Akhir Penantian
(Sumber Gambar: Google Image)
.
.
.
Pernahkah kau bertahan menunggu seseorang yang
bahkan tak pernah memintamu untuk menunggu? Menunggu hingga hari, minggu,
bulan, dan tahun berganti tanpa kau sadari?
Jika tidak, maka akan kuceritakan bagaimana kisahku
menanti seseorang dengan begitu sabarnya. Menunggu seseorang yang tak pernah
memintaku untuk menunggunya. Menunggu seseorang hanya untuk memastikan apakah
ia memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Memang sih kisah cinta seperti ini terlalu klise dan
sudah mainstream. Tapi beginilah apa
yang terjadi padaku selama dua tahun belakangan.
Ia adalah kakak kelasku sewaktu di SMK. Ia jurusan
TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) sementara aku sendiri di jurusan Akuntansi. Ia
di tingkat sebelas, dan aku di tingkat sepuluh waktu itu. Awal mengenalnya
ketika kami berada dalam tim yang sama untuk mewakili sekolah kami dalam lomba
cerdas cermat UUD 1945.
Hanya perkenalan biasa awalnya. Layaknya seorang
adik kelas yang sopan, tiap kali mengiriminya pesan singkat jika memerlukan bantuan
saat menemukan kesulitan dalam mempelajari materi lomba aku selalu menggunakan
kalimat-kalimat santun. Yah hitung-hitung jaga image.
Namun komunikasi yang terjalin tidak hanya sampai
perlombaan usai. Kami terus saling bertukar pesan singkat setelah itu. Hampir
setiap hari menjalin komunikasi dengannya sampai ia lulus SMK. Sebagai wanita
yang perasaannya sangat sensitif, bohong jika ditiap komunikasi kami tak
menimbulkan rasa tersendiri padanya.
Dan saat itu aku benar-benar telah membiarkan diriku
tengggelam dalam perasaan tersebut.
Setelah lulus SMK, ia melanjutkan kuliah di luar
kota. Sedangkan aku sendiri tentunya masih melanjutkan studi-ku di SMK, di
tingkat dua belas. Jangan kira komunikasi kami terputus, yang ada justru
hubungan kami semakin akrab ketimbang ia masih sekolah.
Hubungan adik-kakak diantara kami makin menimbulkan
perasaan spesial di dalam hatiku. Seringkali aku meyakini bahwa baginya, aku
tak lebih dari seorang adik. Namun hati kecilku memberontak, teramat sangat
berharap jika ia juga memiliki rasa lebih dari sekedar adik. Berharap ia
menganggapku layaknya seorang wanita, bukan seorang adik.
Setahun kemudian aku lulus sekolah. Tidak seperti
dirinya yang melanjutkan studi di luar kota, aku hanya kuliah di dalam kota.
Padahal diri ini sangat berharap bisa satu kampus dengannya. Tapi apalah daya
orangtua tak mengijinkanku untuk jauh dari mereka.
Kupikir hubungan kami akan merenggang sebab jarak
yang cukup jauh juga sulitnya komunikasi sebab kesibukan kami yang melebihi
masa ketika masih di sekolah. Namun aku tak menyangka tiap kali memiliki waktu
libur, ia akan pulang dan menemuiku. Terkadang ia membawakan oleh-oleh khas
dari kota tempat ia kuliah.
Perasaan ini sudah tak terbendung lagi. Keyakinan
jika ia juga memiliki rasa yang sama padaku semakin besar. Dan karena hal itu,
aku tak pernah melirik satu-pun pria di kampus. Tak juga menggubris ajakan pria
yang datang ke rumah, berniat ingin melamarku. Sebab aku telah yakin jika pria
yang selama ini namanya telah tersegel kuat di dalam hatiku adalah jodoh yang
Tuhan kirimkan untukku.
Sayangnya komunikasi itu terputus ketika aku
menginjak semester empat. Ia tak lagi menghubungiku. Saat aku menghubunginya
pun, ia hanya membalas seperlunya. Bahkan seringnya tak dibalas. Berbagai rasa
curiga tentu saja menyergapku.
Apa mungkin ia sudah memiliki kekasih di sana? Apa
mungkin ia bosan denganku?
Tak hanya komunikasi yang terputus, tetapi janjinya
untuk menemuiku ketika liburan semester seperti yang biasa ia lakukan tak
kunjung ia tepati. Ia menghilang bagai ditelan bumi ketika perkuliahan semester
empat berjalan.
Waktu kian bergulir tanpa bisa kucegah. Tanpa terasa
aku telah melewatkan banyak waktu hanya untuk menunggunya. Hari yang tanpa
kusadari telah berganti minggu. Minggu yang beranjak menjali bulan. Dan
bulan-bulan berlalu, melewati bilangan dua belas. Bahkan lebih dari itu. Aku
dengan bodohnya tetap menunggu kabar darinya hingga di penghujung semester tujuh.
Hampir dua tahun lamanya aku menunggu kabar darinya.
Hanya berharap satu kabar saja. Juga demi memastikan perasaan ini. Memastikan
adakah ia menyimpan perasaan yang sama denganku.
Menunggu tanpa lelah, menunggu seolah waktu tak
kunjung beranjak. Menunggunya tak peduli jika dua tahun telah terlewati.
Menunggu dan menunggu. Menunggu hingga tak menyadari seseorang yang selama dua
tahun ini telah mengisi hari-hariku. Menunggunya yang menghilang, menunggunya
yang tak pernah memintaku untuk menunggu.
Hampir genap dua tahun, perasaan ini perlahan
memudar. Perasaan lelah menanti yang tak pasti akhirnya menghampiriku. Aku
mulai menyerah padanya.
Nyatanya yang terjadi membuatku kesulitan bernafas.
Ia menghubungiku secara tiba-tiba!
Perasaanku berdebar saat menjawab panggilan telpon
darinya. Perasaan bahagia hingga aku tak bisa berucap walau mulut ini ingin
sekali menyampaikan beribu kalimat padanya.
Masih ingat dengan jelas dalam benakku kalimatnya
dua minggu yang lalu saat menghubungiku via telpon. “Dek, Kakak mau pulang
minggu depan. Begini, Kakak sudah punya niat buat menikah. Eum, menurutmu
dengan hubungan kita sejak di SMK, apa Adek mau kita begini-begini saja? Yah,
maksud Kakak, apa kamu juga punya niat buat menikah? Jangan dijawab dulu.
Minggu depan pas Kakak sudah pulang, kita ketemuan ya.”
Kalian tahu seperti apa rasanya? Jutaan kupu-kupu
yang selama dua tahun ini tertidur di dasar perutku serentak terbangun dan
beterbangan. Kupu-kupu berwarna-warni seketika memenuhi perutku hingga aku
sesak nafas dan tak berselera makan.
Serius? Ia mau menemuiku minggu depan? Jadi selama
dua tahun ini menghilang karena menyiapkan pernikahan denganku? Apa ini semacam
kejutan darinya?
Membayangkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku
itu membuatku seakan lupa jika aku telah menunggunya lebih dari dua puluh bulan.
Aku seakan lupa rasanya menderita menanti kabar darinya, aku melupakan fakta
jika dua tahun bukanlah waktu yang singkat dan tentu terjadi perubahan pada
dirinya. Aku sama sekali dibutakan perasaan bahwa ia masihlah sama dengan yang
kutemui dua tahun lalu.
Ketika itu hari Jum’at. Kami sepakat untuk bertemu
di warung es kelapa favoritku. Alat pemompa darahku benar-benar ingin meledak
sebab berdetak tak terkendali. Aku telah membayangkan lamaran romantis yang ia
siapkan untukku.
Tapi, hidupku sungguh seperti di dalam drama yang
berakhir sad ending. Percakapan kami
satu minggu yang lalu sama sekali tak bisa kulupakan.
“Jadi begini, Dek. Boleh nggak kakak memastikan
sesuatu?”
Aku saat itu yang masih dipenuhi perasaan gembira
menjawab dengan wajah riang. “Memastikan apa, Kak?”
Aku benar-benar tak melupakan ekspresi galau-nya sembari mengaduk gelas berisi
es kelapa bercampur gula aren di tangannya. “Adek suka sama Kakak?” tanyanya to the point.
Pertanyaan menohok itu membuatku gagal menelan
kelapa muda yang sudah kusendok ke dalam mulut. Dengan eskpresi bodoh aku
mengangguk. Bodohnya aku saat itu tak menyadari perubahan ekspresinya. Kenapa
ia malah menatapku dengan ekspresi sedih seperti telah berbuat kesalahan besar sih?
“Dek,” ia menghela nafas teramat berat. “Kakak sudah
menduga hal ini. Maafin Kakak, ya. Kakak sadar ini kesalahan Kakak yang bikin
Adek akhirnya punya perasaan lebih sama Kakak. Maaf Dek, selama ini Kakak nggak
pernah nganggap Adek lebih. Buat Kakak, Adek itu seperti seorang adik kandung
Kakak. Maaf, mungkin nggak seharusnya dulu Kakak berlebihan sms-an sama Adek.”
Itu pernyataan yang jleb sekali. Lalu apa maksud pertanyaannya di telpon minggu lalu?
“Te-terus, apa maksud Kakak ditelpon minggu lalu?”
Hati ini seketika terasa bagai diiris pisau dapur. Perih. Hanya satu anggukan
tapi dibalas kalimat-kalimat yang menyakitkan seperti itu? Aku hancur dan ingin
menangis. Namun tentu saja aku harus menahannya.
“Iya, Kakak sudah ada niatan untuk menikah. Jadi,
apa Adek juga mau menikah?”
Aku hanya bisa menggeleng. Tenggorokanku tercekat.
“Dek,” ucapnya lagi ketika melihat perubahan
ekspresiku. “Kakak pernah berpikir untuk menikah dengan Adek. Tapi Kakak
merasa, Kakak malah seperti menjaga seorang adik alih-alih seorang istri. Dek,
Kakak ini banyak kurangnya. Kakak terus berdo’a yang terbaik kok buat Adek.
Adek pantas dapat yang lebih dari Kakak.”
Aku tak menyahut. Hanya mengaduk gelas di depanku
dan kehilangan selera untuk meminumnya.
“Dek, kita sudahi aja yuk. Maksud Kakak, kita nggak
usah lagi komunikasi yang nggak penting seperti dulu. Adek bisa menghubungi
Kakak jika ada perlu. Eum, dan itu sebabnya Kakak mencoba berhenti komunikasi
dengan Adek dua tahun ini. Bukan untuk memutuskan tali silaturrahim sih, tapi
Kakak cuman nggak mau komunikasi kita berlebihan. Yah, Adek ngerti kan? Demi
menjaga perasaan, Dek.”
Hancur sudah harapanku. Penantianku sia-sia belaka.
Penantian yang berakhir dengan pernyataan darinya yang seharusnya tak perlu
kudengar.
Aku tak pernah memintanya membalas perasaanku
sekalipun aku berharap ia juga memiliki rasa yang sama. Tapi kenapa? Kenapa ia
datang disaat aku mulai menyerah? Kenapa ia harus bertanya seperti itu
ditelpon? Kenapa ia harus memastikan perasaanku jika ia tak memiliki rasa yang
sama denganku?
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Seharusnya ia tetap diam dan menghilang seperti dua
tahun belakangan ini sehingga dengan demikian perasaanku juga akan menghilang
dengan sendirinya. Tapi mungkin begini lebih baik sehingga aku bisa berhenti
menunggunya. Berhenti berharap darinya. Berhenti dari harapan kosong yang
memang tak pernah ia janjikan padaku.
Di bulan Desember ia datang setelah terakhir kali
kami bertemu di Desember dua tahun lalu. Dan di bulan Desember ini secara tidak
langsung ia meminta kami berpisah dari hubungan tanpa status yang sungguh
menyakitkan ini.
Akhir tahun ini adalah akhir penantianku. Akhir
tahun ini adalah akhir dari perasaanku. Akhir dari segalanya yang menyangkut
dirinya. Namun akhir tahun ini adalah awal dari luka di dalam hati ini yang aku
tak akan tahu kapan akan sembuh. Luka yang sama sekali tak berwujud, tak
berbekas. Namun sakitnya minta ampun. Hingga ketika kuceritakan kisah ini
padamu, mataku masihlah bengkak.
Kuharap setelah membaca kisah ini, kau akan berpikir
dua kali untuk menunggu seseorang yang tak pernah memintamu menunggunya.
Menunggu harapan kosong yang bisa saja membuatmu berakhir lebih tragis dari
kisahku. (*)
End
Aku tidak mengatakan ini adalah kisah fiktif, karena
apa yang tertulis di atas adalah kisah nyata… hikss T_T

Tidak ada komentar:
Posting Komentar