MATAHARI YANG TERTAWA
(Sumber Gambar: Google Image)
.
.
.
Alya memandang langit dari balik
jendela kelas. Hari ini Bu Nilam yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris
tidak masuk, jadi murid kelas lima diminta untuk belajar mandiri. Tentu saja
semua murid senang saat guru tidak masuk dan jadilah suasana kelas persis
seperti kantin dadakan. Kelas sangat ricuh terutama siswa laki-laki mulai
bermain kejar-kejaran.
Rido sang ketua kelas sudah
berteriak meminta teman-temannya untuk tenang dan tidak ribut. Sebab jika kelas
terlalu gaduh maka Pak Fajri—Guru Penjaskes yang terkenal galak, akan muncul di
kelas mereka dan tentu mereka semua akan dihukum dengan berjemur di lapangan,
di tengah cuaca yang sangat panas. Namun sayangnya upaya Rido tetap tak
membuahkan hasil. Justru ia ditertawakan saja oleh teman-temannya.
Mengembuskan napas panjang, Alya
tak menghiraukan kegaduhan yang terjadi. Ia tetap menatap bentangan langit biru
di atas sana dimana hanya ada sedikit awan yang berarak. Tidak ada guru seperti
ini sungguh membosankan baginya.
“Al, maukah kamu mengajariku cara
menghitung penjumlahan pecahan? Aku kurang mengerti apa yang disampaikan oleh
Bu Ros tadi,” Mona menghampiri Alya dan duduk pada kursi kosong di samping
Alya. “Aku sangat mengantuk saat pelajaran Matematika tadi.”
Melirik sekilas pada Mona, Alya
memoutkan bibir. “Kalau begitu kamu minta ajari Bu Ros saja. Temui beliau di
ruang guru,” suara Alya terdengar ketus.
Tentu saja Mona mengerti maksud
ucapan Alya barusan. Itu sama saja dengan Alya menolak untuk mengajarinya.
“Ternyata apa yang dikatakan oleh
teman-teman itu benar. Kamu pintar tapi pelit!” Mona dengan kesal bangkit dari
duduknya lalu memunguti bukunya yang sudah terlanjur terbuka di atas meja. “Ah,
dan satu lagi. Kamu juga sombong tidak mau berteman dengan kami!” Mona
menghentakkan kakinya kesal lantas beranjak menjauhi Alya untuk kemudian
kembali ke bangkunya.
Seperginya Mona, Alya hanya
mengangkat kedua bahunya acuh. Baginya teman-teman yang hanya datang padanya
disaat butuh pertolongan seperti itu sangat merepotkan.
Di kelas, Alya dianggap murid pelit
dan sombong. Itu karena Alya tidak pernah mau berteman dengan teman-teman
sekelasnya, juga sulit sekali untuk meminta pertolongan dari gadis itu
khususnya mengenai pelajaran. Alya tidak memiliki teman bahkan hingga ia duduk
di kelas 5 sekarang. Tapi Alya tidak pernah terganggu dengan hal itu. Baginya,
ia baik-baik saja tanpa teman karena menurutnya memiliki banyak teman itu
justru mengganggu. Begitulah pandangan Alya selama ini.
.
OoooO
.
Padahal sepanjang pagi hingga siang
cuaca cukup terik. Namun saat jam pulang sekolah justru hujan mengguyur dengan
sangat deras. Mencoba untuk segera sampai di rumah sebelum tubuhnya semakin
basah kuyup, Alya mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Hujan deras disertai angin
yang menerjang berlawanan arah darinya, membuat kayuhan sepeda Alya terasa
berat. Ia masih harus melalui jalanan sepanjang lebih dari lima ratus meter
untuk tiba di rumah. Tidak ada tempat untuk Alya berteduh karena di sisi kiri
dan kanan jalan adalah kebun sawit.
“Ah…” Alya meringis saat ia
tiba-tiba terjatuh dari sepeda. Bukan karena roda sepedanya tersandung batu di
jalan, melainkan rantai sepedanya terlepas.
Alya menahan perih di lututnya lalu
mencoba memasang rantai sepeda dengan berlatar hujan deras yang masih tak ada
tanda-tanda untuk reda. Rasanya Alya ingin menangis karena ia hanya sendirian
saat ini. Tidak ada orang yang bisa membantunya memasang rantai sepeda apalagi
di tengah jalan area kebun sawit yang begitu sunyi.
Suara tawa mengallihkan perhatian
Alya yang masih berusaha memperbaiki rantai sepedanya. Ternyata itu adalah Mona
dan Farah, teman sebangku Mona. Mereka pulang sekolah bersama dengan Farah
dibonceng oleh Mona. Alya segera menundukkan kepala ketika tanpa sengaja tatapannya
dan Mona saling beradu. Tentu saja Alya malu tertangkap basah seorang diri di
tengah hujan sambil memperbaiki rantai sepeda. Alya yakin besok di kelas pasti
Mona akan menyebarkan berita ini pada semua siswa di kelas lima dan
mempermalukannya.
“Rantai sepedamu lepas, ya?” Itu
suara Farah.
Alya mendongak dengan rona merah di
wajahnya karena rasa malu. Hanya anggukan kecil yang ia berikan.
Mona mendekat setelah memasang
standar sepeda di pinggir jalan. “Biarkan kami membantumu memasangnya.” Mona
berjongkok di samping sepeda Alya lalu dengan cekatan memasang rantainya tanpa
kesulitan. “Dulu sepedaku juga sering lepas rantai. Karena itulah aku sudah
terbiasa dan tidak sulit lagi bagiku memasangnya,” Mona tersenyum bangga usai
memastikan sekali lagi rantai sepeda Alya terpasang dengan benar.
“Terima kasih,” Alya bergumam
kecil. “Tanganmu jadi kotor,” tunjuknya pada kedua telapak tangan Mona.
Farah dan Mona tertawa. Mendengar
itu, kening Alya berkerut karena bingung.
“Hey, tidak masalah. Kami bahkan
sering bermain lumpur. Kotor karena oli pada rantai sepeda ini tidak ada
apa-apanya,” jawab Mona.
Farah mengangguk setuju. “Benar
yang dikatakan Mona. Ah, kalau begitu kami duluan ya Al,” Farah akan beranjak
menuju sepeda dimana Mona sudah bersiap duduk di atas sepedanya sebelum
langkahnya terhenti ketika Alya tiba-tiba berucap.
“Kenapa kalian mau membantuku?
Padahal kalian bukan temanku dan aku tidak pernah membantu kalian.”
Farah dan Mona bertukar pandang
sejenak. Ada hening untuk beberapa saat. Hanya suara hujan terdengar yang
perlahan berkurang kuantitasnya ketika Alya menunggu jawaban dari keduanya.
Farah tersenyum pada Alya. “Semua
siswa yang ada di dalam kelas adalah teman. Dan kita tentu saja teman. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang
tidak butuh teman. Benar, kan?”
“Kami membantumu karena kamu adalah
teman kami terlepas dari bagaimana cara kamu memperlakukan kami selama ini,”
sambung Mona. “Kamu bisa menemui kami jika butuh teman ataupun butuh bantuan,”
lanjutnya lagi.
“Baiklah, kami duluan Al,” Farah
melambai riang pada Alya lalu mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan
pulang dengan berboncengan.
Setelah Mona dan Farah tak lagi
terlihat dari jarak pandang Alya, matahari perlahan kembali bersinar dan hujan
kini reda. Alya seketika tersadar jika selama ini ia telah salah memperlakukan
teman-temannya. Memiliki teman ternyata tidaklah seburuk yang ia pikirkan.
Justru teman akan datang membantu disaat kita mengalami kesulitan.
Alya memandang matahari yang kini
kembali terik, seolah sedang tertawa. Matahari itu tampak menertawakan Alya
yang selama ini telah salah mengartikan pentingnya seorang teman. Maka sejak
itu juga Alya berjanji mulai besok di sekolah ia tidak akan lagi pelit kepada
teman-temannya dan ia akan mencoba bergaul dengan teman-teman di kelas,
terutama dengan Mona dan Farah yang telah berbaik hati menolongnya tadi tanpa
meminta balasan apapun darinya.
.
.
.
Tamat
(Tana Paser, Kaltim, 19 November
2017)
Ps: Cerpen ini pernah diikutkan
dalam lomba menulis cerpen anak yang diselenggarakan oleh IPI-PADI. Tapi yah
gitu, nggak lolos XD

Tidak ada komentar:
Posting Komentar