Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Kamis, 25 Januari 2018

(Cerpen) Akhir Penantian



Akhir Penantian

(Sumber Gambar: Google Image)


.
.
.

Pernahkah kau bertahan menunggu seseorang yang bahkan tak pernah memintamu untuk menunggu? Menunggu hingga hari, minggu, bulan, dan tahun berganti tanpa kau sadari?

Jika tidak, maka akan kuceritakan bagaimana kisahku menanti seseorang dengan begitu sabarnya. Menunggu seseorang yang tak pernah memintaku untuk menunggunya. Menunggu seseorang hanya untuk memastikan apakah ia memiliki perasaan yang sama atau tidak.

Memang sih kisah cinta seperti ini terlalu klise dan sudah mainstream. Tapi beginilah apa yang terjadi padaku selama dua tahun belakangan.


Ia adalah kakak kelasku sewaktu di SMK. Ia jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) sementara aku sendiri di jurusan Akuntansi. Ia di tingkat sebelas, dan aku di tingkat sepuluh waktu itu. Awal mengenalnya ketika kami berada dalam tim yang sama untuk mewakili sekolah kami dalam lomba cerdas cermat UUD 1945.

Hanya perkenalan biasa awalnya. Layaknya seorang adik kelas yang sopan, tiap kali mengiriminya pesan singkat jika memerlukan bantuan saat menemukan kesulitan dalam mempelajari materi lomba aku selalu menggunakan kalimat-kalimat santun. Yah hitung-hitung jaga image.

Namun komunikasi yang terjalin tidak hanya sampai perlombaan usai. Kami terus saling bertukar pesan singkat setelah itu. Hampir setiap hari menjalin komunikasi dengannya sampai ia lulus SMK. Sebagai wanita yang perasaannya sangat sensitif, bohong jika ditiap komunikasi kami tak menimbulkan rasa tersendiri padanya.

Dan saat itu aku benar-benar telah membiarkan diriku tengggelam dalam perasaan tersebut.

Setelah lulus SMK, ia melanjutkan kuliah di luar kota. Sedangkan aku sendiri tentunya masih melanjutkan studi-ku di SMK, di tingkat dua belas. Jangan kira komunikasi kami terputus, yang ada justru hubungan kami semakin akrab ketimbang ia masih sekolah.

Hubungan adik-kakak diantara kami makin menimbulkan perasaan spesial di dalam hatiku. Seringkali aku meyakini bahwa baginya, aku tak lebih dari seorang adik. Namun hati kecilku memberontak, teramat sangat berharap jika ia juga memiliki rasa lebih dari sekedar adik. Berharap ia menganggapku layaknya seorang wanita, bukan seorang adik.

Setahun kemudian aku lulus sekolah. Tidak seperti dirinya yang melanjutkan studi di luar kota, aku hanya kuliah di dalam kota. Padahal diri ini sangat berharap bisa satu kampus dengannya. Tapi apalah daya orangtua tak mengijinkanku untuk jauh dari mereka.

Kupikir hubungan kami akan merenggang sebab jarak yang cukup jauh juga sulitnya komunikasi sebab kesibukan kami yang melebihi masa ketika masih di sekolah. Namun aku tak menyangka tiap kali memiliki waktu libur, ia akan pulang dan menemuiku. Terkadang ia membawakan oleh-oleh khas dari kota tempat ia kuliah.

Perasaan ini sudah tak terbendung lagi. Keyakinan jika ia juga memiliki rasa yang sama padaku semakin besar. Dan karena hal itu, aku tak pernah melirik satu-pun pria di kampus. Tak juga menggubris ajakan pria yang datang ke rumah, berniat ingin melamarku. Sebab aku telah yakin jika pria yang selama ini namanya telah tersegel kuat di dalam hatiku adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untukku.

Sayangnya komunikasi itu terputus ketika aku menginjak semester empat. Ia tak lagi menghubungiku. Saat aku menghubunginya pun, ia hanya membalas seperlunya. Bahkan seringnya tak dibalas. Berbagai rasa curiga tentu saja menyergapku.

Apa mungkin ia sudah memiliki kekasih di sana? Apa mungkin ia bosan denganku?

Tak hanya komunikasi yang terputus, tetapi janjinya untuk menemuiku ketika liburan semester seperti yang biasa ia lakukan tak kunjung ia tepati. Ia menghilang bagai ditelan bumi ketika perkuliahan semester empat berjalan.

Waktu kian bergulir tanpa bisa kucegah. Tanpa terasa aku telah melewatkan banyak waktu hanya untuk menunggunya. Hari yang tanpa kusadari telah berganti minggu. Minggu yang beranjak menjali bulan. Dan bulan-bulan berlalu, melewati bilangan dua belas. Bahkan lebih dari itu. Aku dengan bodohnya tetap menunggu kabar darinya hingga di penghujung semester tujuh.

Hampir dua tahun lamanya aku menunggu kabar darinya. Hanya berharap satu kabar saja. Juga demi memastikan perasaan ini. Memastikan adakah ia menyimpan perasaan yang sama denganku.

Menunggu tanpa lelah, menunggu seolah waktu tak kunjung beranjak. Menunggunya tak peduli jika dua tahun telah terlewati. Menunggu dan menunggu. Menunggu hingga tak menyadari seseorang yang selama dua tahun ini telah mengisi hari-hariku. Menunggunya yang menghilang, menunggunya yang tak pernah memintaku untuk menunggu.

Hampir genap dua tahun, perasaan ini perlahan memudar. Perasaan lelah menanti yang tak pasti akhirnya menghampiriku. Aku mulai menyerah padanya.

Nyatanya yang terjadi membuatku kesulitan bernafas. Ia menghubungiku secara tiba-tiba!

Perasaanku berdebar saat menjawab panggilan telpon darinya. Perasaan bahagia hingga aku tak bisa berucap walau mulut ini ingin sekali menyampaikan beribu kalimat padanya.

Masih ingat dengan jelas dalam benakku kalimatnya dua minggu yang lalu saat menghubungiku via telpon. “Dek, Kakak mau pulang minggu depan. Begini, Kakak sudah punya niat buat menikah. Eum, menurutmu dengan hubungan kita sejak di SMK, apa Adek mau kita begini-begini saja? Yah, maksud Kakak, apa kamu juga punya niat buat menikah? Jangan dijawab dulu. Minggu depan pas Kakak sudah pulang, kita ketemuan ya.”

Kalian tahu seperti apa rasanya? Jutaan kupu-kupu yang selama dua tahun ini tertidur di dasar perutku serentak terbangun dan beterbangan. Kupu-kupu berwarna-warni seketika memenuhi perutku hingga aku sesak nafas dan tak berselera makan.

Serius? Ia mau menemuiku minggu depan? Jadi selama dua tahun ini menghilang karena menyiapkan pernikahan denganku? Apa ini semacam kejutan darinya?

Membayangkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku itu membuatku seakan lupa jika aku telah menunggunya lebih dari dua puluh bulan. Aku seakan lupa rasanya menderita menanti kabar darinya, aku melupakan fakta jika dua tahun bukanlah waktu yang singkat dan tentu terjadi perubahan pada dirinya. Aku sama sekali dibutakan perasaan bahwa ia masihlah sama dengan yang kutemui dua tahun lalu.

Ketika itu hari Jum’at. Kami sepakat untuk bertemu di warung es kelapa favoritku. Alat pemompa darahku benar-benar ingin meledak sebab berdetak tak terkendali. Aku telah membayangkan lamaran romantis yang ia siapkan untukku.

Tapi, hidupku sungguh seperti di dalam drama yang berakhir sad ending. Percakapan kami satu minggu yang lalu sama sekali tak bisa kulupakan.

“Jadi begini, Dek. Boleh nggak kakak memastikan sesuatu?”

Aku saat itu yang masih dipenuhi perasaan gembira menjawab dengan wajah riang. “Memastikan apa, Kak?”

Aku benar-benar tak melupakan ekspresi galau-nya sembari mengaduk gelas berisi es kelapa bercampur gula aren di tangannya. “Adek suka sama Kakak?” tanyanya to the point.

Pertanyaan menohok itu membuatku gagal menelan kelapa muda yang sudah kusendok ke dalam mulut. Dengan eskpresi bodoh aku mengangguk. Bodohnya aku saat itu tak menyadari perubahan ekspresinya. Kenapa ia malah menatapku dengan ekspresi sedih seperti telah berbuat kesalahan besar sih?

“Dek,” ia menghela nafas teramat berat. “Kakak sudah menduga hal ini. Maafin Kakak, ya. Kakak sadar ini kesalahan Kakak yang bikin Adek akhirnya punya perasaan lebih sama Kakak. Maaf Dek, selama ini Kakak nggak pernah nganggap Adek lebih. Buat Kakak, Adek itu seperti seorang adik kandung Kakak. Maaf, mungkin nggak seharusnya dulu Kakak berlebihan sms-an sama Adek.”

Itu pernyataan yang jleb sekali. Lalu apa maksud pertanyaannya di telpon minggu lalu?

“Te-terus, apa maksud Kakak ditelpon minggu lalu?” Hati ini seketika terasa bagai diiris pisau dapur. Perih. Hanya satu anggukan tapi dibalas kalimat-kalimat yang menyakitkan seperti itu? Aku hancur dan ingin menangis. Namun tentu saja aku harus menahannya.

“Iya, Kakak sudah ada niatan untuk menikah. Jadi, apa Adek juga mau menikah?”

Aku hanya bisa menggeleng. Tenggorokanku tercekat.

“Dek,” ucapnya lagi ketika melihat perubahan ekspresiku. “Kakak pernah berpikir untuk menikah dengan Adek. Tapi Kakak merasa, Kakak malah seperti menjaga seorang adik alih-alih seorang istri. Dek, Kakak ini banyak kurangnya. Kakak terus berdo’a yang terbaik kok buat Adek. Adek pantas dapat yang lebih dari Kakak.”

Aku tak menyahut. Hanya mengaduk gelas di depanku dan kehilangan selera untuk meminumnya.

“Dek, kita sudahi aja yuk. Maksud Kakak, kita nggak usah lagi komunikasi yang nggak penting seperti dulu. Adek bisa menghubungi Kakak jika ada perlu. Eum, dan itu sebabnya Kakak mencoba berhenti komunikasi dengan Adek dua tahun ini. Bukan untuk memutuskan tali silaturrahim sih, tapi Kakak cuman nggak mau komunikasi kita berlebihan. Yah, Adek ngerti kan? Demi menjaga perasaan, Dek.”

Hancur sudah harapanku. Penantianku sia-sia belaka. Penantian yang berakhir dengan pernyataan darinya yang seharusnya tak perlu kudengar.

Aku tak pernah memintanya membalas perasaanku sekalipun aku berharap ia juga memiliki rasa yang sama. Tapi kenapa? Kenapa ia datang disaat aku mulai menyerah? Kenapa ia harus bertanya seperti itu ditelpon? Kenapa ia harus memastikan perasaanku jika ia tak memiliki rasa yang sama denganku?

Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Seharusnya ia tetap diam dan menghilang seperti dua tahun belakangan ini sehingga dengan demikian perasaanku juga akan menghilang dengan sendirinya. Tapi mungkin begini lebih baik sehingga aku bisa berhenti menunggunya. Berhenti berharap darinya. Berhenti dari harapan kosong yang memang tak pernah ia janjikan padaku.

Di bulan Desember ia datang setelah terakhir kali kami bertemu di Desember dua tahun lalu. Dan di bulan Desember ini secara tidak langsung ia meminta kami berpisah dari hubungan tanpa status yang sungguh menyakitkan ini.

Akhir tahun ini adalah akhir penantianku. Akhir tahun ini adalah akhir dari perasaanku. Akhir dari segalanya yang menyangkut dirinya. Namun akhir tahun ini adalah awal dari luka di dalam hati ini yang aku tak akan tahu kapan akan sembuh. Luka yang sama sekali tak berwujud, tak berbekas. Namun sakitnya minta ampun. Hingga ketika kuceritakan kisah ini padamu, mataku masihlah bengkak.

Kuharap setelah membaca kisah ini, kau akan berpikir dua kali untuk menunggu seseorang yang tak pernah memintamu menunggunya. Menunggu harapan kosong yang bisa saja membuatmu berakhir lebih tragis dari kisahku. (*)

End

Aku tidak mengatakan ini adalah kisah fiktif, karena apa yang tertulis di atas adalah kisah nyata… hikss T_T


Tidak ada komentar:

Posting Komentar