Be Happy^^

No More Pain, No More Cry (: (:

Sabtu, 08 Agustus 2026

(Coretan Isah) UTUH

Coretan Isah #10

(Ditulis di hari Jum'at, 7 Agustus 2026)

Utuh

***

Ada banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan di dunia ini. Bagaimana pikiran orang-orang terhadap kita, bagaimana detak jantung kita bekerja, bagaimana kebijakan pemerintah bisa memengaruhi inflasi, bahkan perasaan kita sendiri tidak bisa dikendalikan. Maksudku, kita tidak pernah bisa memutuskan kepada siapa kita melabuhkan hati. Tidak dengan secara sengaja memilih satu orang lalu memutuskan bahwa dia yang akan kita sukai. 

Aku bukan wanita yang mudah jatuh hati, dan aku bangga sekali dengan hal ini. Jadi aku tidak mudah terjatuh pada godaan laki-laki yang aku tahu terkadang dia tidak hanya mencari perhatian pada kita seorang, tapi pada beberapa wanita sekaligus.

Tapi... Sekali lagi, perasaan bukanlah hal yang bisa dikendalikan dan ternyata aku juga tidak bisa mengendalikannya. Tidak mudah jatuh hati dengan tidak bisa mengendalikan perasaan itu dua hal yang berbeda. Memang tidak semudah itu menyerahkan hatiku pada sembarang laki-laki, tapi saat ada laki-laki yang dirasa tepat mengisi bagian yang tidak lengkap dari hati, aku tidak ada bedanya dengan teman-teman wanita di kampusku yang saat itu memang sedang dalam usia sudah-matang-untuk-jatuh-cinta. Yah, aku menyebutnya seperti itu.

Aku tidak mau mengakuinya. Bukan gengsi, tapi aku tidak mau terlalu terburu-buru untuk memutuskan dialah satu-satunya orang yang tepat. Aku butuh waktu. Meskipun aku tahu, perasaanku saat itu sudah memilih dia, dan berdebar seperti sedang bermain wahana ekstrim roller coaster saat eksistensinya berada di dekatku.

Kami menjadi teman dekat setelah beberapa kali terlibat dalam proyek mata kuliah Pancasila dan Dasar-dasar Akuntansi di semester satu, sebab nomor absensi kami berdekatan. Awalnya terbiasa dengan kehadirannya, namun lambat laun menjadi ketergantungan dan tidak terbiasa saat satu hari tidak melihat keberadaannya terutama di jadwal mata kuliah yang sama. 

Dia pria yang baik. Selera humornya sangat cocok denganku. Apapun yang membuatnya tertawa, aku ikut tertawa. Pembahasan apapun yang aku sampaikan selalu dia respon tanpa terlihat tidak berminat, bahkan hal yang kurang dia sukai seperti masalah idol K-Pop. 

Kami melewati empat semester dengan bahagia. Maksudku, aku. Aku melewati semester pertama hingga keempat dengan benar-benar bahagia. Bagiku, kehidupan kampus sungguh menyenangkan selain memiliki teman kuliah yang baik, IPK yang selalu memuaskan, dan lebih spesial saat ada dia yang sering bersamaku sebagai teman dekat. Kami bukan sepasang kekasih. Dan dia sudah pernah mengatakan padaku untuk tidak jatuh cinta padanya. 

Nah, itulah masalahnya. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku kepadanya. Sekalipun aku dilamar oleh seorang pria mapan saat masih semester empat, aku benar-benar tidak tergoda bahkan sekalipun dia datang berkali-kali untuk meminang ku. Aku sudah memiliki si "dia" yang bagiku tidak akan terganti dengan laki-laki manapun. 

Sampai di semester lima, aku menerima kabar dari yang bersangkutan langsung kalau dia sedang menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi di luar kota, di salah satu kampus terkenal. Mendengar hal itu dari dia, aku hanya tertawa dan mengucapkan selamat. Seharian itu berjalan seperti biasa di kampus. Namun yang menyedihkan, dia menjauhiku saat pertengahan semester lima.

Kupikir aku akan baik-baik saja. Tapi ternyata hatiku hancur. Seumur hidup tidak pernah merasakan perasaan kacau seperti saat itu. Kuliah jadi tidak keruan padahal dia masih berteman denganku seperti biasa. Teman-teman ku juga masih sering mengajak hang out saat akhir pekan, tapi semua yang aku lalui terasa hambar. Hari-hari ku terasa seperti monokrom. Bahkan perjalanan ke kampus yang biasanya terasa menyenangkan, aku ingat sekali terasa berat dan kosong.

IPK ku anjlok. Selama empat semester selalu dia atas 3,80. Kali itu terjun bebas ke angka 3,05. Aku tidak menyangka ternyata mood kuliahku malah bergantung pada satu orang yang kehadirannya dalam hidupku bukanlah keinginanku. Tapi kemudian aku terbiasa dengannya, terbiasa ada dia dalam jarak pandang ku. Sehingga aku menjadi ketergantungan padanya.

Libur semester lima aku habiskan dengan menggalau. Membaca fanfiction K-Pop saat itu adalah salah satu cara untuk menghibur hati. Sudah ada puluhan fanfiction bahkan yang satu judul memiliki belasan chapter aku habiskan semua. Sampai pada satu momen, aku mencoba membuat sendiri fanfiction yang aku unggah pada akun Facebook yang ku buat khusus untuk kegiatan Fangirling. Sebagai pemula, aku tidak menyangka dapat respon yang baik dari teman-teman se-fandom. 

Saat penghujung libur semester, ada sebuah akun Facebook yang mengumumkan adanya perlombaan fanfiction dengan genre bebas tapi masih dalam tema yang ditentukan. Maka dengan senang hati aku mengikuti perlombaan itu. Tidak ada ekspektasi apa-apa selain ingin menunjukkan hasil tulisanku kepada pihak yang lebih mumpuni dalam dunia literasi. 

Di luar dugaan, fanfiction yang aku buat berhasil menjadi best fanfiction. Perasaan galau yang berbulan-bulan menggerogoti ku langsung sirna. Aku menemukan kebahagiaan lain, yang aku sendiri tidak menyangka yaitu dengan menulis. Usai memenangkan perlombaan fanfiction pertama itu, aku mulai mencari informasi mengenai info lomba menulis yang ternyata ada banyak sekali saat itu. Maka aku mencoba mengikuti beberapa. Aku bersyukur sekali naskah-naskah yang aku kirim selalu terpilih sebagai juara ataupun sebagai penulis terpilih yang karyanya diterbitkan dalam buku antologi cerpen.

Long story short, perkuliahan semester enam dimulai. Tidak ada lagi galau. Tidak ada lagi rasa ketergantungan pada satu orang. Yang ada hanya perasaan menggebu-gebu untuk terus mengikuti lomba menulis dan menambah teman yang juga sama-sama pegiat dalam dunia literasi di media sosial. Semester enam dimulai dengan rasa bahagia yang seolah lupa betapa galau dan sedihnya aku saat semester lima lalu.

Saat semester enam aku benar-benar hanya fokus kuliah dan sibuk dengan jadwal deadline lomba menulis. Tapi... Dia datang lagi. Dengan wajah yang belum pernah aku lihat dulu. Entah karena aku mulai melupakan perasaanku padanya atau memang dia terlihat berbeda karena memang di semester lima kami tidak akrab lagi dan aku jarang melihatnya. Dia tersenyum tipis duduk di dekatku dengan kalimat yang masih aku ingat sampai sekarang. "Aku gak nemuin cewek lain yang kayak kamu. Mulai sekarang, cewek manapun yang dekat sama aku standarnya harus kayak kamu."

Kalimat itu terdengar biasa saja. Meskipun begitu, anehnya aku masih ingat kalimat pertama yang ia katakan padaku setelah lama tidak bertemu. Aku tidak menanggapinya dengan serius saat itu. Kupikir kalau dia kembali ingin berteman, yah silakan. Tapi saat itu aku punya batasan sehingga apapun yang dia lakukan atau dimana dan bagaimana keadaannya tidak lagi menjadi fokus ku.

Kami berteman sampai lulus kuliah. Aku lebih dulu skripsi di semester tujuh, jadi saat semester delapan dia sering mampir ke rumahku untuk menyelesaikan skripsinya karena aku tidak lagi masuk ke kampus. Hubungan pertemanan yang sudah ku putuskan untuk tidak melampaui batas, ternyata tidak bisa aku kendalikan. Kami malah semakin akrab ketimbang sebelum semester lima lalu. Setelah wisuda kami masih sering bertukar kabar bahkan tidak jarang saat weekend dia mengajakku makan di luar. 

Pernah ada dua laki-laki yang datang melamarku. Pertama saat penghujung semester tujuh. Aku sempat menjauh dari dia karena kupikir akhirnya aku menemukan belahan hatiku. Namun pertunangan itu tidak berjalan mulus dan berakhir kandas karena kami sama-sama sholat istikharah dan bukan dia yang jadi jawaban Allah. Begitupun dengannya. Pada suatu hari, dia buru-buru menemui ku di parkiran kampus. Dia menatapku sengit sembari berkata, "kenapa kamu jauhin aku hanya karena dilamar sama mantan kakak kelasmu dulu? Lalu kamu pikir selama ini kita apa? Just friend? No more?"

Aku gelagapan dan tidak tahu berkata apa. Seandainya dia dulu mengatakan itu sebelum semester lima, aku pasti tidak akan menggalau dengan begitu parah. Untuk kali pertama dadaku kembali dibuat berdesir setelah aku memutuskan untuk tidak berlebihan lagi menghadapi perasaanku padanya. 

Laki-laki kedua melamarku setelah dua tahun kami lulus kuliah. Aku dan dia jarang bertemu karena sibuk dengan pekerjaan. Namun masih intens berkomunikasi lewat messenger dan WhatsApp. Setelah mengetahui aku dilamar oleh laki-laki yang notabenenya dulu adalah teman seangkatan kami saat kuliah, dia meminta untuk bertemu. Tidak ada basa-basi selain memintaku untuk menunggunya. Dia bilang dia butuh waktu untuk mengumpulkan uang agar kami bisa menikah. 

Menikah? MENIKAH? Menikah katanya??!

Kami bahkan tidak menjalin hubungan asmara, yah aku rasa begitu karena dia tidak pernah mengutarakan perasaannya padaku. Maksudku dia tidak pernah nembak aku dan memintaku jadi pacarnya atau kekasihnya yah apapun intinya sebagaimana orang lain menjalani hubungan romansa nya. Tapi kami hanya terus menjalani hari bersama meskipun aku sendiri tahu bagaimana perasaan kami berdua saling tumbuh karena kebiasaan bersama.

Aku sebelumnya menjalani hari-hari dengan perasaan menggantung. Terkadang aku berharap dia segera mengatakan perasaannya padaku. Di lain waktu aku tidak terlalu berharap karena aku sudah pernah sakit hati karenanya. Jadi saat dia memintaku untuk menunggunya, maka perasaan menggantung itu hilang dan aku tahu bahwa selama ini barangkali kami memang ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih tanpa kata-kata bualan dan ucapan manis agar salah satunya tidak pergi ke lain hati.

Dan bertahun berlalu, hingga sekarang ada seorang gadis kecil yang kini tidur di tengah kami. Aku melihat dia berbaring di samping putri kecil kami, sambil sesekali mencium puncak kepalanya. Dia adalah laki-laki yang dulu sudah menyakiti hatiku saat semester lima. Tapi dia juga yang kemudian menemaniku menjalani hari-hari sampai lulus kuliah. Dia juga yang masih bersama denganku melewati masa Covid-19. Dan dia juga orang yang sama, yang menjabat tangan ayahku dengan ikrar suci pernikahan. 

Dia kepingan hatiku yang sudah kutemukan sejak semester pertama kuliah. Tapi butuh waktu yang cukup lama dan panjang sampai akhirnya kepingan hati itu mengisi tempatnya sampai hatiku menjadi utuh. 

Dia adalah suamiku. Sang kepala keluarga. Sang cintaku. Sang penentu surga dan neraka ku. Sang ayah dari putriku. Dan sang pahlawan bagi keluarga kecil kami. 

Sehat-sehat selalu pelengkap kepingan hatiku 💛

Salam literasi ^^


Minggu, 27 Januari 2019

(Fanfiction) B.A.P Lokal

PERKENALAN ANGGOTA GENG B.A.P LOKAL:



1. YOGA PRASETYA
Posisi: ketua geng.
Anak jurusan musik, semester enam. Hobi nulis lirik lagu. Sekarang lagi kerja paruh waktu ngajar les privat buat biaya skripsi dan wisuda, sebab target dia lulus kuliah dari B.A.P university pas semester tujuh nanti. Kejar nilai cumlaude, terus selesai 3,5 tahun. Btw dia punya kembaran bernama Yogi Prasetya.

2. HENGKY AL-FARIZIE
Anak jurusan manajemen bisnis, semester enam. Sekamar sama Yoga di kost. Hobinya nonton acara masak. Kalau lagi waktu luang, suka diajak emak-emak kompleks buat ikutan demo masak. Targetnya lulus kuliah empat tahun. Jadi dia sedih karena Yoga punya target lulus kuliah duluan sebab dia bakalan kesepian sendirian di kamar kost.

3. ADIMAS BAGASKARA
Nama panggilannya Dimas. Jurusan musik, semester empat. Juniornya Yoga di fakultas seni. Suka barengan Yoga kalau lagi di kantin, buat dapetin nomer WA cewek-cewek di fakultas seni. Satu kost sama Yoga dan Hengky, tapi beda kamar. Kalau malem, dia kerja sambilan jadi penyanyi di kafe. Suaranya merdu badai. Bayarannya dia pakai buat beli kuota internet, biar bisa chat cewek-cewek di kontak WA-nya.

4. JOKO PUJIANTO
Anak hukum, semester empat. Sekamar sama Dimas di kost. Hobinya main gadget, sampai tiap kali kalau Dimas curhat dia cuman angguk-angguk geleng-geleng karena fokus sama gadgetnya. Sampai semester tiga kemarin IPK-nya 4,00. Kesayangan para dosen. Idolanya cewek-cewek di fakultas hukum soalnya dia cerdas banget.

5. JUKI
Punya nama paling singkat di geng B.A.P. Anak hukum, semester dua. Juniornya Joko, jadi dia sering ditindas Joko; sering disuruh-suruh kalau lagi bareng di kampus. Awalnya dia nggak mau masuk fakultas hukum, tapi karena hasutan Joko, dia akhirnya luluh. Walau pada akhirnya sampai semester dua ini dia malah pusing dengan buku-buku pasal perdata dan pidana yg tebalnya bisa dijadikan ganjalan pintu kamarnya. Tapi walau begitu dia jago banget dance b-boy. Jadi dia sering diajak ke fakultas seni buat ngelatih dance anak jurusan tari.

6. ZULKIFLI HIDAYAT
Posisi: anggota paling bontot di geng. Nama panggilannya Izul. Sering dijadikan ubab kalau di kost. Apalagi si Dimas sering banget nyuruh-nyuruh dia.
Kuliah semester dua di Jurusan pendidikan olahraga yang gedung fakultasnya paling pojok kampus. Dia pilih jurusan yang beda biar di kampus nggak ada temen-temen se-geng nya yang bisa nyuruh-nyuruh dia. Sekamar sama si Juki kalau di kost. Tapi walaupun anak pendidikan, dia suka bantuin Yoga bikin lirik lagu. Kerja part time jadi model anak-anak seni sebab tinggi badannya yang bagus sebagai model.


#BAP_Kearifan_Lokal

Minggu, 18 November 2018

(Fanfiction) Gerbong Terakhir



(Gambar: pixabay.com)

.

“Gerbong Terakhir”

.
.

Cast:
Yongguk
Jirin

.
(Special FF untuk Kak Ulfah)

.
.

***

.

Kereta terakhir itu melaju membelah senja. Pada langit berlatar jingga, burung gereja mulai berkeliling pada tiap-tiap dahan Pinus untuk mengambil dedaunan kering, sebagai bahan dasar pembuatan sarang.

Pada sisi kiri dari rel kereta, berhampar luas padang rumput yang mulai menguning. Pertanda musim gugur tengah berlangsung dibarengi dengan menurunnya suhu udara.

Sementara pada sisi kanan rel kereta, ada sebuah desa kecil yang lebih dari delapan puluh persen penduduknya adalah pria dan wanita berumur. Anak-anak dan cucu mereka lebih memilih merantau ke kota, untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Walau sebenarnya kebahagiaan hidup di desa dengan segala kesederhanaannya tak bisa diperoleh di kota, meski mereka bekerja sejak pagi hingga malam hari.

Di dalam gerbong terakhir kereta, seorang pria bermantel hitam tengah menatap kosong ke luar jendela. Sembari menggenggam sebuah gelang cokelat yang bahan dasarnya terbuat dari kayu pohon ek. Ia duduk sendirian pada kursi paling belakang gerbong.


Senin, 29 Januari 2018

(Fanfiction) Hold the Rain



Hold the Rain





.
.
.

Author:
Aisyah (@cloudisah_)

.
.

Cast:
Jongup B.A.P
Youngjae B.A.P
Jirin (OC)

.
.

Genre:
Romance; Angst

:::

Barangkali masih banyak manusia naif di muka bumi ini yang beranggapan jika cinta tak lain adalah perasaan tulus dan suci dari dalam hati. Cinta seringkali diagung-agungkan, dielu-elukkan oleh para pemujanya. Cinta dianggap perlambang dari kemurnian rasa. Penguat dari ikatan batin antar insan.

Aku tidak lagi termasuk golongan manusia naif itu. Bagiku cinta sama dengan obsesi. Sebuah senjata mematikan. Atau tidak bisa dikatakan ‘sebuah’. Sesuatu, mungkin? Suatu senjata mematikan.

Kau tahu seberapa mematikannya senjata bernama cinta itu? Teramat-sangat-mematikan.

Jika kau tidak ingin mati, maka berhati-hatilah dengan yang namanya cinta. Atau jika itu tidak membuatmu mati, maka cinta bisa membunuh orang lain. Orang yang kau cintai.

Begitulah yang terjadi padaku. Obsesi berlabel cinta dan berujung pada kematian.

Oh, tidak. Aku tidak mati. Aku masih hidup. Bukan aku yang mati. Tapi—

(Fanfiction) Untold



Untold



***

Author:
Aisyah (@cloudisah_)

Cast:
B.A.P Bang Yongguk
OC’s Jirin

Genre:
Family
.
.
.

Yongguk’s POV:

Aku menyayanginya dengan seluruh nafasku. Hingga nafas ini tak bersisa untukku sendiri. Nafasku telah kuserahkan untuknya. Untuk hidupnya.

Hanya saja ia tak pernah tahu. Sebab akupun tak akan membiarkannya mengetahui begitu besarnya rasa sayang ini yang lantas membuatku sering lupa untuk bernafas sebab seluruh waktuku kudedikasikan hanya untuk menyayanginya.

Minggu, 28 Januari 2018

(Fanfiction) A Rainbow for You



A Rainbow for You



.
.
.

Author:
@cloudisah_

.
.

Main Cast:
B.A.P Jung Daehyun
OC’s Jirin

.
.

Genre:
Sad Romance

.
.
.

***

Ujung tongkatnya menyusuri rerumputan basah yang tengah ia pijak. Kedua tungkainya yang tanpa alas kaki itu ia biarkan basah kala barisan hujan kini tampak semakin rapat. Dengan agak terburu, ujung tongkatnya masih menyusuri basahnya rumput dengan tubuh yang mulai basah.

Hingga ketika ujung tongkatnya mencapai dataran yang lebih keras—dan itu pasti lantai kayu gazebo—kedua tangannya lantas meraba sebuah bangku di sana dan memposisikan tubuhnya duduk di atas bangku kayu tersebut setelah sebelumnya meletakkan tongkatnya secara asal. Halaman belakang rumah sakit menjadi tempat favoritnya ketika suntuk di kamar pasien belakangan ini, terlebih karena—

“Sudah kubilang ‘kan kalau mau ke sini katakan padaku.”

—pria pemilik suara itulah yang membuatnya selalu merindukan tempat ini.

Kamis, 25 Januari 2018

(Cerpen) Pondok Segi Empat



Pondok Segi Empat

.
.


(Sumber Gambar: Google Image)

.
.

Penulis:
Aisyah (@cloudisah_)

.
.

Menjelang senja, Mur dan keempat kawannya baru tiba di rumah almarhumah nenek Mur di desa Kayungo dan langsung mengunjungi kediaman ketua RT yang tak lain adalah paman Mur, sekitar dua ratus meter dari rumah almarhumah nenek Mur. Beliau meminta Mur mengunjunginya sebab sudah hampir dua tahun Mur tidak bertemu pamannya itu.

Jalanan senja yang remang membuat kelimanya menyalakan senter dari ponsel mereka. Tidak kelimanya, sih. Sebab ponsel Mur sendiri kehabisan baterai dan sayangnya listrik di desa Kayungo hanya dialiri listrik saat siang hari saja. Sementara pada saat malam selalu terjadi pemadaman oleh PLN. Memang distribusi listrik masih tidak merata untuk masyarakat di pedalaman.

“Duh, kok serem amat ya,” Kus yang bertubuh paling tinggi diantara kawanannya berjalan paling depan dengan netra yang menatap awas pada sekeliling. Jalan setapak yang sepi sebab masih tak banyak rumah penduduk di daerah tersebut. Jarak antar rumahpun sangat jauh. Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah hamparan kebun kelapa sawit.

“Halah, Kus. Badan doing gede, nyali sekecil nyamuk,” Mul yang berjalan persis di belakang Kus mendengus sebal.

(Cerpen) Home



Home

.
.
.


(Sumber Gambar: Google Image)

.
. 

Penulis: Aisyah (@cloudisah_)

.
.
.

Kisah ini hanya fiktif belaka…
.
.

***

Setetes bulir bening mengalir dari sudut mataku setelah mendengar suara pintu ditutup dengan kasar hingga menimbulkan bunyi debuman nyaring. Pertengkaran ayah dan ibu yang hampir setiap hari kudengar membuatku sering berfikir untuk pergi dari rumah ini selamanya.

Kenapa mereka harus bertengkar? Kenapa masing-masing mereka tidak ada yang mau mengalah dan bertahan dengan keegoisan mereka?

(Cerpen) Akhir Penantian



Akhir Penantian

(Sumber Gambar: Google Image)


.
.
.

Pernahkah kau bertahan menunggu seseorang yang bahkan tak pernah memintamu untuk menunggu? Menunggu hingga hari, minggu, bulan, dan tahun berganti tanpa kau sadari?

Jika tidak, maka akan kuceritakan bagaimana kisahku menanti seseorang dengan begitu sabarnya. Menunggu seseorang yang tak pernah memintaku untuk menunggunya. Menunggu seseorang hanya untuk memastikan apakah ia memiliki perasaan yang sama atau tidak.

Memang sih kisah cinta seperti ini terlalu klise dan sudah mainstream. Tapi beginilah apa yang terjadi padaku selama dua tahun belakangan.

(Cerpen) The Wedding



The Wedding


(Sumber Gambar: Google Image)

.
Written By:
Aisyah (@cloudisah_)
.
(Kisah ini hanya fiktif belaka…)

.
.
.

Siapa yang tidak iri melihat sahabat sudah menyebar undangan pernikahan ketika bahkan Kartu Hasil Studi semester tujuh belum dibagikan. Terus terang aku shock saat menerima undangan berwarna hijau dengan bentuk sederhana, dimana di bagian depan tertulis: ‘Untuk Zahra dan partner’.

Ada tiga alasan keterkejutanku saat menerima undangan tersebut tadi pagi.

Pertama. Undangan pernikahan milik Nida itu bertuliskan Dani dan Nida. Dani? Oh ayolah, maksudku bukankah mereka sudah putus saat semester enam lalu dan bukankah jelas-jelas Nida menjalin hubungan dengan ketua BEM di kampus, si Hamid. Aku butuh penjelasan setelah ini.

Kedua. Pernikahannya dilaksanakan di Amuntai. Amuntai? Di provinsi sebelah? Memang sih, Nida itu suku Banjar. Dan sudah dipastikan pernikahannya nanti menggunakan adat Banjar. Tapi apa iya aku harus jauh-jauh ke Amuntai demi menghadiri pernikahannya? Kenapa tidak di sini saja sih, di Tana Paser. Kalau yang ini aku memang perlu minta ongkos transportasi padanya, haha.

Dan yang terakhir, ‘Zahra dan partner’. Apa gadis itu mau mengolokku? Aku kan sudah menyandang status jomblowati sejak di semester tiga. Ugh, menyebalkan.

(Cerpen Anak) Matahari yang Tertawa



MATAHARI YANG TERTAWA


(Sumber Gambar: Google Image)


.
.
.

Alya memandang langit dari balik jendela kelas. Hari ini Bu Nilam yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris tidak masuk, jadi murid kelas lima diminta untuk belajar mandiri. Tentu saja semua murid senang saat guru tidak masuk dan jadilah suasana kelas persis seperti kantin dadakan. Kelas sangat ricuh terutama siswa laki-laki mulai bermain kejar-kejaran.

Rido sang ketua kelas sudah berteriak meminta teman-temannya untuk tenang dan tidak ribut. Sebab jika kelas terlalu gaduh maka Pak Fajri—Guru Penjaskes yang terkenal galak, akan muncul di kelas mereka dan tentu mereka semua akan dihukum dengan berjemur di lapangan, di tengah cuaca yang sangat panas. Namun sayangnya upaya Rido tetap tak membuahkan hasil. Justru ia ditertawakan saja oleh teman-temannya.

(Cerpen Religi) RIntik Terakhir



RINTIK TERAKHIR
.
(Sumber Gambar: Google Image)
Penulis: Aisyah (@cloudisah_)
.
.
.

Bahkan tanaman merambat sejenis bunga beledru yang hampir mati kekeringan bisa kembali subur dengan terus menerus diberi pupuk dan air. Lantas bagaimana dengan hatiku yang terasa gersang ini? Tidak mungkin tetap bergeming jika hampir setiap hari mendengar ceramah dari Imam Besar Masjid Agung Nurul Falah ba’da magrib.

Minggu, 26 Februari 2017

(Fanfiction) Sweet Temptation


Sweet Temptation

.
.



By @cloudisah_

.
.

Cast:
BAP’s Youngjae
OC’s Jirin

.
.

Ficlet // Teen // Romance (I’m not sure about this, kekeke)

.
.
.

OoooO

Bertemu—ralat, mengenal Youngjae merupakan kutukan dalam hidupku. Mungkin akan lebih baik seandainya Tuhan mempertemukanku dengan Pangeran Katak saja. Oh, katak terlalu menjijikkan. Kalau begitu Pangeran Vampire saja, kurasa itu jauh lebih baik.

(CORETAN ISAH) Cowok Itu Nggak Peka


CORETAN ISAH #9
(Ditulis pada 12 Januari 2017)

Cowok Itu Nggak Peka

Yang setuju dengan pendapat saya jika cowok itu nggak peka, cung tangan coba…

Bagi kita para perempuan, cowok terkenal sekali dengan ketidakpekaan mereka. Ya kan, ya dong? Ya iyalah pastinya. Yang cowok jangan protes dulu. Akan saya jelaskan kenapa kalian itu disebut “TIDAK PEKA”.

Dalam KBBI, kata peka artinya: pe.ka a 1 mudah merasa; mudah terangsang; 2 mudah bergerak (tentang neraca peralatan mekanis); 3 tidak lalai; 4 mudah menerima atau meneruskan pengaruh (cuaca dsb)

Berdasarkan pengertian peka menurut KBBI tersebut, kita ambil pengertian peka yang pertama, yakni mudah merasa. Mudah merasa. Yang cowok-cowok, ngerti nggak maksudnya mudah merasa?

(Coretan Isah) Kaleidoscope 2016


CORETAN ISAH #8
(Ditulis pada 31 Desember 2016)

Kaleidoscope 2016

n.b: Nggak penting banget dipost sekarang, tapi biarlah daripada mubazir :V

Jiaaah, judulnya sok-sokan pake bahasa Inggris segala XD

Jadi gini, Coretan Isah edisi kali ini saya mau berbagi mengenai kaleidoskop hidup saya sepanjang tahun 2016 (meskipun ini gak penting banget sumpah dan gak ada juga yang mau tau :v ) tapi yah daripada malem pergantian tahun seperti ini kuping saya meledak karena tetangga dangdutan sambil bakar-bakar, terus kembang api yang meletus-letus, nah apalah daya seorang jomblo ini jadi lebih baik menulis, wkwkk…

Sabtu, 28 Januari 2017

(Fanfiction) Dandelion


DANDELION
.
.
Author:
@cloudisah_ (on twitter)
.
Cast:
B.A.P’s Daehyun
OC’s Jirin
B.A.P’s Himchan
.
Genre: Life // Rating: General // Length: Ficlet
.
.

OoooO

Aku melihat gadis itu lagi. Menyapu halaman rumah sederhananya dari daun maple kering, dengan lidi yang sama sejak empat bulan lalu ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Dan anehnya aku selalu teringat akan dandelion tiap kali melihatnya.

“Selamat sore, Daehyun Oppa!” ia melambai riang dari pekarangan rumahnya.

Kubalas lambaian tangannya sembari melempar senyum. “Selamat sore juga, Jirin. Oppa pulang dulu!” seruku seraya kedua tungkaiku merajut langkah perlahan melewati rumahnya.

Seruanku menarik atensi dari beberapa pejalan kaki yang beriringan denganku. Tanpa memperdulikan pandangan aneh juga tak menyenangkan mereka—masa bodoh apa yang orang pikirkan—kedua netraku memilih  menatapnya yang masih memegang sapu lidi.

(Fanfiction) Of Caffeine and Unanswered Question


Of Caffeine and Unanswered Question
.
.
Author:
@cloudisah_ (on twitter)
.
Cast:
One Direction’s Niall Horan
Zayn Malik
.
Genre: Slice of Life // Length: Ficlet
.

12 Juli 2015

Hey, apa kabar?

Oh tidak. Aku salah. Apa biasanya buku diary itu diawali dengan pertanyaan apa kabar? Sepertinya tidak. Ah, entahlah.

Ini pertama kalinya aku menulis diary omong-omong. Taraaa! Surprise!

Aku ingin menulis curahan hatiku boleh tidak T_T Aku galaaau.

Selasa, 27 Desember 2016

(CORETAN ISAH) Hubungan Tanpa Status


CORETAN ISAH #7
(Ditulis pada 27 Desember 2016)

Hubungan tanpa Status

Aheeem!

Dari judulnya terlihat seperti tulisan ini adalah sebuah cerpen bernuansa melankolis dengan alur sad ending, wkwkkk… Tapi ini bukanlah cerpen. Melainkan sebuah tulisan dari makhluk yang terserang virus bernama HTS :p

Virus HTS a.k.a Hubungan tanpa Status adalah salah satu jenis virus yang banyak menulari para pemuda dan pemudi. Virus yang berakibat fatal jika virus ini tidak segera ditangani dengan adanya satu kata bernama “status”.

Rabu, 21 Desember 2016

Mamaku Super


Mamaku Super


Aku mau berbagi mengenai betapa “super”-nya seorang wanita yang telah melahirkanku.

Buatku, Mama adalah sosok pahlawan yang lebih super dibandingkan Superman. Mama lebih wonder ketimbang Wonder Woman. Mama lebih kuat dari Batman. Mama-pun lebih tangguh daripada Captain America.