Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Kamis, 25 Januari 2018

(Cerpen) The Wedding



The Wedding


(Sumber Gambar: Google Image)

.
Written By:
Aisyah (@cloudisah_)
.
(Kisah ini hanya fiktif belaka…)

.
.
.

Siapa yang tidak iri melihat sahabat sudah menyebar undangan pernikahan ketika bahkan Kartu Hasil Studi semester tujuh belum dibagikan. Terus terang aku shock saat menerima undangan berwarna hijau dengan bentuk sederhana, dimana di bagian depan tertulis: ‘Untuk Zahra dan partner’.

Ada tiga alasan keterkejutanku saat menerima undangan tersebut tadi pagi.

Pertama. Undangan pernikahan milik Nida itu bertuliskan Dani dan Nida. Dani? Oh ayolah, maksudku bukankah mereka sudah putus saat semester enam lalu dan bukankah jelas-jelas Nida menjalin hubungan dengan ketua BEM di kampus, si Hamid. Aku butuh penjelasan setelah ini.

Kedua. Pernikahannya dilaksanakan di Amuntai. Amuntai? Di provinsi sebelah? Memang sih, Nida itu suku Banjar. Dan sudah dipastikan pernikahannya nanti menggunakan adat Banjar. Tapi apa iya aku harus jauh-jauh ke Amuntai demi menghadiri pernikahannya? Kenapa tidak di sini saja sih, di Tana Paser. Kalau yang ini aku memang perlu minta ongkos transportasi padanya, haha.

Dan yang terakhir, ‘Zahra dan partner’. Apa gadis itu mau mengolokku? Aku kan sudah menyandang status jomblowati sejak di semester tiga. Ugh, menyebalkan.


Ponselku berdering ketika aku masih berkutat pada kertas undangan yang sudah belasan menit kutatap dengan raut jengkel. Jadi aku akan ditinggal menikah begitu? Makin menderita saja kalau begini. Sahabatku sudah memiliki suami yang nanti bisa menemaninya menyusun skripsi, sementara aku… Yah, harus menerima nasib sebagai jomblowati di semester tujuh—ralat, sebentar lagi semester delapan.

Dengan malas kuraih benda persegi panjang lantas menggeser tombol hijau pada layar tanpa sempat melihat nama si penelpon. Dan ketika benda itu sudah menempel tepat di telinga kananku, kedua netraku seketika nyalang saat suara si penelpon mengalun beriringan dengan suara tawa tanpa dosanya.

“Hyaa! JadikamumaunikahsamasiDaniituhah??? Kenapakamugakbilang-bilangsamaakudantau-taukamumalahnyebarundanganbegini??!” Aku langsung berujar dengan kecepatan cahaya.

‘Pelan-pelan aja dong ngomongnya, Ra. Pokoknya kamu buruan deh berangkat ke sini. Nanti ada Paman Mus yang jemputin kamu kok. Nanti kalau sudah sampai di Amuntai aku jelaskan semuuuuaanya. Okey cayangku, muah muah.’

Bahkan tanpa mengucapkan salam penutup gadis itu langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Ada apa sih dengan Nida? Kenapa ia jadi menyebalkan begini saat sudah mau menikah?

Aku hanya bisa mengerang frustasi ketika mulai mengepak beberapa pakaian untuk dibawa besok. Dan yang pasti aku harus berusaha agar tidak mual di sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir tujuh jam lamanya.

OoooO

Perjalanan dari Tana Paser menuju Amuntai yang letaknya di provinsi Kalimantan Selatan memakan waktu hampir tujuh jam lamanya. Tidak terlalu jauh sebenarnya jika dilihat di peta, hanya saja jalanan berkelok-kelok mengitari Gunung Rambutan dan ditambah lagi jalanan yang rusak parah di daerah perbatasan antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan memakan waktu cukup lama. Apalagi jika sudah becek setelah hujan, maka akan terjadi kemacetan luar biasa di perbatasan.

Dan di sinilah aku. Duduk di rumah neneknya Nida dengan seluruh tulang yang terasa remuk, nyawa yang masih setengah masuk dan setengah keluar dari tubuh, dan lagi kondisiku yang benar-benar mengenaskan akibat selama perjalanan tadi aku sudah mengeluarkan isi perutku sebanyak empat kali.

Sepertinya Nida sama sekali tak membiarkan aku untuk berbaring walau sejenak ketika gadis itu berdiri sembari bersandar pada dinding dan menatapku dengan senyum penuh kemenangan. Entah apa yang akan ia lakukan padaku setelah ini.

“Jadi gimana tadi selama di jalan? Muntah nggak? Haha, payah.”

Aku mendengus mendengarnya. Sahabatku yang satu ini memang keterlaluan. “Gimana nggak muntah, jalanannya aja ngalahin roller coaster gitu.”

Nida masih tertawa. Detik berikutnya ia sudah menarik tubuhku yang masih setengah bernyawa ini dan menyeretku ke dapur.

Please, Da, aku capek banget pengen tidur,” aku memelas.

“Iya kita nggak jalan-jalan kok. Aku kan sudah bapingit, jadi nggak boleh keluar rumah. Kita ke dapur. Kamu musti mandi kan? Bau banget badanmu. Terus tuh kita makan haruan masak habang. Kutebak pasti perutmu sudah kosong melopong gara-gara muntah sampai empat kali gitu, haha.”

Rumah neneknya Nida ini cukup besar. Bisa menampung seluruh anggota keluarga yang berkumpul jika sedang pulang kampung seperti ketika acara pernikahan seperti ini.

Eh, apa tadi yang Nida bilang? Bapingit? Yah, aku tahu adat suku Banjar ketika pria dan wanita sudah melakukan akad nikah, si perempuan akan dipingit alias dikurung di rumah dan tidak diperkenankan bertemu mempelai laki-laki.

“Biasanya waktu bapingit, apa yang dilakukan mempelai perempuan di rumah?”

Nida merona ketika aku menyebut ‘mempelai perempuan’. Ah, sial. Dia membuatku iri lagi.

Nida melepaskan lenganku ketika kami sudah tiba di dapur. “Selama bapingit, mempelai perempuan bersiap-siap buat khataman Qur’an dan acara mandi-mandi besok sebelum resepsi pernikahan. Nah nanti malam aku bakalan bakasai, batimung, dan bapacar.”

Aku mengangguk saja karena sudah terlalu lelah. “Ya sudah, aku mau mandi dulu kalo gitu. Buruan gih siapkan haruan masak habangnya, aku sudah laper berat,” aku terkekeh saat memasuki kamar mandi. Membayangkan haruan alias ikan gabus masak habang, makanan khas Kalimantan Selatan itu memasuki saluran pencernaanku.

OoooO

Siang ini adalah acara mandi-mandi sang calon pengantin wanita. Nida masih tidak diperbolehkan bertemu Dani sebab begitulah aturannya. Aku senang sekali melihat kehidupan sosial masyarakat Amuntai, khususnya di daerah tempat tinggal neneknya Nida ini.

Biasanya jika di daerahku, prosesi pernikahan hanya dihadiri keluarga besar—kecuali resepsi pernikahan yang mengundang kerabat dan tetangga—di sini banyak sekali tetangga bahkan tetangga jauh yang hadir dalam acara mandi-mandi. Untuk masakannya pun jika di tempatku biasanya menggunakan jasa catering sedangkan di sini acara mandi-mandi yang biasa disebut bamumula dibantu oleh para tetangga dari ujung ke ujung untuk masak bersama menggunakan beberapa kawah atau wajan besar. Biasanya mereka memasaknya di halaman. Benar-benar kebersamaan yang luar biasa. Bahkan untuk resepsi besok, semua makanan yang disediakan juga dibuat sendiri dibantu oleh para tetangga. Dan lagi, bahan-bahan membuat masakannya juga lebih dari lima puluh persen adalah pemberian tetangga. Terlepas dari pemilik acara adalah orang berada atau bukan, memang begitulah kebiasaan masyarakat di sini. Saling membantu.

Prosesi mandi ini dilakukan di tempat terbuka, yaitu halaman samping, di atas suatu balai yang terdiri atas tiga jenjang yang masing-masing sudutnya terpancang tombak yang diberi lelangit—semacam atap—warna kuning. Warna kuning merupakan warna dominan dalam upacara tradisional suku Banjar yang memiliki arti kebesaran dan keluhuran. Dalam prosesi ini ada beberapa tanaman yang digunakan antara lain tebu kuning dan daun beringin sebagai lambing pengayom, daun kambat sebagai penolak bahaya, daun linjung sebagai penolak setan, dan pagar mayang yang mengelilingi mempelai.

Katanya di tempat Dani sekarang juga dilakukan acara mandi-mandi. Jadi, prosesi ini dilakukan secara terpisah antara mempelai pria dan wanita yang sudah melakukan akad nikah.

Aku ikut mengambil mayang usai prosesi mandi-mandi dilakukan. Berebut bersama gadis-gadis lain agar mendapatkan mayang kuning tersebut yang konon kabarnya siapa yang mandi menggunakan mayang bekas mandi pengantin itu tak lama kemudian akan menyusul untuk menikah juga. Siapa tahu setelah pulang ke Tana Paser nanti aku bertemu jodohku, hihi. Atau mungkin jodohku ada di sini kan? Yah, siapa tahu.

Usai prosesi mandi-mandi dilakukan, selanjutnya adalah batamat Qur’an. Sang mempelai wanita mengkhatamkan Qur’an secara bersama-sama, biasanya bersama-sama dengan para tetua. Tanpa sadar cairan bening merembes dari kedua sudut mataku saat lantunan ayat suci Al-Qur’an dibacakan. Nida, sahabatku yang sejak SD selalu bersamaku. Yang sewaktu sekolah sering terjatuh dari sepeda, kini sudah menikah dan akan hidup dengan anak lelaki orang. Ah, betapa beratnya melepaskan gadis menyebalkan ini ke dalam pelukan pria lain.

Pandanganku dan Nida saling bersirobok saat ia usai membaca Qur’an. Dapat kulihat ada setetes cairan bening di sudut matanya, namun ia memaksakan kedua sudut bibirnya tersenyum padaku. Mau tak mau aku turut membalas senyumnya. Aku tak menyesal jauh-jauh datang kesini. Melihat Nida yang sudah dewasa membuatku sadar sudah betapa banyakanya momen dalam hidup kami yang sudah dilalui bersama. Dan sudah waktnya untuk gadis itu memiliki kehidupan rumah tangga bersama jodohnya.

OoooO

“Loh, jadi kalian nggak langsung bersanding di pelaminan?” Bisikku pada Nida saat menatap rombongan Dani dan keluarganya yang sudah mulai tampak di jalanan depan.

“Enggak, Ra. Kalau di sini memang mempelai pria diarak dari kediamannya menuju kediaman perempuan dengan iring-iringan Hadrah,” Nida turut berbisik.

Aku tersenyum sendiri melihat betapa cantiknya Nida mengenakan pakaian adat Banjar di hari resepsi pernikahannya ini. Pakaian adat berwarna kuning dengan rimbunan bunga melati di kepalanya membuat gadis ini benar-benar harum.

Kupeluk Nida dengan erat dari samping. “Selamat ya, Sayang. Akhirnya kamu jadi istri orang, haha.”

Nida dengan anggun membalas pelukanku. “Kamu juga cepat nyusul ya,” ia mengecup sekilas pipi kananku sebelum akhirnya rombongan Dani tiba dan aku harus turun dari pelaminan secepatnya.

Seluruh anggota keluarga bersama tamu undangan yang hadir tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat pasangan itu duduk bersanding di atas pelaminan. Pelaminan yang didominasi warna kuning, khas Bajar.

“Yah, semoga deh aku juga cepat nyusul,” kekehku lantas duduk di samping neneknya Nida.

Tamat

Jadi tuh gini, cerpen ini pernah diikutsertakan dalam event menulis cerpen dengan tema Sosial Budaya oleh Penerbit Hanami. Eh, nggak lolos wkwk. Dan saya sangat menyadari kekurangan akan cerpen ini serta unsur ‘budaya’ yang masih sangat kurang dan juga alur yang terlalu ngebut ><

Tidak ada komentar:

Posting Komentar