The Wedding
(Sumber Gambar: Google Image)
.
Written By:
Aisyah
(@cloudisah_)
.
(Kisah
ini hanya fiktif belaka…)
.
.
.
Siapa yang tidak iri melihat sahabat sudah menyebar
undangan pernikahan ketika bahkan Kartu Hasil Studi semester tujuh belum
dibagikan. Terus terang aku shock
saat menerima undangan berwarna hijau dengan bentuk sederhana, dimana di bagian
depan tertulis: ‘Untuk Zahra dan partner’.
Ada tiga alasan keterkejutanku saat menerima
undangan tersebut tadi pagi.
Pertama. Undangan pernikahan milik Nida itu
bertuliskan Dani dan Nida. Dani? Oh
ayolah, maksudku bukankah mereka sudah putus saat semester enam lalu dan
bukankah jelas-jelas Nida menjalin hubungan dengan ketua BEM di kampus, si Hamid.
Aku butuh penjelasan setelah ini.
Kedua. Pernikahannya dilaksanakan di Amuntai.
Amuntai? Di provinsi sebelah? Memang sih, Nida itu suku Banjar. Dan sudah
dipastikan pernikahannya nanti menggunakan adat Banjar. Tapi apa iya aku harus
jauh-jauh ke Amuntai demi menghadiri pernikahannya? Kenapa tidak di sini saja
sih, di Tana Paser. Kalau yang ini aku memang perlu minta ongkos transportasi
padanya, haha.
Dan yang terakhir, ‘Zahra dan partner’. Apa gadis itu mau mengolokku? Aku kan sudah menyandang
status jomblowati sejak di semester
tiga. Ugh, menyebalkan.
Ponselku berdering ketika aku masih berkutat pada
kertas undangan yang sudah belasan menit kutatap dengan raut jengkel. Jadi aku
akan ditinggal menikah begitu? Makin menderita saja kalau begini. Sahabatku
sudah memiliki suami yang nanti bisa menemaninya menyusun skripsi, sementara aku…
Yah, harus menerima nasib sebagai jomblowati
di semester tujuh—ralat, sebentar lagi semester delapan.
Dengan malas kuraih benda persegi panjang lantas
menggeser tombol hijau pada layar tanpa sempat melihat nama si penelpon. Dan
ketika benda itu sudah menempel tepat di telinga kananku, kedua netraku
seketika nyalang saat suara si penelpon mengalun beriringan dengan suara tawa
tanpa dosanya.
“Hyaa! JadikamumaunikahsamasiDaniituhah??? Kenapakamugakbilang-bilangsamaakudantau-taukamumalahnyebarundanganbegini??!”
Aku langsung berujar dengan kecepatan cahaya.
‘Pelan-pelan aja
dong ngomongnya, Ra. Pokoknya kamu buruan deh berangkat ke sini. Nanti ada
Paman Mus yang jemputin kamu kok. Nanti kalau sudah sampai di Amuntai aku
jelaskan semuuuuaanya. Okey cayangku, muah muah.’
Bahkan tanpa mengucapkan salam penutup gadis itu
langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Ada apa sih dengan Nida?
Kenapa ia jadi menyebalkan begini saat sudah mau menikah?
Aku hanya bisa mengerang frustasi ketika mulai
mengepak beberapa pakaian untuk dibawa besok. Dan yang pasti aku harus berusaha
agar tidak mual di sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir tujuh jam
lamanya.
OoooO
Perjalanan dari Tana Paser menuju Amuntai yang
letaknya di provinsi Kalimantan Selatan memakan waktu hampir tujuh jam lamanya.
Tidak terlalu jauh sebenarnya jika dilihat di peta, hanya saja jalanan
berkelok-kelok mengitari Gunung Rambutan dan ditambah lagi jalanan yang rusak
parah di daerah perbatasan antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan
memakan waktu cukup lama. Apalagi jika sudah becek setelah hujan, maka akan
terjadi kemacetan luar biasa di perbatasan.
Dan di sinilah aku. Duduk di rumah neneknya Nida
dengan seluruh tulang yang terasa remuk, nyawa yang masih setengah masuk dan
setengah keluar dari tubuh, dan lagi kondisiku yang benar-benar mengenaskan
akibat selama perjalanan tadi aku sudah mengeluarkan isi perutku sebanyak empat
kali.
Sepertinya Nida sama sekali tak membiarkan aku untuk
berbaring walau sejenak ketika gadis itu berdiri sembari bersandar pada dinding
dan menatapku dengan senyum penuh kemenangan. Entah apa yang akan ia lakukan
padaku setelah ini.
“Jadi gimana tadi selama di jalan? Muntah nggak?
Haha, payah.”
Aku mendengus mendengarnya. Sahabatku yang satu ini
memang keterlaluan. “Gimana nggak muntah, jalanannya aja ngalahin roller coaster gitu.”
Nida masih tertawa. Detik berikutnya ia sudah
menarik tubuhku yang masih setengah bernyawa ini dan menyeretku ke dapur.
“Please, Da,
aku capek banget pengen tidur,” aku memelas.
“Iya kita nggak jalan-jalan kok. Aku kan sudah
bapingit, jadi nggak boleh keluar rumah. Kita ke dapur. Kamu musti mandi kan?
Bau banget badanmu. Terus tuh kita makan haruan masak habang. Kutebak pasti
perutmu sudah kosong melopong gara-gara muntah sampai empat kali gitu, haha.”
Rumah neneknya Nida ini cukup besar. Bisa menampung
seluruh anggota keluarga yang berkumpul jika sedang pulang kampung seperti
ketika acara pernikahan seperti ini.
Eh, apa tadi yang Nida bilang? Bapingit? Yah, aku
tahu adat suku Banjar ketika pria dan wanita sudah melakukan akad nikah, si
perempuan akan dipingit alias dikurung di rumah dan tidak diperkenankan bertemu
mempelai laki-laki.
“Biasanya waktu bapingit, apa yang dilakukan
mempelai perempuan di rumah?”
Nida merona ketika aku menyebut ‘mempelai
perempuan’. Ah, sial. Dia membuatku iri lagi.
Nida melepaskan lenganku ketika kami sudah tiba di
dapur. “Selama bapingit, mempelai perempuan bersiap-siap buat khataman Qur’an
dan acara mandi-mandi besok sebelum resepsi pernikahan. Nah nanti malam aku
bakalan bakasai, batimung, dan bapacar.”
Aku mengangguk saja karena sudah terlalu lelah. “Ya
sudah, aku mau mandi dulu kalo gitu. Buruan gih siapkan haruan masak habangnya,
aku sudah laper berat,” aku terkekeh saat memasuki kamar mandi. Membayangkan
haruan alias ikan gabus masak habang, makanan khas Kalimantan Selatan itu
memasuki saluran pencernaanku.
OoooO
Siang ini adalah acara mandi-mandi sang calon
pengantin wanita. Nida masih tidak diperbolehkan bertemu Dani sebab begitulah
aturannya. Aku senang sekali melihat kehidupan sosial masyarakat Amuntai,
khususnya di daerah tempat tinggal neneknya Nida ini.
Biasanya jika di daerahku, prosesi pernikahan hanya
dihadiri keluarga besar—kecuali resepsi pernikahan yang mengundang kerabat dan
tetangga—di sini banyak sekali tetangga bahkan tetangga jauh yang hadir dalam
acara mandi-mandi. Untuk masakannya pun jika di tempatku biasanya menggunakan
jasa catering sedangkan di sini acara
mandi-mandi yang biasa disebut bamumula dibantu oleh para tetangga dari ujung
ke ujung untuk masak bersama menggunakan beberapa kawah atau wajan besar.
Biasanya mereka memasaknya di halaman. Benar-benar kebersamaan yang luar biasa.
Bahkan untuk resepsi besok, semua makanan yang disediakan juga dibuat sendiri
dibantu oleh para tetangga. Dan lagi, bahan-bahan membuat masakannya juga lebih
dari lima puluh persen adalah pemberian tetangga. Terlepas dari pemilik acara
adalah orang berada atau bukan, memang begitulah kebiasaan masyarakat di sini.
Saling membantu.
Prosesi mandi ini dilakukan di tempat terbuka, yaitu
halaman samping, di atas suatu balai yang terdiri atas tiga jenjang yang
masing-masing sudutnya terpancang tombak yang diberi lelangit—semacam
atap—warna kuning. Warna kuning merupakan warna dominan dalam upacara
tradisional suku Banjar yang memiliki arti kebesaran dan keluhuran. Dalam
prosesi ini ada beberapa tanaman yang digunakan antara lain tebu kuning dan
daun beringin sebagai lambing pengayom, daun kambat sebagai penolak bahaya,
daun linjung sebagai penolak setan, dan pagar mayang yang mengelilingi
mempelai.
Katanya di tempat Dani sekarang juga dilakukan acara
mandi-mandi. Jadi, prosesi ini dilakukan secara terpisah antara mempelai pria
dan wanita yang sudah melakukan akad nikah.
Aku ikut mengambil mayang usai prosesi mandi-mandi
dilakukan. Berebut bersama gadis-gadis lain agar mendapatkan mayang kuning
tersebut yang konon kabarnya siapa yang mandi menggunakan mayang bekas mandi
pengantin itu tak lama kemudian akan menyusul untuk menikah juga. Siapa tahu
setelah pulang ke Tana Paser nanti aku bertemu jodohku, hihi. Atau mungkin
jodohku ada di sini kan? Yah, siapa tahu.
Usai prosesi mandi-mandi dilakukan, selanjutnya
adalah batamat Qur’an. Sang mempelai wanita mengkhatamkan Qur’an secara
bersama-sama, biasanya bersama-sama dengan para tetua. Tanpa sadar cairan
bening merembes dari kedua sudut mataku saat lantunan ayat suci Al-Qur’an
dibacakan. Nida, sahabatku yang sejak SD selalu bersamaku. Yang sewaktu sekolah
sering terjatuh dari sepeda, kini sudah menikah dan akan hidup dengan anak
lelaki orang. Ah, betapa beratnya melepaskan gadis menyebalkan ini ke dalam
pelukan pria lain.
Pandanganku dan Nida saling bersirobok saat ia usai
membaca Qur’an. Dapat kulihat ada setetes cairan bening di sudut matanya, namun
ia memaksakan kedua sudut bibirnya tersenyum padaku. Mau tak mau aku turut
membalas senyumnya. Aku tak menyesal jauh-jauh datang kesini. Melihat Nida yang
sudah dewasa membuatku sadar sudah betapa banyakanya momen dalam hidup kami
yang sudah dilalui bersama. Dan sudah waktnya untuk gadis itu memiliki kehidupan
rumah tangga bersama jodohnya.
OoooO
“Loh, jadi kalian nggak langsung bersanding di
pelaminan?” Bisikku pada Nida saat menatap rombongan Dani dan keluarganya yang
sudah mulai tampak di jalanan depan.
“Enggak, Ra. Kalau di sini memang mempelai pria diarak
dari kediamannya menuju kediaman perempuan dengan iring-iringan Hadrah,” Nida
turut berbisik.
Aku tersenyum sendiri melihat betapa cantiknya Nida
mengenakan pakaian adat Banjar di hari resepsi pernikahannya ini. Pakaian adat
berwarna kuning dengan rimbunan bunga melati di kepalanya membuat gadis ini
benar-benar harum.
Kupeluk Nida dengan erat dari samping. “Selamat ya,
Sayang. Akhirnya kamu jadi istri orang, haha.”
Nida dengan anggun membalas pelukanku. “Kamu juga
cepat nyusul ya,” ia mengecup sekilas pipi kananku sebelum akhirnya rombongan
Dani tiba dan aku harus turun dari pelaminan secepatnya.
Seluruh anggota keluarga bersama tamu undangan yang
hadir tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat pasangan itu duduk bersanding
di atas pelaminan. Pelaminan yang didominasi warna kuning, khas Bajar.
“Yah, semoga deh aku juga cepat nyusul,” kekehku
lantas duduk di samping neneknya Nida.
Tamat
Jadi tuh gini,
cerpen ini pernah diikutsertakan dalam event menulis cerpen dengan tema Sosial
Budaya oleh Penerbit Hanami. Eh, nggak lolos wkwk. Dan saya sangat menyadari
kekurangan akan cerpen ini serta unsur ‘budaya’ yang masih sangat kurang dan
juga alur yang terlalu ngebut ><

Tidak ada komentar:
Posting Komentar