Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Kamis, 25 Januari 2018

(Cerpen Anak) Matahari yang Tertawa



MATAHARI YANG TERTAWA


(Sumber Gambar: Google Image)


.
.
.

Alya memandang langit dari balik jendela kelas. Hari ini Bu Nilam yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris tidak masuk, jadi murid kelas lima diminta untuk belajar mandiri. Tentu saja semua murid senang saat guru tidak masuk dan jadilah suasana kelas persis seperti kantin dadakan. Kelas sangat ricuh terutama siswa laki-laki mulai bermain kejar-kejaran.

Rido sang ketua kelas sudah berteriak meminta teman-temannya untuk tenang dan tidak ribut. Sebab jika kelas terlalu gaduh maka Pak Fajri—Guru Penjaskes yang terkenal galak, akan muncul di kelas mereka dan tentu mereka semua akan dihukum dengan berjemur di lapangan, di tengah cuaca yang sangat panas. Namun sayangnya upaya Rido tetap tak membuahkan hasil. Justru ia ditertawakan saja oleh teman-temannya.


Mengembuskan napas panjang, Alya tak menghiraukan kegaduhan yang terjadi. Ia tetap menatap bentangan langit biru di atas sana dimana hanya ada sedikit awan yang berarak. Tidak ada guru seperti ini sungguh membosankan baginya.

“Al, maukah kamu mengajariku cara menghitung penjumlahan pecahan? Aku kurang mengerti apa yang disampaikan oleh Bu Ros tadi,” Mona menghampiri Alya dan duduk pada kursi kosong di samping Alya. “Aku sangat mengantuk saat pelajaran Matematika tadi.”

Melirik sekilas pada Mona, Alya memoutkan bibir. “Kalau begitu kamu minta ajari Bu Ros saja. Temui beliau di ruang guru,” suara Alya terdengar ketus.

Tentu saja Mona mengerti maksud ucapan Alya barusan. Itu sama saja dengan Alya menolak untuk mengajarinya.

“Ternyata apa yang dikatakan oleh teman-teman itu benar. Kamu pintar tapi pelit!” Mona dengan kesal bangkit dari duduknya lalu memunguti bukunya yang sudah terlanjur terbuka di atas meja. “Ah, dan satu lagi. Kamu juga sombong tidak mau berteman dengan kami!” Mona menghentakkan kakinya kesal lantas beranjak menjauhi Alya untuk kemudian kembali ke bangkunya.

Seperginya Mona, Alya hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Baginya teman-teman yang hanya datang padanya disaat butuh pertolongan seperti itu sangat merepotkan.

Di kelas, Alya dianggap murid pelit dan sombong. Itu karena Alya tidak pernah mau berteman dengan teman-teman sekelasnya, juga sulit sekali untuk meminta pertolongan dari gadis itu khususnya mengenai pelajaran. Alya tidak memiliki teman bahkan hingga ia duduk di kelas 5 sekarang. Tapi Alya tidak pernah terganggu dengan hal itu. Baginya, ia baik-baik saja tanpa teman karena menurutnya memiliki banyak teman itu justru mengganggu. Begitulah pandangan Alya selama ini.

.
OoooO
.

Padahal sepanjang pagi hingga siang cuaca cukup terik. Namun saat jam pulang sekolah justru hujan mengguyur dengan sangat deras. Mencoba untuk segera sampai di rumah sebelum tubuhnya semakin basah kuyup, Alya mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Hujan deras disertai angin yang menerjang berlawanan arah darinya, membuat kayuhan sepeda Alya terasa berat. Ia masih harus melalui jalanan sepanjang lebih dari lima ratus meter untuk tiba di rumah. Tidak ada tempat untuk Alya berteduh karena di sisi kiri dan kanan jalan adalah kebun sawit.

“Ah…” Alya meringis saat ia tiba-tiba terjatuh dari sepeda. Bukan karena roda sepedanya tersandung batu di jalan, melainkan rantai sepedanya terlepas.

Alya menahan perih di lututnya lalu mencoba memasang rantai sepeda dengan berlatar hujan deras yang masih tak ada tanda-tanda untuk reda. Rasanya Alya ingin menangis karena ia hanya sendirian saat ini. Tidak ada orang yang bisa membantunya memasang rantai sepeda apalagi di tengah jalan area kebun sawit yang begitu sunyi.

Suara tawa mengallihkan perhatian Alya yang masih berusaha memperbaiki rantai sepedanya. Ternyata itu adalah Mona dan Farah, teman sebangku Mona. Mereka pulang sekolah bersama dengan Farah dibonceng oleh Mona. Alya segera menundukkan kepala ketika tanpa sengaja tatapannya dan Mona saling beradu. Tentu saja Alya malu tertangkap basah seorang diri di tengah hujan sambil memperbaiki rantai sepeda. Alya yakin besok di kelas pasti Mona akan menyebarkan berita ini pada semua siswa di kelas lima dan mempermalukannya.

“Rantai sepedamu lepas, ya?” Itu suara Farah.

Alya mendongak dengan rona merah di wajahnya karena rasa malu. Hanya anggukan kecil yang ia berikan.

Mona mendekat setelah memasang standar sepeda di pinggir jalan. “Biarkan kami membantumu memasangnya.” Mona berjongkok di samping sepeda Alya lalu dengan cekatan memasang rantainya tanpa kesulitan. “Dulu sepedaku juga sering lepas rantai. Karena itulah aku sudah terbiasa dan tidak sulit lagi bagiku memasangnya,” Mona tersenyum bangga usai memastikan sekali lagi rantai sepeda Alya terpasang dengan benar.

“Terima kasih,” Alya bergumam kecil. “Tanganmu jadi kotor,” tunjuknya pada kedua telapak tangan Mona.

Farah dan Mona tertawa. Mendengar itu, kening Alya berkerut karena bingung.

“Hey, tidak masalah. Kami bahkan sering bermain lumpur. Kotor karena oli pada rantai sepeda ini tidak ada apa-apanya,” jawab Mona.

Farah mengangguk setuju. “Benar yang dikatakan Mona. Ah, kalau begitu kami duluan ya Al,” Farah akan beranjak menuju sepeda dimana Mona sudah bersiap duduk di atas sepedanya sebelum langkahnya terhenti ketika Alya tiba-tiba berucap.

“Kenapa kalian mau membantuku? Padahal kalian bukan temanku dan aku tidak pernah membantu kalian.”

Farah dan Mona bertukar pandang sejenak. Ada hening untuk beberapa saat. Hanya suara hujan terdengar yang perlahan berkurang kuantitasnya ketika Alya menunggu jawaban dari keduanya.

Farah tersenyum pada Alya. “Semua siswa yang ada di dalam kelas adalah teman. Dan kita tentu saja teman. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang tidak butuh teman. Benar, kan?”

“Kami membantumu karena kamu adalah teman kami terlepas dari bagaimana cara kamu memperlakukan kami selama ini,” sambung Mona. “Kamu bisa menemui kami jika butuh teman ataupun butuh bantuan,” lanjutnya lagi.

“Baiklah, kami duluan Al,” Farah melambai riang pada Alya lalu mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan berboncengan.

Setelah Mona dan Farah tak lagi terlihat dari jarak pandang Alya, matahari perlahan kembali bersinar dan hujan kini reda. Alya seketika tersadar jika selama ini ia telah salah memperlakukan teman-temannya. Memiliki teman ternyata tidaklah seburuk yang ia pikirkan. Justru teman akan datang membantu disaat kita mengalami kesulitan.

Alya memandang matahari yang kini kembali terik, seolah sedang tertawa. Matahari itu tampak menertawakan Alya yang selama ini telah salah mengartikan pentingnya seorang teman. Maka sejak itu juga Alya berjanji mulai besok di sekolah ia tidak akan lagi pelit kepada teman-temannya dan ia akan mencoba bergaul dengan teman-teman di kelas, terutama dengan Mona dan Farah yang telah berbaik hati menolongnya tadi tanpa meminta balasan apapun darinya.

.
.
.

Tamat

(Tana Paser, Kaltim, 19 November 2017)

Ps: Cerpen ini pernah diikutkan dalam lomba menulis cerpen anak yang diselenggarakan oleh IPI-PADI. Tapi yah gitu, nggak lolos XD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar