu. Rasanya ia mengenal suara itu. Mengingatkannya pada kejadian sekitar tujuh belas tahun silam, usai pesta perayaan ulang tahunnya yang keempat. Dan kejadian itu persisnya di tempat ini. Di tempat yang ia susuri sekarang. Bersama... seorang bocah lelaki. Bocah lelaki yang tak pernah ia temui lagi selama tujuh belas tahun.

“Hey, Kyunnie, kembalikan balonnya palli!”

“Sudah kubilang tidak mauuu. Dan sudah kubilang belkali-kali padamu Gaein-ah. Na ileumi Kyuhyun-imnida. Bukan Kyunnie.”

“Tidak mau. Kalau Kyuhyun telkesan dewasa. Kamu kan masih kecil, jadi Kyunnie saja. Sudhalah, cepat kembalikan balonnya...”

“Shileoooo.”

Kedua sudut bibir gadis itu tertarik. Bayangan saat ia masih kecil itu sekarang berputar bagaikan roda film dalam otaknya.

Bocah itu. Kyuhyun. Apa kabar dia sekarang? Bagaimana bentuk tubuhnya sekarang? Ia bahkan mungkin tidak bisa mengenali bocah itu jika mereka bertemu saat ini.

 “Ehm, Nona.”

Suara bass seorang pria menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Kedua netra gadis itu mengerjap ketika mendapati seorang pria berkulit putih pucat dengan postur tubuh tinggi tegap berdiri di hadapannya.

Ne?” jawabnya pelan.

Pria itu tersenyum lebar membuat alis gadis itu berjungkat naik. “Gaein-ah. Park Gaein, benar kan?”

Gadis itu—Gaein—menunjuk tak yakin pada dirinya sendiri. “Ak, aku? Ya, kau benar. Aku Park Gaein. Keundae... neo, nuguseyo?”

Pria itu masih mempertahankan lengkungan bibirnya menatap gadis yang bertubuh lebih pendek di hadapannya. “Na ireumi, Cho Kyuhyun-imnida.”

Kedua netra gadis itu membulat sempurna. Layaknya dalam drama yang sering ia tonton, ratusan mahkota bunga mawar bagaikan berjatuhan menghujani mereka berdua. Dengan jantungnya yang bertalu cepat, gadis itu berusaha menarik kedua sudut bibirnya.

“Lama tidak bertemu, Kyunnie...”

.
.
FIN

Yeay... Akhirnya aku bisa bikin drabble juga buat ulang tahun Yuni yang jumlah katanya hanya mencapai 500 kata :D
Yuniiiii... tjieeeh yang 21 taon XD harusnya bentar lagi tebar undangan tuhh /Aamiin/
Saengil chukkahamnida... saengil chukkahamnida... saranghanda Sri Wahyuni, saengil chukkahamnidaaa ^^ *tebar mawar* *tebar konfetti* lempar telor* *lempar Kyuhyun(?)*
Cuman kenapa aku merasa sedih ya, soalnya kamu muda sekaliiii >_< aku dan Ridha nggak lama lagi malah 22 T_T kamu, Diah, dan Dije malah “...”  -___-
Oh iya, drabble ini keinspirasi tiba-tiba waktu kita lagi nonton MV Super Junior di tokoku sore itu, hihi... gegara kamu bilang nggak bisa move on dari Kyu Oppa, padahal nyata-nyata suara Yesung Oppa lebih dahsyat, hahaa, tapi yang pertama itu emang nggak bisa lepas yaa Yun XD Semoga feel drabble ini dapet ya, soalnya ini pertama kalinya aku bikin edisi ulang tahun dalam bentuk drabble yang notabene-nya emang singkat tapi harus ngena feel-nya...
Sekian bacotan aku...
Buat Yuni, Barakallahu fii umrik ya ukhty ^_^
WYATB lah pokoknya ;) ;)
And last, DITUNGGU TRAKTIRANNYA yeheeet :D:D

Cinta dari Sang Pemilik Cinta



Oleh: Aisyah

Sekali lagi lubang itu membuatku jatuh. Terlalu dalam dan kali ini bahkan semakin dalam. Aku tak sepenuhnya menyalahkan lubang itu yang membuatku kini hidup dalam keterasingan dan kesepian yang semakin menggerogotiku tiap perputaran waktu yang terus berjalan tanpa bisa dihentikan dan tanpa bisa kembali lagi.

Seharusnya aku tak jatuh untuk yang kedua kalinya mengingat betapa sakit rasanya jatuh ke dalam lubang itu. Tapi apalah daya hawa nafsu yang dituruti semakin menjadi-jadi. Semua terasa semakin menggiurkan setelah aku berhasil keluar dari lubang itu, awalnya. Namun setan tak berhenti sampai di situ saja. Para setan itu bahkan membuatku semakin buta dengan delusi yang tak tergambarkan bagaimana keindahannya.

Dan disinilah aku.

Di dalam lubang pengap, gelap, sepi, dan kehampaan yang tiada akhir. Tak gelap sepenuhnya memang. Setitik cahaya masih bisa kulihat. Hanya setitik. Dan cahaya itu terlalu jauh untuk bisa kujangkau. Terlalu jauh, dan hanya kemustahilan yang kudapati jika aku berusaha mencapainya.

Aku tak mungkin menyalahkan takdir. Dan tak bisa menyalahkan takdir. Sang takdir yang seolah memperolokku dan seolah terus mempersakitku ditiap tarikan oksigen yang dilakukan sistem pernafasanku. Karena pada dasarnya aku sendirilah yang memperburuk sang takdir itu. Memperburuk takdir dengan menjadi budak dari sesuatu yang bernama hawa nafsu. Hingga yang bisa kulakukan hanyalah mencari jalan keluar dari lubang ini meskipun tertatih hingga berdarah di sekujur tubuhku.

Aku ingin berteriak, “Dimanakah Tuhan??! Kenapa Dia selalu menghadirkan segala kegelapan ini untukku? Kenapa harus aku? Kenapa??!”

Dan aku tahu aku salah.

Bukan Tuhan yang menghadirkan kegelapan itu untukku. Tapi akulah yang memilih kegelapan itu yang dipenuhi jerat setan beserta segala tipu daya dan muslihatnya yang tampak seperti fatamorgana dalam sahara. Aku sendiri yang menyerahkan diriku untuk diperbudak nafsu dan terlalu apatis dengan seruan-seruan dari jalan cinta-Nya.

Hingga jalan cinta-Nya yang begitu terang terasa semakin melindap dan aku harus menanggung sakitnya terjatuh dalam kubangan lubang gelap untuk kedua kalinya. Tanpa arah. Membuatku semakin tersesat dan jatuh semakin dalam. Kurasa mati adalah pilihan terbaik. Namun Malaikat Maut sepertinya enggan menghampiriku dalam lubang ini.

Dalam keputusasaan seraya terus merangkak tertatih kudapati alunan bisikan yang senantiasa beresonansi dalam hati kecil ini. Namun kuhanya memilih berpretensi akan hal itu. Toh segala bisikan itu tak bisa menyelamatkanku dalam kepekatan gelap lubang yang aku tak tahu seberapa dalamnya.

Namun semakin ku berpretensi dan bersikap abai akan segala bisikan yang semakin meraung dalam hati kecilku, semakin sakit yang kudapat. Bahkan semakin sulit keluar dari lubang ini yang kurasa kedalamannya semakin bertambah di tiap langkah yang kujajaki agar bisa keluar. Dan kudapati kepekatan gelap semakin melingkupi sekujur tubuhku.

Berhenti adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Dalam kelimpungan kubiarkan segala bisikan itu memenuhi hati kecilku hingga menjalar ke seluruh organ dalam tubuhku. Seketika kurasakan sejuk yang tak pernah kurasakan bahkan sebelum aku terjatuh dalam lubang ini. Sejuk dan damai di saat yang bersamaan. Sejuk dan damai yang tanpa kusadari menghadirkan cahaya putih yang sedikit mampu menerangi gelepan yang terus melingkupiku dalam lubang gelap ini.

Hingga tanpa kusadari wajahku sudah basah sepenuhnya dengan air mata yang menganak sungai dan terus mengalir tanpa bisa kuhentikan. Kedua tungkaiku tak mampu lagi menahan berat tubuhku, membuatku tersungkur dengan kedua lututku yang bertumpu untuk menahan tubuh ini.

Berbagai memori masa lalu seketika berputar bagaikan roda film. Aku bergeming dengan menahan sesak kala memori itu menampilkan gambar tokoh “aku” yang tengah menjadi budak hawa nafsu dunia. Segalanya terasa indah namun penuh kepalsuan, dunia ciptaan setan.

Aku meringis. Terisak.

Lubang ini, aku putuskan harus keluar dari tempat ini. Secepat yang aku bisa. Agar bisa segera kembali ke jalan cinta-Nya. Kutemukan cara agar aku tak tertatih dan kesakitan pun berdarah di sekujur tubuhku.

Aku beringsut, bersimpuh, dan bersujud. Kusebut nama yang sering kuabaikan selama ini.

Allah. Allah. Allah.

Lelehan air mata terus tumpah tak terbendung. Hadirkan getar hebat kala tak lagi kudapati diri ini dalam lubang gelap. Tak lagi kudapati diri ini dalam pengap, sepi, dan keterasingan.

Allahu Akbar. Allahu Akbar.

Laa ilaaha illallah...

Astaghfirullah wa atubu ilaih...

Apatah artinya hidup yang selama ini kujalani tanpa Dia bersamaku. Apatah artinya jiwa kosong ini tanpa pemiliknya yang Hakiki.

Kegelapan ini, hadir kala kuabaikan Rabb-ku. Terus menerus menikmati ilusi dan delusi yang kesegalanya bersumber dari iblis laknatullah.

Kubiarkan diri ini terus bersujud. Semakin terang segalanya hingga gelap itu sirna sepenuhnya. Kembali kucoba raih genggaman Illahi. Yang tak pernah meninggalkanku. Yang tak pernah membiarkanku dalam keterasingan, karena aku memiliki-Nya yang cinta-Nya tak pernah habis untuk kuhirup.

Dan kucoba berjanji, takkan lagi terjatuh dalam lubang itu untuk yang ketiga kalinya. Kupegang erat cinta-Nya agar senantiasa menuntunku dan agar aku tak kembali terseret derasnya arus nafsu syahwat yang sulit terbendung jika aku tak memiliki-Nya di setiap helaan nafas ini.

Semakin kucoba hirup cinta-Nya, semakin terang yang kudapati. Lubang itu menghilang sepenuhnya dan hadirkan serbuk bahagia tak tertara saat nama-Nya terus diucapkan kedua belah bibir ini. Cinta-Nya yang hakiki. Cinta-Nya yang suci. Cinta dari Sang Pemilik Cinta.

Cinta dari Allah. Rabb manusia, Rabb semesta alam, Rabb sekalian makhluk, Rabb Yang Maha Esa.

Allah.

Jangan biarkan diri ini kembali lagi dalam lubang gelap. Jangan singkirkan rahmat, cinta, dan kasih sayang-Mu. Jangan biarkan terlepas genggaman hamba dalam perjalanan menuju dunia abadi, akhirat-Mu.

Subahanallah.

Cintai Allah yang selalu mencintaimu, Cintai Allah yang tak pernah meninggalkanmu.

Karena cinta-Nya, begitu luas melebihi samudra. Ia takkan membiarkanmu sekalipun kau dalam kubangan kenistaan. Cintailah Dia, niscaya bahagia milikmu, dunia dan akhirat.

Insya Allah...