Pondok
Segi Empat
.
.
(Sumber Gambar: Google Image)
.
.
Penulis:
Aisyah
(@cloudisah_)
.
.
Menjelang senja, Mur dan keempat
kawannya baru tiba di rumah almarhumah nenek Mur di desa Kayungo dan langsung mengunjungi
kediaman ketua RT yang tak lain adalah paman Mur, sekitar dua ratus meter dari
rumah almarhumah nenek Mur. Beliau meminta Mur mengunjunginya sebab sudah
hampir dua tahun Mur tidak bertemu pamannya itu.
Jalanan senja yang remang membuat
kelimanya menyalakan senter dari ponsel mereka. Tidak kelimanya, sih. Sebab ponsel Mur sendiri kehabisan
baterai dan sayangnya listrik di desa Kayungo hanya dialiri listrik saat siang
hari saja. Sementara pada saat malam selalu terjadi pemadaman oleh PLN. Memang
distribusi listrik masih tidak merata untuk masyarakat di pedalaman.
“Duh, kok serem amat ya,” Kus yang
bertubuh paling tinggi diantara kawanannya berjalan paling depan dengan netra
yang menatap awas pada sekeliling. Jalan setapak yang sepi sebab masih tak
banyak rumah penduduk di daerah tersebut. Jarak antar rumahpun sangat jauh.
Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah hamparan kebun kelapa sawit.
“Halah, Kus. Badan doing gede, nyali
sekecil nyamuk,” Mul yang berjalan persis di belakang Kus mendengus sebal.






